
Ayesha mengajak Ocha dan Sachi jalan-jalan di sekitar rumah sore ini. Udara yang sejuk, sinar matahari yang mulai melukis saga di angkasa ditambah dengan bunga-bunga yang bermekaran di taman, sungguh menenteramkan hati. Terutama bagi Ocha dan Sachi. Ayesha sendiri, sedang berpikir keras, bagaimana caranya keluar dari rumah Eyang Putri. Tak pernah menyangka sebelumnya kalau ternyata hidup bersamanya adalah sebuah bencana. Bencana besar.
Bagaimana tidak?
Belum genap dua minggu di sini, sudah terhimpit dengan banyaknya jadwal les. Apa yang sudah merasuki Eyang Putri sehingga menetapkan semua itu untuknya? Memangnya enak, ditekan dengan sekeras itu? Bagaimana bisa happy seperti ekspektasinya kalau seperti ini. Sekarat, iya.
"Ya, Tuhan!" Jerit pedih hati Ayesha. "Mama - Papa saja nggak pernah berbuat seperti ini untukku!"
"Girl, kaku yakin mau menetap di sini sampai lulus SMA?" Ocha memberanikan diri bertanya. "Masih satu tahun lagi, lho!"
Empatik, Sachi mengangguk mantap. "Iya lho, Sha. Satu tahun dan itu bukan waktu yang sebentar, kan?"
Ocha merangkul Ayesha dari samping, menghentikan langkah. "Kamu nggak mau mikir-mikir lagi gitu, Girl? Ya ampun … Ini bukan hanya tentang kita harus LDR lho, serius. Jogja kan, nggak sama dengan Jakarta, Girl? Ya, walaupun sudah bertabur mall dan tempat wisata, sih. Tapi, apa kamu nggak bakalan kangen sama kami?" Ocha melirik Sachi, memberi isyarat supaya menimpali. Mendukung usahanya. Egois memang, tetapi berjauhan dengan Ayesha sudah barang tentu menyiksa.
"Sha, kamu yakin dengan semua ini, Sha? Habis lulus SMA kamu balik ke Jakarta, kan? Eh, kita jadi kan, kuliah di Eropa? Kembali ke tanah kelahiran kita?"
Ocha mengedipkan mata, berterima kasih banyak kepada Sachi. Soal bujuk membujuk dia ahlinya.
"Ya, aku belum tahu, sih."
Ocha - Sachi terbelalak berjamaah, terkejut parah dengan tanggapan Ayesha.
"Nggak yakin juga, mau di sini sampai lulus SMA. Aku bingung banget sih, sebenarnya."
Mendengar pengakuan Ayesha, Ocha - Sachi semakin terkejut. Sampai-sampai membelalakkan mata dengan sangat lebar. Selebar piring lepekan. Mereka pikir Asyeha sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Seketika ego dalam diri Ocha menyusut. Berarti Ayesha dalam masalah besar dan dia harus membantunya. Bersama Sachi, tentu saja.
"Ummm, oke, Girl." Ocha melepaskan rangkulannya, kembali melangkah pasti menikmati senja. "Apa pun itu, aku percaya kamu bisa bersikap dewasa dan bijak. Kamu, Chi?"
Sachi mengangguk-anggukkan kepala. Menyibakkan poni yang menutup mata ke belakang. "Iya, aku juga. Ya, intinya sih, aku nggak mau kamu nggak senang hati di sini, Sha."
__ADS_1
"He'emh, Girl. Sebagai sahabat dekat dari sejak bayi, aku hanya menginginkan kebahagiaan kamu, Girl. Nggak lebih. Karena kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan aku juga, Girl."
"Tapi Eyang Putri benar-benar sayang sama kamu kan, Sha?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Sachi, membuatnya menyesal. Oh, andai semua itu bisa ditarik kembali, pasti segera dilakukannya.
"Pastilah!" Beruntung Ocha sedang dalam mode bijaksana. "Cucu semata wayang!" Imbuhnya sambil menunjuk ke Ayesha yang mengulum senyum tulus.
***
Mbak Nanas terlihat lebih sumringah malam ini, begitu juga dengan Eyang Putri. Kecuali Tante Mika, tentu saja. Wajahnya terlihat seperti puteri patah hati. Tak sedikit pun senyuman menghiasi wajahnya. Eyang Putri sampai menegurnya berkali-kali. Tidak sopan katanya, bermuram durja di antara keluarga yang bergembira. Kalau ada masalah, lebih baik diutarakan saja.
"Mika, Mika! Kamu tuh, kok, beda banget gitu lho sama almarhumah mbakyumu? Mbok ya yang bagus gitu lho, yang pintar bawa dii!"
"Ya jelas beda lah, Bu. Mbak Ayumi kan, anak emas Ibu sama Romo . Sedangkan aku? Anak buangan!"
"Mika, jaga ucapan kamu, ya? Ibu sama almarhum Romo nggak pernah beda-bedain kamu sama almarhumah mbakyumu. Kamu saja yang merasa. Ck! Sampai mbakyumu sudah meninggal dunia saja masih kamu ungkit-ungkit. Mbok ya jangan gitu. Fokus saja sama masa depan kamu sendiri, Mika. Cari suami, gitu?"
Bukannya mereda, menanggapi dengan baik atau bagaimana, Tante Mika justru bangkit berdiri dari tempat duduknya. Dengan kasar, berjalan keluar dari ruang makan. Eyang Putri merapatkan rahang, menahan amarah.
"Saya, Ndoro Putri."
"Kita mulai saja makan malamnya. Kasihan anak-anak sudah lama menunggu."
"Baik, Ndoro Putri." Tanpa menunggu titah untuk yang ke dua kalinya, Mbak Nanas mematikan lampu, menyalakan lilin yang terletak di tengah-tengah meja makan. "Silakan, selamat makan malam, Ndoro Putri dan semuanya!"
Sebisa mungkin Ayesha menyebarkan senyuman kepada semua yang ada di ruang makan. Sesungguhnya sangat malu dengan peristiwa beberapa saat yang lalu itu namun bagaimana lagi? Dia tak memiliki kuasa untuk mencegahnya terjadi. Lagi pula, bukankah Eyang Putri dan Tante Mika sudah dewasa? Pasti paham mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk dilakukan.
"Ocha, Sachi … Selamat makan malam!"
"Thanks, Girl!"
__ADS_1
"Maksih banyak-banyak, Sha. Menu makan malamnya istimewa sekali!"
Eyang Putri senang sekaligus bangga dengan pujian tulus Sachi, tentu saja. Dengan wajah yang kembali terpilih ceria mengatakan, "Tentu, Sayang. Ini semua Eyang Putri siapkan untuk cucu-cucu Eyang Putri yang baik hati. Yuk, lanjut makan, yuk? Selamat menikmati!"
***
Sepulang dari jogging dengan dikawal Mbak Nanas, bertiga sahabat dekat duduk-duduk santai di beranda depan. Ocha melanjutkan membaca majalah remaja favorit, Sachi menyisir rambut yang basah oleh keringat, membiarkannya terurai memanjang sampai ke pinggang. Ayesha? Dia sibuk searching baju renang berwarna peach di online shop. Kemarin, Mbak Nanas membelikan warna biru langit polos dan jingga menyala. Terlalu gonjreng baginya.
"Ummm, nggak ada deh, kayaknya!" Keluh Ayesha sambil meletakkan smartphone kesayangan di atas meja kaca bulat kecil di sampingnya. "Cha, Chi … Bantu, dong. Aku lagi nyari baju renang warna peach, nih."
"Lah, bukannya banyak ya, di olshop?"
"Kok, aku nggak nemu?"
Ocha mengalihkan pandangan dari majalah. Membatasi dengan jari telunjuk. "Apa sih, ribut-ribut?"
"Ini, Ayesha mau cari baju renang warna peach. Biar lebih sreg gitu."
"Oh?"
"Ye, oh saja, gitu?" Ayesha mengajukan protes keras. Memasang wajah cemberut parah. "Bantuin, Cha, please?"
Melihat tingkah manja Ayesha, Ocha tertawa lirih. Meletakkan majalah di atas kursi kosong di sebelahnya. Menurunkan tubuh ke lantai, mengajari Sachi yang sudah mulai berselancar di internet.
"Harus peach ya, Girl!"
"As always, hihihihi …!" Ayesha terlihat senang. "Namanya juga warna favorit. Gimana juga sama kamu yang cinta mati sama warna kuning, hayo?"
Ocha nyengir kuda poni. "Iya, deh. Sini aku bantu!"
__ADS_1
"Ini Sha, ada yang warna peach tapi kamu suka nggak sama modelya?" Sachi mengangsurkan smartphone kepada Ayesha. "Panjang gitu, modelnya."
"Halo, para gadis cantik, selamat pagi!" Tak ada angin tak ada hujan, ujug-ujug Mas Lintang sudah berdiri di depan beranda, dengan wajah sumringah parah. "Halo, Ayesha!"