Di Balik Diamnya Ayesha

Di Balik Diamnya Ayesha
Patah Seribu


__ADS_3

Pasti, penuh semangat, Ayesha mengikuti Mbak Nanas ke kamar barunya. Kamar yang terletak di lantai dua, bersebelahan dengan kamar Mama. Dulu, sebelum menikah dengan Papa. Bukan hanya memberikan kesan aman, nyaman dan hangat Ayesha juga dapat merasakan suasana tenang. Damai. 


"Jadi, ini kamar Ayesha, Mbak Nanas?"


Dalam hati, Ayesha berdecak kagum. Eyang Putri tidak main-main dengan semua yang dikatakannya. Kamar ini benar-benar mewah. Luas, girly, dilengkapi dengan kamar mandi yang luxury. Ada shower, bathtub, rak buku, lemari perlengkapan mandi, timbangan berat badan, wastafel dan kaca cermin bundar besar di atasnya. Dinding yang dilapisi dengan wallpaper bertema flower garden membuatnya merasa fresh. Seketika musnahlah rasa muak terhadap Tante Mika yang kegenitan menggoda Papa, berganti dengan senyum sekaligus semangat baru. 


"Gimana, Ndoro Alit?" Pertanyaan Mbak Nanas membuat bayang-bayang Papa dan Tante Mika terhempas dari benaknya. "Ada yang perlu ditambahkan atau dikurangi?"


Ayesha mengedarkan pandangan ke sekeliling. Merayapi seisi ruangan dengan mata yang tergenang haru. Tempat tidur yang besar dan luas, rak buku yang masih kosong, meja belajar lengkap dengan desktop dan printer, lemari pakaian, aquarium, rumah boneka yang belum berpenghuni, keranjang pakaian kotor, tempat  sampah, TV layar datar berukuran jumbo, satu set sofa plus karpet bulu. Di sudut kamar, ada ayunan dan kursi goyang. Tanpa sadar Ayesha terpekik takjub. Bagaimana bisa Eyang Putri tahu kalau ini adalah kamar impiannya? Kalau dia membuka jendela dan menatap ke luar, dia akan melihat beraneka warna bunga dari ujung ke ujung halaman rumah. 


"Nggak, Mbak Nanas. Ayesha suka kamar ini. Mewah sekali. Lengkap dan menyenangkan."


"Baik, Ndoro Alit. Kalau begitu saya minta izin menyusun pakaian Ndoro Alit di lemari."


Ayesha hanya mampu mengulum senyum, isyarat bahwa dia mengizinkan Mbak Nanas untuk menyelesaikan pekerjaannya. 


"Oh ya, kalau Ndoro Alit berkenan, saya dengan senang hati akan membantu menyusun buku dan semua perlengkapan …?"


"Tentu, Mbak Nanas. Ayesha senang, Mbak Nanas bantu." 


"Ah, Ndoro Alit, ini sudah menjadi pekerjaan saya di rumah ini. Jadi, Ndoro Alit tak perlu sungkan."


Malu-malu, Ayesha mengangguk. Tersenyum kikuk. Papa dan Mama tidak pernah mempekerjakan seorang pembantu di rumah. Semua mereka kerjaan bersama-sama. Papa mendapat pekerjaan menyapu, mengepel lantai, membersihkan kamar mandi dan menyiram tanaman. Sedangkan Mama dan Ayesha, mendapat pekerjaan memasak, membersihkan semua kaca, mencuci perkakas dapur, mencuci pakaian plus menyeterika, dan berbelanja kebutuhan rumah tangga. Walaupun kadang-kadang penat tetapi Ayesha dengan senang hati menyelesaikan semua pekerjaannya. 


Sekarang? 


Ada Mbak Nanas yang bersedia melakukan apa saja untuknya. Seperti mimpi rasanya, sampai-sampai Ayesha mencubit pipinya sendiri. Sakit dan itu berhasil meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah mimpi semata-mata. 


"Oh, nggak kok, Mbak Nanas."


"Alhamdulillah, Ndoro Alit, saya senang dengannya. Teruslah begitu, ya? Jangan malu apalagi ragu. Saya di sini untuk Ndoro Alit dan Ndoro Putri."

__ADS_1


Lagi, Ayesha mengembangkan senyum manis. "Mbak Nanas, boleh nggak Ayesha melihat-lihat kamar Mama? Ayesha rindu."


Dalam hati Ayesha melanjutkan, "Ada banyak kenangan bersama Mama di sana yang takkan pernah Ayesha lupakan. Oh, Mama …!"


***


"Mas, kamu kenapa, Mas?" Tante Mika berusaha mendobrak pintu kamar mandi namun gagal total. Akhirnya dia hanya bisa berteriak-teriak emosional. "Kamu nggak lagi mabuk kan, Mas?" 


Kasar, Papa keluar dari bathtub. Menyambar bath jas yang tergantung di samping lemari perlengkapan mandi. Dengan kemarahan yang berkobar-kobar, membuka pintu. Menunjuk-nunjuk wajah Tante Mika yang sudah berubah menjadi mayat hidup. Jauh di lubuk hatinya takut kalau-kalau Papa mendepaknya keluar dari rumah ini. Bagaimana kalau one night stand dengannya kemarin malam membuahkan hasil? "Kamu yang mabuk, bukan aku!" 


"Lho, kok gitu sih Mas, kamu ngomongnya. Kamu lagi ada masalah? Cerita dong, biar nggak berat banget!" Tante Mika berusaha bersikap setenang mungkin. Menahan diri, jangan sampai terpercik api kemarahan Papa. Bahaya. 


"Bukan urusan kamu, aku ada masalah atau nggak!"


Tante Mika melekatkan pandangan. Memindai dusta dalam diri Papa. "Kamu kenapa sih, Mas Vino? Apa aku ada salah sama kamu?"


Papa terdiam. Menjauhkan pandangan darinya. Lebih tepatnya, menunduk dalam-dalam sambil menghela napas panjang. Menghempaskan seluruh kekacauan dalam jiwa bersama napas hangatnya. 


"Sorry, Mika … Tolong jangan ganggu aku lagi. Kita bukan siapa-siapa dan kamu paham itu, kan?"


"Maksud kamu, Mas?" 


"Ya, kamu tahu lah, Mika. Kita bukan suami istri dan mulai sekarang tolong kamu tinggalkan rumah ini. Sorry."


Papa mulai sadar sekarang, mereka tak boleh melanjutkan hubungan terlarang itu. Bagaimanapun, apa pun yang terjadi hubungan itu harus segera berakhir. Anggap saja kecelakaan alam. Toh, bukan dia yang mengawali semua ini melainkan Mika.


"Mas, Mas Vino!" Tante Mika berusaha mengejar Papa yang berjalan cepat ke dalam kamar. "Tunggu, Mas! Mas Vino, dengarkan penjelasan aku dulu!


Papa berhenti di samping tempat tidur namun tak sedikit pun menoleh ke arah Tante Mika. 


"Kamu harus bertanggung jawab dong, Mas! Ya, kita kan sudah melakukannya? Nggak mungkin dong, kamu pergi begitu saja? Kamu pikir aku ini boneka, Mas?"

__ADS_1


***


"Bukannya saya nggak mau ngasih atau gimana ya, Ndoro Alit?" Mbak Nanas memulai penjelasannya. "Ndoro Putri sudah wanti-wanti sama saya, jangan sampai seorang pun masuk ke kamar Ndoro Jeng Ayumi. Gitu, Ndoro Alit. Maaf, ya?"


Ayesha tersenyum masam bercampur getir dan sedih. Mengapa Eyang Putri menetapkan larangan itu? Ada masalah apa? Apa ada sesuatu yang dirahasiakan tentang Mama? Padahal Ayesha hanya ingin sedikit melepaskan rindu.


"Oh, ya sudah, Mbak Nanas. Sekarang Ayesha ke bawah dulu, ya? Tas ransel Ayesha masih di mobil, lupa mengeluarkan tadi."


"Baik, Ndoro Alit. Hati-hati, ya? Nanti kalau sudah selesai saya cepat turun. 


Ayesha mengangguk, mengulas senyum tulus meskipun terlihat sedih. Benar baginya, kehilangan Mama telah menjadikannya seperti raga tak bernyawa. 


"Ayesha …!" Eyang Putri menyapa dari ruang baca yang berada di tengah-tengah ruang keluarga dan ruang makan. "Gimana, suka kan, sama kamarnya?" Bahagia, Eyang Putri mengembangkan senyuman. Meletakkan buku yang tadi dibaca setelah meletakkan pembatas. Menyambut Ayesha dengan mata dipenuhi binar-binar keharuan. 


"Suka sekali, Eyang Putri. Terima kasih banyak, Ya?" Ayesha menjawab dengan jujur ketika sudah sampai di dekat Eyang Putri. Wanita dengan beberapa helai rambut putih di kepala itu, menyimpulkan senyum. Memandang lembut dan teduh.


"Sama-sama, Ayesha yang baik hatinya. Semoga Ayesha betah di sini, ya? Agak sepi memang, nggak seperti di Jakarta. Hehehehe …!"


Ayesha ikut tertawa. Merentangkan tangan sambil meluaskan pandangan ke seisi ruangan. "Nggak sepi kok, Eyang Putri. Kan, Ayesha nggak sendiri? Ada Eyang, Mbak Nanas, Bibi …."


Eyang mengangguk kecil. "Iya sih, Ayesha. Ada Pak Tardi juga. Itu, supir yang tadi ngantar Eyang jemput Ayesha."


"Oh, syukurlah, Eyang. Ayesha senang."


"Nah, nanti malam kita akan kedatangan tamu, Ayesha. Sekalian makan malam."


Ayesha mengernyitkan dahi, bingung. Baru saja sampai di sini, sudah ada tamu? 


"Ayesha ingat Mas Lintang, kan?"


Reflek Ayesha mengangguk. Karena masih bingung, tak seulas senyum pun menghiasi wajahnya. Dalam hati bertanya-tanya, "Ha, Mas Lintang yang sukanya main ketapel itu? Aduh!"

__ADS_1


__ADS_2