Di Bawah Langit Yang Sama

Di Bawah Langit Yang Sama
Bab 10


__ADS_3

Mark tiba-tiba meneleponku saat aku mulai kembali membantu di dapur.


" Hallo, Sayang. Apa kabar?" sapa Mark dengan suaranya yang begitu lembut. " Baik, Mark. I miss you. Ada berita apa dari kantor, Mark?" ucapku.


" I miss you so much, my sun. Tapi, kamu memang pekerja keras, masih saja memikirkan kantor." Mark tertawa, berusaha bercanda. " Tapi, memang ada berita, Mr. Jeremy memang menanyakan kamu. Prosedur HRD. Itu yang pertama. Yang kedua, perusahaan Mr. Hansel menanyakan perihal gambar yang belum kamu serahkan kepada mereka."


" Mark... " panggilku pelan.


" Yes, Darling?"


" Maafkan aku."


Mark tidak langsung menanggapi permintaan maafku. " Kamu tahu bahwa posisi aku serbasalah, Alya. Di satu sisi, aku adalah atasanmu yang menuntut sikap profesionalmu terhadap perusahaan ini. Di sisi lain, aku adalah kekasihmu yang mengerti dilema kamu saat ini."

__ADS_1


" Aku tahu, Mark. Maaf, keadaannya sedang begini. Aku berusaha sebisa mungkin menggambar selama berada di rumah, tetapi aku merasa bahwa gambar-gambar yang telah aku hasilkan tidak ada yang bagus. Aku tahu deadline-nya semakin dekat. Mr. Hansel hanya memberiku waktu satu bulan. terhitung saat perjanjian kita dengannya, dan itu semakin berkurang saja setiap harinya sejak aku pulang ke Jakarta. Apakah menurutmu, sebaiknya aku mengundurkan diri dan kamu mencari orang lain yang bisa menggantikan diriku?" tanyaku pelan-pelan. Sejujurnya, aku menyukai pekerjaanku di perusahaan tekstil itu. Di sana, aku mendapatkan banyak pelajaran yang tidak dapat aku peroleh dari kampus mana pun. Tetapi, apa yang bisa aku lakukan untuk bertahan jika aku saja tidak dapat menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadaku?


" Alya, aku tahu kamu bisa menyelesaikan semua ini." Mark berusaha menenangkan diriku yang panik. " Bagaimana jika kamu mengirimkan surat cuti untuk beberapa minggu ke depan tanpa ditanggung oleh perusahaan, tetapi kamu tetap menggambar desain yang diinginkan Mr. Hansel hingga tanggung jawabmu itu selesai?" Mark berusaha menemukan jalan keluar diriku dan perusahaannya. Satu hal yang aku kagumi dari Mark, dia adalah pemimpin yang sigap dalam bertindak untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di perusahaan ayahnya.


" Apakah itu yang harus aku lakukan?"


" Ya, aku rasa itu jalan terbaik." jawab Mark yakin. " Sekarang, cobalah menggambar lagi untuk Mr. Hansel. Coba kirimkan saja gambar-gambar yang sudah kamu buat itu kepadaku. Aku yakin, gambar-gambar yang kamu buat sangatlah indah." lanjutnya mencoba menghiburku.


" Iya, Mark. Aku akan mengirimkannya kepadamu segera." janjiku.


" Mark... " panggilku pelan.


" Ya?"

__ADS_1


" Aku janji tidak akan mengecewakan kalian semua untuk proyek ini. Aku janji akan menyelesaikan pekerjaanku." janjiku kepada Mark sungguh-sungguh. Mungkin karena Mark yang telah menaruh kepercayaan yang tinggi kepadaku. Aku hanya tidak ingin membuatnya kecewa.


" Oke, Alya. Aku akan pegang janjimu untuk masalah proyek itu. Tapi, kamu belun berjanji satu hal kepadaku."


" What?" tanyaku bingung. Janji apa lagi?


" Bahwa hatimu tidak akan kemana-mana selama di sana? Bahwa kamu akan kembali untukku?"


Aku tidak mampu menahan senyum yang hadir di bibirku. " I promise, Mark. I promise." ujarku pelan.


" Take care, Alya. I love you." ucap Mark sebelum kami mengakhiri sambungan telepon.


" Lobe you too, Mark." balasku dengan hati berbunga-bunga.

__ADS_1


Begitu menutup telepon dari Mark, aku langsung membuat surat pengajuan cuti selama dua minggu. Sebuah fasilitas istimewa yang tifmdak mungkin diperoleh pegawai lain yang baru bekerja selama dua tahun di perusahaan itu. Fasilitas istimewa yang hanya bisa kumiliki berhasil mendapatkan sebuah proyek besar untuk perusahaan ini. Sebuah fasilitas yang membutuhkan tanggung jawab besar setelahnya.


Jika aku tidak juga berhasil menyelesaikan proyek ini dengan baik, aku akan menanggung segala kerugian yang diderita oleh perusahaan. Tetapi, bagaimana jika aku tidak berhasil menyelesaikan tugasku tepat waktu? Aku mulai ngeri membayangkan bahwa desainer handal seperti Mr. Hansel akan datang ke kantor sambil marah-marah, mengancam tidak akan memproduksi kain-kainnya di perusahaan Mark dan menuduh bahwa perusahaan tidak berkualitas dalam menjaring tenaga kerjanya. Duh....


__ADS_2