
" Alya, nanti sore kamu pergi ke Supermarket beli bahan-bahan dan sedikit cemilan yang kurang. Ini simpan dengan baik, Ibu sudah menuliskan daftar bahan-bahan yang harus kamu beli." ujar Ibu kepadaku. Pagi ini, aku sedang duduk di meja makan dengan sebuah kertas saat sedang mencoba menggambar desain kupu-kupu yang lain untuk Mr. Hansel.
" Kenapa tidak sekarang, Bu?" tanyaku.
" Nanti sore saja, kalau sekarang takutnya ada yang kelupaan. Nanti Ibu ingat-ingat kembali."
ujar Ibu.
" Kenapa tidak sama Ibu juga? Nanti, kalau aku lupa membeli sesuatu, bagaimana? Susah bolak-balik dong." sahutku.
" Katanya, kamu kerja di perusahaan tekstil terkenal, membuat desain dengan sangat teliti. Masa kerjaan begini saja harus sama Ibu?" seru Ibu lagi. Aku memajukan bibirku satu senti ke depan. Ih, juteknya Ibu keluar.
" Terus, Alya sama siapa ke sana?" tanyaku.
" Sama Nak Adit aja, biar dia yang nyetir." jawab Ibu cepat. Aku tidak keberatan jika disuruh menyetir sendirian dari rumah ke Supermarket yang bisa ditempuh dalam jangka waktu setengah jam itu. Kebetulan di sekitar rumahku hanya ada warung-warung kecil, ada supermarket juga jauh dari rumah.
__ADS_1
Aku melirik Ibu dengan curiga. Kenapa akhir-akhir ini selalu nama Bang Adit yang Ibu sebut di hadapanku. Sedikit-sedikit Bang Adit, ada apa-apa Bang Adit, kemarin Bang Adit, sekarang juga Bang Adit.
" Kenapa harus dengan Bang Adit lagi, Bu?" tanyaku hati-hati.
" Loh, kenapa memangnya? Enak kan, sama dia. Kalian seumuran, jadi bisa enak ngobrolnya. Daripada kamu sama sopir dan cuma diam sepanjang jalan. Kalau sama Nak Adit, nanti bisa minta pendapat dia juga kan, untuk memilihkan sayuran yang bagus." lanjut Ibu lagi.
Aku masih menatap Ibu penuh selidik. Memang benar apa yang barusan Ibu jabarkan. Sebaiknya aku pergi dengan Bang Adit ke Supermarket nanti sore sehingga aku bisa meminta pendapatnya soal bahan-bahan yang bagus untuk dibeli. Tapi, aku curiga ada maksud tersembunyi dari semua ini.
" Ibu nggak ada maksud untuk jodohin Alya dengan Bang Adit, kan?" tanyaku pada akhirnya. Sungguh, pertanyaan ini sangat menggelitikku.
" Memangnya, kenapa kalau kamu sama Nak Adit? Orangnya kan baik, Alya." balas Ibu.
Ibu menatapku tajam, yang langsung membuat nyaliku tiba-tiba menciut. " Memangnya, pacarmu itu bisa sembahyang--sama kita?" tanya Ibu dengan nada pedas.
" Ibu... kok begitu? Bukankah semua sama di mata Tuhan?" tanyaku dengan nada kecewa.
__ADS_1
" Memang Alya, tapi kamu cuma punya satu keluarga. Dan ini adalah keluargamu. Ke mana pun kamu pergi, kamu akan kembali ke sini." ucap Ibu lagi.
" Iya, Alya ngerti soal konsep keluarga itu, tapi soal dengan siapa Alya hidup nanti, apa tidak ada hak untuk Alya cari sendiri, Bu? Tidak perlu dijodohkan."
" Kamu sudah dewasa Alya, sudah tahu apa yang seharusnya kamu lakukan untuk masa depanmu sendiri. Bagaimana kamu mengurus bisnis dan rumah ini, bagaimana posisi Ibu yang hanya memiliki anak perempuan. Jika kamu mengerti semua itu, kamu bisa memahami apa yang harus kita lakukan, Alya." Ibu berkata pelan, tetapi tegas. Aku menundukkan kepala.
Status Ayah sebagai pemilik perusahaan yang beliau rintis dari nol sampai sekarang sudah berkembang dengan baik dan stabil. Dan banyaknya tanah yang dimiliki oleh pihak keluarga selama beberapa generasi di desa ini.
Sementara Ibu, aku tahu Ibu merasa gagal sebagai seorang istri dan seorang ibu, yang hanya mampu memiliki dua anak perempuan, tanpa anak laki-laki sebagai penerus perusahaan--garis keturunan keluarga dari pihak laki-laki. Sepanjang hidupnya sebagai istri Ayah, Ibu berjuang mempertahankan dirinya sendiri dari sindiran masyarakat sekitar atas kekurangan yang dimilikinya. Sebenarnya, keluarga yang lain tidak menganggap hal itu sebagai sebuah kegagalan untuk Ibu. Namun, Ibu kerap merasa dirinya harus melakukan hal lain untuk menutupi kekurangannya. Aktif di keluarga dan kegiatan masyarakat dalam hal keagamaan sebagai salah satu cara yang ia lakukan. Hidupnya seolah hanya untuk melakukan kegiatan tentang keagamaan.
" Mark tidak seperti yang Ibu kira. Dia sangat terbuka dengan perbedaan kebudayaan. Selama ini dia selalu menerima keadaan Alya, bahwa Alya memiliki budaya yang berbeda dengannya. Dia tidak pernah melarang Alya sembahyang sesuai dengan kebiasaan Alya selama ini." Aku masih berusaha memberikan pemahaman akan keadaan Mark kepada Ibu, tentang siapa Mark sebenarnya.
" Pernah bicara dengan dia soal keluarga kita?" tanya Ibu.
Aku menggeleng pelan, Aku akui, aku tidak pernah membicarakan keluargaku kepada Mark. Aku hanya menceritakan siapa dan bagaimana keluargaku secara garis besar, tetapi tidak menceritakan peesoalan yang ada di dalamnya.
__ADS_1
" Hidup tidak melulu soal cinta, Alya. Ada banyak persoalan yang harus kita hadapi ke depannya nanti." ujar Ibu kali terakhir sebelum meninggalkan ruang makan, meninggalkan aku sendiri lagi.
Aku menatap kertas di hadapanku, teringat kepada Mark lagi. Sedih mulai merayap di dadaku. Mengapa aku tidak pernah bisa membicarakan tentang Mark dengan kedua orangtuaku? Mengapa mereka seolah menutup mata bahwa aku memiliki seorang kekasih yang telah menemani hari-hariku selama berada di Singapura sejak dua tahun ini? Ayah dan Ibu tidak pernah bertanya ataupun membahas tentang siapakah sekarang aku berhubungan. Mereka seolah menganggap bahwa aku tidak memiliki pasangan selama beberapa tahun terakhir ini.