Di Bawah Langit Yang Sama

Di Bawah Langit Yang Sama
Bab 12


__ADS_3

Beberapa hari terakhir, pikiranku begitu suntuk dengan semua beban yang aku alami akhir-akhir ini. Tadi malam aku sudah mengirimkan surat permohonan cuti kepada perusahaan melalui e-mail. Baru tadi pagi mereka membalas e-mail-ku dengan harapan bahwa aku segera menyelesaikan tugas-tugas yang masih menjadi tanggung jawabku selama aku cuti. Sesuai yang Mark sarankan, aku harus menyelesaikan desain-desain untuk Mr. Hansel.


Waktu masih menunjukkan pukul sembilan saat aku selesai bicara dengan Ibu. Sesungguhnya hari ini tidak ada banyak pekerjaan di dapur sehingga aku memiliki waktu untuk dapat mengerjakan gambar-gambar yang harus aku kumpulkan dengan segera hingga tiba waktuku untuk pergi ke Supermarket nanti sore untuk membeli bahan-bahan yang sudah mulai habis seperti yang Ibu perintahkan kepadaku barusan. Namun, setelah bercakap-cakap singkat dengan Ibu beberapa saat lalu, pikiran dan perasaanku menjadi begitu tidak enak sekaligus merasa sedih akan apa yang Ibu katakan kepadaku mengenai Mark. Keinginanku untuk dapat menggambar lagi, seolah hilang tak berbekas. Otakku menjadi kosong.


Aku melirik ke arah luar rumah, ke arah halaman yang hanya dihadiri segelintir saudara-saudara yang sedang hilir-mudik untuk mempersiapkan upacara tujuh harian Nenek nanti malam. Sepertinya jika aku kabur sejenak dari rutinitas ini, tidak akan ada yang protes.


Dengan mengendarai mobil, aku menuju ke arah Taman di tengah kota Jakarta. Aku berharap di Taman bisa mendapatkan beribu-ribu ide untuk diriku bisa menggambar lagi sekaligus membebaskan perasaan gundah yang aku rasakan kali ini.


Pukul sebelas siang, aku telah tiba di Taman dengan berbekal kamera saku dan sebotol air mineral.


Berjalan santai di area kebun dengan berbagai macam tanaman dan ramainya sekumpulan orang dewasa dan anak-anak yang datang ke taman tersebut membuat aku terhibur sejenak. Aku menatap ponselku yang menampilkan gambar Burung Merak, Burung Terbesar dan Terindah yang bisa Terbang. Betapa aku mencintai binatang ini, betapa aku terpesona pada keindahannya, betapa aku mengagumi bulu ekor yang jika dikembangkan, akan terlihat sangat indah dan semarak. Siapa yang tidak mengenal Burung Merak? Salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki keindahan pada bulunya.


Aku memilih duduk di sebuah bangku, di bawah pohon yang lumayan rimbun hingga menghadirkan keteduhan di siang hari ini. Angin berhembus menyisiri tubuh dan rambut panjangku, memberiku sensasi rasa menenangkan yang sangat kubutuhkan akhir-akhir ini.


Aku melayangkan pandanganku ke atas, ke arah langit yang tidak lagi biru. Menatap awan-awan untuk beberapa detik.


Tiba-tiba, ponsel di sakuku yang kupinjam dari Putri berbunyi. Bang Adit?


" Halo, Bang Adit?" sapaku menjawab panggilan teleponnya.


" Halo, Alya. Kata tante, kamu mau diantar ke Supermarket nanti sore? Apa jadi?" tanya Bang Adit.


" Oh, itu... nggak usahlah Bang. Aku sendirian aja." tolakku halus.

__ADS_1


" Loh? Nggak apa-apa Al, aku lagi nggak ada kerjaan juga, kok."


" Lain kali saja, Bang. Aku sudah pergi sendiri sekarang."


" Oh... sudah ke Supermarket?"


" Aku ke Taman dulu. Ada perlu, setelah ini baru ke Supermarket."


" Nggak capek nyetir sendirian jauh-jauh gitu rutenya, Al?"


Aku paham maksud Bang Adit. Rumah, Taman dan Supermarket seperti segitiga. Rumah berada di tengah-tengah bagian utara, Taman berada di bagian barat Rumah yang berjarak satu jam perjalanan, dan Supermarket berada di bagian timur Rumah yang berjarak setengah jam perjalanan. Jika aku ke Taman dulu baru ke Supermarket, itu artinya aku menempuh perjalanan selama satu jam untuk bisa tiba di Taman. Lalu, satu jam setengah untuk bisa tiba di Supermarket, di tambah setengah jam lagi untuk sampe di rumah. Total tiga jam hanya untuk di perjalanan.


" Nggak kok, Bang. Makasih ya, udah mau mengantarku."


" Nggak masalah, Al. Jangan sungkan gitu. Aku senang kok, nemenin kamu."


" Maksudnya?" tanya Bang Adit, terdengar bingung.


" Ya, kamu seneng karena terpaksa disuruh Ibuku atau memang seneng nemenin aku?" Aku mengulang pertanyaanku.


" Aku seneng nemenin kamu kok, Al. Nggak usah disuruh-suruh sama tante. Memangnya kenapa nanya gitu?"


" Nggak kenapa-kenapa, kok." jawabku cepat.

__ADS_1


" Ada masalah, Al?" tanya Bang Adit, menuntut penjelasan atas pertanyaan anehku barusan.


" Nggak ada, Bang." hindarku.


" Kamu nggak seneng keluar sama aku, ya?" tuduh Bang Adit.


Aku mendesah pelan. Bang Adit terlihat tersinggung atas pertanyaanku tadi. Satu hal inilah yang ingin aku hindari dari usaha Ibu menjodohkan diriku dengan Bang Adit. Aku menyayangi Bang Adit selayaknya sebagai saudaraku sendiri karena besarnya keinginanku untuk memiliki saudara laki-laki. Bagiku, Bang Adit adalah saudara laki-lakiku. Kami tumbuh bersama sejak kecil, menjalani masa kecil dengan riang gembira. Jika kini Ibu menginginkan agar kami memiliki hubungan lebih dari sekadar saudara, ada kemungkinan salah satu di antara kami akan ada yang tersakiti. Dan kali ini, aku harus menjadi pihak yang menyakiti.


" Senang kok, Bang. Cuma nggak enak aja minta tolong kamu terus."


" Sebenarnya, aku yang minta sama tante, Alya. Aku yang pengin dekat sama kamu. Boleh kan, Al?"


Aku mendadak kehilangan kemampuan berkata-kata. Bang Adit yang meminta izin kepada Ibu?


" Alya..." panggil Bang Adit lagi ketika aku tidak kunjung menjawab perkataannya.


" Kita kan, sudah dekat Bang." balasku, mencoba berkelit dari arti sesungguhnya.


Bang Adit terdiam mendengar perkataanku. Apa aku menyinggung perasaannya lagi?


" Bang, kita bicara nanti lagi ya, di rumah. Nggak enak kalau bicara di telepon kaya gini." Aku harus mengakhiri pembicaraan tidak nyaman ini segera. Aku tidak ingin menambah rasa sakit hati pada diri Bang Adit.


" Baik, Alya. Kamu hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa, kabari aku ya." ujarnya pasrah.

__ADS_1


" Terima kasih, Bang."


Aku menghembuskan napas panjang. Baru aku sadari bahwa menolak perjodohan adalah sebuah masalah kecil jika dibandingkan harus menolak hati seseorang yang kamu anggap sebagai saudara. Kalau aku tidak nyaman dengan usaha pendekatannya ini, apakah hubunganku dengannya akan tetap seperti dulu? Aku tidak ingin dia menjauh. Saudara tidak saling menjauh, kan?


__ADS_2