Di Bawah Langit Yang Sama

Di Bawah Langit Yang Sama
Bab 13


__ADS_3

Aku memandangi adikku dan kekasihnya dari kejauhan. Mereka terlihat begitu serasi satu sama lain. Brahma memang dapat dikatakan masih belia dengan usianya yang baru 24 tahun, tetapi dia memiliki visi dan misi yang jauh untuk masa depannya. Satu hal lagi yang bisa kulihat dari kekasih adikku itu adalah dia memang mencintai Putri. Terlihat dari caranya memandang Putri, caranya dia berbicara kepada Putri, dan caranya dia bersikap.


Aku tidak keluar rumah sama sekali malam hari ini, sengaja menghindari orang banyak di halaman depan rumah yang masih ramai oleh keluarga. Bukan karena aku tidak senang menerima tamu-tamu keluarga yang datang, melainkan karena sedang tidak enak hati. Aku khawatir, hal-hal yang tidak aku inginkan terjadi jika mereka mengajukan pertanyaan "wajib" kepadaku nanti. " Kapan menikah, Alya?"


Aku memilih tenggelam di dunia kertasku, berusaha menyelesaikan gambar lainnya di atas meja makan untuk Mr. Hansel yang terbengkalai karena kesibukkanku akhir-akhir ini. Aku berjanji kepada Mark bahwa aku akan menyelesaikan gambar-gambarku tepat waktu, membuat otakku semakin tumpul karena hal yang terasa begitu menekanku akhir-akhir ini.


" Kak Alya, dicari sama Mas Brahma. Dia mau pamit." Putri tiba-tiba datang menghampiriku.


Aku mengangkat wajah dari kertas yang kutekuni. " Hai Brahma, apa kabar?" sapaku kepada kekasih Putri itu. Sudah hampir satu tahun lamanya kami tidak pernah ketemu.


" Malam, Kak Alya. Brahma baik-baik saja. Kak Alya sendiri, apa kabar?" sapa Brahma sambil menjabat tanganku dengan sopan.


" Baik. Sini duduk dulu." ajakku kepada mereka berdua.


" Maaf, Kak. Saya mau pulang dulu, maaf tidak bisa lama-lama di sini." Brahma meminta maaf karena tidak bisa berlama-lama.


" Oh, begitu ya. Baik, silahkan. Terima kasih sudah datang." ucapku berterima kasih atas kehadirannya.

__ADS_1


" Iya, sama-sama Kak. Mari, saya permisi dulu."


" Hati-hati."


Brahma hanya tersenyum. Putri mengantar kekasihnya keluar. Aku hanya mengamati mereka yang berjalan menjauhiku.


- - -


" Kak Alya, boleh bicara sebentar?" Putri tiba-tiba datang lagi menemuiku.


" Ada apa?" tanyaku sambil meletakkan pensil di atas meja.


Aku mengangkat kedua alisku. " Kenapa tidak boleh?" sahutku.


Putri menatapku lekat. " Iya, memang Kak Alya nggak masalah, Tapi Putri khawatir akan pendapat Ayah dan Ibu."


" Ayah dan Ibu bukannya sudah tahu soal rencana kalian? Setahu Kak Alya, hanya Kakak yang tidak tahu soal rencanamu ini. Lalu, masalahnya apa lagi?" tanyaku.

__ADS_1


Putri meringis karena merasa tersindir olehku perihal ketidaktahuanku atas rencana pernikahannya itu.


" Ibu tidak mungkin mengizinkan Putri menikah kalau Kak Alya belum menikah."


" Putri, Ibu nggak mungkin tidak mengizinkan kamu menikah karena kamu akam diambil oleh keluarga dari suamimu nanti. Itu suatu kebahagiaan bagi Ibu, karena kamu akan segera punya kehidupan baru dan Ibu akan segera punya cucu. Yang mungkin tidak diber izin untuk menikah sebenarnya adalah Kakak sendiri. Kakak tidak boleh meninggalkan dari rumah ini. Kamu paham, kan?" Aku tahu bahwa aku sedikit keras bicara dengan adikku ini. Namun, aku sudah tidak tahan dengan semua hal yang terjadi di rumah ini dan semuanya yang bersangkutan dengan diriku. " Jadi, kamu tidak usah khawatir." lanjutku lagi.


" Kak Alya tidak boleh menikah?" tanya Putri bingung.


Aku tertawa kecil. " Boleh. Tapi, dengan siapa orangnya itu yang tidak boleh macam-macam." jawabku sambil tertawa, berusaha membuat keadaan menjadi bahan tertawaan bagi kami berdua. Apakah keinginanku untuk bisa menikah dengan Mark tidak dianggap serius oleh keluargaku? Bahwa aku begitu menginginkan dia menjadi pendamping hidupku? Bahwa dengan mengetahui Mark ternyata memiliki rasa sayang terhadap Alya, adalah hal yang tidak bisa, mengingat sosok Mark yang begitu luar biasa dibandingkan dengan sosok Alya yang biasa-biasa saja tidak ada apa-apanya ini. Namun, siapa sangka bahwa aku yang bukan apa-apa ini harus memilih seseorang yang bisa menjadi pendampingku. Dan orang tersebut bukanlah pilihanku sendiri.


" Termasuk, tidak boleh dengan pacarnya Kak Alya yang sekarang berada di Singapura itu?" tanya Putri lagi.


Aku mengangguk lemah. Senyym di wajahku menghilang seketika. Hati ini mendadak terasa nyeri membayangkan bahwa aku tidak bisa merangkai masa depan yang aku inginkan bersama Mark. " Kak Alya tidak boleh meninggalkan rumah kita ini, Putri." jawabku dengan nada pelan, menegaskan.


Putri terdiam mendengar jawabanku. Kami tahu benar harus ada salah satu yang tetap tinggal di rumah karena mengingat permintaan mendiang Kakek dari Ayah pada saat itu. Dan beban itu pasti jatuh kepadaku karena adikku berhasil mendapatkan pasangan lebih dulu dan sebentar lagi akan menikah, pastinya akan ikut bersama suaminya. Aku menatap Putri beberapa saat. Ada perasaan tidak enak terhadap adikku ini. Bukan salahnya jika aku harus menanggung beban ini.


" Memangnya, kapan rencana kamu dilamar?" tanyaku kepada Putri.

__ADS_1


" Bulan depan, Kak. Rencana menikahnya lima bulan lagi sebelum Kakaknya Mas Brahma pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya S2."


Aku menatap Putri dengan tatapan putus asa.


__ADS_2