
Jangan lupa like dan comment ya. Terima kasih untuk yang setia membaca😍❤❤❤
Lanjut....
Aku melirik Bang Adit lagi, berharap dia bisa menolongku saat ini.
" Bu, tidak masalah jika Putri menikah. Masa karena dia mau nikah sekarang, Alya juga disuruh buru-buru nikah?" sela Bang Adit kepada ibunya. Rupanya dia menangkap isyaratku.
" Ah, kalian berdua sana saja. Usia sudah tua begini, masih saja suka aneh-aneh nyarinya. Kamu terutama Dit. Nyari pacar tuh yang bener. Masa tidak ada pacar-pacarmu selama ini yang bener? Semuanya aneh-aneh." celoteh Tante Runi.
Aku melirik Bang Adit yang terlihat salah tingkah karena perkataan ibunya mengenai dirinya dihadapanku. Aku memasang senyum. Bukan senyum meledek, melainkan senyum prihatin. Oke, tadi aku yang dipojokkan, kini dia.
" Bu, dipanggil Ayah." potong Bang Adit tiba-tiba. Tante Runi menoleh kebelakang untuk mencari keberadaan suaminya. Dilihat, suaminya berada di antara saudara-saudara yang sedang bercakap-cakap di halaman depan rumah, memanggil Tantr Runi untuk segera mendekat.
" Oh, iya. Tante ke sana dulu ya, dipanggil Om soalnya." pamit Tante Runi kepadaku.
" Iya, Tante. Nanti Alya nyusul ke sana." balasku.
Tante Runi berlalu dari hadapan kami. Aku terdiam di tempatku berdiri, menghembuskan napas lega.
" Sorry ya, soal ucapan Ibu barusan. Ibu memang cerewet orangnya." ujar Bang Adit tidak enak terhadap diriku.
Aku menggeleng pelan. " Tidak apa-apa, Bang. Namanya juga Ibu, kalau tidak cerewet nanti anaknya tidak bisa lancar bicara." balasku bercanda sambil duduk kembali.
Bang Adit tertawa.
" Memangnya apa yang barusan Ibu katakan, itu benar?" tanya Bang Adit.
" Yang mana?" balasku bingung.
" Kalau kamu tidak ada rencana nikah dekat-dekat ini?"
__ADS_1
" Oh, yang itu. Iya."
" Kenapa?"
" Apanya yang kenapa?" pertanyaan Bang Adit pendek-pendek sehingga aku tidak mengerti apa yang ingin dia tanyakan sebenarnya.
" Kenapa tidak ada rencana nikah dekat-dekat ini?" ulang Bang Adit.
" Karena memang aku tidak ada rencana ke sana dulu." jawabku.
" Kalau calonnya? Sudah ada?"
Aku menatap Bang Adiy penuh selidik. Jadi, dia ingin mengetahui apakah aku telah memiliki calon atau belum? Pikiranku melayang lagi kepada Mark. Ah, aku merindukan pria itu. Merindukan canda tawanya yang senang sekali menggodaku, merindukan tatapan tajamnya yang hanya tertuju untukku, merindukan kehadirannya untuk menjemputku berangkat ke kantor setiap hari, merindukan ekspresi seriusnya saat dia sedang bekerja. Aku merindukan semua yang ada pada dirinya.
Dan apakah Mark boleh aku anggap sebagai calon untuk diriku? Apakah Mark tidak akan keberatan jika aku menganggapnya sebagai calonku? Bagaimana jika ternyata Mark tiba-tiba punya pikiran bahwa dia tidak serius denganku?
Dehaman Bang Adit mengembalikanku dari lamunan. " Kenapa? Ada yang mau kamu kenalin sama aku? Jodohin sama aku?" tantangku bercanda.
Aku tertawa. Semua orang mengatakan bahwa zaman sekarang sudah zaman modern, bukan zaman jodoh-jodohan dalam menentukan pasangan hidup. Bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Ya, memang bagi sebagian besar orang demikian adanya. Namun, masih ada juga yang terpaksa menerima untuk dijodohkan. Bukan karena orang tersebut tidak laku, melainkan karena kehendak dari kedua orangtuanya yang menginginkan agar anaknya menikah dengan orang pilihan mereka.
Aku membayangkan jika aku harus mengalami perjodohan, apa yang akan aku lakukan? Aku tidak pernah membayangkan akan hidup dengan orang lain lagi sejak hubunganku dengan laki-laki kasar itu berakhir, sampai akhirnya Mark hadir dalam hari-hariku. Jika kini aku harus membayangkan bahwa aku harus hidup dengan orang lain selain Mark, aku tidak mau.
Aku menggeleng, " Tidak mau, ah, Bang. Mana enak, nikah sama orang yang tidak kita cintai?"
" Ya, memang. Tapi, ada juga pernikahan yang langgeng karena perjodohan. Sebaliknya, banyak pula pernikahan yang gagal karena cinta pada awalnya, lantas tidak lagi mencintai satu sama lain pada akhirnya."
Aku mendesah pelan. " Ah, cinta memang aneh."
" Iya, memang." balas Bang Adit singkat.
Kami terdiam beberapa saat dan menatap kesembarang tempat.
__ADS_1
Saat aku pamit sebentar kepada Bang Adit untuk melanjutkan kerjaku, Ibu malah tiba-tiba datang membawakanku dua gelas minuman dan camilan untukku dan Bang Adit.
" Kalian berbincang saja dulu. Sudah banyak orang di dapur." ucap Ibu sambil menyerahkan baki yang ia bawa kepadaku.
Aku sedikit merasa tidak enak, tetapi tidak bisa membantah Ibu, apalagi Bang Adit juga terlihat masih ingin melanjutkan obrolan. Kami akhirnya duduk kembali. Dan di depan kami terbentang luas sawah yang terlihat padi yang tumbuh dengan subur. Hal itu juga aku memanfaatkan dengan meminta Putri yang kebetulan melintas untuk membawakan peralatan gambarku.
Bang Adit tersenyum mendengar hal itu. Aku menjelaskan sedikit ada proyek yang harus kuselesaikan. Mana tahu dapat inspirasi, di tempat kami berada.
" Udara di sini bisa mengeluarkan banyak inspirasi." canda Bang Adit. " Aku sampai lupa bagaimana udara di sini selama aku di surabaya."
Aku tersenyum. Ubud masih menyimpan udara yang segar, berbeda jauh dengan jakarta di kotanya yang penuh polusi. Aku pun masih sering merindukan udara Ubud jika sudah lama tidak pulang ke Indonesia.
" Kamu akan terus di Serabaya?" tanyaku kepada Bang Adit, sambil mencoret-coret di kertas.
Bang Adit menggeleng. " Kalau aku terus di sana, siapa yang akan mengurus bisnis di sini kalau Ibu dan Ayah sudah tidak ada. Iya, sekarang masih Ayah dan Ibu yang ngurus, nah kalau nanti setelah mereka meninggal dunia? Aku adalah anak pertama laki-laki, sudah pasti diharuskan mengurus bisnis ini. Tidak bisa lari dari tanggung jawab itu."
Aku terdiam. Benar apa yang Bang Adit katakan. Aku terpaku pada kertas gambarku, merenungkan keadaanku sendiri. Aku adalah anak pertama wanita dari dua bersaudara yang semua wanita. Entah apa yang harus kulakukan untuk menjalankan tugasku sebagai penerus keluarga dari pihak Ayah yang hanya memiliki dua anak perempuan tanpa anak laki-laki ini.
" Kalau kamu?" tanya Bang Adit kepadaku.
" Aku? Well, sejujurnya aku ingin lari dari tanggung jawab yang terasa begitu berat untukku ini, Bang. Apalagi sekarang Putri berencana menikah. Mau tidak mau, tanggung jawab itu jatuh ke aku semua." ucapku seakan bergumam sendiri.
Bang Adit menatapku. " Tapi, kalau bukan kamu yang ngurus keluarga, siapa lagi? Calonnya Putri itu Bagus, kan?"
" Iya, Bang." jawabku singkat.
" Putri udah sama Bagus! Lalu kamu sama siapa?" tanya Bang Adit.
Aku melirik Bang Adit. " Hmmm... siapa ya kira-kira?" tantangku.
" Aku?" Bang Adit sambil menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Aku melayangkan tinju pelan ke bahunya sambil tertawa. Ada-ada saja.