Di Bawah Langit Yang Sama

Di Bawah Langit Yang Sama
Bab 14


__ADS_3

Aku menatap Putri dengan tatapan putus asa.


Aku baru saja hendak meratapi diriku sendiri ketika mendengar suara yang pernah aku akrabi beberapa tahun silam. Suara cempreng yang menggangguku, tetapi malah seeing kurindukan kala tidak mendengarnya. Suara Yunita, sahabatku.


" Yuni!" panggilku saat melihat dia sedang berjalan masuk ke rumah bersama anak dan suaminya. Senyum mengembang lebar di bibirku. Aku segera bangun dari tempat dudukku, membuka lebar kedua tanganku untuk memeluknya.


Yuni tertawa melihat tingkahku. Kami berpelukkan melepas kerinduan masing-masing. " Kamu tambah kurus." tambah Yunita setelah kami bertukar sapa. Aku tidak menjawab komentarnya, lebih memilih untuk menyalami suaminya dan mencium anaknya.


" Galang lucu banget, Yun. Kamu kasih makan apa, dia jadi gemuk gini?" ujarku sambil jongkok di hadapan anaknya.


" Ya nasi, dong! Emang kamu, makan mie instan terus sampai kurus gini." ledek Yunita sambil tertawa.


" Eh, ada Yunita. Itu anakmu Yun? Duh lucunya... Salam dulu sama Nenek sini." tiba-tiba Ibu sudah berada di dekat kami, terpesona dengan Galang.


Yunita menuntun anaknya untuk mendekati Ibu. Ibu pun terlihat berusaha mengambil hati anaknya Yunita agar bisa menggendongnya walau sebentar. Aku meringis dalam hati, mengenal benar watak Ibuku yang satu ini. Ibu tidak pernah bisa mengabaikan seorang anak laki-laki yang berada di dekatnya. Setiap ada bayi laki-laki atau anak kecil laki-laki yang menggemaskan, Ibu pasti selalu ingin mengajak anak tersebut bicara.


" Ikut Nenek cari permen, yuk." rayu Ibu kepada Galang. Galang terlihat tertarik dengan kata " Permen" sehingga dia akhirnya mau digendong oleh Ibu untuk menjauhi Ibunya sendiri. Suami Yunita memilih untuk dusuk di halaman, menikmati sajian kopi yang kami sajikan untuk tamu.


" Kamu apa kabar?" tanya Yunita ketika kami tinggal berdua.


Aku merangkulnya dengan sebelah tanganku. " Kabar baik, Say. Kangen banget aku sama kamu." jawabku.


" Kamu jarang pulang, sih. Kalau tidak ada acara besar kayak gini, mana mungkin kamu pulang? Gimana kabar Singapura? Aman?"


" Kabar yang mana? Singapura-nya atau aku-nya di Singapura? Nanyanya yang jelas ding, Yun!"

__ADS_1


Yunita tertawa. " Duh, kamu makin cantik deh." ujar Yunita sambil mencubit pipiku. Aku meringis kesakitan.


" Katamu, tadi aku kurus. Sekarang, dibilang cantik. Mana yang benar, sih?"


" Cantik, tapi kurus. Gemukin dikit. Pasti lebih cantik. Mau ambil lemakku?"


Aku membalas dengan tawa. Yunita selalu mampu membuatku tertawa seperti ini. Betapa aku merindukan sahabatku ini. Selama di Singapura, rasanya aku mulai kehilangan kemampuan untuk bercakap-cakap karena jarang berkomunikasi secara akrab seperti ini.


" Terus?"


" Apanya yang terus?"


" Mana pangeranmu?"


" Pangeran apa?" elakku.


Aku hanya meringis ngeri. Membawa Mark ke rumah? Padahal, selama dua tahun ini, Ayah dan Ibu tidak pernah mau membicarakan lebih lanjut tentang Mark ketika aku berusaha untuk menceritakannya.


Aku menggelengkan kepalaku dengan lemah.


" Kenapa?" tanya Yunita. Sepertinya dia mengerti dengan benar bahwa aku merasa tidak enak hati untuk membicarakan Mark di rumah ini, padahal biasanya aku selalu riang saat membahas Mark dengannya di facebook selama ini.


" Rasanya aneh kalau tiba-tiba aku ngajak Mark ke sini." jawabku.


" Aku tahu. Tapi, kalau nggak dikenalin sama mereka, bagaimana Om dan Tante bisa mengenal siapa Mark sesungguhnya? Setidaknya, kamu harus menceritakan siapa dan bagaimana Mark sesungguhnya." Yunita kembali memberikan saran kepadaku. Hanya dia yang mengerti apa yang selalu aku rasakan terhadap hubunganku dengan Mark ini. Bagaimana kebahagiaan yang selalu melingkupiku sejak aku bersama dengan Mark. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini sejak lepas dari Bima.

__ADS_1


Aku hanya diam, memikirkan apa yang Yunita katakan. Tetapi, bagaimana caraku mengajak Mark ke hadapan Ayah dan Ibu jika Mark tidak pernah mengajakku bertemu dengan kedua orangtuanya dalam rangka memperkenalkan aku sebagai kekasihnya?


Posisiku sebagai seorang pegawai di perusahaan ayah Mark tentu sering bertemu dengan kedua orangtuanya. Namun, itu sebagai seorang pegawai, untuk meeting, bukan diperkenalkan sebagai seorang kekasih anaknya. Lantas, tiba-tiba aku memaksa Mark untuk beetemu dengan kedua orangtuaku? Aku menggeleng putus asa.


" Sudah bisa bicara lagi ke orangtuamu soal Mark baru-baru ini? Hubunganmu dengan Mark sudah lama, kan?" lanjut Yunita.


" Hanya cerita ke Ibu." jawabku.


" Lalu gimana reaksi Tante?" tanya Yunita penasaran.


Aku mengedikkan bahu, menyerah akan sikap Ibuku terhadap Mark. " Ibu bilang, apakah aku sudah menceritakan keadaanku kepada Mark."


" Memangnya, keadaanmu kenapa?" tanya Yunita bingung.


" Putri mau menikah dalam jangka waktu dekat ini, dengan Bagus Brahma." jelasku.


Yunita terdiam, mulai paham situasiku. " Dan artinya kamu diharapkan menikah dengan seseorang yang bisa kamu ajak tinggal di rumah ini, mengikutimu." tanggap Yunita.


" That's right." sahutku.


" Dan Mark bukanlah salah satu dari pilihan yang ada untukmu sekarang ini?" lanjut Yunita menatapku. Ada rasa Iba yang tergambar dengan jelas di matanya.


Aku menggeleng.


Yunita mengusap punggungku. " Sabar, Al. Semua pasti ada jalan." ujarnya pelan.

__ADS_1


Aku tersenyum miris. Ya, aku tahu bahwa semua pasti ada jalan untuk setiap masalah yang dihadapi oleh umat-Nya, asalkan kita selalu memohon kepada-Nya untuk diberi jalan yang lurus.


__ADS_2