Di Bawah Langit Yang Sama

Di Bawah Langit Yang Sama
Bab 15


__ADS_3

" Buat apa itu, Alya?" tanya Ayah ketika aku berkutat di hadapan kertas-kertasku pada pukul satu dini hari. " Sepertinya, sibuk sekali sampai nggak keluar sama sekali dari tadi." ujar Ayah lagi, menyindir ketidakhadiranku di tengah-tengah kerabat semalaman tadi.


Aku menghentikan kegiatan menggambarku untuk menanggapi pertanyaan Ayah. " Ini yang Alya ceritakan tempo hari, Yah. Alya harus menyerahkan beberapa gambar kepada desainer dari Australia. Jadi, selagi Alya cuti, Alya harus tetap menyelesaikan tugas ini." Aku mencoba untuk menjelaskan pekerjaanku kepada Ayah. Ayah melihat kertas-kertasku sekilas, lantas duduk di sampingku.


" Kamu cuti?" tanya Ayah lagi.


" Iya, Yah."


" Sampai kapan?"


" Sampai acara tujuh harian Nenek ini selesai dan ada waktu satu minggu lagi aku di rumah, setelahnya Alya balik lagi ke Singapura."


Ayah menatapku tajam. Aku mempertahankan diriku untuk tidak merasa bersalah kepada Ayah. Aku sudah mengorbankan tiga mingguku untuk Nenek, mengorbankan sikap profesionalku demi Nenek. Apa lagi yang kini diinginkan Ayah dariku?


" Adikmu mau dilamar bulan depan. Kamu nggak ada di sini saat acara itu terjadi?" tanya Ayah.


Aku menghembuskan napas pendekku. " Kalau misalkan itu hari minggu, Alya usahakan datang. Tapi, kalau itu hari kerja, maaf Alya tidak bisa datang, Yah." sahutku.


" Putri dipinang sekali seumur hidupnya." ujar Ayah lagi.

__ADS_1


" Tapi, kan masih ada hari pernikahan mereka nanti, Yah. Kan, pada saat itu Alya bisa datang. Tidak semua upacaranya Putri harus Alya hadiri." keluhku.


" Mau sampai kapan kamu di Singapura, Alya? Ayah harap kamu segera kembali ke rumah dan tinggal di rumah. Sebentar lagi Putri pergi dengan suaminya. Kamu sebaiknya cari calon suami di sini. Ayah lihat, nak Adit suka sama kamu. Apa nggak sebaiknya kalian bersama saja."


" Ayah!" Aku berseru tidak percaya atas apa yang barusan Ayah katakan kepadaku. Bagaimana mungkin Ayah menuntutku berhenti bekerja si Singapura, menuntutku kembali ke rumah dan menikah dengan Bang Adit? Kemarin, Ibu, sekarang Ayah. Apa yang sebenarnya mereka rencanakan untukku?


" Kalau kamu dengan nak Adit, kamu masih bisa tinggal di rumah ini, masih bisa sering-sering jengukin makam Ayah dan Ibu serta Nenek dan Kakek di sini, dan tentunya kamu masih bisa menjaga amanah Kakek untuk bisa tinggal di rumah ini, Alya." ujar Ayah dengan sabar dalam menanggapi reaksi kerasku barusan.


Aku terdiam setelah mendengar perkataan Ayah barusan. Nada bicara Ayab bukan bernada tegas seperti biasanya ketika beliau memiliki kehendak terhadap anak-anaknya. Nada bicara Ayah adalah nada lelah dan keputusasaan. Aku menatap Ayah dengan penuh penyesalan.


" Tapi, Alya nggak bisa dengan Bang Adit." ujarku pada akhirnya.


" Karena Alya udah nganggap dia sebagai saudara. Karena Alya nggak cinta sama dia, Yah." jawabku.


" Belajar mencintai dia." sahut Ayah tegas.


" Tapi, mana bisa gitu, Yah?" tolakku lagi.


" Cinta ada karena terbiasa, Alya."

__ADS_1


" Memangnya bisa?"


" Semua orang begitu di zaman dulu, dan semua pernikahan mereka langgeng hingga akhir hayat."


" Tapi, itu kan dulu, Yah. Memangnya Ayah dan Ibu menikah tanpa cinta?" tanyaku menantang Ayah.


Ayah terdiam mendengar pertanyaanku. Skak untuk Ayah. Dengan kesal, aku bergegas merapikan kertas-kertasku dan pergi meninggalkan beliau untuk pergi ke kamar.


Aku menatap atap langit-langit kamarku dengan pandangan menerawang. Pandanganku lama-kelamaan semakin kabur. Bukan karena mataku yang mengantuk, melainkan karena kehadiran air mata yang tanpa kuasa aku tahan untuk saat ini. Aku sangat merindukan Mark saat ini.


Aku melirik ke arah jam dinding yang terpasang di sebelah kananku. Pukul satu dini hari. Mark pasti sudah istirahat. Tapi, aku merindukannya. Akhirnya aku mengambil ponselku dan mulai mengetik pesan untuknya.


Indira.


01:17


Mark... have you slept?


Aku masih memandangi layar ponsel selama beberapa detik, berharap bahwa Mark akan membalas pesanku. Tetapi, hingga layar ponselku gelap, tidak ada tanda-tanda balasan dari Mark. Menghela napas, aku meletakkan ponselku di samping bantal.

__ADS_1


" I miss you, Mark." ucapku pelan dan memulai memejamkan mata. Semoga Mark hadir dalam mimpiku.


__ADS_2