
"Aku menyesal telah berteman denganmu!". Kata-kata itu terus terngiang di kepala gadis itu. 'Apa salahku? Semua itu bukan salahku!' pikirnya, selalu saja kesalahan tertimpa padanya. Hal itu pasti berat untuk seorang gadis belia sepertinya. Senyum yang selalu menghiasi wajahnya telah memudar, untuk apa tersenyum jika tidak membuat orang lain tersenyum?
Alia, itulah namanya. Dia yang selalu tertawa sejak kecil kini hanya pemurung saat usianya menginjak tujuh belas tahun. Banyak hal yang membuatnya tidak tersenyum lagi dari teman, lingkungan, orang tua dan banyak hal lagi. Sekarang senyum adalah hal yang asing baginya, entah kenapa semua itu terjadi padanya secara tiba-tiba. Dia tidak bisa menolak apalagi menghindar, semuanya telah menimpanya begitu saja.
Orang-orang menjauhinya dan tidak ada lagi yang ingin berbicara padanya lagi. Bunga yang harusnya mekar kini enggan untuk memekarkan puncuknya. Setiap malam ia hanya bisa menangis kenapa hal ini terjadi padanya, tangisan menyedihkan dari seorang gadis belia memang sukar untuk didengar, ia terus berteriak dalam tangisannya 'Kenapa harus aku yang menderita? Kenapa harus aku? Semua bukan salahku!'. Kenapa Tuhan belum membuka matanya untuk melihat dirinya yang menderita? Apa yang harus ia lakukan tanpa bantuan dari Tuhan? Bukankah ini sudah diatur oleh-Nya? Terus kenapa Ia belum membantu? Tuhan tolong.
Ketika ia pergi ke sekolah, wajah-wajah tidak ada yang memandangnya, seolah dirinya tidak ada di dunia. Ketika ia duduk, sapaan seperti dulu tidak ada lagi, ia hanya berdiam diri di bangkitnya seperti patung. Bahkan tidak seorang guru yang mengajar di kelas yang menatapnya, jadi apa gunanya ia bersekolah jika begini terus? Saat istirahat pertama ia membolos sekolah dan pulang. 'Tidak ada gunanya' sahutnya dalam hati melihat keadaannya yang begitu hampa, tidak ada gunanya.
Ia bergegas masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kemudian menangis keras, tidak ada tempatnya lagi di dunia ini. Jika keberadaannya tidak dianggap, apa bedanya dirinya dengan mayat? "Mayat? apa aku mati saja? lebih baik, bukan?" sahutnya dalam keheningan. Apa itu adalah jalan terbaik untuk sekarang? Jika begitu apa boleh buat.
__ADS_1
Tapi niatnya tertunda ketika ada yang mengetuk pintu kamarnya. Siapa? Sudah lama tidak ada yang mengetuk pintu sejak lama. Untuk apa? Aah, pasti ibu ingin mengusirku karena aku membolos, 'ibu, anakmu ini ingin mati, lho' sahutnya dalam hati. Aliapun membuka pintu dengan perlahan, wajahnya kusut setelah menangis itu melihat ibunya yang bersedih, tiba-tiba sang ibu memeluk Alia dengan erat, seolah tidak ingin melepaskannya. 'Aah, apa aku akan disuntikkan racun?' pikirnya. Tapi yang ia pikirkan salah, ibunya menangis keras bahkan air matanya membasahi kerah baju Alia. "Ada apa ini? air mata buaya?" sahut Alia yang melihat ibunya menangis. Spontan sang ibu menamparnya sambil berkata "Jaga ucapanmu, nak! Ini air mata ibu yang ingin sekali ibu tumpahkan untukmu sejak lama". 'Hah? Sejak lama? Terus apa-apaan sikapnya selama ini padaku?!' teriak Alia dalam hati. Ia tidak percaya sama sekali pada perkataan itu sama sekali. Aliapun menjauh sambil menatap sedih. Tentu saja hal berat yang telah lama menimpanya selama ini membuat kepribadiannya berubah dan terpukul. Apa hal itu dapat dipercaya?
"Dengarkan ibumu ini, mungkin kamu tidak akan percaya tapi ibu yang berdiri di depanmu ini dari sisi lain" sahut sang ibu.
"Hah? apa hal itu dapat dipercaya? Terus saja berkhayal sana!" jawab Alia. Sang ibupun duduk dan berkata, "Sebenarnya hal ini tidak seharusnya terjadi padamu, ini diluar prediksi kakek". 'Kakek?' pikir Alia dalam hati.
"Bisakah kamu ceritakan apa yang telah terjadi padamu? tenang saja sisi ibu yang lain tidak akan mengingat pembicaraan kita, tapi kini ibu sepenuhnya sadar, kok" sahut sang ibu. Untuk kali ini Alia percaya apa yang dikatakan ibunya dan mungkin ini adalah yang terakhir kalinya ia mempercayai ibunya. Setidaknya sebelum ia ingin mati nanti malam.
Aliapun menangis seperti anak kecil di hadapan ibunya, ini adalah tangisannya yang terbesar sejak kejadian itu. 'Aku tidak tahan lagi, tolong aku!' teriaknya dalam hati. Ia benar-benar tersiksa dengan perasaan yang telah lama ia rasakan. Ia ingin semuanya berhenti tapi dirinya bukanlah dirinya yang lalu. Ia tidak bisa merubah hal yang tabu itu.
__ADS_1
Ibunyapun memeluk Alia yang menangis sambil bertanya, "Apa kamu ingin semuanya terulang dari awal? dan kamu tidak ingin terlibat atau tidak tersalahkan?". 'Omong kosong apaan itu? Tapi jika hal itu bisa terjadi aku tidak bisa kembali lagi ke diriku yang dulu. Sosok Alia yang periang kini telah tiada' sahutnya dalam hati dan menutup matanya yang kelelahan setelah lama menangis.
"Omong kosong seperti itu jika terjadi, terserah. Aku tidak bisa merubah diriku" jawab Alia.
"Maka karena itu, sekarang adalah kesempatanmu untuk merubah segalanya dari awal dan mengubah dirimu" sahut sang ibu. Alia hanya menatap ibunya dengan tatapan hati-hati, apa yang sang ibu rencanakan untuknya? Setelah lama menyiksanya kini ingin membantunya untuk keluar dari masalah ini? Apalagi itu hanya omong kosong belaka.
"Sudah ibu bilang, kamu kamu bisa mengulang dari awal, dan ada yang akan membantu, tapi akan susah karena beberapa hal nantinya" jelas sang ibu. Hah? omong kosong apa itu? Jika hal itu terjadi pasti akan menyenangkan, bukan? Aku ingin berkhayal tentang itu.
Sang ibupun mengelus kepala Alia dengan lembut sambil berkata, "Semoga kamu disayangi di sana". Alia tidak paham sama sekali apa maksud perkataan ibunya itu. "Untuk sementara kamu pergi dahulu, masalah di sini akan ibu tangani dan semoga kamu kembali dengan senyumanmu seperti dulu" lanjutnya.
__ADS_1
Alia meneteskan air matanya dan ketika ia membuka matanya, ia melihat hamparan rumput dengan angin yang sejuk dengan beberapa lembar kertas digenggamnya. Sendirian.