
"Kak Nagisa? Apa kamu Kak Nagisa?" tanya Alia dengan air matanya yang tiba-tiba mengalir di pipinya. Untuk pertama kalinya jantungnya berdetak seperti ini, muncul perasaan yang pernah ia lupakan, tapi ia merasa perasaan ini terasa sangat nyaman.
Apa ini?
Perempuan itu menghampiri Alia dengan perlahan kemudian memeluknya. Pelukan seorang kakak. Meski tangan kirinya tidak ada alias buntung, tapi pelukan yang telah lama hilang ini terasa sangat hangat. Pelukan ini berbeda dengan yang lain, ia dapat merasakan ketulusan dari pelukan tersebut.
Hatinya luluh, akhirnya Alia melepas tangisannya. Kali ini tangisannya berbeda dari sebelumnya. Terdapat perasaan indah yang menggelora. Bahkan sang kakak dan Erica terkejut, ekspresi baru yang ia munculkan di wajahnya itu. Ekspresi yang seharusnya menghiasi dirinya. Ekspresi yang seharusnya tidak hilang dari dirinya.
Untuk pertama kalinya senyuman menghiasi wajahnya. Ia tersenyum dalam tangisan bahagianya.
Sepertinya pertemuan kembali dengan kakaknya telah membuat senyumannya kembali mekar. Inilah ekspresi yang seharusnya tidak hilang darinya.
Erica yang terkejut melihat Alia yang tersenyum untuk pertama kalinya itu berkata dalam hati, 'Itukah senyuman milik Kak Alia? Sangat indah. Andai sejak pertama kali aku bertemu dengannya ia seperti itu, aku yakin banyak hati yang senang melihatnya'.
. . .
Setelah Alia puas menangis di pelukan sang kakak, mereka berdua saling mengobrol dengan wajah riang. Mr.Ertantonio yang melihat kedua gadis itu tampak lega di hati. Sudah lama ia tidak melihat Nagisa membuat senyuman yang tulus. Nagisa yang ia kenal memang seorang pekerja keras, senyumannya selalu ia tebarkan tampak tidak tulus di matanya. Memang ia akui senyuman biasanya itu cantik, tapi kali ini terlalu indah untuk dipandang.
"Kak, aku ingin bertanya. Bagaimana kakak ada disini?" tanya Alia.
"Ayah yang mengirimku ke masa ini" jawab Nagisa dengan sedikit sedih.
"Sudah tiga tahun aku disini aku juga tidak tahu apa tujuanku berada di masa ini. Tapi, perasaanku lebih lapang dan senang disini, aku lebih bahagia" lanjutnya sambil mengelus kepala Alia.
"Apa tujuan kita untuk mencari kebahagiaan, kak?" tanya Alia setelah ia berpikir dengan perkataan kakaknya.
"Mungkin" jawab Nagisa singkat.
Tiba-tiba Mr.Ertantonio menepuk tangannya dengan tertawa. Mereka semua terkejut dengan tindakan beliau.
"Begitu, ya. Saya paham. Nagisa, hari ini kamu boleh libur dulu. Ajaklah mereka berdua berkeliling kota" kata Mr.Ertantonio.
"Apa anda yakin?" tanya Nagisa.
Mr.Ertantonio menganggukkan kepalanya dengan berwibawa. Senyuman Nagisa mekar di wajahnya. Ia sangat senang.
"Kalau begitu saya permisi dahulu. Ayo" kata Nagisa memberi hormat kemudian menarik tangan Alia dan Erica keluar.
Hening.
Mr.Ertantonio merasa lega dengan senyuman dari kakak beradik itu, seperti senyuman mereka berdua itu tampak seperti harta yang amat sangat berharga sekali. Entah mengapa ia merasa begitu.
. . .
"A-Alia...Kamu...Alia?" tanyaku terbata-bata melihat Alia dengan wajahnya yang lebih hidup alias bahagia. Ia merangkul lengan seorang wanita yang tampak mirip dengannya. Tapi wanita itu tidak memiliki tangan kiri. Buntung?
"I-Iya, ini aku" jawabnya dengan malu-malu. Sial, dia manis sekali.
__ADS_1
"Bo-bohong, Alia yang kukenal tidak memiliki ekspresi di wajahnya, lho" sambungku.
"Maaf saja, ya..." jawabnya. Merekapun tertawa.
Saat aku sedang dalam perjalanan pulang menuju penginapan, adikku memanggilku. Saat aku menoleh, ia sedang bersama Alia dan seorang wanita.
Tapi aku sangat terkejut dengan wajah Alia yang tampak bahagia. Dengan cepat aku menghampiri mereka dan tidak disangka tingkah lakunya tiba-tiba berubah menjadi seperti gadis pada umumnya. Tapi lebih manis, ukh!
"Perkenalkan, nama saya Nagisa. Kakaknya Alia" kata wanita itu memperkenalkan dirinya.
"Saya Eric".
"Hmmm...Eric, ya...Apa kamu ini..." sahut Mbak Nagisa dengan serius di awal. Apa yang dia ingin katakan? Apa aku ini tidak cocok dengan namaku?
"Apa kamu pacarnya Alia?" sambungnya.
Eh?
Eeeeeeeeehhhh??!
"Bukan!" teriakku dan Alia bersamaan.
"Lah, kalian menjawabnya kompak begitu? Serasi sekali" kata Mbak Nagisa.
"Kakak!" teriak Alia dengan wajahnya yang merona. Baru pertama kali wajahnya seperti itu, meski dulu hampir sama seperti itu.
Haahh...sifatnya jauh berbeda dengan Alia, tidak seperti yang kuharapkan.
"Baiklah, karena aku libur hari ini, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Ada beberapa toko yang menjual dengan harga murah, lho" ajak Mbak Nagisa dengan semangat.
"Ayo Kak!" jawab Erica dengan semangat juga.
Kamipun berjalan bersama berkeliling kota. Tapi entah kenapa hatiku merasa terganggu akan kejadian kali ini. Kakak Alia. Alia yang tersenyum. Tujuan Alia yang selesai dengan cepat. Dan juga seragam pegawai yang dikenakan Mbak Nagisa, seragam pegawai pemerintahan.
Duh, kenapa ini mengganggu hatiku? Perasaan tidak enak apa ini? Semoga tidak terjadi sesuatu yang gawat. Tolonglah Tuhan. Hamba meminta dengan sangat.
. . .
Hadehh, capek sekali.
Setelah berkeliling dan berbelanja di kota sampai sore hari, mereka bertiga tampak kelelahan. Sedangkan tubuhku ini sudah sangat lelah berjalan. Bagaimana mereka masih kelihatan segar bugar begitu? Perempuan itu menakutkan, ya?
"Haahh, menyenangkan sekali" sahut Erica dengan senang. Yaah, selagi adikku ini senang, aku tidak mempersalahkannya. Aku yakin Mbak Nagisa juga berpikir seperti itu pada adiknya itu.
"Kalau begitu, sampai ketemu besok, ya. Aku pamit ke kantor dulu" sahut Mbak Nagisa berpamitan.
"Tunggu, kak. Setidaknya biarkan kami mengantar kakak sampai di depan gerbang kantor kakak" sahut Alia.
__ADS_1
Dasar Alia. Tiba-tiba ia jadi manja, begini. Apa ini sifatnya kepada kakaknya? Haduh, hari ini banyak yang tidak diduga, ya.
Setelah sampai di depan gerbang kantor, Mbak Nagisa langsung pamit kemudian bersegera masuk.
Semangatnya...
"Kalau begitu, ayo kita kembali. Aku lelah" sahutku dan pergi duluan.
"Tungguin, dong" sahut mereka berdua dan menyusulku. Melihat Alia yang bersemangat membuatku bertanya-tanya, apa dia Alia yang asli? Aku masih belum percaya ini.
"Alia, kamu tampak bahagia hari ini" sahutku.
"Eh, apa iya begitu?" tanyanya.
"Iya, kamu-". Sebelum perkataanku selesai, kami dibuat terkejut dengan suara ledakan. Dari suaranya, ledakan itu sepertinya tidak jauh dari sini. Jangan-jangan...
"Kakak..." gumam Alia dengan ketakutan melihat asap bekas ledakan tersebut. Benar juga, arahnya dari kantor walikota. Tidak mungkin!
"Kakak!" teriak Alia kemudian berlari ke arah kantor walikota.
"Alia, tunggu!" teriakku kemudian mengejarnya. Erica menyusulku di belakang.
Setibanya di depan gerbang, aku melihat hal yang mengerikan. Kantor walikota kebakaran.
Ini adalah ibu kota, tempat yang aman sekaligus berbahaya ada disini. Tapi apa ini kecelakaan? Tidak mungkin, kantor walikota adalah tempat yang aman dari kecelakaan kerja seperti ini. Jadi, apa ini penyerangan? Pemberontak?
"Kakak!" teriak Alia kemudian berlari kearah kantor. Beruntung aku bisa menahannya dengan kuat. Dengan kekuatanku, Alia tidak akan bisa lepas dariku.
"Eric, jangan menghalangiku!" teriaknya dengan air matanya yang mengalir.
"Jangan berbuat bodoh, Alia! Kamu hanya akan membuat dirimu tewas!" teriakku berupaya memberi tahunya.
Akhirnya ia menyerah dengan rasa sakit dari penahananku.
"Eric...sakit..." gumamnya.
Akupun langsung memeluknya dengan erat dan Aliapun menangis keras.
Tuhan, mengapa? Mengapa Engkau mengharuskan Alia melihat hal yang mengerikan ini? Berapa kali ia harus menderita?
Alia yang tampak depresi langsung berbalik dan memelukku dengan erat kemudian tangisannya semakin keras. Ia baru saja bertemu dengan kakaknya yang telah lama tidak ia temui, tiba-tiba ia harus melihat kakaknya yang kini tidak jelas keselamatannya. Apa ia selamat? Semoga saja. Tolong Tuhan, selamatkan Mbak Nagisa. Hamba mohon.
Tidak lama kemudian, api padam dengan bantuan pihak berwajib dan warga sekitar. Butuh waktu lama untuk itu. Sedangkan aku hanya bisa menonton itu semua dengan pasrah sambil berusaha menenangkan Alia.
Asap kebakaran itu melambung ke udara sore ini dengan penuh kesedihan di dalamnya.
Kini aku benar-benar tidak tahu tentang takdir. Apa yang akan ia lakukan setelah ini benar-benar aku tidak tahu. Aku tidak bisa memprediksinya lagi.
__ADS_1