Dia Yang Tidak Tersenyum Lagi

Dia Yang Tidak Tersenyum Lagi
Kejadian 11 : Mencoba Memulai Semua Dari Awal


__ADS_3

Sudah beberapa seminggu sejak itu, Aku tidak pernah bertemu dengan Alia. Aku teringat permintaan yang ia minta, ia meminta tolong padaku untuk mengubah dirinya. Tapi apa aku bisa? Padahal aku hanya lari dari kenyataan.


Tapi yang membuatku terkejut adalah setelah itu. Alia terjatuh pingsan. Aku panik dan segera membawanya ke dokter terdekat. Tidak kusangka ia lebih lemah dari yang kuduga, aku baru tahu bahwa dia menderita penyakit darah. Lebih tepatnya Alia tidak bisa melakukan hal berat, apalagi waktu itu dia sedang syok berat kemudian memaksakan diri untuk mengajakku berbicara. Dengan lemahnya mental, tubuh akan lebih lemah, begitulah yang kudengar dari dokter tersebut.


Tapi syukurlah bahwa ia akan kembali sehat jika beristirahat lebih. Tapi bukan berarti penyakitnya ikut sembuh.


Ketika aku menanyai Alia dengan pertanyaan yang serupa kepada dokter, dia berkata bahwa ia menderita penyakit gula darah rendah. Efek dari penyakitnya adalah ia tidak boleh memaksakan dirinya diluar batas yang ia mampu untuk beraktivitas.


"Bukan penyakit serius, penyakit turunan. Tidak usah khawatir" begitulah katanya.


. . .


Tidak lama kemudian, Mr.Ertantonio memanggil kami untuk bertemu. Duh, apa yang beliau pikirkan, sih? Padahal kantornya belum pulih seutuhnya.


Tidak lama kemudian aku datang bersama adikku dan Alia. Meskipun Alia merasa tidak nyaman, ia memaksakan diri untuk bertemu dengan beliau. Aku yakin ia belum mempersiapkan batinnya untuk bertemu dengan Mr.Ertantonio.


"Ada yang harus kukatakan" sahut beliau memulai pertemuan. Kami bertiga hanya diam menyimak.


"Sebagai sedikit rasa balas budi, saya akan memberikan kalian beasiswa penuh untuk belajar di akademi ibukota. Tentu saja, saya merasa ini belum cukup untuk balas budi, tapi saya pasti akan memberikan apa yang kalian butuhkan dan minta sebagai balas budi. Walaupun itu mempertaruhkan nyawa" kata beliau dengan tegas.


Aku dan Erica sangat senang. Sekolah? Siapa yang tidak ingin bersekolah? Ditambah bersekolah di akademi di ibukota dengan beasiswa penuh. Seperti mimpi saja. Akupun senang bukan main bersama adikku.


Sebagai informasi, di zaman ini bersekolah adalah hal yang istimewa,tidak semua anak bisa merasakannya. Dengan bersekolah, kemampuan kita lebih diakui bahkan bisa menjadi walikota jika memiliki prestasi yang sangat baik.


"Alia, syukurlah kita bisa bersekolah-" sahutku bergembira tetapi terhenti ketika melihat ekspresi Alia yang sangat ketakutan. Apa ia memiliki trauma dengan sekolah?


'Tidak...Jangan sekolah...Jangan...' gumamnya sambil menutup wajahnya. Ia benar-benar memiliki trauma pada sekolah, bahkan aku yakin ini adalah trauma terbesar yang aku rasakan darinya.


. . .


"Alia?" panggil Eric sambil melambaikan tangannya di depan wajahnya. Tiba-tiba saja ia berteriak,


"Tidak! Jangan sekolah! Jangan!". Eric panik kemudian menenangkannya.


"Alia? Kenapa?"


"Tidaaak!" teriaknya kemudian terduduk dengan lemas sambil menangis. Ericpun mengelus kepalanya dengan lembut. 'Trauma seperti apa yang ia dapat dari bersekolah di masanya?' pikir Eric.


"A-Apa sa-saya mengatakan hal yang menyinggung kamu, Alia?" tanya Mr.Ertantonio dengan tidak kalah terkejut dengan mereka berdua.


"Sepertinya bukan, pak. Sepertinya ini adalah trauma yang ia miliki dari bersekolah di zamannya" jawab Eric

__ADS_1


"Kak, Erica disini. Tidak apa-apa, kok. Tenanglah" sahut Erica menenangkan Alia.


Eric yang tadi terlihat panik, kini terdiam seribu kata. Ia telah memikirkan kata-kata untuk menenangkan Alia. Merangkai kata-kata ini saja sudah seperti membuat kepalanya serasa mau meledak.


"Alia, aku tahu sekolah adalah salah satu trauma yang kamu miliki. Tapi ini bukan zaman yang kamu tinggali dulu. Tidak ada salahnya memulai kembali semua yang tidak seharusnya pada zamanmu di zaman ini. Bukankah ini adalah jalan terbaik untuk menemukan tujuanmu yang sesungguhnya?" sahut Eric. 'Semoga kata-kataku tadi tidak ada yang menyinggungnya' pikir Eric.


Alia terdiam dari tangisannya. Dia berpikir bahwa perkataan Eric ada benarnya. Bukankah ini adalah jalan terbaik untuk memulai kembali semua yang hancur? Alia sependapat dengan Eric. Untung saja ia masih bisa berpikir jernih di tengah-tengah kegelisahannya tadi.


Alia kembali berdiri walaupun terhuyung-huyung. "Maaf atas tindakan saya barusan, pak" sahut Alia meminta maaf.


"Tidak, tidak apa. Ehm. Kalau begitu, bagaimana?"


"Saya setuju, pak" sahut Eric dengan senang, begitu pula dengan Erica. Sedangkan Alia hanya menganggukkan kepalanya, pertanda menerimanya.


. . .


Setelah itu, Mr.Ertantonio melakukan pendaftaran dengan pihak akademi, meski akademi itu adalah miliknya. Sedangkan itu, Alia dan Erica pergi ke suatu tempat tanpa Eric. Kali ini, Erica yang mengajak Alia untuk berjalan-jalan mengelilingi kota.


Alia tampak menikmatinya, sedangkan Erica berpikir penuh tentang kejadian barusan. 'Sebenarnya apa yang terjadi pada Kak Alia di zamannya? Dan bagaimana Kak Eric bisa memahaminya padahal aku tidak? Apa aku kurang dekat dengan Kak Alia?' pikir Erica.


"Erica? Kenapa?" panggil Alia.


"Ah, tidak. Apa kakak tidak apa-apa? Sepertinya tadi kakak syok, lho" sahut Erica.


"Hanya teringat hal yang tidak mengenakkan saat aku masih menjadi pelajar. Bukan ingatan yang indah" jawab Alia.


"Ah, maaf".


"Tidak apa".


Walaupun Alia berkata seperti itu, Erica yakin bahwa di dalam diri Alia hancur karena mengingat tentang masa lalunya itu. Reaksinya saja seperti itu, pasti terjadi sesuatu hal yang menghancurkan hati, begitulah yang Erica pikir. Ia merasa khawatir.


. . .


"Alia...Alia..." Alia mendengar suara yang memanggil dirinya. Dia sangat yakin bahwa suara ini adalah suaranya sendiri. Apa ia akan bertemu dengan dirinya yang lain lagi?


"Aku bisa mendengarnya" kata Alia.


Tidak lama kemudian, muncul di hadapannya dirinya yang lain. Tetapi ekspresi berbeda dari sebelumnya, kali ini terlihat tenang dan nyaman.


"Aku adalah serpihan dirimu yang telah lama, Alia" sahutnya.

__ADS_1


"Tidak mungkin" sahut Alia terkejut. Jadi begini ekspresinya dahulu? Bagaimana bisa berubah sangat jauh seperti sekarang? Bahkan Alia sendiri tidak percaya bahwa itu adalah sosoknya dahulu.


"Dengarkan aku, aku hanya mengatakannya sekali. 'Jangan pernah membohongi diri sendiri'. Itu adalah kata-kata kita dahulu. Sebaiknya kamu ingat baik-baik" sahutnya.


"Aku pernah mengatakan hal seperti itu?" tanya Alia. Tapi belum pertanyaan tersebut dijawab, sosok Alia yang lain tersebut menghilang ditelan kegelapan.


"Tunggu!" teriak Alia. Tapi ia baru sadar bahwa itu adalah mimpi dan ia baru saja bangun dari tidurnya.


'Asrama sekolah, ya' gumam Alia ketika ia sadar bahwa ia tidur di kamar barunya di asrama sekolah. Hari ini adalah hari ia akan kembali bersekolah. Rasanya jadi deg-degan.


. . .


Akhirnya tiba dimana hari mereka akan bersekolah. Mereka berangkat dari asrama mereka dan bertemu di kantor untuk melakukan administrasi.


Sejak dari tadi, hati Alia gundah. Sekolah, seragam, tas, buku, guru, teman kelas, tidak ia sangka akan kembali merasakannya. Tapi tentu saja suasana sangat beda dengan sekolah di zamannya. Ini terlihat seperti Alia universitas, bahkan lebih rumit lagi.


Alia teringat mimpinya tadi malam. 'Jangan pernah membohongi diri sendiri'. Sosoknya yang lain itu mengatakan bahwa ia pernah berkata seperti itu sebelumnya. Untuk apa? Kepada siapa? Alia tidak bisa mengingatnya.


Setelah melakukan administrasi, Alia dan Eric diantar oleh seorang guru ke kelas yang akan menjadi tempat mereka belajar. Sedangkan Erica ditempatkan di kelas lain, dia menjadi adik kelas mereka berdua.


Saat mereka berdua masuk dan berdiri di depan kelas menghadap ke arah para murid, mereka berdua sama-sama merasa gugup. Tapi Alia benar gugup sekaligus takut akan kejadian yang ia alami dahulu.


"Alia..." bisik Eric. Alia meliriknya.


"Tidak apa. Tenang saja". Dengan kata-kata seperti itu, Alia bisa tenang dengan ajaibnya.


"Yak, Seperti yang kalian lihat, kita kedatangan murid baru. Akrabkan diri kalian" sahut sang guru.


"Baik, pak" jawab para murid dengan serentak.


"Baiklah, silahkan perkenalkan diri kalian" sahut sang guru kepada mereka berdua.


'Baiklah, ini saatnya'


"Perkenalkan, namaku Eric. Tidak memiliki marga, asal Desa Surat 30. Salam kenal" kata Eric mengenalkan dirinya diikuti sorakan para murid perempuan.


'Syukurlah, berjalan dengan baik. Masalahnya Alia. Apakah ia bisa. Apa iya dia akan mengatakan bahwa dirinya berasal dari masa depan?' khawatir Eric.


"Nama saya Alia. Asal Desa Surat 30, sama dengan Eric. Salam kenal" kata Alia memperkenalkan diri, tentu saja tanpa ekspresi.


'Hah? Haaah? Dia berbohong?' sahut Eric dalam hatinya sambil terkejut. Perkenalan Alia lebih heboh dari dugaannya. Mereka bersorak karena kedatangan murid perempuan seperti Alia. Eric tidak menyangkal bahwa Alia itu cantik, tapi tinggal pada ekspresinya saja.

__ADS_1


'Haahh...Apa aku bisa tenang bersekolah tanpa mengkhawatirkan Alia, ya?' pikir Eric.


__ADS_2