Dia Yang Tidak Tersenyum Lagi

Dia Yang Tidak Tersenyum Lagi
Kejadian 3 : Mencoba


__ADS_3

"Dasar pembawa sial! Kalau saja kau tidak ada, Tiana tidak akan meninggal!", itu adalah salah satu penyesalan yang seharusnya tidak tertimpa padanya. Semua kebencian terus tertuju padanya. Seolah dia yang mesti disalahkan, mereka melampiaskan amarah mereka kepada Alia. 'Apa salahku? Itu bukan salahku! Kenapa harus aku yang disalahkan?!' teriak Alia dalam hati.


Kejadian itu terjadi ketika sekolah mengadakan acara study tour ke sebuah pantai. Semua tawa canda menjadi satu, terkecuali Alia. Seolah ia tidak berhak mendapatkan itu, mereka menjauhinya dan tidak ada seorangpun yang mau mendekatinya. Tetapi ada seorang siswi bernama Tiana mendekatinya dan berkata, "Ayo main bersama!" ajaknya dengan semangat.


Sudah beberapa kali ia menolak ajakannya tetapi ia akhirnya menyerah dan mengikuti ajakan Tiana. Entah karena sifatnya atau bukan, tapi Tiana selalu bergaul sama rata kepada siapapun. Sosok teman yang ideal, terkendalikan dengan Alia. Ia berharap ini adalah batu loncatan untuk menjelaskan semuanya. Tetapi, Tuhan berkehendak lain.


Mereka berdua mengalami kecelakaan di jalan menuju pantai. Sang pelaku hanya bisa melarikan diri dengan kendaraannya. Tuhanpun berkehendak hanya Alia yang selamat dari kondisi kritis tersebut, sedangkan Tiana tidak. Tidak ada harapan untuk Tiana.


Kini, mereka kehilangan sosok teman ideal untuk bercanda ria bersama. Sosok Tiana telah tiada dan tidak akan kembali. Amarah yang tidak berujung tertuju pada Alia, seseorang yang seharusnya menjadi korban malah disangka penyebab. Mungkin karena kehilangan teman terbaik, mereka menjadi menyalahkan Alia. Ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan, malah ikut merasa bersalah terhadap kematian Tiana.


. . .


Alia membuka matanya, tanpa sadar air matanya membasahi pipinya karena teringat akan kejadian yang lalu. Penyesalan yang itu kembali teringat. Seberapa benaknya Orang-orang terhadap dirinya?


"Ah, kamu sudah bangun" sahut Eric ketika melihat Alia sudah sadar. Ia tampak sedang mengunyah makanan. Sepertinya ia sedang sarapan. "Kak Alia lama banget, lho tidurnya...Mungkin Kak Alia lapar, ya?" sahut Erica sambil memberikan beberapa potong roti dan segelas susu sebagai sarapan.


Aliapun menerimanya dan memakannya. Ia sudah lelah dengan masa lalunya, tapi bagaimana caranya supaya terlepas dari belenggu penyesalan? Banyak nyawa yang telah melayang tepat di depan matanya. Bagaimana caranya ia melupakan hal-hal tersebut?


Tidak lama kemudian, Eric duduk di dekat kasur Alia dan bertanya, "Jadi, Apa tujuanmu selanjutnya?".


Karena pengalaman buruknya, ia meragukan perkataan itu. Untuk memastikannya, Alia bertanya kembali,


"Apa maumu terhadapku?"


Eric kelihatan keheranan.


"Apa maksudmu, kamu menawarkan imbalan?".


Sesuai perkataan Eric tadi, ia menyadari bahwa Eric sejak awal berniat membantunya. Ia merasa bersalah karena berpikiran negatif terpaksa menjawab,

__ADS_1


"I-iya" jawabnya singkat.


Eric hanya tersenyum kemudian mengarahkan tangannya kearah Alia. 'Tunggu, mau apa dia?' tanya Alia dalam hati dengan ketakutan. Seluruh pikirannya menjadi satu. Karena ketakutan, iapun menutup matanya.


Tapi yang dilakukan Eric diluar ekspektasi Alia. Ia hanya menepuk pundak Alia sambil tertawa puas.


"Hahahaha, padahal membantu orang yang kesusahan adalah suatu kehormatan, tapi kamu tetap menawarkan imbalan? Kamu sungguh baik hati, ya" sahut Eric.


'Maaf. Sebenarnya niatku tidak seperti itu' kata Alia dalam hati, ia benar-benar merasa bersalah.


"Kalau begitu, aku minta tolong bantu Erica dalam mengurus pekerjaan rumah. Sebenarnya aku merasa tidak enak jika Erica terlalu bekerja keras seperti ini" pinta Eric.


Erica yang mendengar permintaan itu segera memukul perut sang kakak sambil berkata dengan kesal, "Duh, aku bukan anak kecil lagi. Lagian, kalau kakak merasa bersalah cucilah sendiri pakaian kakak yang bertumpuk itu".


Sang kakak hanya bisa tertawa ketika sang adik berkata seperti itu, seolah dirinya hanyalah penambah tugas sang adik. Memang seperti itu kenyataannya.


"Eh? Alia? Kamu menangis? ehhh?" sahut Eric kebingungan, ia tidak tahu kenapa Alia menangis. Apa ini salahnya?


"Dasar kakak yang tidak peka...." sahut sang adik sambil menghela nafas, kemudian menghampiri Alia dan menggenggam tangannya. "Tidak apa-apa, kak. Semua baik-baik saja, kok" sambungnya.


Alia yang mendengar hal tersebut, segera memeluk Erica dan menangis keras. Ia sungguh bahagia, ia kini tidak ragu akan memeluk Erica. Ia merasa bahwa ia bisa mempercayai semuanya kepada kakak beradik ini. Entah kenapa hal ini bisa membuat hatinya sedikit terbuka untuk mereka berdua. Meskipun begitu, kebahagian ini tidak mampu mengukir kembali senyumannya kembali. Apa yang terjadi yang telah lalu lebih besar dampaknya daripada hal seperti ini. Walaupun ini adalah kebahagian yang ia tunggu-tunggu selama ini, tapi sepertinya bukan kebahagian yang ini dapat mengukir senyumannya. Kira-kira, kebahagian seperti apa yang bisa membuat dirinya yang lalu kembali?


. . .


"Inikah pasar pada zaman dahulu?" gumam Alia terpana ketika melihat pasar. Tentunya pasar zaman dulu. Walaupun tingkat keramaiannya tidak jauh berbeda, tetapi suasana sangat berbeda sekali dari pasar pada masa depan.


"Heee...Kira-kira seperti apa pasar pada zaman, kakak?" tanya Erica. Wajahnya terlihat sangat penasaran.


"Mmm...Sangat modern sekali, lho" jawab Alia dengan ramah meskipun dengan ekspresi datar.

__ADS_1


"Jadi pasar di masa depan namanya modern, kak? Namanya keren sekali"


"Bu-bukan seperti itu. Modern itu adalah istilah dimana serba mudah dan tidak menghabiskan tenaga banyak"


"Wah! Keren sekali!" kata Erica takjub.


'Yaahhh...Meskipun terlalu banyak menghabiskan waktu, sih' sahut Alia dalam hati. Hal itu tidak dapat dipungkiri lagi karena memang faktanya begitu.


Ketika Eric pergi untuk kerja, ia memberikan beberapa koin perak kepada Alia untuk membeli kebutuhannya dan juga membeli bahan masakan. Awalnya Alia enggan, tetapi ketika ia melihat kondisinya iapun menerimanya meski berat hati.


Setelah membeli beberapa pakaian dan bahan makanan, mereka berdua memutuskan untuk pulang. Ketika perjalanan pulang Erica bertanya, "Kak, Apa kakak punya masalah?". Pertanyaan itu membuat Alia bergidik, apa yang harus ia jawab?


"Kenapa tiba-tiba?"


"Mungkin dari kakak mengetahui masalah kakak, kakak bisa mengetahui sebab kakak dikirimkan ke zaman ini. Ya...Seperti itulah pemikiranku" jawab Erica.


Masuk akal sekali. Apa benar karena masalahnya yang tiba-tiba dikucilkan oleh semua orang adalah sebab ia dikirimkan kesini? Jadi, apakah tujuannya sekarang adalah mencari solusi untuk keluar dari masalah ini? Tapi bagaimana?


Setelah baru tiba di zaman ini, ia tidak mengetahui apapun soal zaman ini. Orang yang dikenalpun hanya kakak beradik ini yang telah membantunya. Kalau semua memang begitu, apa benar ibunya yang mengirimkannya? Tapi apa benar?


"Entahlah Erica. Kalau benar begitupun, aku tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah ini" sahut Alia dengan sedih. Ia tidak memikirkan ini sebelumnya.


"Kalau sudah selesai apa kakak mau kembali lagi?" tanya Erica lagi. Rasa penasarannya muncul.


"Tidak tahu" jawab Alia sedih. Kalau bisapun apa iya dia akan kembali? Kembali ke zaman yang membenci dirinya. Apa ia akan menetap di zaman ini? Ia tidak bisa memikirkannya.


Dari pembicaraan itu, isi kepalanya penuh dengan pertanyaan. Iya atau tidak?


Setelah itu, mereka hanya terdiam. Alia tenggelam dalam pikirannya. Bingung.

__ADS_1


__ADS_2