Dia Yang Tidak Tersenyum Lagi

Dia Yang Tidak Tersenyum Lagi
Kejadian 13 : Rival (1)


__ADS_3

Seminggu kemudian, Alia kembali ke kelas seperti biasa. Entah mengapa aku merasa bahagia sekali ketika ia kembali duduk di sebelahku. Perasaan senang apa ini? Dan kenapa aku merasa gugup untuk bisa berbicara dengannya. Aneh sekali.


Perasaan gugup ini meningkat ketika pelajaran dimulai, aku tidak bisa fokus mendengar penjelasan guru di depan. Pandanganku teralihkan ke paras cantiknya Alia. Hari ini ada yang aneh pada diriku.


"Eric..." panggil Alia dengan suara kecil.


"I-iya?" jawabku dengan terkejut.


"Jangan terus-terusan menatapku, dong. Aku jadi tidak bisa konsentrasi" katanya dengan malu. Gawat, aku ketahuan!


"Pe-pe-perasaanmu saja itu" jawabku.


"Pokoknya, jangan menatapku begitu".


"Jadi, bagaimana seharusnya aku menatapmu?" tanyaku. Eh, apa yang kukatakan ini?!


Wajah Alia merona, ia langsung membalikkan wajahnya dengan cepat dan tidak berbicara denganku sepanjang pelajaran sampai waktu istirahat tiba.


Ketika waktu istirahat tiba, Alia langsung berdiri dan meninggalkan kelas tanpa berkata sepatah kata apapun. Aku rasa ia merasa kesal terhadapku. Apa karena aku berkata seperti itu?


"Haaahh...Apa yang seharusnya aku lakukan?" gumamku dengan khawatir. Apa Alia membenciku? Gimana nih?


"Eric, sepertinya hari ini kau terlihat berbeda. Ada apa nih?" tanya Rey sambil tersenyum nakal.


"Rey...Gimana nih, sejak pelajaran tadi Alia tidak mau berbicara padaku, bahkan dia memalingkan wajahnya dariku" sahutku dengan sedih.


"Eh?" Rey bingung ingin berkata apa. Mungkin ia juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan.


"Eric, itu namanya konflik. Itu biasa, kok. Nanti kalau kau jelaskan, dia juga bakalan paham" sahut Rey.


Konflik, ya. Sepertinya aku sudah membuat Alia tidak enak hati. Tapi apa ini berkaitan dengan yang kukatakan tadi? Lagipula itu tidak sengaja aku ucapkan. Aduh, gimana nih?!


. . .

__ADS_1


Alia merasa lelah setelah lari di koridor akhirnya terduduk dengan letih di taman akademi. Sejak tadi hatinya selalu gelisah ketika bersama Eric. "Dan juga, apa-apaan tadi yang ia katakan?" gumamnya dengan wajah yang memerah. Ia tidak tahu apa yang mesti dilakukan, jadi ia hanya bisa lari dari Eric.


"Tapi, aku khawatir apa Eric akan menganggap aku membencinya?" gumam Alia sambil menatap langit. Alia terus menatap langit dengan menghela nafas panjang.


"Alia? Kamu sedang apa disini?" tanya Naiel kemudian menghampirinya. Alia tidak menyangka bisa bertemu dengan sahabat dekatnya secepat ini. Ia sangat ingin mencurahkan isi hatinya kepada sahabatnya tersebut.


"Naiel, aku harus bagaimana?" tanya Alia bercurhat.


. . .


Istirahat telah berakhir, tapi bukan berarti rasa canggung diantara Alia dan Eric telah berakhir. Jarak diantara mereka semakin melebar. Eric yang mengetahui kalau terdapat kesalah pahaman juga tidak bisa menjelaskannya karena Alia terus memalingkan wajahnya darinya.


'Apa yang harus kulakukan? Alia sedang dalam keadaan tidak mau berbicara. Duh, bagaimana ini?' gumam Eric dalam hati.


Tidak lama setelah itu, sang guru telah memasuki kelas. Tapi tidak seperti biasanya, ia tidak langsung memulai pelajaran. Kali ini ia memperkenalkan seorang murid pindahan dari kelas lain. Melihat orang tersebut, Alia terkejut. Ia kembali bertemu dengannya.


"Perkenalkan, nama saya Noah Alembert. Pindahan dari kelas ilmu perdagangan. Mohon bantuannya untuk kedepannya" sahutnya dengan lantang di depan kelas.


Kemudian matanya tertuju pada Alia. Ia kembali bertemu dengannya. Noahpun melambaikan tangannya ke arahnya dengan senyum penuh semangat. Tanpa disangka, Alia membalas lambaian murid baru itu. Hal itu membuat seisi kelas terkejut.


Murid baru itu duduk di meja seberang dengan Alia. "Alia, kita bertemu lagi" sahutnya. Alia menganggukkan kepalanya dengan pelan. Noah tersenyum bahagia karena bisa bertemu lagi dengan Alia.


Sedangkan disisi lain, Rey dan Naiel merasa curiga. Bagaimana Alia bisa dekat dengan murid baru itu?


"Bagaimana nih? Murid baru itu menghalangi rencana kita" bisik Rey kepada Naiel.


"Kita awasi saja murid baru itu. Siapa dan bagaimana dia bisa akrab dengan Alia. Kita tidak boleh membiarkannya" jawab Naiel dengan berbisik.


. . .


Usai sekolah usai, Naiel langsung bertemu Alia dan berkata "Alia, kita pulang bareng, yuk". Naiel langsung menarik Alia keluar, sedangkan Alia yang terkejut tidak bisa apa-apa dan ikut pulang bersamanya.


Disisi lain, murid baru itu langsung dikerumuni oleh murid-murid lain dan dibanjiri beribu pertanyaan. Tapi pertanyaan penting bagi mereka adalah bagaimana dia bisa langsung akrab dengan Alia.

__ADS_1


Noah hanya tertawa kecil kemudian menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Alia secara singkat, "Waktu itu aku sedikit terlambat di hari pertamaku masuk ke kelas khusus. Aku kira hari itu adalah hari sialku, tapi tiba-tiba ada perempuan yang menabrakku dari belakang. Kemudian dia terus-terusan meminta maaf padaku, aku hanya tertawa dan kami berkenalan. Sejak saat itu sampai kelas khusus berakhir, kami selalu duduk bersebelahan. Hahaha, dia orangnya cukup unik, tidak pernah tersenyum sekalipun walaupun aku mengajaknya bercanda"


Rey dan Arys yang mendengarnya langsung menjauh dan berbisik, "Dia bakal menjadi rivalnya Eric yang berbahaya, nih" bisik Arys.


"Kita harus merencanakan sesuatu untuk menjauhkan si pengganggu ini" balas Rey dengan berbisik juga. Akhirnya mereka bersepakat.


. . .


Sedangkan itu Alia dan Naiel, mereka berdua pulang ke asrama mereka. Tapi untuk sementara Naiel berhasil menjauhkan Alia dari murid baru itu, Noah. Sekarang apa yang akan ia katakan?


"Alia, apa kamu punya masalah dengan Eric?" tanya Naiel. Wajah Alia menjadi sedikit merona karena yang ditanya adalah Eric.


"Tidak kok, tidak ada" jawabnya.


"Tapi kenapa kamu sepanjang hari ini memalingkan pandanganmu darinya?".


"Eeh? Darimana kamu tahu?" tanya Alia dengan wajah yang merona.


"Siapa saja pasti mengetahuinya, lho. Salah satunya aku yang dari awal memperhatikanmu" jawab Naiel dengan tatapan bosan.


Alia hanya terdiam sambil tersipu malu. Yang dikatakan Naiel itu semua benar. Ia tidak dapat menyembunyikan apapun lagi terkait hal ini. Alia terpaksa menjawabnya sambil memejamkan matanya,


"Habis, Eric terus-terusan menatapku sewaktu pelajaran. Aku tidak tahu harus berbuat apa, tapi entah kenapa jantungku ini berdetak sangat cepat ketika ia menatapku....Dan berkata seperti itu".


Naiel paham, jadi Alia hanya malu dan tidak tahu mesti berbuat apa karena tindakan Eric itu. Syukurlah karena ia tidak membenci Eric. Tapi sekarang Naiel akan menanyakan masalah yang sebenarnya.


"Alia, apa kamu kenal dengan murid baru itu?" tanya Naiel.


"Oh, Noah, ya? Iya, kami berkenalan saat di kelas khusus. Dia orangnya cukup baik dan pintar. Ada apa?" sahut Alia.


"Tidak apa, aku hanya terkejut saja" balas Naiel.


'Berarti ini hanya masalah waktu sampai murid baru itu akan benar-benar mendekati Alia, bagaimana semestinya aku memberi tahu Eric?' tanya Naiel dalam hati dengan serius.

__ADS_1


Siapa sangka semua akan berjalan sesuai pikiran, pasti akan ada sebuah rintangan yang menghadang tujuan. Apakah Eric dan teman-teman bisa menangani murid baru itu?


__ADS_2