Dia Yang Tidak Tersenyum Lagi

Dia Yang Tidak Tersenyum Lagi
Kejadian 14 : Rival (2)


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini tingkah kakakku sangat aneh, seolah-olah ia khawatir ada sesuatu yang akan hilang atau dicuri. Aku masih tidak paham dengan pemikiran kakakku ini, tapi aku yakin yang ia khawatirkan itu adalah Kak Alia. Mudah sekali ditebak.


Jujur saja sudah lama aku mengetahui kalau kakakku itu menyukai Kak Alia dan mungkin sebaliknya, tapi yang membuatku tidak habis pikir adalah kakakku yang bodoh dan tidak peka terhadap perasaannya sendiri. Ukh, sudah lama aku merasa kesal sendiri padahal ini bukanlah masalahku.


Dan akhir-akhir ini, saat di kamar Kak Alia selalu terlihat lebih gelisah dari biasanya. Disaat aku ingin bertanya ada masalah apa, hatiku selalu saja menghalangi niatku tersebut. Walaupun aku belum pernah merasakan hal tersebut, tapi aku paham rasanya ketika aku melihat Kak Alia bertindak. Seperti ada yang mengganggu pikirannya. Ternyata cinta itu memang rumit, ya.


. . .


Hahhh... Sudah beberapa hari ini siswa baru itu mendekati Alia, entah mengapa aku merasa terganggu akan hal tersebut. Ketika Noah berbicara akrab dengan Alia, Alia terlihat lebih seperti perempuan pada biasanya. Yah.. Walaupun tidak pernah menunjukkan senyumannya sih...


Tapi ketika aku yang berbicara padanya, sikapnya padaku berbeda sekali, sedikit bicara dan selalu menundukkan pandangannya. Suaranya juga lebih kecil ketika aku yang sedang berbicara padanya. Terlebih lagi, ketika Alia melihatku sering sekali ia kabur atau mengalihkan pandangannya dariku. Uhhh... Hal itu membuatku semakin risih. Pada akhirnya, ia tidak lagi duduk di sebelahku.


"Wah... Aku melihat Eric yang galau, jarang sekali aku bisa melihat wajahmu seperti ini" sahut Rey sambil tertawa.


"Rey... Bisakah kau tenang? Suasana hatiku sedang sedih ini" sahutku dengan nada tidak semangat.


"Wah wah, ada apa ini, sahabatku? Ada apa ini? Kalau engkau bersedia, ceritakanlah masalahmu ini kepada Tuan Rey ini" bisik Rey dengan penasaran. Sudah lama aku tidak melihat Rey yang seperti ini.


Akupun menceritakan semua yang kurasakan di hatiku, dari sikap Alia sampai ketidak nyamanannya diriku dengan Noah.


"Ohh, begitu. Aku paham pada dasarnya. Ehm, begini... Apa kau ini menyukai Alia? " tanya Rey tanpa basa basi. Ketika pertanyaan itu terdengar olehku, jantungku berdetak sangat cepat dan wajahku sedikit merona. Aku tidak bisa menangkal kalau aku memang benar-benar menyukai Alia. Perasaan ini sudah lama aku pendam.


Rey yang melihat wajahku yang malu menunjukkan senyuman lebar khasnya. Dari senyuman itu aku yakin ada hal yang tidak terduga akan terjadi. Aku sudah menjamin itu.


"Ohh, kalau begitu akan aku tanyakan hal serupa pada Alia, bagaimana? " tanya Rey dengan wajah yang bagiku sangat menjengkelkan. Spontan aku menunjukkan kepalan pukulan tepat di depan wajahnya dengan maksud mengancamnya kalau ia benar-benar akan menanyakan itu.

__ADS_1


"Ah, maaf-maaf. Aku bercanda, tentu saja Tuan Rey ini tidak akan melakukan hal itu" sahutnya.


"Aku yakin kalau aku terdiam lebih lama, kau benar-benar akan menanyakannya pada Alia, bukan?" sahutku dengan tatapan tajam. Sudahku duga ia akan terdiam seribu kata, dengan artian itu benar.


"Ahahaha, Eric. Aku minta maaf soal itu, tapi apa kau yakin akan membiarkan siswa baru itu terus-terusan akrab dengan bunga hatimu?" tanya Rey, perkataannya barusan membuatku tersadar, benar apa yang dikatakan oleh Rey barusan. Aku tidak boleh begini lebih lama atau Alia akan benar-benar menjauh dariku.


"Kalau begitu, berjuanglah. Tenang saja, kalau kau gagal aku akan mentraktirmu roti madu" sahut Rey.


"Jangan berkata seolah aku akan gagal dan juga roti madu itu kesukaanmu, bukan? Bilang saja kau ingin makan sambil mentertawaiku" sahutku dengan tatapan tajam.


Setelah mendengar perkataanku barusan, ia terdiam dan mengalihkan pandangannya sambil menahan tawa. Sudahku duga.


. . .


Sementara itu, ketika Eric tengah berbicara asyik dengan sahabatnya, pandangan Alia tidak bisa lepas dari wajahnya Eric. Ia tidak tahu mengapa ia melakukan hal ini tapi ia merasa ini adalah tindakan terbaik. Ia tidak bisa mendekati Eric seperti dulu lagi, hatinya tidak akan bisa tenang dan jantungnya berdetak sangat kencang. Ia tidak tahu perasaan apa ini sebenarnya.


Alia terganggu akan hal tersebut, tapi ia bersyukur karena ada seseorang yang bisa ia jadikan tempat pelarian sementara, yaitu Noah. Ia adalah teman mengobrol yang baik baginya dan Alia merasa nyaman di dekatnya. Tapi hal ini juga tidak bisa membuatnya mengalihkan hatinya dari Eric bahkan hal ini membuat hatinya semakin terluka. Ia sangat ingin bisa bersama Eric seperti dulu. Mengingat hal tersebut, air matanya menetes.


"Alia? Kamu kenapa?" tanya Naiel.


"Ah, bukan apa-apa" jawab Alia sambil menutup wajahnya dengan lengan bajunya. Naiel yang melihat hal tersebut hanya bisa terdiam dan mengelus kepala Alia dengan lembut. Elusan kepala? Hal ini semakin mengingatkannya dengan Eric. Hal itu semakin membuatnya ingin sekali menangis.


. . .


Sekolah hari ini telah usai, lagi-lagi aku melihat Noah tengah asyik berbicara dengan Alia sebelum Alia kembali ke asrama. Aku harus menguatkan tekadku. Akupun mendekati mereka berdua. Sudahku duga Alia akan menundukkan pandangannya dariku, aku tidak tahu kenapa ia melakukan demikian tapi kali ini aku hanya memiliki urusan dengan Noah.

__ADS_1


"Ah, Noah. Kebetulan sekali kau belum pulang, aku ada sedikit urusan yang ingin kukatakan padamu" sahutku mencoba bersikap ramah.


"Hee... Apakah itu masalah yang tidak bisa kau katakan disini? Di depan Alia?" tanyanya dengan sedikit menyindir. Ukh, beginilah sikap para bangsawan. Aku selalu kesal dengan sifat kebanyakan dari mereka.


"Ternyata kau lebih paham dari yang kuduga, kalau begitu bagaimana kalau kau mengatakannya sambil kita pulang bersama?" katanya dengan tersenyum. Akupun menyetujui perkataannya dan kami berdua pulang sambil meninggalkan Alia yang terduduk di bangkunya dengan tatapan keheranan.


Saat di jalan, ketika aku ingin berbicara padanya, ia menyela, "Aku jatuh cinta pada Alia pada pandangan pertama. Aku tidak memandang ketika aku jatuh cinta siapapun dia, mau dia seorang rakyat biasa atau dia seorang bangsawan. Walaupun Alia adalah rakyat biasa, seluruh aspek pada dirinya membuat hatiku luluh. Dia benar-benar tipeku, tapi hanya saja ada yang kurang darinya yaitu sebuah senyuman.


Jujur saja, aku merasa nyaman ketika mengobrol dengannya tapi ia tidak pernah sekalipun menunjukkan senyumannya sedikitpun. Aku yakin senyumannya itu pasti indah sekali."


"Kau benar, Noah. Aku setuju denganmu dengan semua perkataanmu tadi tentang Alia. Asal kau tahu, aku juga menyukai Alia. Aku lebih lama bersamanya darimu. Banyak hal yang terjadi yang bahkan tidak akan terpikirkan olehmu. Kau yang sekarang hanya melihat salah satu sisinya saja, bukan seluruhnya. Kau tidak tahu cobaan apa saja yang telah ia alami" sahutku. Ya... Aku juga tersadarkan kalau Alia itu adalah seorang gadis dari masa depan. Ia juga banyak memiliki masalah.


"Ya, aku sepertinya sedikit paham dengan perkataanmu. Baiklah, bagaimana kalau begini saja. Karena kita berdua memiliki perasaan yang sama terhadap Alia, bagaimana kalau kita menjadi rival?" tanya Noah dengan tersenyum.


"Rival?"


"Ya, kita akan memperebutkan hati Alia, siapa yang akan lebih ia sukai daripada kita berdua" jelas Noah.


"Baiklah, aku terima tantanganmu ini. Mari bermain secara jujur, Noah Alembert." sahutku sambil menjabat tangannya.


"Begitu juga denganmu, Eric. Kalau begitu sampai jumpa besok" sahutnya kemudian melepas jabatan tangannya dariku.


"Oh, iya sebelum pergi. Aku ingin memberi tahumu kalau ketika Alia tersenyum itu sungguh manis, lho. Ia terlihat manja dan sangat menggemaskan" sahutku kemudian berlari ke arah asramaku. Ketika aku berlari, aku mendengar Noah berteriak, "Apa jangan-jangan kau pernah melihatnya?!".


"Tentu saja!" balasku dengan berteriak juga.

__ADS_1


"Sialan kau!" teriaknya kembali dan aku tertawa terbahak-bahak dengan reaksinya.


Tapi ada satu hal yang akan kusangkal dari perkataannya barusan. Perasaan kami tidaklah sama. Kau, Noah hanya sekedar jatuh cinta padanya. Sedangkan aku, walaupun aku menyukainya, tapi ada hal lain lagi, yaitu perasaan ingin sekali membantunya, ingin sekali membuatnya kembali tersenyum seperti pertama kali aku melihatnya, ingin sekali membuatnya bisa maju dari masa lalunya. Itulah seluruh perasaanku pada Alia.


__ADS_2