Dia Yang Tidak Tersenyum Lagi

Dia Yang Tidak Tersenyum Lagi
Kejadian 9 : Untuk Pertama Dan Terakhir Kalinya (2)


__ADS_3

Hari itu, aku merasa dunia ini berjalan sesuai keinginan penghuninya, tapi aku salah. Dunia berjalan sesuai garis yang bernama 'takdir' dan hal itu adalah mutlak. Kini, aku tidak berdaya dengan takdir yang menyuruhku untuk melihat hal yang mengerikan ini.


Ini bukan yang pertama kalinya aku melihat hal mengerikan ini, aku sudah tidak sanggup lagi. Dunia ini benar-benar kejam.


"Kakaak!" teriak Alia. Aku yang menahannya juga merasakan hal serupa dengannya meski tidak sebesar dirinya. Aku juga paham dengan situasi seperti ini karena aku juga pernah mengalaminya.


Alia yang pasrah mulai membalikkan badannya dan memelukku sambil menangis keras, mungkin ini tangisan yang paling keras yang pernah kudengar. Mungkin ini adalah kesedihan yang paling pedih yang pernah kulihat darinya.


Aku yang tidak tahu harus melakukan apa-apa akhirnya membalas pelukannya. Aku memeluknya dengan sangat erat dengan maksud mencoba menenangkannya. Semoga Kak Nagisa selamat, Tuhan tolong selamatkan dia. Meski dengan situasi yang mustahil ini, aku tetap berharap akan adanya keajaiban. Semoga ia selamat.


Setelah berjam-jam lamanya, akhirnya api kebakaranpun dapat dipadamkan dengan bantuan pihak berwajib dan masyarakat. Banyaknya masyarakat yang ikut berupaya memadamkan api dari kantor walikota menunjukkan betapa pentingnya Mr.Ertantonio dan yang lainnya.


Mr.Ertantonio adalah walikota yang telah menciptakan kebijakan derajat yang setara pada masyarakat, banyak warga yang senang akan hal tersebut. Tapi tidak kalah banyak yang tidak suka akan itu termasuk di dalamnya para bangsawan. Mungkin para pemberontak kebanyakan dari bangsawan, begitulah pikirku.


Karena kelengahanku, Alia melepaskan pelukannya dan berlari dengan segera ke arah bangunan kantor itu untuk mencari kakaknya, selamat atau tidak sepertinya ia tidak memikirkannya. Yang ia pikirkan hanya ingin bertemu dengannya.


Akupun spontan mengejarnya. Sialnya, larinya sangat cepat sehingga aku tidak bisa menyusulnya. Pada akhirnya aku bisa menyusulnya, tapi melihatnya berdiri diam aku bisa merasakan perasaan yang tidak enak.


"Mr.Ertantonio, anda selamat? Syukurlah" sahutku melihat beliau terduduk lemas dengan bajunya yang kotor.


Beliau hanya tersenyum kecut kemudian berkata, "Ya, semuanya berkat dia" sambil membelai rambut seorang gadis di pangkuannya. Dia'kan Kak Nagisa!


"Kak Nagisa!" panggilku.


Tapi, mereka berdua tidak menunjukkan ekspresi senang, tetapi ekspresi sedih. Jangan-jangan...


"Dia telah menyelamatkanku, tapi sebagai gantinya dia-" jelas beliau.


"Tidak...Mungkin..." gumam Alia. Dari ekspresinya aku tahu bahwa dia kehilangan kendali akan dirinya sendiri. Aku juga tidak bisa menjelaskannya dengan pasti tapi itulah yang kurasakan darinya.

__ADS_1


Aliapun jatuh terduduk dengan lemas kemudian mencoba membangunkan kakaknya. Ia memanggil namanya terus menerus, tapi tidak respon darinya. Meski ia berputus asa, tapi Alia terus memanggil nama kakaknya itu.


Aku tidak tahan lagi, aku tidak tega melihatnya begitu. Akupun mencoba menahannya, "Alia cukup. Aku tidak tega melihatmu begini-" sahutku dan tiba-tiba mendapatkan sebuah tamparan darinya. Pedih! Tamparan perempuan itu pedih! Sakitnya bukan main.


Setelah menerima tamparan darinya, emosiku naik. Akupun menggenggam kedua tangannya kemudian menariknya dengan paksa. "Sudah aku bilang, cukup Alia! Kamu juga tidak boleh begini terus!" teriakku.


Akhirnya ia menyerah dan terdiam.


Kemudian Alia menangis dan meringis kesakitan. "Eric...Sakit...Sakit sekali..." ringisnya.


"Ah, maaf" sahutku tersadar dengan yang kuperbuat.


Alia jatuh lemas, tapi beruntung aku sempat menangkapnya. Alia menatap sedih ke arahku sambil berkata dengan lemah, "Kakak...Kak Nagisa...dia-". Kemudian Alia pingsan, tampaknya ia sangat stress dengan kejadian yang menimpa dirinya.


"Dasar para pemberontak itu, kurang ajar sekali!" sahut Mr.Ertantonio dengan geram. "Mereka pasti akan kubalas" lanjutnya.


Mr.Ertantonio sadar dari emosinya menghela nafas dengan berat. "Terima kasih, anak muda. Apa kamu kenalan gadis itu?" tanya beliau.


"Begitulah, pak. Saya adalah temannya" jawabku tidak semangat.


"Saya akan membalas budi, saya akan jamin itu. Terima kasih karena sudah menenangkan saya, anak muda" sahut beliau.


. . .


Beberapa hari setelah itu, beberapa hari setelah pemakaman Nagisa. Alia hanya terdiam lesu. Eric yang melihatnya tidak tahu harus berbuat apa. Baru pertama kali ini ia melihat Alia tidak berenergi. Lesu.


Hal yang menimpanya pasti sangat berat untuk ia terima. Tapi ada satu hal yang membuat Eric terkejut, bahkan ia tidak pernah melihat ini sebelumnya.


Ekspresi Alia lebih kosong dari biasanya, bisa dibilang ekspresi Alia kini hampir mati. Ia tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, sangat hampa dari sebelumnya. Padahal baru baru-baru ini Alia menunjukkan senyumannya, kalau begini rasanya mustahil ia akan tersenyum lagi.

__ADS_1


Berapa kali ia menyalahkan dirinya tentang kematian kakaknya, ia merasa bahwa dia adalah gadis pembawa sial atau lebih tepatnya gadis pembawa maut.


Berapa kali nyawa hilang di dekatnya. Sebelumnya Darwin temannya Eric, sekarang adalah kakaknya sendiri yang baru ia ingat dan baru ia temui sejak lama. 'Sudah pasti bahwa aku ini gadis pembawa maut, bukan?' pikirannya.


Entah kenapa, Eric bisa mendengar pikiran Alia dan merasa kesal akan itu. 'Gadis pembawa maut katanya? Sial!' kesal Eric dalam hati. Iapun menghampiri Alia dan menepuk pundaknya.


"Alia dengar, kamu bukanlah pembawa maut atau apapun itu. Kamu adalah kamu, kamu adalah gadis biasa, Alia" sahut Eric. Alia tampak terkejut, 'Bagaimana Eric bisa tahu apa yang kupikirkan?' pikir Alia.


"Semua kematian yang telah kamu lihat, bukan karena kamu penyebabnya. Kamu hanya kebetulan saja di dekat sana" sambung Eric.


"Kebetulan? Sudah berapa kali aku melihat kematian tepat di depan mataku? Kamu tahu apa tentangku?!" teriak Alia tidak setuju dengan perkataan Eric.


"Aku lebih banyak melihat kematian dibandingkan denganmu, Alia. Tenanglah, kumohon" sahut Eric.


Hening. Alia hanya terdiam mendengar perkataan Eric barusan.


"Sudah terlambat, sudah terlambat untuk aku bisa tenang, Eric" sahut Alia datar. Eric tertegun mendengarnya. "Kakakku...Kakakku sudah..." sahutnya sambil menahan air mata.


Eric paham itu, sangat paham dengan perasaan Alia. Dia telah mengalami masa lalu yang kelam, hampir sama seperti Alia.


Ericpun mengelus kepala Alia dengan tenang sambil berkata, "Apapun yang terjadi, aku akan ada untukmu, kok. Jadi, jangan sungkan untuk mengadu kepadaku".


Alia menganggukkan kepalanya sedikit, ia mengisyaratkan bahwa ia mau-mau saja. Tapi hal itu sedikit membuat Eric khawatir. Ia sadar bahwa Alia yang sekarang bukan Alia yang dulu. Setelah kehilangan keluarganya, ia pasti mendapat luka yang besar di hatinya dan tidak akan sembuh dalam waktu dekat.


'Bahaya. Alia depresi berat. Ini lebih buruk dari semua hal. Ekspresinya lebih mati dua kali lipat sekarang' pikir Eric dengan khawatir.


Sekarang bukan waktunya untuk menyembuhkan luka di hatinya, ia harus perlahan. Tapi, apa Eric mampu melakukan itu? Sedangkan ia tidak bisa membuat Alia tersenyum sedikitpun sejak pertama kali bertemu.


Saat itu, Eric sempat berputus asa. Dia melihat Alia telah jatuh jauh ke dalam jurang penyesalan. Pikirannya sekarang pasti penuh dengan rasa takut, depresi, dendam, pasrah, dan kehampaan.

__ADS_1


__ADS_2