Dia Yang Tidak Tersenyum Lagi

Dia Yang Tidak Tersenyum Lagi
Kejadian 4 : Terulang Kembali (1)


__ADS_3

"Semua karena dirimu! Jangan pernah bicara padaku lagi!", Kejam. Alia mengingat kembali perkataan itu yang dilontarkan padanya. Apa benar keberadaannya adalah penyebab segalanya? Apa benar hanya keberadaannya saja yang membuat masalah? 'Semua itu tidak benar!' teriak Alia dalam hati. Ia menutup wajahnya yang dibanjiri air mata.


"Namaku Evan Septian, mohon bantuannya untuk kedepannya" sahut seorang siswa pindahan yang berdiri di depan hadapan para murid. Untuk postur seorang laki-laki ia tampak kurus dan lugu. Tipe yang cocok untuk diajak dalam pembicaraan. Tapi, semua itu hampir sirna karena dia duduk disamping Alia, terlebih lagi ia mencoba mengakrabkan diri pada gadis itu.


Evin selalu meminta bantuan Alia bahkan mengajaknya pulang bersama. Hal itu membuat tatapan menjijikkan tertuju pada mereka berdua, tetapi Evin tidak menyadarinya saat itu. Meski terus diabaikan oleh Alia, Evin selalu mengikutinya. Alia yang sudah lama tidak merasakan perbincangan, akhirnya menerima keberadaan laki-laki itu. Iapun ikut dalam perbincangan dan semua itu berakhir esoknya.


Saat di kelas, penghapus Evin terjatuh dan Alia mengambil penghapus itu dan mengembalikannya kepada sang pemilik. Tetapi reaksi Evin jauh diluar ekspektasi Alia, ia menatap rendah dan berkata, "Aku tidak membutuhkannya lagi, sudah terkontaminasi oleh tanganmu". Alia terkejut bukan main. Itu adalah reaksi semua orang padanya selama ini dan bagaimana bisa seorang siswa pindahan kemarin memiliki reaksi seperti itu?


Alia mencoba bertanya kepadanya, "Evin, apa yang telah terjadi?".


"Jangan memanggil namaku lagi, sialan" jawab Evin dengan tegas dan tidak ada keraguan sedikitpun pada perkataannya barusan.


"Semua karena dirimu! Jangan pernah bicara padaku lagi!" sambungnya.


. . .


"Kenapa?!" teriak Alia bangun dari tidurnya. Seperti biasa air matanya membasahi wajahnya, tetapi hari ini lebih banyak dari biasanya. 'Apakah aku harus menderita setiap hari walaupun aku berada di zaman yang berbeda?' tanya Alia dalam hati. Ia tahu jika bertanya pada diri sendiri tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang pasti, tetapi apakah bisa ia bertanya pada orang lain? Apakah ada jaminan bahwa mereka tidak akan bereaksi sama seperti orang-orang dari zamannya? Memikirkannya hanya membuat hatinya semakin pedih dan sakit.


Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Kenapa semua hal ini terjadi padanya? Kenapa? Kenapa?! Kenapa?!


Ia menangis sambil menutup wajahnya dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk kedepannya. Apakah karma yang membuatnya menderita? Tapi apa kesalahan besar yang telah ia lakukan dahulu? Jika dipikirkan, ia tidak pernah melakukan dosa besar sehingga orang lain merasakan hal yang ia rasakan sekarang. Tidak ada!


"Kak? Kakak kok nangis?" tanya Erica ketika membuka pintu dan melihat Alia menangis dengan kesedihan yang amat pedih. Erica mendekati Alia kemudian memeluknya dengan erat, Aliapun membalasnya dan menangis sepuasnya di pelukannya.


Tentang Alia yang sering bermimpi buruk kemudian menangis di paginya, hanya Erica yang tahu. Alia menyuruh Erica merahasiakan hal tersebut dari Eric, ia tidak ingin Eric tahu hal ini karena beberapa hal. Erica memahaminya dan selalu menenangkan Alia, dan juga menangis di pagi hari sudah seperti kebiasaan Alia. Sungguh membuat hati sedih.


Sudah saatnya mereka pindah ke ibu kota. Seluruh pekerjaan Eric telah selesai dan dia mengambil cuti beberapa hari sebelum berangkat. 'Sebentar lagi' gumam Alia dalam hati. Apa benar seseorang yang bernama Ertantonio itu dapat menyelesaikan masalahnya? Kenapa harus beliau?


"Hoi! sudah selesai?" tanya Eric dengan kopernya. Ia sudah lama menunggu persiapan mereka berdua pagi ini dan mereka belum menunjukkan tanda-tanda telah siap. 'Perempuan kalau bersiap lama sekali, ya' gumam Eric dalam hati sambil kebingungan. Apakah kebiasaan perempuan bersiap terlalu lama tidak berubah sejak dulu? Apakah begitu merepotkan mereka itu sejak dulu? Sepertinya iya. Zaman dan kebiasaan perempuan tidak berubah.


"Maaf menunggu lama" sahut mereka berdua sembari keluar rumah. "Kalau tahu lama, kenapa nggak dipercepat, sih? Ah! sudahlah, cepat naik ke kereta" sahut Eric dengan omelan.


"Kereta? maksudmu kereta kuda?" tanya Alia.

__ADS_1


"Iya, apalagi kalau bukan?" jawab Eric dengan simpel.


'Ah gawat, aku selalu mabuk perjalanan jika naik kendaraan. Gimana nih?' gumam Alia dalam hati. Tapi bagaimanapun, cara tercepat hanya ini. Mau tidak mau ia harus terima.


"E-Eric..." panggil Alia dengan gugup.


"Kenapa?" jawabnya.


'Duh....Gimana nih? Apa iya aku harus memintanya melakukan 'itu'? Tapi bagaimana lagi, saat berkendara ayah selalu melakukannya agar aku tidak mabuk. Tapi apa...' gumam Alia dalam hati dengan wajahnya yang memerah.


"Kenapa? Kamu nggak enak badan?"


Alia hanya terdiam sambil mendekatinya, Eric yang penasaran hanya bisa terdiam di tempat.


"Aku...Punya permintaan" kata Alia.


"Mmm? Katakanlah, aku upayakan untuk bisa memberikannya" jawab Eric.


"Benarkah?"


"Ka-ka-kalau begitu, a-aku minta kamu peluk aku ketika perjalanan nanti" pinta Alia sambil menundukkan pandangannya, ia tidak ingin wajahnya yang merona terlihat.


Hening.


Tiba-tiba...


"EEEEEEEHH???!" teriak semua orang yang ada disana. Permintaan yang terlalu sulit dan terlalu aneh yang keluar dari mulut seorang gadis.


"Ma-maksudmu apa, Alia? Nggak ah! Memalukan!" sahut Eric.


"Ha-habisnya aku selalu mabuk dalam perjalanan dan cara mengatasinya sejak aku kecil ayahku selalu memelukku supaya tidak mabuk dan berhasil" jelas Alia panjang lebar.


"Tapi..." Eric kehilangan kata-kata.

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang dari dalam kereta berkata kepada Eric, "Kabulkan saja, Eric. Kalau itu yang terbaik supaya ia tidak mabuk, lakukan saja!"


"Darwin, lebih baik kau diam! Kau tidak membantu" sahut Eric kesal mendengar suara temannya itu. Akhirnya mereka berdua larut dalam perdebatan.


Disisi lain, Erica mendekati Alia dan berkata, "Permintaan kakak terlalu hebat" sambil tertawa kecil.


"Apa aku berlebihan?" tanya Alia khawatir akan dimarahi.


"Nggak apa-apa, kok. Setiap orang pasti memiliki masalah tersendiri" jawab Erica. Kata-katanya terdengar bijak di umurnya yang tergolong muda.


"Ngomong-ngomong, itu siapa?" tanya Alia menunjuk seseorang yang bernama Darwin itu. Wajahnya baru ia lihat dan belum ia kenal sebelumnya.


"Oh, Dia Kak Darwin. Teman sekantor dengan Kak Eric. Mungkin ia juga ikut pindah ke ibu kota atau semacamnya.


"Ah! Sudahlah! Aku mau, ayo berangkat!" teriak Eric tiba-tiba. Sepertinya ia kalah debat dengan temannya itu. Tapi hal itu membuat Alia tidak enak hati. Ia menghampiri Eric.


"Eric, kalau kamu memang tidak mau, tidak apa-apa, kok. Aku nggak memaksa" sahut Alia.


"E-eh? bu-bukan seperti itu-"


"Tidak usah memaksakan diri, kok. Aku minta maaf kalau membuatmu tidak enak hati. Kalau begitu, ayo kita berangkat" sahut Alia dan menaiki barangnya ke kereta kemudian naik.


'Duuuhhh, Darwin sialan. Alia salah paham karena dirimu!' gumam Eric dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian naik.


Ketika kereta berjalan, ia hanya memandangi Alia yang memojokkan diri dengan wajah yang pucat. Tampaknya ia benar-benar mabuk perjalanan jika tidak ada yang memeluknya. Haha, aneh.


Eric beranjak dari tempatnya menuju tempat Alia kemudian memeluknya. Alia terkejut kemudian bergidik. "E-Eric?".


"Hmm? Kenapa? Kamu yang minta'kan? Aku nggak keberatan, kok" sahut Eric dengan wajahnya yang merona.


Alia yang merasa nyaman akhirnya larut dalam pelukannya kemudian tertidur.


"Huhuhuhu....Eric sudah mendahuluiku dalam mendapatkan perempuan" sahut Darwin dengan wajah pura-pura sedih.

__ADS_1


"Diamlah dan tetap fokus mengendarai sana!" sahut Eric dan mencoba untuk tidur.


Suasana menjadi tenang. Alia yang merasakan ketenangan ini, merasa inilah adalah hal terbaik yang pernah ia dapatkan setelah semua hal yang ia alami. Tapi, ia tidak tahu hal besar yang telah menunggunya di depan sana. Bagaimana cara ia mengatasi hal itu jika terjadi?


__ADS_2