
"Menyedihkan sekali, berapa kali lagi kau harus merasakan kesedihan?" sahut sosok yang ada di depan Alia. Sosoknya tidak dapat ia kenali karena tertutup asap terang. "Kamu siapa? Tolong jangan buat diriku semakin bersedih" sahut Alia dengan tegas ke sosok itu. Setelah mendengar perkataan Alia, sosok itu tertawa. "Menggelikan sekali, bagaimana mungkin kau tidak mengenal dirimu sendiri?" jelas sosok tersebut.
"Apa maksudmu?".
Sosok itu menghela nafas panjang, kemudian asap yang menyelimutinya perlahan menghilang dan menyisakan dirinya yang tampak seperti Alia.
"Tidak, tidak. Kamu bukanlah diriku" sahut Alia dengan ketakutan.
"Hah? Apa-apaan itu? Lagian kenapa kau ketakutan begitu?" tanyanya dengan senyuman yang menghina.
"Pergi!" teriak Alia sambil menutup matanya dan telinganya.
"Kau yakin? Kalau kau tidak dapat arahan dari dirimu yang satu ini, aku yakin kau akan terus menderita, lho" sahut dirinya yang lain.
Walaupun Alia sudah menutup telinganya, dia tetap mendengar perkataan dirinya yang lain itu. Alia terbelalak mendengar perkataan tersebut. Meski tidak yakin, ia bertanya untuk memastikannya. Lagipula ia juga sudah muak dengan nasibnya ini.
"Kalau boleh tahu, siapa kamu?" tanya Alia dengan tatapan tajam.
Dirinya yang lain tersenyum seolah ia tidak menyangka akan ditanya begitu.
"Aku? Aku adalah dirimu yang muak akan hidup ini. Muak dengan penderitaan. Muak dengan kesedihan. Muak dengan semuanya. Bahkan aku berpikir, alangkah baiknya kita bunuh diri saja untuk mengakhiri penderitaan yang memuakkan ini" jawabnya dengan kesal seakan seluruh perasaannya ditumpahkan ke perkataannya.
Alia terdiam mendengar jawaban tersebut. Ia tidak menyangka dia memiliki perasaan seperti itu di dalam dirinya.
Tapi ia tidak memiliki jalan lain, mau tidak mau ia ingin sekali lepas dari penderitaan yang mengekang hidupnya itu.
Dengan tatapan kosongnya ia menatap dirinya yang lain itu dengan serius.
"Beri tahu aku caranya" kata Alia.
Dirinya yang lain itu tersenyum sombong.
'Melihatnya seperti diriku yang tidak pantas saja' sahut Alia dalam hati, ia tidak percaya bahwa di dalam dirinya ada ekspresi yang seperti itu.
"Baiklah, caranya adalah..."
. . .
'Aah..Sudah pagi, ya?' pikirku dan segera bangun.
Badanku masih capek karena membantu sebagi relawan dalam membantu Mr.Ertantonio dalam berbagai hal.
Karena hancurnya kantor walikota, tidak sedikit masalah yang berdatangan walaupun kantor walikota hancur. Banyak masalah yang belum terselesaikan membuat keadaan semakin susah. Jadi, banyak masyarakat yang menjadi relawan membangun kantor walikota kembali. Benar-benar walikota yang disayangi masyarakatnya, padahal pembangunan ulang cukup dengan dana pemerintahan itu sendiri, tapi masyarakat tidak mau diam dan ingin sekali membantu pembangunan.
Dan aku, aku hanya terseret oleh Mr.Ertantonio sendiri. Karena berbagai hal aku mau membantu asalkan adikku dan Alia bisa menenangkan diri mereka. Perempuan itu lemah dalam dan luar, ya? Tentu saja termasuk laki-laki, meski laki-laki itu lebih cerdik dari perempuan dalam menyembunyikan perasaan mereka.
Itulah yang sedang kulakukan.
Aku sedikit terkejut karena pintu kamarku diketuk. Sudah lama tidak ada yang mengetuk pintu kamarku. Apa jangan-jangan...
Setelah aku membuka pintu, aku sangat terkejut dengan siapa yang kutemui. Diluar pemikiranku, dia adalah Alia.
"E-Eric, hari ini apa kamu masih sibuk?" tanyanya padaku.
__ADS_1
"Iya, sih. Tapi kalau ada alasan pribadi, aku bisa izin ke ketua relawan, kok. Ada apa memangnya?" jawabku sekaligus menanyainya.
"Kalau begitu, temui aku di gerbang kota siang ini" jawabnya.
"Apa bisa sekarang saja?" tanyaku, soalnya merepotkan.
"Baiklah, kalau begitu...Aku tunggu di depan penginapan" sahut Alia kemudian pergi.
Ada apa, sih? Tidak seperti dirinya yang biasa. Ada apa dengannya mengajakku begini? Ya sudahlah, aku akan bersiap-siap.
Akupun menutup pintu kamarku dan segera mandi.
. . .
Alia berjalan di koridor penginapan dengan gelisah. Dia masih ingat dengan perkataan dirinya yang lain di dalam mimpinya semalam.
.....
"Baiklah, caranya adalah..." sahut dirinya yang lain dengan perlahan. Alia sudah menyiapkan hatinya, mungkin saja bunuh diri? Balas dendam? Kabur dan menyendiri?
"Tunggu, sebelum itu..."
"Apa sih? Cepat katakan!" sahut Alia tidak sabar.
"Apa kau itu menyukai si Eric itu?" tanya diri Alia yang lain dengan tatapan heran.
Hening.
"Bi-bi-bisa serius gak, sih?!" teriak Alia dengan wajahnya yang merona. 'Apaan sih diriku satu ini?' tanya Alia dalam hati dengan kesal.
"Hoi".
"Kalau begitu, aku ubah. Bagaimana kalau kau bergantung diri kepada Eric? Kalau bisa sih..." sahutnya dengan tidak yakin bahwa Alia bisa.
"Jangan meremehkanku!" teriak Alia, "Lagipula...Aku tidak-" sambung Alia.
"Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri, lho. Aku ini dirimu" sahut dirinya yang lain itu.
Alia terdiam seribu kata.
Dirinya yang lain itu menghela nafas. Diapun mendekati Alia dan memegang pundak Alia dan berkata, "Entah mengapa aku merasa bahwa kita tidak akan bisa bahagia jika sendiri". Alia terdiam.
"Yah, nggak ada salahnya mencoba. Lagian kalau nggak dideketin nanti ada yang merebutnya, lho" sambungnya.
"Ja-jangan sampai..." sahut Alia tiba-tiba dengan panik. Tapi ia terhenti melihat pandangan dari dirinya yang lain itu dengan tatapan seakan berkata 'Tuh kan, bener'.
"Jangan menggodaku, dong!" teriak Alia.
"Hehe". Alia terdiam sejenak.
"Andaikan sekarang aku sepertimu. Bisa berekspresi bebas seperti yang diinginkan" sahut Alia dengan murung.
"Kau pasti bisa, walaupun aku adalah kau, tapi aku disini tidak bisa apa-apa. Hanya kau yang bisa merubah dirimu sendiri" sahut dirinya yang lain.
__ADS_1
.....
"Alia..." panggil Eric sambil melambaikan tangannya di depan wajah Alia. Alia yang tersadar dari lamunannya terkejut dengan kehadiran Eric.
"Bi-bilang kalau sudah datang, dong" sahut Alia mengambek.
"Sudah dari tadi, tahu" jawab Eric. "Jadi, kita mau kemana?" tanya Eric.
"Ikut aku" sahut Alia.
Mereka berdua berjalan di tengah jalan kota yang penuh dengan kesibukan dari hari-hari biasa. Keadaan belum menentu untuk keamanan.
Pemberontak pasti akan melancarkan serangan mereka untuk mengambil alih kekuasaan Mr.Ertantonio. Mereka yang tidak terima pemerintahannya itu pasti dari kalangan bangsawan yang rakus akan kekuasaan.
Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, banyak bangsawan yang diam, seolah tidak terjadi apa-apa. Mencurigakan.
"Kita sampai" kata Alia setibanya di padang rumput di luar gerbang kota. Eric heran dengan tindakan Alia sejak tadi, "Alia, kamu nggak apa-apa kan? Kamu tidak seperti dirimu yang biasa" sahut Eric.
Mendengar perkataan Eric barusan membuat hati Alia terpukul. 'Apanya yang tidak biasa? Aku...Aku...' sahut Alia dalam hati sambil menahan tangis.
"Alia..."
"Aku...Aku punya permintaan" kata Alia sambil menangis. Eric panik ketika Alia mulai menangis.
"Bisakah....Bisakah....-"
"Alia, tenanglah" sahut Eric sambil memegang tangan Alia dengan lembut.
'Jadi, dia tidak pandai menyembunyikan perasaannya, ya?' sahut Eric dalam hati dengan cemas.
Alia membalikkan badannya dan menyandarkan dirinya ke badan Eric sambil menangis.
"Tolong...Aku tidak tahu harus apa. Setelah kematian kakak di depan mataku sendiri, dunia seakan ingin memperingatkan diriku dengan kematian. Aku...Aku tidak tahu lagi" sahut Alia kemudian tenggelam dalam tangisannya.
Eric membelai rambut Alia, "Tenang saja, dunia memang kejam. Tapi, apa seluruh dunia? Apa seluruh penduduknya? Di dunia ini ada yang baik dan yang buruk, jadi wajar saja. Kita harus mengahadapinya.
Aku sudah banyak menyaksikan kejamnya dunia ini. Tapi, apakah dengan kesedihanku dunia akan berubah?" nasehat Eric.
Alia berhenti menangis sebentar, "Aku ini lemah, lho. Mentalku sudah lama hancur" sahut Alia.
"Tidak apa. Kalau begitu, mau merubah diri? Sebenarnya hatiku juga sedang terguncang sejak Darwin tewas" kata Eric.
Alia dapat merasakan detakan jantungnya yang kuat, perasaan apa ini? Setidaknya ia merasa lebih baik dari sebelumnya dan juga terasa nyaman.
"Kalau begitu, tolong aku, ya. Aku ini lemah soalnya" sahut Alia.
Eric menganggukkan kepalanya, "Ayo kita berjuang bersama" kata Eric dengan semangat.
Tapi berbeda dengan Alia, Entah kenapa dirinya merasa lemah sekali, kenapa ini? Pandangannya buram dan berakhir gelap.
"Alia?" panggil Alia yang tidak bergerak di pelukannya, aneh. Kenapa ini?
"Alia? Alia?" panggilnya dengan panik, apa yang terjadi?
__ADS_1
Badannya dingin, Alia juga tidak merespon panggilan Eric. Sedangkan Alia merasa dirinya tenggelam ke dalam lautan yang dingin sambil mengharapkan pertolongan.