Dia Yang Tidak Tersenyum Lagi

Dia Yang Tidak Tersenyum Lagi
Kejadian 5 : Terulang Kembali (2)


__ADS_3

Jarak dari ibu kota cukup jauh, mungkin sekitar tiga hari lagi kami akan sampai. Tapi, melihat gadis ini aku menjadi teringat masa laluku bersama 'dia', apa aku harus meminta Darwin untuk melintasi jalan pintas yang berbahaya itu? Ah, sebaiknya kami lebih memilih jalan biasa yang aman. Jalan pintas itu bukan pilihan yang bagus.


Sudah lama sekali aku tidak mengkhawatirkan orang lain selain adikku. Sebenarnya penderitaan apa yang telah menimpanya sehingga hatiku bisa merasakannya? Setelah datang dari masa depan tanpa tujuan yang jelas, ia juga tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang asing. Aku tidak tahu, tapi aku ingin membantunya keluar dari masalah. Melihat dirinya yang mirip seperti diriku di masa lalu, ingin sekali rasanya aku mengulangi hidup. Senyum yang telah sirna dan kepercayaan yang pudar. Itulah diriku di masa lalu, lantas apa gadis ini juga begitu?


"Ohoho...Sudah lama aku tidak ke kota ini" sahut Darwin ketika melihat gerbang kota yang akan kami masuki.


"Kau benar, Northerfield. Mengatakannya saja sudah membuatku rindu" tanggapanku setelah mendengar perkataan Darwin.


Kota ini adalah kota terkenal akan tambang mereka. Mereka juga terkenal dengan pemandian air panasnya yang khas. Tapi anehnya kota ini tidak memiliki seorang gubernur, tidak ada kekuasaan apapun. Bahkan bangsawan yang memiliki derajat lebih tinggi dari rakyat biasa, derajat mereka tidak ada harganya. Kota ini berdiri sendiri tanpa ada campur tangan negara. Anehnya kota ini tetap berdiri puluhan tahun tanpa masalah, malahan prestasi dan kedamaian mereka sudah diakui oleh negara itu sendiri. Mungkin jika kota ini mendeklarasikan diri menjadi sebuah negara pasti terwujud.


"Hei, apa malam ini kita bermalam disini?" tanya Alia. Tampaknya ia baru bangun dari tidurnya.


Uuhh, sebenarnya aku tidak habis pikir sejak keberangkatan. Apa maksudnya memelukku bisa menghilangkan rasa mual dalam perjalanan? Bahkan saat giliranku untuk mengendarai, ia duduk disampingku dan memelukku. Parahnya, saat ini adalah giliranku. Dia secara terang-terangan memelukku sehingga orang-orang melihat kearah kami. Duh, malu rasanya.


"Ah, sayang sekali tidak. Kita hanya istirahat disini sebentar sambil membeli persediaan" sahutku memutuskan.


"Haahh? Sayang sekali..." kata Darwin kecewa. Memang benar, rasanya sayang sekali tidak bermalam di kota yang terkenal ini. Tapi apa boleh buat, sekarang masih siang dan apa salahnya tetap melanjutkan perjalanan?


"Lain kali saja ya, kak" sahut Erica menghibur Darwin yang kecewa.


. . .


Sial. Seharusnya kami bermalam saja di kota Northerfield, sore ini kami telah sampai di kaki bukit dekat ibu kota. Tapi sayangnya cuaca sedang tidak bersahabat, langit mulai menutup cahayanya dan menghembuskan angin lembab yang kuat. Sepertinya akan terjadi badai hebat.


Bagaimana ini? Desa terdekat ada di seberang bukit ini dan jalan menuju desa itu pasti berbahaya jika dilanda hujan. Apa yang harus kami perbuat?


"Kau punya ide?" tanya Darwin kepadaku.


"Kau yang mengendarai, kau yang memutuskan. Asal kau tahu, keselamatan kita semua ada pada keputusanmu" jawabku dengan tegas.


Tiba-tiba Alia membisikkan sesuatu di telingaku, "Firasatku tidak enak" sambil memasang wajah khawatir dan hampir menangis.


Apa yang dikhawatirkan Alia terjadi. Hujan turun lebih awal atau lebih tepatnya badai telah menerjang secara tiba-tiba. Kuda kami menjadi resah karena kabut mulai menutup arah jalan. Kami menjadi tidak tahu apa yang harus dilakukan dan berputus asa.


"Akhir-akhir ini cuaca tengah ekstrim, ya. Haha, bahaya ini" gumam Darwin.


Akhirnya yang terburuk terjadi. Kuda kami semakin resah dan kehilangan kendali bahkan Darwinpun terlempar ke dalam. Semuanya terkejut dan ketakutan. Nasib kami sekarang ada pada kuda yang lepas kendali ini. Jika terus begini, kuda ini hanya akan berlari tanpa arah dan bisa-bisa terjatuh ke jurang terdekat. Kalau begini, kami semua bisa tewas.

__ADS_1


Alia dan Erica ketakutan bukan main sambil memelukku, tidak ada yang bisa kulakukan sekarang. Apa aku akan mati sekarang?


Tiba-tiba Darwin menepuk pundakku sambil tersenyum sedih, "Hei kawan, tolong jaga mereka, ya" sahutnya.


Jangan-jangan...


"Darwin, jangan bodoh! Kau mau bunuh diri?!" teriakku histeris.


"Lebih baik daripada kita semua, bukan?" lanjutnya kemudian melompat ke punggung kuda kami dan memotong tali penghubung dengan kereta. Spontan sosok Darwin lenyap ditelan kabut.


Sedangkan kereta kami terhenti dengan tabrakan berat, kepalaku terbentur keras sehingga kesadaranku hilang.


. . .


Ukh! Badanku sakit semua dan terasa berat. Apa yang terjadi? Aku membuka mataku dan kudapati Alia dan Erica menangis. Sinar matahari masuk melalui celah kain penutup kereta. 'Ah, sudah pagi, ya?' pikirku.


"Eric?! Syukurlah kamu selamat!" teriak Alia dan memelukku. Aku hanya bisa tersenyum lemah dengan rasa khawatirnya itu.


"Duh, kakak bikin khawatir, saja" sahut Erica sambil mengelap air matanya. Syukurlah mereka selamat. Tunggu dulu, dimana Darwin?


Tidak mungkin!


"Ah, kamu sudah sadar, Eric?" sahut seseorang. Siapa itu?


Apa dia Darwin? Ahahaha, jangan buat khawatir, dong. Hampir saja aku-


"Bisakah kamu ikut kemari sebentar?" lanjutnya. Dia bukan Darwin, dia adalah seseorang yang telah kukenal lama di desa terdekat itu, Kein.


Aku mengikutinya sampai kami tiba di sekumpulan warga, di tengah mereka terdapat sosok Darwin tengah berbaring dengan lemah.


"Darwin!" teriakku histeris dan berlari menghampirinya.


Wajahnya pucat pasi dan sekujur tubuhnya terdapat luka.


"Tidak mungkin" gumamku.


Mata Darwin terbuka dengan pelan, ia tampak lemah. Akupun menggenggam tangannya dengan erat. Dingin.

__ADS_1


"Tampaknya ia terjatuh bersama kudanya ke dalam jurang disana. Kami baru bisa menolongnya fajar tadi setelah adikmu datang ke desa. Maafkan kami" jelas Kein.


Tidak. Kalian tidak salah apa-apa. Aku yang salah karena memutuskan untuk tidak bermalam di Northerfield. Bodoh sekali aku ini.


"Tidak..Apa...Eric" sahut Darwin pelan.


"Darwin...Maafkan aku, seandainya saja-" sahutku tidak bisa melanjutkan. Air mataku mulai membasahi pipiku. Rasa bersalah mulai memenuhi hatiku.


Kenapa keputusanku lagi-lagi begini? Beberapa kali aku memutuskan dan berakhir tragis seperti ini dengan nyawa yang pergi. Kenapa kejadian dahulu terjadi lagi sekarang? Apa-apaan ini?!


"Hoi, aku memi...liki permintaan..terakhir" sahut Darwin. Ditengah tangisanku, senyumannya membuatku terfokus pada dirinya seorang. Serasa dunia kini hanya milikku, hanya suaranya kini yang sampai di telingaku.


"Bantu dan bahagiakan Alia, dia orang baik yang tersakiti" sahutnya.


Sejak dahulu, Darwin dapat melihat karakteristik orang lain hanya dengan mengamatinya. Dia memiliki kepekaan yang luar biasa sehingga dapat merasakan perasaan orang lain hanya dengan berada didekatnya. Dia orang yang hebat.


"Oke, serahkan saja padaku" sahutku dengan tegas walaupun air mata ini terus mengalir.


Ia hanya tersenyum kemudian terang matanya meredup. Aku hanya berteriak dengan kepergiannya. Sekuat apapun aku memeluknya, jiwanya yang telah pergi tidak akan kembali.


Kejadian yang dulu terulang kembali. Berapa kali aku harus menyesal dan menyesal? Kenapa aku tidak kunjung sadar akan hal ini? Kenapa?


Apa kepergian Darwin kali ini tidak membuka mata hatiku?


"Sial!"


. . .


Disisi lain, Alia hanya bisa menangis sambil ketakutan. Dia syok berat. Hampir saja nyawanya melayang. Tapi yang membuatnya ketakutan bukanlah itu, tetapi kejadian ini terlalu mirip dengan kejadian yang telah ia alami dulu.


Ia hanya bisa terdiam tanpa melakukan apa-apa padahal ada seseorang yang tewas didekatnya. 'Kenapa kejadian ini terulang kembali? Berapa kali aku harus merasakannya?' tanya di dalam hati sambil ketakutan yang hebat.


Kali ini kedua insan ini mengalami kejadian masa lalunya yang terulang. Rasa syok dan penyesalan tidak dapat mereka hindari. Keputus asaan menguasai mereka sehingga mereka tidak dapat melakukan apa-apa apalagi berpikir jernih.


Apa yang seharusnya mereka lakukan?


Kejadian kali ini pasti telah mebuat hati mereka terpukul. Apakah kejadian ini akan terulang kembali di suatu saat nanti?

__ADS_1


__ADS_2