
"Kalian sama saja, tidak berguna!", kata yang pedih di hati itu masih terasa di hati Alia. Bagaimana mungkin ia dapat melupakan perkataan ayahnya itu? Kenapa keluarganya tiba-tiba menjadi seperti ini?
Tiba-tiba ayahnya menjadi orang yang keras, kemudian ibunya mudah emosi dan hilang kendali. Sering kali ia dilukai oleh kedua orang tuanya itu, fisik ataupun batin. Akhirnya mentalnya terpukul dan beberapa ingatannya memudar. Masa kecilnya saja tidak dapat ia ingat lagi dan ia juga melupakan seseorang dari keluarganya.
Sering kali ia merasa melupakan seseorang yang ia cintai di keluarganya, tapi siapa dia? Apa dia memiliki keluarga selain ayah dan ibunya?
Ketika Alia mengingat hal itu, terlintas di pikirannya seseorang dengan suara lembut memanggil namanya. Rambut orang itu berwarna hitam pekat, mirip dengan Alia. Tinggi badannya lebih tinggi darinya, tapi ia tidak memiliki tangan kiri.
'Siapa dia? Terlihat familiar. Tapi, kenapa tangan kirinya tidak ada?' kata Alia dalam pikirannya.
Sebelum ia dapatkan jawabannya, tiba-tiba pikirannya kosong.
. . .
Alia terbangun dari tidurnya. Sinar matahari masuk dari jendela yang terbuka. Suara burung yang berkicau bisa ia dengar dengan jelas. Sudah lama sekali ia tidak merasakan perasaan yang damai ini. Begitu juga dengan rasa nyaman kasurnya itu, empuk sekali. Kapan terakhir kali ia tidur di kasur yang empuk seperti sekarang?
Rasa nyaman ini dapat melupakan kesusahan saat perjalanan. Tapi, ketika ia mengingat soal perjalanan yang lalu, terlintas rasa kesedihan yang menyayat hati. Tapi, tiba-tiba saja terlintas di pikirannya tentang pelukan nyaman khas Eric.
'Aaahhh! Memalukan sekali! Kenapa rasa mualku harus diatasi seperti itu?! Aaaahhh! Memalukan! Aku nggak sanggup menatap wajahnya lagi' teriak Alia dalam hati.
Sudah lama ia tidak merasakan perasaan malu. Jadi ini yang dirasakan orang lain jika ia malu. Rasanya nggak nahan.
Alia berusaha untuk melupakan hal tersebut dengan bangun dari tempat tidurnya kemudian pergi kamar mandi.
. . .
Aahh...Rasanya seperti hidup kembali. Rasa lelah dari perjalanan hilang total setelah aku mandi, kamar mandi di penginapan di ibu kota memang yang terbaik.
Setelah kami tiba di ibu kota tadi malam, tanpa pikir panjang kamipun segera mencari penginapan. Syukurlah kami bisa medapatkan yang diinginkan dan segera istirahat.
Baiklah, apa yang harus kami lakukan sekarang? Apa hari ini nganggur dulu? Aduh, bagaimana bisa aku melupakan hal yang sudah biasa dalam hidupku? Biasanya setelah tiba di ibu kota aku...Aku...
Aku langsung ke tempat tujuan bersama Darwin. Darwin itu sudah menjadi teman perjalananku sejak lama. Memikirkan rencana hari ini tanpa Darwin rasanya hampa sekali. Kepalaku serasa kosong sehingga tidak dapat berpikir ke depan.
Walaupun perasaan ini sudah beberapa kali kurasakan, tapi tetap saja hal ini membuatku sedih bukan main.
Suasana hatiku sekarang sangat suram sehingga aku sendiri tidak bisa menjelaskannya.
"Kak, sudah bangun?" tanya adikku secara tiba-tiba sambil membuka pintu kamarku.
"Sudah dari tadi, kok! Nah, ayo kita sarapan" jawabku dengan senyuman yang biasa. Aku tidak boleh membuat adikku khawatir.
__ADS_1
Setelah itu kamipun pergi ke tempat makan penginapan. Seperti yang kuduga, pikiranku kosong. Kejadian beberapa hari yang lalu masih mengganggu perasaanku. Tapi aku masih beruntung, aku bisa mengendalikan diriku. Tidak seperti dulu.
"Ah, Eric, Erica. Sebelah sini" panggil Alia. Dia sudah duduk di salah satu meja makan. Ekspresinya kali ini terlihat sedikit hidup. Jujur saja, sejak pertemuan kami yang pertama kali hingga sekarang, ekspresi Alia yang sedikit hidup itu adalah sesuatu yang langka. Dia juga belum pernah tersenyum sekalipun, apalagi tertawa. Ekspresinya selalu datar atau suram. Jika dipikir-pikir, aku merasa kasihan padanya.
"Alia, apa sarapan pagi ini?" tanyaku sambil duduk di sebelahnya.
"Roti dengan telur panggang dan susu" jawabnya datar. "Omong-omong Eric, apa yang akan kita lakukan hari ini? Kita punya urusan masing-masing, bukan?" sambungnya.
Ah, syukurlah. Berkatnya aku bisa memulai hari ini dengan sebuah rencana seperti biasa. Aku terselamatkan. Haahh...
"Ya, sudah. Kita urus saja urusan kita masing-masing. Sepertinya itu yang terbaik" jawabku.
"Baiklah".
. . .
Setelah sarapan, sesuai perkataan Eric mereka mengurus urusan mereka masing-masing. Eric pergi ke kantor barunya untuk administrasi, sedangkan Alia mencari seseorang yang bernama 'Mr.Ertantonio' yang tertera di alamat surat. Tentu saja ia tidak sendiri, Erica menerimanya atas kemauannya sendiri.
Setelah bertanya kepada seorang pegawai penginapan, mereka akhirnya tahu bahwa seseorang yang mereka cari bekerja di kantor wali kota.
Alia berterima kasih sekali kepada Erica, Meski Alia sudah bisa membaca, tapi ia tidak tahu dimana letak kantor wali kota tersebut. Bentuknya saja ia tidak tahu. Benar-benar susah sekali untuk mengetahui bentuk bangunan khas zaman dahulu.
Dan pada akhirnya mereka tiba di depan gerbang bangunan yang mereka tuju.
. . .
"Ke-kenapa cepat sekali?" tanya Alia kebingungan.
"Ah, itu...tadi mereka bergumam setelah melihat cap pada surat kakak. Kata mereka kita ini orang yang sangat penting" jelas Erica.
'VIP? Yang benar saja...' sahut Alia dalam hati dengan tegang.
Akhirnya inilah tujuan yang Alia tunggu selama ini. Apakah jawaban dari kedatangan dirinya ke masa lalu ini?
Inilah yang jawaban yang ada di
. . .
Mereka berdua mengikuti seorang pegawai yang menuntun mereka ke ruangan Mr.Ertantonio. Sepertinya beliau orang yang sangat penting, Alia dapat memahami itu dari raut wajah yang tegang dari pegawai tersebut.
Mereka diperlakukan sangat baik dan sopan, sehingga Alia tahu betapa pentingnya posisi yang diduduki Mr.Ertantonio ini.
__ADS_1
"Baik, kita sudah tiba, nona. Ini adalah ruangan Mr.Ertantonio" sahut pegawai itu. Ia mengetuk pintu tersebut, kemudian masuk setelah mendengar jawaban dari dalam. Kamipun mengikutinya dari belakang.
Di hadapan Alia ada dua orang, salah satu dari mereka membalikkan badannya dan tampak mengerjakan sesuatu dan satunya lagi adalah seseorang yang tampak sudah cukup tua. Ia tampak memiliki kharisma yang luar biasa.
"Selamat datang, nona-nona sekalian. Perkenalkan, nama saya Ertantonio Von Weanland. Saya adalah gubernur kota ini" sapa beliau dengan ramah.
Suasana menjadi hening tiba-tiba.
'Beliau adalah gubernur kota ini?! Maksudnya ibu kota ini?! Ini, mah namanya terlalu penting sekali!' Teriak Alia dalam hati dengan rasa terkejut luar biasa. Begitu juga dengan Erica.
'Tenang...Tenang...'
"Nama saya Alia, sedangkan dia Erica, adik teman perjalanan saya. Salam kenal" sapa Alia dengan sopan. Tapi Ekspresinya tetap datar.
Mendengar perkenalan Alia, seseorang yang membelakangi mereka itu tampak terkejut. Melihatnya Alia sedikit terganggu pikirannya. 'Kenapa orang itu terkejut?' tanyanya dalam hati.
"Jadi, ada urusan apa, nona Alia?" tanya beliau.
"Akan saya singkat sebisa mungkin, alasan kedatangan kami untuk memberi anda surat ini. Saya tidak tahu lebih lanjut soal surat ini, mohon maafkan saya" sahut Alia dengan sopan.
"Tidak apa-apa, nona Alia. Terima kasih" jawab Mr.Ertantonio sambil menerima surat tersebut dan langsung membacanya.
"Tidak mungkin, anda juga seseorang dari masa depan?" gumam beliau sambil melihat Alia dengan raut wajah yang sangat terkejut.
"Persis sepertimu ya, Nagisa" sahut beliau sambil melirik ke arah orang itu.
Orang itupun membalikkan badannya, Alia amat sangat terkejut.
'Nagisa...Nagisa itu....'
Wajah mereka berdua saling bertatapan, mereka saling terkejut. Bagaimana mereka tidak terkejut, itu karena...
"Kak Nagisa?" sahut Alia tidak percaya.
"Alia?" sahut orang itu tidak percaya juga.
Mereka adalah saudara kandung dan Nagisa adalah keluarganya yang terlupakan. Seorang kakak yang ia cintai, seorang kakak yang ia sayangi. Ketika dunia membenci mereka, mereka ada untuk satu sama lain. Mereka saling mempercayai.
Tidak diduga bahwa mereka dipertemukan kembali oleh takdir disini.
Erica yang bingung sekaligus terkejut tidak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
Bagaimana perasaan mereka? Setelah dipertemukan kembali, apakah takdir sedikit memberi kebaikan kepada Alia? Atau ada yang disembunyikan oleh takdir pada pertemuan kali ini?