
"Sampah sepertimu lebih baik mati saja!", kata-kata itu selalu terngiang di benaknya selama ini. Mereka yang menganggap Alia tidak berguna lagi selalu berkata seperti itu.
Ketika itu, Alia sedang memberikan tugas yang diminta oleh wali kelasnya, tapi seorang teman kelasnya berkata, "Pergi! Menjauhlah! Aku tak butuh dirimu!" teriakannya menjadi provokasi untuk semua mengalihkan pandangan mereka ke Alia, spontan mereka menjauhinya.
Alia yang tidak tahan akan perlakuan itu, kembali ke ruang guru dan berkata kepada wali kelasnya, "Maaf, saya tidak bisa menjalankan apa yang ibu perintahkan" dengan perasaan yang sedih. Sang wali kelas bukannya bertanya apa yang terjadi, tetapi malah memperparah keadaan dengan menghinanya bahkan memberi hukuman berat terhadapnya.
'Apa salahku? itu bukan salahku!' teriaknya dalam hati, kenapa semua kesalahan ditimpa padanya? Itupun tidak bisa ia pahami juga. Kenapa semua membencinya? Kenapa semua kesalahan yang bukan darinya ditimpakan padanya? Kenapa?!
. . .
"Uhm...?" Alia membuka matanya dari mimpinya yang buruk, mimpi penyesalan terhadap masa lalunya yang kelam. Tak terasa air matanya membasahi pipinya. Yang ia lihat sekarang adalah pemandangan padang rumput yang amat luas, angin lembab membuat rambut hitamnya tertiup dan berkibar. Sepertinya hujan akan turun, dan tiba-tiba ia mendapati di tangannya ada beberapa lembar kertas tas sebuah surat. 'Kenapa ada kertas di tanganku? Aku tidak ingat apa yang barusan terjadi sehingga aku berada disini' sahut Alia dalam hati. Diapun membaca tulisan yang ada di kertas tersebut, mungkin itu ditujukan padanya dan ia sangat terkejut kemudian hampir menangis.
Hanya dengan membaca tulisan itu ia kembali mengingat semuanya, apa yang ibu lakukan padanya tapi ia tidak tahu kenapa bisa berada disini, ini dimana?
Ketika larut dalam keinginannya yang tidak jelas, salah satu kertas yang digenggamnya lepas dan pergi mengikuti arah angin. Alia yang terkejut, segera mengejar kertas itu. Hanya itu satu-satunya petunjuk yang ada untuknya.
Ketika ia tengah mengejar kertas tersebut, tanpa ia sadari terjatuh dan hujanpun turun. Alia yang tampak putus asa hanya bisa menangis, kenapa semua hal ini terjadi padanya? Kenapa Tuhan hanya diam melihatnya menderita? Apa tujuan-Nya?
"Kamu baik-baik saja?" tanya seorang laki-laki kepadanya. Ketika Alia melirik kepadanya, laki-laki itu terkejut karena melihat Alia menangis dalam keadaan seperti itu, Apa yang telah menimpanya sehingga ia berputus asa?
. . .
"Terima kasih" sahut Alia. Ia ditawarkan oleh laki-laki itu untuk berteduh di rumahnya, terlebih adik laki-laki itu juga memberi segelas air hangat pada Alia. Benar-benar baik sekali walau kepada orang asing.
"Sudah baikan?" tanyanya. Alia hanya mengangguk tanpa ekspresi. Suasana hening sembari ditemani suara hujan.
__ADS_1
"Ehm...Ah, perkenalkan namaku Eric, ini adik perempuanku, Erica. Kalau boleh tahu siapa namamu?" tanya laki-laki itu untuk mencari topik pembicaraan. Sepertinya ia mencoba mencairkan suasana.
"Alia" jawab Alia dengan pelan, sepertinya Alia masih stok apa yang telah terjadi padanya sekarang.
"Hehh...Alia, ya? Kamu lancar juga berbahasa Nathea, Apa kamu bisa baca tulis?" tanya Eric.
"Nathea? Apa itu?" tanya Alia dengan ekspresi syok, 'Nathea? Apa itu?' tanyanya dalam hati? Begitu pula dengan Eric, bagaimana ada orang yang tidak tahu negaranya sendiri?
"Begini saja, bisakah kamu menceritakan apa yang telah terjadi? Aku tidak bisa membiarkanmu begini, aku akan membantumu" sahut Eric dengan serius. "Aku juga..." sahut Erica dengan malu, ia selalu malu terhadap orang asing apalagi jika berada di rumahnya.
'Apa aku harus menceritakan pada mereka? Apa mereka akan percaya? Tapi tidak ada pilihan lain, aku tidak punya petunjuk lain selain pesan yang ada di kertas ini' sahut Alia dalam hati dengan meyakinkan dirinya.
Alia mengangkat pandangannya dan bercerita pada mereka berdua,
Ketika aku membaca pesan ini, ibuku menyuruhku untuk memeberikan surat ini secara langsung, tapi untuk apa? Apa tujuannya? Aku tidak tahu." Cerita dari Alia berakhir dengan tangisannya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Untuk apa ia ke masa lalu? Untuk apa?
Eric mengambil surat tersebut, "Ditujukan kepada Mr. Ertentonio?! Beliau pemilik akademi di ibu kota. Benar ini dari ibumu? Alia?" tanya Eric tidak percaya. Siapa yang tidak mengenal Mr. Ertantonio? Beliau adalah ahli dalam pemerintahan dan pemilik sebuah akademi di ibu kota. Sosok yang terkenal.
Tapi Alia hanya menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak tahu apa-apa. Eric yang melihat hal ini hanya bisa menghela nafas.
"Sulit dipercaya, tapi aku yakin ini asli dan benar kamu dari masa depan. Aku percaya" sahut Eric. Perkataan Eric barusan membuat Alia berhenti menangis, ia hanya bisa berharap. Tapi salah satu kesalahan terbesarnya sekarang adalah tidak menceritakan masalah dan masa lalunya. Ia tidak ingin Eric dan Erica mengetahuinya. Jikalau mereka tahu, Alia yakin mereka pasti bereaksi sama seperti teman-temannya yang ada di zamannya.
Sekarang apa bisa ia mengulangi semuanya dari awal? Ia bahkan lupa bagaimana caranya tersenyum seperti biasa. Sudah hampir setengah tahun ia mengalami hal buruk itu semua yang membuat ekspresi dan hatinya mati.
"Oke, aku akan membantumu pergi ke ibu kota. Ya, karena kita setujuin" kata Eric sambil tersenyum. Senyuman seperti itu membuat Alia iri, bagaimana bisa membuat senyuman seindah itu?
__ADS_1
"Benarkah? Benarkah kamu mau membantuku?" tanya Alia dengan penuh harapan.
"Pekerjaanku sekarang adalah pembuat surat, dan aku akan dipindah tugaskan ke ibu kota jika pekerjaan bulan ini selesai"
"Kapan kamu akan selesai?"
"Sesuai kemampuanku, aku bisa selesai dalam waktu tiga minggu lebih" jawab Eric dengan percaya diri. Ia merasa bahwa Alia akan kagum dengan waktu segitu, tetapi...
"Lamanya..."gumam Alia.
Perkataan Alia barusan membuat dirinya kehilangan kepercayaan dirinya. Bukankah waktu segitu dikatakan cepat?
"Kalau begitu, aku mau bertanya" kata Alia. Sepertinya ia sudah mulai bisa mengendalikan diri untuk tidak menangis lagi. "Erica, tolong..." sahut Eric menyerahkannya ke sang adik. Erica mengangguk.
"Bisa kamu jelaskan kita dimana? Aku ingin tahu" tanya Alia tampak serius.
'Pertanyaan mudah, toh?' sahut Eric dalam hati.
"Hmmm...Kita berada di Benua Manthes. Negara utara, Nathea. Desa Surat 30." sahut sang adik dengan lancar. Walaupun masih berumur tiga belas tahun, sepertinya wawasan yang ia miliki luas.
'Semua itu belum pernah aku dengar sebelumnya, bahkan mungkin tidak ada di peta, dimana ini sebenarnya?' tanya Alia dengan pikiran yang tidak dapat ia bendung. Kepalanya pusing, pandangannya kabur, ia kembali kehilangan kesadaran.
Tanpa Alia sadari, bahwa ia telah terlempar jauh ke masa lampau. Ke benua yang terlupakan sejarah, benua Manthes.
Apa yang harus ia lakukan setelah ini benar-benar tidak dapat ia rencanakan lagi. Ia bukan dirinya yang dulu.
__ADS_1