
Kematian. Kata yang sangat familiar bagia Alia. Sudah beberapa kali ia melihat banyak nyawa melayang tepat di depan matanya, tanpa berbuat apa-apa kematian selalu menampakkan dirinya padanya. Entah itu sebuah sapaan atau peringatan tapi 'kematian' selalu saja membuatnya mengingat kembali semua hal yang seharusnya tidak ia ingat. Penyesalan.
Ia selalu tidak bisa berbuat apa-apa padahal yang mengalaminya adalah seseorang yang ada didekatnya. Apakah takdir yang menghalanginya untuk membatalkan kematian seseorang? Ia selalu memikirkan hal tersebut dan kali ini terjadi kembali. Apa benar penyebab kematian Darwin adalah karena kehadirannya? Apa itu benar? Benar ataupun salah, Alia selalu merasa ini adalah salahnya.
Alia melangkahkan kakinya dengan lemas dan juga wajahnya tampak suram dengan air matanya yang mengalir terlalu banyak. Ia menghampiri Eric yang tengah memeluk temannya yang berlumuran darah di sekujur tubuhnya. 'Apakah ia masih hidup?' tanya Alia dalam hati.
Tapi setelah ia tepat berada di sebelah Eric yang sedang menangis, ia telah memastikan bahwa Darwin tidak lagi bernafas. Isakan tangisannya kembali terdengar. Wajahnya tampak terlalu sedih, ia terlihat stress dengan apa yang ia rasakan sekarang. Siapa yang tidak mengalami hal serupa jika ia memiliki masa lalu seperti itu? Terlalu sakit di hati.
Apa benar ia bisa mengulang kembali untuk tidak mengalami seperti masa lalunya? Ia merasa hal itu mustahil. Hal paling berat di masa lalunya seakan memperingatkan dirinya bahwa ia takkan bisa mengubah ataupun mengulangi.
Ia kini larut dalam tangisannya yang keras.
. . .
'Bantu dan bahagiakan Alia, dia adalah orang baik yang tersakiti'. Itulah kalimat terakhir yang aku dengar dari Darwin. Pesan penting yang harus kulakukan. Tapi kenapa Alia? Apa hubungannya? Kenapa ia bisa tahu?
Pikiranku kosong ketika proses pemakaman Darwin tengah berlangsung. Harusnya aku menangis keras sekarang, tapi entah kenapa air mata dan perasaanku seperti telah hilang. Tidak ada ekspresi sama sekali.
Mirip seperti wajahnya, Alia yang kumaksud.
Sejak awal aku bertemu dengannya aku belum pernah melihatnya tersenyum atau bahagia sedikitpun. Aku belum bisa mengerti tentangnya. Seorang gadis tanpa ekspresi, mungkin tanpa perasaan juga.
Darwin dimakamkan di desa terdekat, di desa yang kukenal. Rasa bersalah memenuhi pikiranku, menyayat hatiku. Terasa sakit sekali dada ini.
Bicara tentang rasa bersalah, terlintas di pikiranku ekspresi Alia ketika melihat Darwin tewas. Wajahnya seakan menandakan bahwa dirinya merasa bersalah atas kematiannya. Apa itu yang dimaksud Darwin?
Setelah upacara pemakaman usai, aku segera melangkahkan kakiku untuk keluar. Kalau aku terlalu lama disini perasaanku bisa tumpah. Meski terlihat tidak sopan, tapi aku tidak berniat begitu. Aku pasti akan mengunjunginya kembali sebelum kami melanjutkan perjalanan.
Tapi saat aku melirik kebelakang, aku dapati Alia dan adikku masih disana. Adikku menangis sedangkan Alia terdiam. Ekspresinya terlalu suram, aku takut melihatnya. Seperti diriku yang dulu. Apa dia ada hubungannya dengan diriku? Jika aku memikirkannya cukup masuk akal, tapi itu hanya pemikiranku.
Kenapa gadis itu menunjukkan ekspresi seseram itu, bukannya menangis? Kenapa aku tidak pernah melihatnya tertawa ataupun tersenyum? Seperti apa stress mental yang ia alami?
. . .
Tiga hari berlalu setelah kematian Darwin, diriku seakan mendapatkan secercah keinginan untuk segera pergi, jadi pagi tadi aku mengabari kepada mereka berdua kalau siang ini perjalanan akan dilanjutkan kembali.
Tentu saja kami tidak berekspresi untuk saat ini. Tidak ada waktu untuk terus murung, perjalanan harus dilanjutkan. Sebenarnya untuk apa kami melakukan perjalanan ini?
Akhirnya mereka setuju.
Sebelum berangkat, seperti yang aku janjikan pada diriku untuk mengunjungi makam Darwin. Pastinya aku tidak bisa menahan air mataku sampai di depan kuburannya. Akupun berpamitan padanya, "Akan kupenuhi permintaanmu itu" sahutku. Air mata terus mengalir, tidak dapat kutahan lagi.
"Bodoh, jangan menangis".
Aku dapat mendengar suara Darwin. Tiba-tiba, aku melihat sosok Darwin di depanku sambil tersenyum meski hanya sekilas.
__ADS_1
"Mana bisa aku tahan, tahu!" sahutku bermaksud menjawab suara itu. Sudah lama aku tidak menangis sehingga kali ini aku benar-benar menumpahkan seluruh perasaanku.
Lagi-lagi aku membiarkan seseorang yang kukenal tewas tepat di hadapanku, sungguh tidak bergunanya diriku ini.
"Kak..." panggil Erica tiba-tiba.
Aku segera mengelap air mataku dan menjawab, "Ah, sudah saatnya".
"Kak, kakak menangis?"
"Tidak tahu, ayo pergi"
Sial. Adikku melihatku menangis, aku tidak ingin terlihat lemah di hadapannya. Sebagai kakak aku harus tampak kuat.
Kamipun naik ke kereta kuda kami. Tentu saja sudah diperbaiki dengan kuda baru. Aku dapati Alia sudah duluan masuk dan sedang murung, seperti biasa tapi kali ini lebih terlihat suram.
"Berhati-hatilah di jalan, Eric. Jangan sampai salah langkah lagi" sahut Kein, seseorang yang kukenal di desa ini.
"Aku tahu kau pasti terpukul dengan kejadian ini, tapi jadikan kejadian ini sebagai batu pijakan dan cermin akan kesalahanmu" sambungnya.
"Baik, akan kuingat kata-katamu" jawabku, "Oh, ya" sahutku tiba-tiba sambil menyerahkan sebuah amplop dan sebuah kotak ke Kein.
"Tolong kirimkan ke alamat itu, itu surat dan beberapa barang berharga milik Darwin. Tolong kirim ke keluarganya" jelasku sambil memberinya tip.
Kamipun berpamitan dan segera berangkat melanjutkan perjalanan.
Kali ini terdapat keanehan. Alia tidak memelukku lagi dan dia kini sedang menahan rasa mualnya.
'Dasar gadis satu ini...' sahutku dalam hati dengan sedikit khawatir.
Akupun menghentikan kereta dan memaksa Alia duduk di sampingku dengan cara menggendongnya. Pastinya ia terkejut.
Sekarang kami duduk di depan, tempat mengendarai kuda. Sambil perjalanan kembali berlanjut, aku mengelus kepalanya dan berkata, "Tidak usah kamu paksakan dirimu".
Dia tampak terkejut dan terdiam, kemudian memelukku seperti biasa. Sepertinya ia kembali mual.
. . .
Alia tersipu malu sekaligus tidak tahu kenapa tiba-tiba Eric peka terhadap keadaannya. Jantungnya berdetak kencang dan ia merasa gelisah.
"Eric..."sapanya memulai percakapan.
"Apa?" jawabnya.
"Apa kamu mau berteman dengan seseorang yang mungkin dapat membuat nasib sial?"
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Eric dengan wajah yang tegang.
"Aku..."
. . .
Eric terkejut. Sangat terkejut.
Setelah Alia menceritakan masa lalunya yang tragis, dia menangis. Erica mencoba menenangkannya. Eric sangat paham akan hal tersebut. Tapi dia tidak dapat menyembunyikan keterkejutan atas cerita tersebut.
'Jadi seperti itu penderitaan yang ia alami? Terlalu berat dan tidak masuk akal kenapa ia yang tersalahkan' sahut Eric dalam hati. Ia benar-benar merasa bersedih setelah mendengar hal tersebut.
'Jadi yang ia percaya hanya aku dan Erica? Ia baru bisa mempercayai orang lain ketika ia disini?'
Alia yang melihat wajah Eric yang bersedih, menyangka dirinya dibenci.
'Apakah akan terulang? Apa aku akan dibenci lagi? Apa aku akan merasakan hal itu lagi?' sahut Alia dalam hati dengan rasa sakit hati yang kuat. Ia pasti tidak akan kuat lagi jika terjadi lagi. Apa pada akhirnya ia akan dibenci pada setiap zaman?
"Alia.." panggil Eric dengan datar.
"I-iya" jawab Alia sambil menutup matanya dengan ketakutan. Ia takut. Apa ia akan digampar? Apa ia akan dipukul?
"Eh?" Alia terbelalak dengan apa yang dilakukan Eric.
Ia memeluk lembut Alia sambil mengelus kepalanya. Mungkin karena naluri seorang kakak, ia melakukan hal tersebut.
"Pasti berat untukmu, Alia. Tapi tenang, ada aku. Kamu bisa mengadukan semuanya padaku" sahut Eric.
Alia yang mendengar hal tersebut merasakan sesuatu pada dirinya. Apa ini yang disebut kebahagiaan? Ia tidak menyangka akan datang hari dimana ada orang yang menerimanya apa adanya.
Aliapun menangis sekuat yang ia bisa di dalam pelukan Eric. Erica yang melihat hal ini tersenyum, 'Akhirnya Kak Alia membuka hatinya untuk kita' pikir Erica dalam hati.
"Kamu tahu, Alia. Aku bisa mengerti perasaanmu karena aku bisa melihat diriku di masa lalu melalui matamu. Aku yang dulu melihat banyak orang tewas tepat di depanku dan hal itu terjadi lagi beberapa hari yang lalu.
Aku merasakan tatapan tajam dari orang-orang, bahkan ibuku menjadi korban padahal kami tidak bersalah.
Jadi, mari kita keluar dari penyesalan kita masing-masing" sahut Eric menceritakan masa lalunya.
Ternyata hampir sama dengannya meskipun ia tidak menceritakan secara detail.
Aliapun menanggapi perkataan Eric. Pada akhirnya, karena Alia kelelahan akibat banyak menangis iapun tertidur sambil memeluk Eric.
Sepertinya pada perjalanan itu, mereka dapat menyelesaikan sedikit masalah pada diri mereka masing-masing. Tapi apakah mereka bisa menyelesaikan seluruh masalah mereka?
Penyesalan itu tidak mudah untuk disembuhkan dari hati seseorang. Apakah mereka bisa melakukan hal tersebut?
__ADS_1