
Tidak terasa sudah beberapa hari mereka bersekolah, tetapi Alia tidak merasa bisa menikmatinya. Ia merasa tidak nyaman dengan tatapan banyak orang yang tertuju padanya, ia takut tatapan seperti itu berakhir dengan tatapan menghina seperti yang telah ia alami sebelumnya. Tapi ia berpikir bahwa tatapan kali ini berbeda dengan sebelumnya, walaupun berbeda dia juga merasa tidak nyaman. Tatapan apa ini?
"Apa kamu nggak nyaman dengan tatapan mereka?" tanya seorang gadis bernama Naiel. Dia telah menjadi sahabat dekat Alia dalam waktu dekat ini. Alasan Alia bisa dekat dengannya karena ia merasa tatapan Naiel berbeda dari yang lain, terasa santai dan lembut.
"Begitulah, entah mengapa aku tidak nyaman dengan tatapan mereka" jawab Alia. Naiel hanya tertawa kecil mendengar jawaban itu, tanggapan yang tidak terduga bagi Alia.
"Maaf Alia, itu karena kamu itu populer, lho. Jadi tidak heran kalau mereka terus menatapmu" sahut Naiel kemudian tertawa lagi. 'Aku populer? Apa maksudnya? Apa itu berarti mereka akan terus-terusan menatapku?' sahut Alia dalam hati dengan ketakutan.
"Apa aku bisa untuk tidak populer, Naiel?" tanya Alia dengan gelisah. "Eh? Kenapa? Bukannya itu bagus?" tanya Naiel kembali. "Nggak, nggak mau. Itu menyeramkan. Aku takut" jawab Alia dengan ekspresi hampir menangis.
'Eh? Serius ini?' tanya Naiel dalam hati. Dalam hati gadis itu terus bertanya ada apa dengan Alia. Apakah ada gadis yang tidak suka dilirik atau populer sama sekali? Ya, ada dan dia adalah Alia.
. . .
Sudah beberapa hari ini kami bersekolah, sejak saat itu aku dan Alia jadi jarang bertemu, aku hanya mengobrol dengan teman-teman baruku dan Erica saja. Apa penyebab aku tidak bisa mengobrol secara leluasa dengan Alia? Itu karena dia menjadi populer di antara para siswa.
Walaupun kami berada di kelas yang sama yaitu kelas ilmu komunikasi, tapi aku hanya bisa satu bangku dengannya hanya bisa bertahan dua hari, sejak saat itu banyak dari siswi yang berebutan untuk bisa duduk di sampingnya. Sejak itulah kami jarang mengobrol. Tapi aku tahu ia sekarang memiliki sahabat dekat, dia adalah gadis yang bernama Naiel. Aku bersyukur atas itu.
Tapi sekarang tanpanya hatiku serasa ada ruang yang kosong dan biasanya terisi. Perasaan apa ini?
"Oh, itu mah perasaan yang dinamakan 'kesepian', Eric. Apa jangan-jangan kau merasa kesepian karena tidak ada Alia, Eric?" sahut temanku, Rey Ashmill. Dia adalah salah satu teman curhatku.
"Begitukah? Apa aku merasa kesepian karena tidak mengobrol dengan Alia beberapa hari ini?" tanyaku sambil melihat langit-langit.
"Pikirkanlah sendiri, aku mau ke kantin dulu" sahut Rey dan pergi. Dengan perginya Rey, tempat tongkrongan kamipun terasa sepi. Hening.
Tiba-tiba aku kedatangan seseorang yang tidak terduga, yaitu adikku. Dia menghampiriku dan berkata dengan nada bosan, "Kak, ada yang mencari kakak, nih".
Tiba-tiba Alia datang dengan berlari dan langsung memelukku sambil merengek. Aku sangat terlalu terkejut dengan ini. Baru pertama kali ini Alia melakukan seperti ini, eh tidak...Aku merasa pernah, tapi kapan, ya? Eh, bukan saatnya memikirkan itu.
"A-Alia? Kenapa?" tanyaku.
"Eric, gimana nih? Orang-orang selalu melirikku terus, aku takut" sahutnya.
__ADS_1
Eh? Ahahaha...Aku paham. Alia bukanlah orang yang memiliki sifat seperti orang pada umumnya. Karena trauma pada masa lalunya, ia harus memastikan kepercayaan pada seseorang sebelum dia mendekatinya. Ia pasti telah merasakan bagaimana rasanya dikhianati.
Aku juga merasa bersyukur karena sejak masuk ke akademi ini, Alia sudah membuka hatinya sedikit dan ekspresinya sudah terlihat hidup dan tidak seperti dulu lagi.
"Itu namanya kamu populer, Alia" sahutku sambil mengelus kepalanya.
"Kalau begitu bagaimana caranya supaya tidak populer lagi tanpa menyakiti perasaan mereka?" tanyanya.
"Aku juga tidak tahu. Tapi sebelum itu, aku merasa kamu tidak sopan lho denganku"
"Eh?"
"Sudah lama kita nggak mengobrol, kamu datang-datang langsung meminta tolong"
"Ah, maaf" sahut Alia dan langsung melepaskan pelukannya.
"Aku sih nggak mempersalahkannya, kok. Tenang saja, hanya saja aku hanya merasa kesepian karena nggak ada kamu" sahutku sambil Eric. Alia yang mendengar perkataanku terdiam dengan wajahnya yang merona.
"Maaf mengganggu keromantisan kalian, tapi bel istirahat sudah terdengar, lho" sahut Erica dengan kesal dengan tindakan mereka yang menurutnya terlihat seperti pasangan, terlalu romantis untuk dilihat. Apa lagi yang ia lihat adalah kakaknya sendiri.
'Duh...Kenapa kalian tidak jadian saja, sih?' sahut Erica dalam hati dengan kesal.
. . .
Sejak kejadian itu, Alia dan Eric akhirnya bisa duduk bersebelahan kembali, itu karena Alia merasa bersalah tidak banyak mengobrol lagi dengan Eric dan merasa mengabaikannya. Tapi di balik itu semua itu, sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu pikiran dan hatinya. Karena beberapa hari terakhir tidak ada Eric di sisinya, ia merasa ada suatu ruang di hatinya yang kosong dan biasanya ruang itu terisi.
Perasaan apa ini sebenarnya? Alia pernah merasakan ini sebelumnya, tetapi kali ini terasa berbeda sekali. Seakan dunia menjadi sempit. Tapi karena ia kembali mengobrol dengan Eric lagi, ruang di hatinya itu kembali terisi dan serasa dunia kembali luas. Hal ini masih mengganggu Alia.
Saat pelajaran selesai, Alia menanyakan hal ini kepada Naiel sahabatnya. Tetapi Naiel tertawa seperti biasa sebelum menjawabnya, "Alia, itu dinamakan perasaan 'kesepian', itu bisa kamu rasakan ketika seseorang yang dekat dan penting bagimu tiba-tiba tidak berada di dekatmu" jelas Naiel kemudian mencubit pipi Alia karena gemas.
"Kesepian? Begitu, ya?" gumam Alia.
"Apa jangan-jangan kamu merasa kesepian karena tidak ada Eric?" tanya Naiel menggoda Alia. Awalnya niatnya hanya sedikit menjahili Alia, tetapi melihat wajahnya yang memerah...
__ADS_1
'Ah, benar ternyata...' pikirnya.
Kemudian Naiel beranjak dari bangkunya dan pergi menemui Rey. Untuk sekedar informasi, Naiel dan Rey adalah teman sejak kecil.
"Rey, apa Eric bertanya dengan perasaan yang mengganggu pikirannya denganmu?" tanya Naiel dengan serius.
"Begitulah, bagaimana denganmu?" tanya Rey kembali. Naiel menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka berdua tertawa.
"Sungguh, aku tidak tahan dengan mereka. Apa kita percepat saja?" tanya teman sebangkunya Rey, Arys Samuel.
Sebagai informasi, mereka bertiga adalah teman akrab dan juga mereka bekerja sama untuk membuat Alia dan Eric jadian. Mereka menamainya 'Aliansi pendukung Alia dan Eric', tentu saja hanya mereka bertiga yang tahu.
. . .
"Jadi...Apa maksudnya ini?" gumam Erica dengan kesal melihat kakaknya yang kembali galau dan sedang menyendiri di tempat tongkrongannya.
"Erica...Kakakmu ini sekarang benar-benar kesepian, lho" sahut Eric dengan tatapan kosong.
"Apa yang terjadi?" tanya Erica.
"Alia masuk ke kelas khusus dan entah mengapa aku kesepian"
"Kelas khusus?" tanya Erica kembali.
"Karena prestasi Alia yang bagus padahal baru pindah, dia dimasukkan ke kelas khusus selama seminggu ini" jawabnya.
Mendengar semua itu entah kenapa Erica menjadi emosi, dia tidak bisa tahan lagi dengan kakaknya dan Alia. Padahal sudah sejak awal ia sudah tahu apa perasaan mereka berdua kepada satu sama lain, tetapi kenapa mereka tidak sadar bahwa itu yang dinamakan 'cinta', sih?
Ericapun menendang kaki kakaknya dengan kesal kemudian pergi sambil berkata, "Kenapa kalian tidak jadian saja, sih?".
"Ada apa dengan Erica, sih? Kenapa sejak masuk ke akademi dia menjadi kasar, ya? Apa stress karena tugas?" tanya Eric pada dirinya sendiri.
Keseharian mereka terus berjalan, tapi siapa sangka di antara mereka terdapat orang-orang yang membenci Alia. Bagaimana Alia menangani itu?
__ADS_1