
Hari demi hari panas kian semakin merasuk menusuk tiap-tiap ruangan sempit di sebuah kos-kosan tengah kota itu. kos itu sudah tidak layak disebut sebagai sebuah tempat tinggal, namun sebuah tempat tinggal itu masih layak bagi seorang gadis yang masih terbaring di atas Kasur tipis itu, tubuhnya mungil meringkuk sembari memeluk sebuah guling dengan erat. Baju yang basah akan keringat sudah biasa ia jalani setiap harinya, tampak masih pulas juga tidurnya, seperti tak hirau akan keringat yang terus mengucur. jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, tapi gadis itu belum juga terbangun dari mimpinya, tampak disebelahnya terpasang sebulah bingkai foto pernikahan berdiri di samping tubuh mungil gadis itu. bruk….tangannya menyenggol bingkai itu dan mengenai wajahnya, ia terperenjak berteriak terbangun dari tidurnya….
“sungguh sial!!bagaimana bisa bingkai foto itu terjatuh!?”gerutunya sembari menggosok muka yang terkena bingkai foto itu. Dengan mata yang masih terkantuk iya mencoba menyadarkan dengan mengucek kasar matanya. Menatap foto itu yang di pegangnya itu, langsung saja pikirannya kalut dan iapun menghelakan nafas yang panjang. Sesekali ia sedikit mengingat rentetan kisah yang berhubungan dengan sebuah foto itu. tanpa ia sadari telepon terus berdering di bawah bantal, sudah 4 panggilan tak terjawab yang dilaporkan dari telepon itu.
“ahh sial sepertinya aku telat lagi”. Gerutunya sekali lagi, tanpa pikir Panjang iya langsung menyambar handuk, keluar kamar untuk segera mandi.
Dengan tergesa-gesa gadis itu berlari mengejar bis trans, yang biasa ia gunakan untuk berangkat kerja, namun ia datang telat hingga harus menunggu sekitar 15 menit lagi untuk mendapatkan bis, ya tentu saja waktu itu sudah tidak bisa diulur lagi, terlebih lagi uangnya tidak cukup untuk memesan sebuah taksi dan tentu saja ia harus sampai ke tempat kerja, tidak ada pilihan lain selain berlari menuju tempat kerja sebelum bos datang. Sembari berlari tak sengaja menjatuhkan sebuah buku dari tasnya yang tidak tertutup rapat, tanpa mengambilnya ia terus berlari mengejar waktu. Seorang pria dengan setelan jas rapi mengambil buku itu, dan terus mengamati kemana Diana berlari.
Teriakan melengking terdengar si seluruh ruangan toko roti, pria dengan tubuh tambun itu terus mengomel dengan sangat kencang memekakan setiap telinga yang mendengarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 11:30 namun diana belum sampai tempat kerja juga. Kemana gadis itu tanya bos kepada seluruh karyawannya. Ia terus mengomel sembari melihat jam tangan emas yang terpaku di lengan kirinya, salah satu karyawan mencoba untuk menenangkannya dengan mengalihkan perhatiannya kepada sebuah buku yang tergeletak di meja kasir. Salah satu karyawannya lagi menghidangkan kue yang baru saja keluar dari oven. Tapi pria it uterus saja tidak luluh, ia makin keras mengomel dan menunjuk-nunjukkan jam tangan emasnya keseluruh karyawan. Para karyawan yang melihat tingkah bosnya hanya tertunduk tersenyum mengejek Ketika luput dari pandangan mata bosnya. Pemandangan yang cukup menarik yang terlihat antara karyawan dan bosnya.
Tiba-tiba bunyi bruk mengalihkan pandangan mereka kesebuah pintu masuk yang di penuhi oleh orang yang berdiri mengerubungi seseorang, ada seorang gadis yang terengah-engah tergeletak lemas dengan cucuran keringat di sekujur badannya. Tentu saja diana baru saja tiba setelah berjuang dengan kakinya menuju tempat kerja. Orang-orang itu tentu memberikan sebotol air minum untuk membuatnya tak terkulai lagi, tanpa ragu ia langsung meminumnya dan menghabiskannya seketika satu botol penuh, dengan tergopoh-gopoh ia masuk ke dalam toko roti itu untuk menyapa bosnya yang sudah berdiri sembari berdecak pinggah menatapnya tajam. Seketika diana langsung mengampiri sembari memegang tangan bosnya itu untuk meminta maaf karena sudah telat, dikira akan marah pria tambun itu menyuruhnya untuk tidak telat lagi dengan baik-baik, tak disangka bukan, seorangya pak firman memaafkan diana karena telatnya. ya tentu saja Tindakan itu membuat semua karyawannya kaget bukan main, bisa dingat saja saat pak firman mengomel sepanjang jam karena Diana telat. Namun kini ia malah memaafkannya. Seorang karyawan teman diana kerja yang Bernama Syahnas pun kaget bukan main, lalu ia mencoba membantu temannya itu untuk masuk kedalam loker karena masih sempoyongan jalan. Diana langsung saja berganti pakaian dengan pakaian kerjanya di ruang ganti, iapun dihampiri oleh teman kerjanya lain Bernama fenti. Namun temannya itu rupanya tidak suka dengan tingkah Diana yang telat dan tidak dimarahi oleh pak firman bosnya sendiri, fenti menyindir diana yang tengah mengusap keringatnya itu dengan sindiran yang pedas, fenti sendiri merasa dibedakan padahal setiap karyawan lain yang telat ia akan diomeli habis-habisan oleh mulut pedas pak firman itu. Tanpa menjawab dianapun keluar usai dirinya selesai berganti pakaian kerja menuju depan kasir tempat biasa ia bertugas. Seorang temannya yang Bernama Roy mendekatinya dan membisikkannya supaya tidak telat lagi, dan menceritakan bagaimana tadi pak firman murka ke telingan Diana, Dianapun tanpa menjawabnya malah bergantian mengejek roy sembari mencubitnya. Roypun menjerit kesakitan sembari mengusap bekas cubitan itu, mendengar berisiknya mereka Syahnas menegurnya untuk diam dan lanjut bekerja, dengan muka yang masih merah lalu tersenyum diana dan roy pun melanjutkan kerja diposisinya masing-masing.
Lampu toko itu segera dimatikan menandakan toko bakery sudah close order. Diana dengan sigap mulai menghitung semua uang yang berada di mesin kasir itu, dengan cermat ia menghitung recehan dan gepokan uang yang berada di hadapannya lalu mencatatnya di sebuah buku dan menyetorkannya ke pak bos firman. Setelah semuanya selesai ia berjalan menuju loker untuk bersiap-siap pulang, temannya Syahnas menghampirinya untuk mengajaknya pulang Bersama, namun di satu sisi si Roy mengajak Syahnas makan malam berdua, karena tau mereka berdua sedang PDKT diana pun menolak ajakan syahnas dah menyuruhnya untuk menerima ajakan roy makan malam. Dengan riang Syahnas pun berpamitan ke Diana untuk pulang terlebih dahulu, dengan keusilan Diana ia mengejek dan menggerutu melihat kedua temannya itu, si Roy yang tentu saja tidak mau melewatkan untuk terus menggoda diana yang masih sendiri karena kecuekannya terhadap seorang laki-laki. Di satu sisi fenti yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka dari balik pintupun terperenjak karena terpergok oleh diana sendiri. Dengan muka masam fentipun beralasan mau mengambil barang. Diana yang tau akan kebiasaan fenty, hanya bisa berkata usil mengejeknya, dengan muka merah karena malu fentypun meninggalkan diana yang masih saja berberes diruang ganti. Jam menunjukan npukul 21:30 tapi diana masih terpaku memandangi ponselnya diruang ganti, sembari menghisap rokok yang berada di genggamannya. Tiba-tiba seorang pria membuang rokok yang berada di tangan kanan Diana.
__ADS_1
“alex!!kenapa sih menggangguku!”. Reflek dianapun terperenjak dari duduknya dan mengomal kearah laki-laki berhidung mancung itu. Stakkk..jitakan mendarat kearah kening diana. Diana pun reflek meringis memegangi keningnya.
“sudah kukatakan untuk berhenti merekok!!”.kata laki-laki itu dengan tegas, mukanya yang masam menatap lekat mata diana. Tanpa disangka laki-laki itu berganti dengan wajah tersenyum sumringah di hadapan diana.
“berhenti ikut campur..dasar kucing garong!!”. Gerutu diana yang masih saja kesal karena perbuatan Alex tersebut. Dengan muka yang mengejek alex lalu mengusap ramput diana, sembari menggerutu karena perbuatan diana yang masih saja merokok.
“tumben kamu kesini!?”. Tanya diana kepada alex yang masih saja memainkan rambutnya.
“justru aku tanya kamu, kenapa masih berada disini. Dan kemana ayah?” jawab alex sembari clingukan mencari keberadaan orang selain mereka.
“makanya jangan telat. Lain kali jangan jadi kebo!!”. Ejek alex sekali lagi kepada diana yang kesal. Dengan muka masam diana menghembuskan nafas Panjang sembari mengangkat kakinya ke dipan tempat duduknya itu. Alexpun terduduk disampingnya dan menyenderkan kepalanya di pundak Diana. Beberapa menit kemudian diana memejamkan matanya dan tertidur sembari menyenderkan kepalanya di tembok belakang punggungnya, alex yang melihat diana tertidur tersenyum simpul lalu menyelimutinya dengan kain yang berada di atas loker, sembari tidur alex menatap wajah sayu milik Diana, terlihat ia cukup tau bahwa Diana memiliki gangguan tidur, alex yang nampak peduli dengan dianapun merasakan kepeduliannya itu berubah menjadi perasaan yang lain di hatinya, hingga ia tak sampai hati melihat gadis yang ia sayangi terganggu dengan penyakit tidurnya, yang mengganggunya setiap diana beranjak tidur. Sebab itulah diana sering kali terlambat, hingga alex terpaksa menceritakannya ke pak firman ayahnya sendiri tentang penyakit gangguan tidur diana, ya tentu saja pak firman sangat maklum jikala diana sering telat karena sudah terlebih tau dari alex, dari situ pak firman sengaja tidak mengomel secara langsung kepada diana mengenai telatnya masuk kerja.
Suara gedoran pintu membangunkan Diana dari tidur sesaatnya itu, ia mencoba meraba-reba dan mencari ponselnya yang berada di tas dan melihat jam sudah masuk pukul 22:30, sejam sudahh diana tertidur di loker kerjanya, Nampak alex yang juga tertidur di Pundak diana, dengan cepat ia segera membangunkan alex untuk mengecek siapa yang dari tadi menggedor pintu tokonya. Dengan panik alex segera keluar sembari mengucek matanya yang masih lengket, Diana yang masih berada di loker segera mengambil tasnya dan keluar menuju pintu masuk. Tampak seorang pria menggedor dan berteriak memanggil alex. Alex mengeceknya keluar dan ternyata adalah pak satpam yang sedari tadi menggedor pintu toko untuk menemui alex.
__ADS_1
“maaf mas alex, saya tadi telepon mas alex ndak angkat, saya cek di toko ternyata mobil mas alex di depan toko, sudah sejam saya cari-cari mas alex ndak ketemu, tadi kan mas alex yang nyuruh saya segera kesini dan menemui mas alex!!”. Laporannya kepada alex yang masih saja bingung karena kaget tiba-tiba terbangun.
Diana dengan sigap lalu menjawab pertanyaan pak satpam itu lalu meminta maaf karena sudah membuatnya bingung. Alex yang merasa bersalah kepada pak Bagyo satpam itu lalu memberinya sebungkus rokok dan selembar uang limapuluh ribuan sebagai ucapan minta maaf. Pak bagyo itu dengan cepat menerima uang dan rokok yang di berikan alex. Memang alex terkenal orang yang sangat loyal terhadap orang lain, makanya ia sangat di senangi karyawan ayahnya kerena keloyalannya. Diana yang panik meraba-raba dan mencari sesuatu dari dalam tasnya, namun sesuatu itu tidak ada.
“buku…buku…buku diaryku ngga ada? Jatuh..tadi saat aku lari, duh gimana ya?”. Dengan paniknya iya masih meraba-raba dan mencari buku diarynya itu. alex yang tau diana sedang mencari sesuatupun menghampirinya yang menanyakan apa yang terjadi, diana yang panik menjelaskan bahwa buku diarynya hilang, alex mencoba untuk menenangkannya dan mencarinya berkeliling di sekitaran toko di bantu juga oleh pak bagyo. Selama setengah jam mereka mencari dan menlusuri saat diana berlari di sekitar toko hingga saat diana terjatuh di depan toko tadi, namun hasiilnya buku diary itu tidak ditemukan. Air mata terus jatuh di wajah sayu diana, ia mengingat-ingat dimana buku itu terjatuh. Kekecewaan pada dirinya membuatnyaa terus menyalahkan dirinya sendiri karena kecerobohannya, tentu saja buku diary itu sangat berharga untuk diana karena terselib foto mendiang keluarga satu-satunya dan tersimpan liontin peninggalan alm. ibunya di sampul bukunya. Alex mencoba menenangkan diana. Setelah pencarian Panjang, alex membujuk diana untuk mengantarkannya pulang, diana yang masih sedih mengiakan saja. Sebelum pulang alex berpesan pada pak Bagyo mengenai buku diary diana untuk melaporkan segera ke dirinya jikalau menemukannya, pak bagyo tentu saja mengangguk mantab mendengar perintah alex.
Disepanjang perjalanan diana masih saja meneteskan airmatanya, melihat diana yang masih menangis, alex tanpa ragu mengulurkan tangan menggeret kepala diana memeluknya dalam dekapan alex yang masih menyetir. Diana semakin kencang menangis, alex yang tau diana masih belum bisa tenang, iapun menghibur diana sembari mengejeknya. Diana yang terhibur akan ejekan alex itu mengusapkan ingus tangisannya tadi di kaos hitam milik alex, seakan tau tingkah diana, ia mengomel tidak karuan di sepanjang jalan. Melihatnya mengomel, diana tanpa sadar tersenyum Kembali, alex yang tau diana sudah mulai terhibur dengan tingkahnya, menoleh dan mengusap bekas air mata di wajah sayu milik diana, diana semakin tersenyum. Bunyi krukkkk… membuyarkan moment romantic itu, alex yang mendengarkannya, menyeletuk mengomel sekali lagi ke diana, kenapa ia tidak bilang kalau lapar, diana yang melihat wajah alex merah kesal itu tertawa terbahak-bahak, tentu tanpa pikir panjang alex memutuskan untuk mencarikan makanan untuk membuat bunyi naga yang berada di perut Diana diam. Mendengak celetukannya tadi, riang ketawa terbahak-bahak mengiringi perjalanan itu. Setelah moment yang menghibur tadi, mobil hitam itu berhenti di sebuah warung nasi goreng pinggir jalan.
“bang satu pedes, satu ngga pedes”. pesan diana kepada abang tukang nasi goreng itu, karena sudah paham abang nasi goreng itu menggangguk tanda sudah paham, lalu membuatkan pesanan itu.
“es teh satu, es teh tawar satu”. Pesan lagi diana kepada seorang ibu yang menanyakan untuk minum apa.
Setelah beberapa menit menunggu pesanan, akhirnya dua piring pesanan nasi goreng itu tersaji di hadapan mereka. Tanpa ocehannya diana langsung saja menyerbu nasi goreng itu untuk membuat naga dalam perut berhenti berteriak, alex yang tau gadis yang di sayanginya itu dengan lahap memakan sepiring nasi goreng di hadapannya itu hanya bisa tersenyum sembari memandangi wajah merah dengan mulut penuh nasi. diana yang tau ia sedang di pandangi alex, mencoba untuk menjelek-jelekan wajahnya saat mengunyah makanan, alex yang tau diana sengaja menjahilinya itu terkekeh tak karuan sembari menyemburkan nasi yang di kunyahnya itu ke wajah diana, sontak diana terperenjak dan mengomel sekali lagi tidak karuan, melihat tingkah diana itu ia hanya bisa tersenyum, sendirinya tak habis pikir Wanita yang dulu pendiam pemalu yang di temuinya pertama kali itu, bisa menjadi Wanita riang dengan penuh kejahilan. Setelah usai mereka menghabiskan makanannya alex mencoba menegur diana itu segera berkonsultasi mengenai penyakit insomnianya ke dokter. Namun dengan cueknya diana hanya mengangguk sembari menyeruput sedotan minuman yang di pesannya tadi. Alex begitu kawatir dengan Kesehatan diana yang makin hari makin menurun dengan gangguan tidur yang dialami tersebut, namun diana tetap diana yang keras kepala, ia tidak mau merepotkan seorang alex lagi, makanya diana sengaja cuek bebek akan usulan alex, alex sendiri yang sudah tau sifat diana yang keras kepala hanya menghela nafas Panjang, lalu mengusap rambutnya.
__ADS_1
Mobil sedan hitam itu, berhenti disebuah jalan Kawasan perumahan kumuh di tengah kota, jalanan yang sempit mengharuskan alex untuk mengantar diana hanya sampai gang sempit di Kawasan perumahan kumuh itu, ia sering kali dibujuk alex untuk segera pindah dari Kawasan kumuh tersebut, namun tentu saja seorang diana menolak dengan tegas. Ia hanya tidak mau merepotkan alex untuk berkali-kalinya lagi, cukup alex sudah membantunya berjuang di tengan kota besar yang dulu sangat terasa asing oleh diana sendiri. Namun alex tetap berusaha membujuk diana untuk mau dan tinggal di sebuah apartemen miliknya sendiri, dengan mempertimbangkan penyakit tidur yang dialami diana, alex semakin tidak tega melihat diana hidup kepanasan di kosannya itu. dengan tatapan tajam alex menatap diana yang berdiri di samping mobilnya, ia meminta sekali lagi untuk diana mau menuruti kemauannya itu terakhir kalinya, diana yang tau alex sedikit memaksa, ia hanya membalasnya dengan senyuman lalu meninggalkan alex yang masih menatap tajam dari dalam mobil. diana berjalan menyusuri Lorong sempit perumahan itu, ia menemukan banyak sekali Wanita sexy berjejer di sepanjang Lorong, tentu saja itu bukan Wanita tulen, mereka adalah para pria yang berpenampilan Wanita atau disebut waria, setiap malam mereka selalu berjejer di sepanjang gang untuk menjajakan tubuhnya. Memang Kawasan tempat diana tinggal terkenal akan warianya dan kawasan prostitusi yang terbuka. Sebenarnya banyak program pemerintah yang ingin sekali mengusur kawasan kumuh itu, namun sampai sekarang kawasan kumuh itu masih di pegang oleh para preman dan juga kalangan pedagang kaki lima. Meskipun tempat itu terdapat banyak sekali criminal, selama setahun ini diana tidak pernah berurusan atau mendapat masalah dengan orang-orang tersebut, justru diana terkesan akrab dengan preman pasar yang Bernama bang bob, ia sering kali jaga malam di depan kos diana sebagai sarana keamanan warga di pemukiman tersebut. Setiap diana pulang ia selalu bercakap sebentar dengan bang bob, bahkan kadangkala diana menyumbang makanan Ketika bang bob sedang jaga malam, dari hal tersebutlah diana menjadi akrab dengan bang bob.