
Diana mulai menghias dirinya dengan gaun dan berbagai macam perhiasan yang di berikan nyonya nugraha tadi, ia terlihat sangat cantik malam ini dengan gaun warna biru navy, dengan balutan payet mewah desainer ternama, di lehernya terkalung sebuah kalung kristal ternama Swarovski swan, dengan rambut yang ia tata sanggul elegan, malam itu ia sangat bersinar indah. Setelah menunggu cukup lama, diana diantarkan menuju tempat diner yang sudah di reservasi oleh nyonya nugraha, di sana ternyata sudah ada bima yang duduk sembari menikmati segelas wine merah. Bima yang melihat kedatangan diana langsung berdiri kagum, ia tak menyangkan gadis lugu nan polos yang ia temui kemarin berubah menjadi seorang wanita elegan nan cantik, ia tak berhentinya menatap kecantikan diana, dengan canggung bimapun mempersilahkan diana untuk duduk di depannya. Diana yang masih canggung tidak berani menatap mata bima dan memulai berbicara, bima yang tau situasinya canggung langsung memancing obrolan dengan gadis diana tanpa bas abasi, ia langsung mengatakan the point apa inti dari pembicaraan itu.
“ kamu sudah tau kita di jodohkan, saya akan memberi kamu pilihan.” Kata bima sembari meminum wine yang ada di depannya.
“ apa yang kamu maksud, pilihan apa ?” jawab diana, dengan takut ia menatap wajah bima.
“ pilihan yang harus kamu turuti selama menjadi istri saya, kamu tidak berhak atas diri saya, jangan pernah kamu campuri urusan saya, itu wajib!” kata bima dengan nada yang sedikit mengancam.
“ baiklah, apapun itu yang menjadi permintaan mu akan, ku turuti, asal kamu berjanji akan membantu om dan tante saya” jawab diana
“ deal !” jawab bima
__ADS_1
Mereka berduapun berjabat tangan setuju atas semua perjanjian yang di buat, bima yang sudah di tunggu oleh agatha di mobil, langsung meninggalkan diana sendirian, diana yang melihat agatha hanya memandangnya dari jauh, ia menyadari bima sudah mempunyai kekasih, diana hanya sadar diri di situ. Diana terus memandangi laju mobil bima yang semakin lama pergi jauh meninggalkan resto itu, ada rasa yang membuatnya bergetar tapi tentu saja diana tidak terlalu memperdulikannya, ia tak mau pusing dengan masalah baru, yang penting bima sudah mau menerimanya, dengan syarat yang mungkin akan membebaninya nanti, tapi bagi diana, itu tidak masalah asal perusahaan mendiang ayahnya tidak bangkrut. Diana mengambil ponsel yang di hadapannya lantas langsung menelepon kandita sepupunya untuk bergabung makan malam dengannya, dengan cepat kandita langsung merespon diana dengan cepat dan menuju resto tempat diana sekarang
kandita memakan semua makanan yang di sediakan di depannya, ia sangat menikmati semua makanan, tidak dengan diana yang terus melamun sedari tadi, hingga ia sama sekali tidak menyentuh makanannya, kandite yang melihat diana, mengusap lembut tangannya, untuk menyadarkan lamunannya, diana hanya mengalihkan pandangannya ke jalan raya di sebelahnya, dari atas Gedung itu, ia melihat betapa sibuknya jalanan itu, hingga semua orang di buat terlena dengan dunia sendiri, tanpa memikirkan orang lain. Di sampingnya kandite mulai memeluk diana sembari mengusap kepalanya, ia menyenderkan kepalanya di bahu kandite, tak terasa air mata jatuh membasahi baju kandite, semakinn lama dan semakin lama semakin deras, bahkan bersuara tak bisa di sembunyikan. Kandita yang melihat diana hanya bisa menenangkannya, dan ia pun tak tau harus berkata apa pada diana karena ia hanya tak mau membuat masalah dengan idenya di saat seperti ini.
“ aku kangen kakakku….” Kata diana dengan suara lirih
Mendengar diana yang mengigat kakaknya itu, kandita seperti tidak kuat lagi menahan air matanya, ia terjatuh juga dengan diana dalam tangisan, bahkan dari luar jendela hujan gerimis terus membahasi jalanan, membahasahi ketidakpedulia, dan keegoisan setiap insan yang merasakannya, malam yang panjang bagi duia perumpuan yang di landa tangis.
Kembali dengan bima yang telah sampai di ruangannya, ia lantas lansung melihat surat -surat yang tersusun di atas mejanya, asistennya dengan sigap langsung memilahkan surat-surat yang akan di baca bima, di samping itu ada sebuah map yang berasal dari ibu nugraha, dan tertuliskan di atasnya, untuk segera bima baca. Bima yang tau isi map itu apa, langsung membukanya, di dalamnya daftar berbagai macam persiapan pernikahan. Mulai dari konsep pra wedding hingga wedding, dan segala macam bentuk undangan. Bima memang sedari awal memasrahkan semua itu kepada bundanya, karena ia tidak mau ribet dan pusing, ia sendiri memang sedari awal tidak menyutujui pernikahan ini. Ia hanya menganggap pernikahan ini sebuah formalitas dalam syarat yang diajukan bundanya, tapi setelah ia bertemu diana, bima mulai menyadari bahwa ia sedikit tertarik dengan kecantikan dan kepolosan diana.
Untuk diana sendiri, ia terduduk termenung di kamarnya, sembari mendengarkan music klasic kesukaannya, ia membuka map coklat dari ibu nugraha, ya tentu saja map itu berisi tentang segala macam persiapan pernikahan nanti, dalam batinnya ia senang, namun merana dirinya akan menjadi seorang istri di usia muda, namun dengan suami yang sama sekali tidak mencintainya. Hati diana seakan tidak rela dan malu, namun tidak ada pilihan lain, ia harus mengalah demi semuanya. Diana larut akan kesedihan, tiada hari tanpa tangis untuk diana. Bahkan raut senyum itu seakan sudah tertutupi awan kelabu didalam hati dan pikirrannya. Diana gadis yang malang.
__ADS_1
Seminggu sebelum hari pernikahan, diana dan bima bertemu di sebuah pra wedding, mereka diharuskan melaksanakan acara foto untuk sampul album pernikahannya nanti, setelah acara berfoto bersama dengan bima, diana akan melakukan fitting baju pengantin, di situ ibu nugraha memberikan diana untuk memilih gaun pengantinnya nanti. Ada sekitar sepuluh setel gaun pengantin, namun dari sepuluh itu, diana hanya memilih dua gaun yang menurutnya cocok untuk dirinya. Sebuah gaun berwarna white snow bercorak cristal es yang di sulam dengan indah, bagi diana itu adalah gaun yang melambangkan dirinya yang masih gadis, dan corak itu mengingatkannya akan keluarga yang diana rindukan, keluarga yang memiliki kasih sayang seindah cristal dan seputih salju. Untuk gaun kedua diana memilih biru snow dengan baluran payet kristal yang memenuhi gaunnya, bagi diana sendiri gaun itu adalah kisahnya yang seperti Cinderella, namun kisahnya itu mungkin akan melenceng, karena di dalam kehidupannya sang pangeran kaya raya tidak pernah mencintainya. Setelah acara foto para wedding dan fitting gaun pengantin selesai, diana diam-diam menemui sang desainer gaun itu, untuk mengungkapkan keinginannya dalam sedikit merombak gaun putih yang akan jadi acara pemberkatannya nanti, sang desainner gaun itupun menyetujui perombakan gaun pengantin itu, dengan menambahkan nama keluarga diana, dari nama mendiang ayah, ibu, dan kakaknya di dalam untaian payet kristal gaun. Mendengar persetujuan itu diana sedikit lega maupun tenang, karena nama orang tersayang dalam hidupnya dapat menemaninya di acara pemberkatan nanti. Diana yang sudah selesai dengan urusannya keluar untuk menemui ibu nugraha di ruang tunggu, di samping ibu nugraha ada bima yang masih sibuk dengan ponsel di tangannya.
“ diana, sekarang kamu akan resmi menjadi bagian dari keluarga kami” kata ibu nugraha….
“ terimakasih tante, diana sangat senang akan hal itu” balas diana dengan sopan.
“ jangan..kamu jangan panggil saya tente, panggil bunda, karena kamu menantu saya” jawab ibu nugraha mantab, sembari menggenggam tangan diana.
Bima yang mendengar bundanya berkata seperti itu, sedikit kaget, karena memang sudah banyak gadis yang bima bawa pulang kerumah untuk di perkenalkan dengan bundanya, namun satupun tidak ada yang bundanya setujui dan sukai. Namun dengan diana, bundanya pun langsung luluh, dan sangat baik. Bima yang melihat bundannya dengan diana sangat baik, hatinya sedikit luluh akan sosok diana, namun bima tetap bima, ia sangat menjaga gengsinya. Dengan cuek bima diam dan tetap memainkan ponselnya.
“ bim, sekarang kamu bisa mengantar diana untuk pulang !” kata bunda ke bima.
__ADS_1
Dengan wajah yang kurang setuju bima, menatap diana dan bundanya. Namun perintah bundanya tentu tidak bisa di ganggu gugat, ia dengan berat hati mengantar diana untuk pulang.
Di sepanjang jalan perjalanan pulang itu, diana mencoba mencairkan suasana dengan obrolan yang memancing bima. Bima yangn merasa terganggu akan obrolan itu, langsung membentak diana untuk diam. Diana yang mendengar respon bima, dengan rasa bersalahnya langsung meminta maaf. Setelah sekitar dua puluh menitan, merekapun sampai di depan rumah tante diana, diana turun dari mobil tanpa basa basipun dengan bima, dan tentu saja setelah menurunkan diana, bima melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan diana depan rumah tentenya. Sebenarnya dalam hati bima sendiri, sudah mulai tertarik akan sosok diana, karena sebelum mereka bertemu bunda, sudah menceritakan sosok diana ke bima, dan setelah pertemuan-pertemuan mereka itu, bima mulai tertarik akan kepribadian diana, apalagi akan paras diana yang elok. Namun ketertarikan itu, memang sengaja bima pendam dan tidak menunjukkannya secara langsung, itu semua memang saran dari agatha. Ya wanita itu telah menguasai pikiran bima, bima lebih percaya akan semua perkataan dari agatha.