
Setalah drama panjang yang dialaminya tadi pagi sampai malam hari ini, ia tergeletak di kasur tipisnya sembari memandangi langit-langit kamar. Ia terus bergumam, tangannya mengeplay music kesukaan yaitu music classic sebagai terapi penyakit tidur yang dimilikinya. Ia bergumam sembari memejamkan matanya mengingat peristiwa perjuangannya dari setahun yang lalu seorang diri sebatangkara tanpa ada keluarga di tengah kota besar. Namun ia bertemu dengan lelaki baik hati yaitu alex yang sudah dianggap keluarga bagi diana sendiri.
“ayah…ibu…kakak aku rindu kalian”. Gumam diana sembari meneteskan air matanya. Ia sangat merindukan keluarganya tersebut. Sepuluh tahun yang lalu ia hidup sebatangkara Ketika keluarganya terlibat sebuah musibah kecelakaan yang menewaskan ayah, ibu, dan kakaknya. Diana koma selama satu bulan di rumah sakit, mendengar kabar bahwa keluarganya tewas dalam tragedy tersebut membuat diana trauma, menyadari kenyataan bahwa dirinya sebatangkara ia sangat terpuruk dan jatuh dalam kesendirian, namun ada sebuah kabar yang membuatnya masih bisa berharap bahwasannya kakaknya masih hidup. Saat berada di Tkp, polisi belum bisa menemukan jasad kakaknya, mereka menduga bahwasannya kakak diana itu hanyut dalam sungai besar di lokasi kecelakaan, namun belum bisa di pastikan apakah kakaknya masih hidup atau sudah tewas saat kecelakaan yang menimpanya tersebut, bahkan selama sepuluh tahun ini jasad kakaknya belum juga di temukan. Itu yang membuat diana terus mencari-cari keberadaan kakaknya melalui foto yang terselib di buku diary miliknya. Namun harapan itu musnah buku diarynya hilang karena kecerobohannya sendiri, ia sangat menyesali atas perbuatan tadi pagi yang terlambat bangun. Tangisan diana menggelegar santero bilik sempit yang dihuninya, luapan emosinya seakan meraung-raung mengutuki takdir yang telah menindasnya, seorang diana yang terlihat ceria telah runtuh oleh rantai takdir hingga ia tak sanggup melawannya, kutukan racauan keluar terus menerus dari mulut diana yang seakan sudah tak sanggup menjalaninya dengan sebatang kara…dari umpatan itu, diana seakan meluapkan emosinya sekali lagi.
Suara ketukan pintu membuat diam diana sejenak, ia beranjak membuka pintu, mencoba memasang wajah cerianya lagi, mungkin itu teguran dari penghuni kos pikirnya, tentu saja mereka terganggu akan drama tangis tadi gumamnya sembari membuka pintu kamar, seorang waria menghampirinya dan memberi sebungkus rokok, tentu saja diana menerima lalu beranjak merokok di atas balkon kosnya.
__ADS_1
“nangis lagi bok?”tanya waria itu kediana yang masih berusaha menyulut sebatang rokok dengan koreknya. tanpa menjawab ia mengebulkan asab ke udara, sembari memejamkan mata.
“udah ada perkembangan informasinya?”Tanya sekali lagi waria itu kediana sembari mengebulkan rokoknya.
“belum..malah sekarang diary gua hilang!”. Jawab diana yang masih memejamkan mata, sembari menahan air matanya. Tanpa menjawab waria yang bernama Ayu itu menepuk pundak Diana sembari menenangkannya. Mereka berdua memiliki kisah yang hampir mirip, ayu adalah seorang sebatang kara sama seperti diana, kisah ayu taklebih pilu dari diana, justru lebih tragis. Karena kekejaman ayah tirinya ia sering di lecehkan dan di perbudak oleh ayahnya, hingga sebuah peristiwa yang membuatnya gelap mata membunuh ayah tirinya tersebut dengan sabuk yang biasa dipakai untuk melecehkan ayu. Hal tersebut yang memelopori ayu menjadi pribadi yang kemayu dan menjadikan dirinya kehilangan jati diri sebagai laki-laki. Diana tidak tau nama asli ayu sebenarnya, karena ia juga masih terasa sungkan jikala menanyakan nama asli ke ayu, ayu juga sangat tertutup dengan masalalunya, hanya diana yang ia buka sedikit mengenai kisah hidupnya, tanpa ragu juga diana menceritakan bahwasannya ia di jual tantenya ke seorang kaya raya dan berakhir nikah muda, perjalanan hidup yang kelam tersebut diana tidak ceritakan kesiapapun bahkan alex yang sudah dianggap keluarganya sendiri. Kisah itu hanya diana ceritakan ke ayu yang sama-sama memiliki masalalu kelam, mereka berdua seringkali menghabiskan waktu bersama sembari merokok di balkon. Selama setahun diana bertahan di pemukiman kumuh itu karena lingkungan yang terlihat kejam dari luar ternyata memiliki kehangatan didalamnya, hal itu menjadikan dirinya betah tinggal di lingkungan tersebut, walaupun cucuran keringat terus menerus memani tidurnya. Suasana semakin meriah jikala dari bawah bang bob bernyanyi riang penuh gembira dengan gitar jadul miliknya, petikannya menjadi pengantar malam yang penuh akan sirat kehidupan. Perkampungan itu menabur warna seakan menyingkirkan kelabu di setiap insan. Diana bersyukur ia hidup diantara orang baik yang terlihat kejam dari luarnya, ia merasa terlindungi tinggal di perkampungan itu, merasa memiliki teman dan bahkan keluarga barunya. “aku tetap bersyukur tuhan, maafkan diriku yang telah mengutuki takdir yang kau beri tadi” gumamnya dalam hati sembari menatap langit menghembuskan asap rokok yang dihisapnya tadi. Setelah kutatan yang panjang hari ini, rasa kantuk mulai menyebar diseluruh malam, diana terpejam menyenderkan wajahnya di Pundak ayu, ayu hanya menatap wajah sayu diana sejenak ia teringat akan jati dirinya sendiri yang juga merana kesepian.
__ADS_1
“aku jemput setengah jam lagi!!”. Kata terakhir alex sebelum menutup teleponnya. Mendengar perkataan alex diana melihat jam yang berada di ponsel. Dengan ******* yang masih malas, ia menggeliat mengusap tubuh mungil dengan selimut, ia masih mengingat bahwasannya tadi malam dirinya merokok Bersama ayu di balkon dan berdrama ria menangis,” kenapa aku bisa adaa di dalam
kamar?” pikirnya dalam hati, sembari ia menatap langit-langit kamar dengan kebingungannya, ia mencoba menelepon ayu, untuk memastikan bahwasannya tadi malam ayu yang membawanya ke dalam kamar dan menidurkan dirinya.
“nomer yang anda hubungi sedang aktif atau berada di luar jangkauan” bunyi jawaban dari telepon ayu. Diana mendesah, mencoba menenangkan dirinya, dan mengingat-ingat kejadian tadi malam. Meskipun ayu waria, tapi dirinya masih pria tulen bagi diana, ia enggan jikala badannya di sentuh pria lain, ya bisa di bilang diana sudah menganggap ayu perempuan tapi laki-laki, makin bingung sudah dibuatnya, “daripada bingung lebih baik aku segera siap-siap, sebelum kucing garong itu datang menjemput”, tanpa pikir panjang diana bersiap keluar kamar untuk mandi. Lima belas menit sudah berlalu, diana sengaja secepat kilat karena tidak mau mendengar ocehan alex di pagi yang cerah ini, ia sengaja memoles wajahnya dengan beberapa riasan natural, supaya wajahnya terlihat lebih segar. Diana memiliki wajah yang bisa di bilang menarik dari lahir, wajahnya bersih, kulitnya putih, memiliki rambut coklat lurus sebahu dan dengan bola mata berwarna coklat hazel. Kecantikan wajah tersebut dari turunan ibunya yang memiliki darah turkey yang menikah dengan ayah diana bersuku bugis, namun dari lahir ia tumbuh besar di kota banten, hingga ia sekarang tinggal di tengah kota Jakarta. Dering telepon mengalihkan pandangan diana dari cermin, tampak dengan gamblang nama alex yang menelepon, diana mengangkatnya dan menyuruh alex untuk masuk ke dalam kosannya, karena diana sendiri belum selesai dalam bersiap-siap. Alex yang mendengar permintaan diana mengiakan lalu turun dari mobil menuju kekamar kos milik diana. Diana membuka pintu sudah ada alex berada di depan pintunya, tidak seperti biasa alex enggan mengocceh Ketika melihat penampilan diana pagi ini, matanya terbelalak kaget melihat kecantikan diana, iapun terus memandangi wajah cantik diana. “hoe, jangan nglamun pagi-pagi!”teriak diana ke pada alex yang masih terpaku melihat wajahnya.
__ADS_1
“tumben dandan?, mau ketemu siapa? Mau ke mall ya bu?” canda alex ke diana sekali lagi.
“emang ga boleh dandan?, aku juga pengen cantik kali!!” jawab diana sembari mengejek alex yang tidak seperti biasanya ia terdiam dan enggan mengoceh. Tanpa mau menunggu lagi alex mencoba mengajak diana untuk capat dan segera berangkat, ia juga menumbenkan karena bisa bangun ssepagi ini, diana yang mendengar komenan alex hanya bisa menghela nafas panjang sambil mengomel, alex yang melihat tingkah diana itu hanya ketawa terkekeh. Di dalam mobil alex mencoba menanyakan tidurnya, diana menjelaskan bahwa semalam ia tidur sangat nyenyak Ketika sudah sampai Kasur kosnya, ia berdalih bahwa ia bermimpi panjang sambil diana tertawa, diana tidak mau menjelaskan kejadian sebenarnya tadi malam Bersama ayu di balkon, ia hanya tidak mau alex kawatir dan menyuruhnya untuk berpindah kos. Ia merasa tidak bisa meninggalkan kos karena diana sendiri menyadari bahwa dirinya sudah mempunyai keluarga baru di kosnya.