
Seminggu sudah berlalu hari ini adalah malam pernikahan untuk diana, besok pagi adalah acara pemberkatan diana di gereja. Diana duduk di depan rumah sendirian sembari memandangi langit malam. Di belakangnya kandita dengan nampan yang berisi teh hangat menyapanya.
“ diminum, biar kamu relax” kata kandita, sembari menyanding diana
“ makasih kak” diana membalas kandite.
“ din, dengarkan kata hatimu baik-baik, malam ini adalah terkahir buatmu lajang, besok kamu sudah jadi istri seseorang” kata kandita, yang mencoba menenangkan diana.
Tanpa membalas diana, langsung menumpahkan kesedihannya di pelukan kandita.
“ menangislah din…hingga kamu puas! Tumpahkanlah selagi kita masih bisa bertemu” bals kanditea, mendekap hangat diana yang terisak-isak itu.
__ADS_1
“ apakah aku harus berbahagia kak? Ataukan aku harus sedih?” balas diana dalam tangis.
“ barbahagialah, karena besok adalah hari pernikahanmu, hari kebahagiaanmu, janganlah kamu bersedih, tersenyumlah!” kata kandita, sembari mengangkat wajah diana, yyang mengisyarratkan untuk bangkit dan kuat. Seperti sebuah energi baru, pikiran dianapun meringan, ia menatap kandite, dan tersenyum manis.
Di samping diana yang mencoba menerima keadaan dengan tersenyum. Bima yang sangat kacau membanting barang-barang yang berada di hadapannya dengan kasar, ia mengamuk mengacak-acak isi ruangan kerjanya. Tiba-tiba suara teriakan memanggil dari luar, membuyarkan amukan bima.
“ bima…buka pintunya, aku agatha!” teriak agatha dari balik pintu
Agathapun dengan sigap membuka pintu untuk menemui bima yang sedang mengamuk ituu.
“ cukup!! Bima tidak seharusnya kamu bertindak bodoh!” kata agatha yang menenangkan bima.
__ADS_1
“ persetan!! Dengan semua pernikahan konyol itu!” teriak bima sekali lagi.
“ tidak harus kamu mneyakiti dirimu seperti ini !!, sudahlah kamu bisa meninggalkan pernikahan itu, jika semua rencana sudah terselesaikan, mengerti!” kata agatha sembari memeluk bima dari belakang. Mendengar ucapakan agatha bimapun sedikit meredam emosinya.
“ untuk apa mengamuk? Lebih baik kita habiskan malamini, berdua” balas agatha yang menggoda bima.
Bima mulai membalikkan tubuhnya, menatap agatha. Agatha dengan sigap membalasnya dengan ******* lembut di bibir bima, bima membalasnya, dan menggendong agatha ke kamar miliknya, tentu saja malam itu mereka berdua menghabiskan waktu bersama dengan adegan ranjang. Tanpa bima memperdulikan perasaan calon istrinya diana.
Mentari telah menampakkan sinarnya dengan terang, pagi itu diana didandani dengan anggun memakai gaun pengantin pilihannya, di gaun itu sudah tertuliskan seperti yang diana inginkan, nama-nama dari mendiang keluarganya, kandita yang selaku sepupu mendampingi diana terus menerus, tujuannya supaya diana tidak merasa gusar lagi.
“ayah, ibu, kakak, aku akan menikah. Bimbinglah aku, aku merindukan sangat kalian”batin diana.
__ADS_1
Di ruangan persiapan, bima menyandingnya, mengisyaratkan ke diana pemberkatan akan segera di mulai, diana yang sudah siap akan hatinya, mengandeng lengan bima menuju altar pernikahan, di sana sudah ada pendeta yang menunggu mereka untuk di berkati, di sepanjang perjalanan itu, diana tanpa sadar meneteskan air matanya, hatinya sangat Bahagia, namun pikirannya seakan campur aduk, berbeda dengan diana yang Nampak gusar, dengan tenang bima menenangkan diana yang berada di gandengannya, dan setelah perkutatan itu Upacara pemberkataan gereja berjalan dengan lancer, diana pagi itu resmi menjadi istri sah bima. Bima mencium kening diana di hadapan puluhan tamu yang menjadi saksi mereka. Di sana juga tampak agatha yang tengah duduk menyaksikan bima mencium kening diana, dengan wajah merah padam ia keluar dari ruangan. Karena ia tidak bisa melihat pria yang ia cintai berciuman dengan wanita lain. Namun kini ia sadar, posisi diana sendiri sekarang sudah menjadi istri sah bima, pria yang ia cintai. Ibu nugraha, selaku orang tua yang mendampingi merekapun, memberikan sambutan dengan meriah. Ia mengungumkan bahwa, diana sekarang sudah resmi menjadi bagian dari keluarga nugraha, sesuai tradisi keluarga nugraha, diana akan tinggal di rumah mertuanya selama seminggu dan selanjutnya mereka berdua akan tinggal terpisah dengan bima di rumah sendiri. Diana yang mendengarkan permintaan dari mertuanya itu, hanya tersenyum tipis, setuju.