
Oke. Jangan panik! batin Lindy Karina. Tangannya yang gemetar membuka kembali buku harian kecil berwarna pink dengan stiker kelinci lucu dan penuh dengan manik-manik kristal di sampulnya.
"Sial! Aku tersesat lagi" ujar Lindy kesal hampir membuatnya mengumpat.
Lindy Karina sebetulnya adalah gadis cantik, pintar, tapi ceroboh. Dan Kelemahannya yang tidak bisa membedakan arah membuatnya jarang keluar rumah sendirian. Ayahnya seorang arsitek membesarkan Lindy sendirian dan juga sangat memanjakannya.
Tapi tiba-tiba Lindy kehilangan ingatan masa kecilnya dalam sebuah kecelakaan kecil dan karena itu dia ada disini. Di pulau terpencil tempat kelahirannya dan tempat ibunya meninggal
Lindy meraih ponselnya hendak menghubungi ayahnya tapi mengurungkan niatnya, mengingat bahwa dirinya kabur tanpa sepengetahuan ayahnya di Italia.
"Ahh.. dimana sih." gumam Lindy kesal.
"Ini sudah yang ke sepuluh kali aku membuka buku sialan ini. Buku ini membuatku tersesat!"gumam Lindy.
Buku itu sebuah buku harian kecil Lindy saat masih sekolah dasar. Sampulnya yang penuh manik-manik dan membuat Lindy terhipnotis hingga sadar dia berdiri ditempat yang sama sekali ia lupakan.
__ADS_1
Lindy membalik halaman terakhir buku itu dan terlihat sebuah gambar peta jalan kecil. Lindy mengamati peta itu sekali lagi dan lagi dan tapi dia tidak menemukan jalan kecil yang digambarkan di peta. Hanya pepohonan dan semak belukar disekitar jalan ini.
"Kurasa jalan itu sudah ga ada lagi" Lindy mengeluh pada dirinya sendiri.
Kakinya mulai merasakan pegal karena berkeliling mencari jalan. Dan yang ada hanya jalan buntu. Anehnya kota ini sama sekali seperti tak berpenghuni. Ia sama sekali tidak melihat orang satupun melintas di jalan ini.
Apa ini kota hantu? Pikiran itu membuatnya bergidik.
Tiba-tiba muncul seorang laki-laki dari semak belukar di depannya.
Laki-laki itu menatapnya tajam dan berjalan kearahnya.
Deg deg deg..
Jantung Lindy berdegup kencang saat laki-laki itu melintas. Wajahnya sangat menarik alias tampan.
__ADS_1
Pria itu sekilas melirik sebentar melihatku dan berjalan cuek melewati Lindy. Tubuhnya tinggi jangkung, kira-kira sekitar 180 cm. Lebih tinggi 5 cm dari Lindy. Kulitnya putih kemerahan karena sering terkena sengatan sinar matahari. Dia menyeka rambutnya yang sedikit berwarna coklat gelap ke belakang. Dan pria itu sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Lindy. Pria itu memakai seragam sekolah yang dirasa Lindy untuk sekolah menengah atas. Itu berarti usianya terpaut tidak beda jauh dengannya.
Lalu tiba-tiba dia ingat jalan yang sedang dicarinya. Dan sebelum satu-satunya penghuni kota mati ini menghilang lebih baik bertanya daripada dia mati tersesat.
"Ah, Tunggu!" ujar Lindy menghentikannya. Dia berhenti dan berbalik menoleh padaku. "Apa kau tahu jalan flamboyan dimana?" tanyaku.
Laki-laki itu mengernyit ke arahnya. Entahlah apa arti kernyitan itu Lindy tidak bisa fokus karena memperhatikan penampilan cowok itu. Ternyata tidak hanya berwajah tampan, dia mempunyai body yang atletis. Lindy menebak pria ini menyukai olah raga. Baju seragamnya sedikit keluar dari celananya. Kancing atas bajunya tidak di kancing dengan benar sehingga ia bisa melihat kaos oblong putihnya sedikit berdebu. Mungkin habis berkelahi, tapi ia tidak menemukan tanda-tanda memar di mukanya.
Ketika Lindy sadar dari lamunannya. Lindy menatap tangan pria itu menunjuk ke arah belakang kepalanya. Lindy mengikuti arah telunjuk cowok itu. Dan… oke kurasa aku membuat kesalahan dengan bertanya. Sebuah tiang dengan plat jalan bertuliskan 'Jl. Flamboyan' di depan pagar besar terlihat sangat jelas. Memalukan. Sedari tadi Lindy melewati tempat ini tiga kali dan tidak memperhatikan tanda itu.
Wajah Lindy merona karena malu. papan nama sebesar itu tidak Sambil menundukkan kepala Lindy mengucapkan terima kasih padanya. Lalu kabur dengan kikuk menuju pintu gerbang besar itu.
...****************...
Halo. Ini karya pertamaku disini. Karena sudah lama tidak menulis . Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang. Hehe .
__ADS_1
...SAMPAI JUMPA DI EPISODE 2...
...****************...