Diary Puzzle

Diary Puzzle
Kencan Dadakan


__ADS_3

Dear diary,


Hari ini hari yang panjang. Aku dan Luki pergi mencari kunang-kunang di hutan karet dekat su**ngai. Kami mengikuti kunang-kunang sampai di celah bukit batu dan menemukan tempat yang inda**h


Kami berdua memutuskan bahwa itu tempat rahasia kami.


......................


"Kencan???" tanya Farah hampir berteriak.


"Sssttt..." seru Lindy sambil merapatkan telunjuk ke mulut Farah.


Mereka berada di Cafe, beberapa orang memandang mereka karena berisik. Farah menyarankan tempat ini karena penasaran dengan namanya yang aneh 'Cafe Tarot' ( Tarot adalah kartu untuk meramal )


Lindy baru sadar kalau pulau kecil ini adalah tempat wisata yang penuh dengan tempat-tempat keren dan unik.


"Lalu apa jawabanmu" tanya Farah penasaran sambil merendahkan suaranya.


Pikiran Lindy kembali pada hari perang air.


Setelah Luki meninggalkannya sembunyi di Sarang Peri sebagai taktik perangnya. Lima belas menit kemudian Lindy menerima pesan dari Farah bahwa perang usai dengan Luki pemenangnya.


Dan sejak hari itu Lindy tidak bisa tidur nyenyak.


"Aku belum menjawabnya. Mungkin saja itu cuma candaan aja." ujar Lindy. "Lagian sejak hari itu , aku belum bertemu dengannya lagi."


"Wah, jika cewek-cewek disekolah tahu si Luki ngajak kencan kamu, bakal pingsan mereka" ujar Farah geli.


"Memang kenapa, si Luki boyband kah punya banyak penggemar?" tanya Lindy tertawa mengejek.


"Heh, apa kau tak tau siapa Luki? Dia tuh anak tuan tanah di kota ini. Lima puluh persen tanah di kota ini milik ayah Luki. Dan dia juga masuk tiga besar murid paling top di sekolah." jelas Farah.


"Ohhh jadi dia anak sultan toh" seru Lindy pura-pura kaget.


Mereka berdua terawa cekikikan.


Mereka berhenti cekikikan saat pesanan datang. Udara hari ini cukup panas sehingga kami memesan es Latte dan es Krim stroberi kesukaan Farah.


Tak heran gadis ini bertubuh subur, dia penyuka makanan manis. Dia langsung menyendok es krimnya dan memegang pipinya yang tembam karena dinginnya es.


Dia benar-benar teman yang menggemaskan!


"Ah aku hampir lupa" ujar Farah berhenti menyendok esnya dan merogoh tas pink stroberi kecil miliknya. Dia mengeluarkan buku notes pink kecil dan menyerahkannya padaku.


"Itu catatan beberapa memori penting yang mungkin bisa membantumu mengingat dan juga beberapa catatan kecil tentang data orang-orang disini" jelasnya.


"Wah terima kasih, aku benar-benar membutuhkannya" ujar Lindy senang.


"Aku akan membacanya di rumah" ujarnya.


Lindy memasukkan buku notes pink itu ke tasnya.


"Kamu suka sekali warna pink ya?" tanya Lindy di jawab Farah dengan anggukan.


"Dari kecil aku suka hal yang berbau pink. Kau bahkan menjulukiku 'Putri Pinky' dulu" ujarnya tertawa.


"Itu cocok denganmu" kata Lindy setuju.


"Apa aku dulu juga suka pink dan manik-manik?" tanya Lindy mengingat diarynya yang berwarna pink.


Farah menyendok suapan es krim terakhirnya dan menjilati sendoknya.


"Kurasa kau tak menyukainya kau dulu sedikit tomboy" jawabnya dan meletakan sendoknya.


"Aneh, lalu kenapa aku punya diary berwarna pink?" gumamnya heran.


"Diary?" tanyanya. "Kau masih menyimpannya? Aku yang memberikannya padamu, kado ultah" ucapnya tersenyum senang.


Akhirnya misteri buku harian pink terjawab.


"Wah ini hari keberuntunganku bertemu dengan kalian." sebuah suara dengan logat unik yang dikenal Lindy beberapa hari lalu.


Mereka berdua menoleh dan melihat wanita memakai baju gipsy.


"Kak Miriam!" spontan mereka menyerukan namanya.


"Kalian disini mau di ramal ya, sini sini. Tak ramal ayok" ujarnya merayu mereka.


Karena penasaran mereka akhirnya memutuskan untuk masuk ke tirai manik-manik berwarna warni yang unik.


Mereka masuk ke ruangan dengan decor unik bergaya bohemian. Ada beberapa bantal duduk dan meja yang penuh kartu tarot. Benar-benar seperti ruang peramal.


"Duduk duduk, tanya apa saja padaku" katanya bersemangat.


"Wah aku baru tahu kalau kakak buka cafe peramal seperti ini." ucap Farah kagum dan dijawabnya hanya dengan tawa kecil.


Lindy dan Farah duduk di bantal dengan rajutan di atasnya.


"Kapan aku bisa langsing?" tanya Farah spontan yang membuat Lindy mengatupkan bibirnya menahan tawa.


"Sayangku Farah, kalo kamu berhenti makan manis-manis mungkin kau bisa langsing" jawab kak Miriam sambil mencubit pipi Farah yang ranum.


"Uhh. Kayaknya ga bakal langsing deh." kata Farah cemberut sambil mengusap pipinya yang merah.


Kak Miriam menatapku.


"Dan Lindy? Kau mau bertanya sesuatu?" tanyanya dengan mata berkedip.

__ADS_1


Lindy menggeleng menolak hipnotis matanya.


"Apa dia akan berkencan? seseorang mengajaknya berkencan" celoteh Farah membeberkan rahasia mereka.


"Farah!" Lindy menutup mulutnya dengan tangan.


Mata kak Miriam berkilat.


"Kencan ya..tunggu" dia langsung mengocok kartu tarotnya.


Dia melihat kartunya dengan serius dan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Lalu tersenyum.


Lindy yang tadi tidak begitu tertarik menjadi sedikit penasaran dengan jawaban atas ramalannya.


"Aku melihat hal baik disini tapi ada hal buruknya" katanya dengan suara mistis yang bikin mereka merinding.


"Apa itu?" tanya Lindy semakin penasaran.


"Hal baiknya kamu akan berkencan. Mungkin sekarang dia sedang menunggumu" ujarnya tersenyum.


Tas Lindy bergetar.


Lindy bingung. Ia merogoh tasku dan mengecek ponselnya. Enam pesan dan dua panggilan tak terjawab dari Luki.


Farah mengintip dari sampingnya dan matanya terbelalak melihat pesan di ponsel Lindy.


"Wah, kak Miriam kakak hebat!" teriaknya tidak percaya.


Lindy masih bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.


"Sudah cepat temui tuh, aku masih ingin disini meramalkan nasibku" ujar Farah terkekeh.


"Ga mau ah, aku ga mau kesana."


"Emang kenapa?" tanya Farah.


"Kurasa dia cuman ngerjain aku" ucap Lindy kesal sambil mengocok kartu didepannya.


"Mungkin, tapi perasaanku jika dia telepon berarti dia sudah lama menunggumu, soalnya dia itu tipe gak sabaran" jelas Sarah.


Ponsel Lindy bergetar lagi.


"Hh.. baiklah aku akan pergi" ujarnya sambil mendesah.


"Telepon aku jika kau sudah dirumah" Farah menambahkan.


Lindy membalasnya dengan lambaian tangan.


Setelah Lindy keluar. Kak Miriam yang sedang meramu teh tersentak.


"Ada apa kak?" tanya Farah.


"Emang hal buruk apa yang akan terjadi?"


Miriam berbisik di telinga Farah. Farah tertawa mendengarnya.


.............


08.00 'Aku tunggu di Sarang Peri '


08.15 'Napa belom datang??'


08.45 - 1 panggilan tak terjawab -


08.50 'Woiii kau dimana?'


09.10 'Ping pong'


09.18 'Kau pingsan dimana?'


09.20 'Panas...'


09.22 - 2 panggilan tak terjawab -


09.30 '.'


Lindy membaca seluruh isi pesan singkat itu kesal sambil berjalan menyusuri rerumputan.


Kenapa dia tiba-tiba mengajakku bertemu di hutan sih pikirku sedikit kesal harus berjalan jauh.


Lindy berjalan cukup jauh dari hutan karet tapi tidak menemukan bukit batu itu. Lindy menyadari dia mulai tersesat lagi.


Lindy panik. Dia menepuk pipinya.


"Jangan panik jangan panik" ujarnya menghipnotis dirinya.


Lindy meraih ponsel dan menelepon Luki.


"Halo!" suara Luki terdengar kesal. "Kamu dimana sih kok lama sekali"


"Ka..kayaknya aku tersesat" kata Lindy pelan. Ia malu mengakui dia tersesat.


Ini sudah kedua kalinya gara-gara kelemahannya yang buta arah dia mempermalukan dirinya di depan Luki sekali lagi.


Suara tawa keras di seberang membuat dirinya ingin menghilang.


"Tunggu disana , aku akan menemuimu" ujarnya lalu menutup panggilan.

__ADS_1


Lindy mendesah lega. Dia mencari tempat untuk duduk dan menemukan batu di bawah pohon kecil yang rindang.


Lindy melihat sesuatu yang panjang mirip dengan tali berwarna hitam di rerumputan. Dia mendekat dan melihat lebih dekat. Dia menjerit ketika tali itu bergerak. Ular!!!


Lindy berlari menjauhi tempat itu. Dia berlari menerjang semak-semak sambil berteriak.


......................


Luki mendengar suara teriakan.


"Lindy ??" ujarnya mengenal suara teriakan itu.


Tiba-tiba Lindy muncul dari semak-semak menabraknya keras.


Lindy mendongak dengan mata basah. Lalu tersedu sedu ketika melihat Luki. Lalu memeluknya erat. Luki bingung dengan pelukan tiba-tiba itu.


"Kau kenapa?" tanyanya sambil menepuk nepuk punggung Lindy menenangkannya. "Habis liat hantu ya" candanya.


"Bukan, ular aku liat ular tadi, dia bergerak" tangisnya sambil bercerita.


"Ya udah jangan nangis, ularnya paling sudah kabur denger teriakanmu tadi" ujarnya sambil terkekeh.


Lindy meninjunya.


"Agghh" Luki mengerang kesakitan. "Loh kok di tinju?"


"Itu kan gara-gara kamu yang ajak bertemu di tempat seperti ini" kata Lindy kesal.


"Loh bukannya kamu suka tempat itu"


"Ya tapi aku kan lupa jalannya, sendirian lagi" ujar Lindy cemberut.


"Maksudmu, kau ingin gandengan tangan berdua kesini gitu?"


Wajah Lindy merona.


"Ga tau ah" Lindy berbalik pergi kesal.


"Ular!!" teriak Luki menggoda Lindy. Lindy berteriak dan berlari kembali mendekat kepadanya.


Luki tertawa terbahak-bahak.


"Aku mau pulang aja" ujar Lindy kesal dengan candaan Luki.


Luki berhenti tertawa dan berlari menggandeng tangan Lindy.


"Ikut aku, aku mau nunjukin sesuatu"


Jantung Lindy berdegup entah karena suaranya yang hangat atau tangannya yang hangat mengenggamnya erat.


......................


Hari sudah mulai redup. Kunang-kunang mulai bermunculan disepanjang jalan ke bukit batu. Dan disampingnya Luki menggandeng tangannya.


Jantung Lindy sekali lagi mulai berdebar tak karuan karena pemandangan yang romantis ini.


Lindy masuk di Sarang Peri. Dan pemandangan menakjubkan dari kunang-kunang tujuh tahun lalu kembali ia lihat hari ini. Kunang-kunang itu menempel di pohon besar di tengah ladang rumput. Mereka terlihat seperti peri.


Lampu baterai kecil menyala terang di sepanjang jalan menuju tenda kecil di bawah pohon.


"Kau menyiapkan tenda?" tanyaku. Luki nyengir sambil mengangguk.


"Kamu.. ga modus kan?" tanyaku curiga.


Luki tertawa mengacuhkan pertanyaan itu.


Mereka duduk di tenda sambil mengobrol menikmati pemandangan dan makan roti selai bekal yang di bawa Luki.


Malam itu sama sekali tidak terlalu gelap karena diterangi cahaya bulan purnama yang bulat besar.


Lindy melihat gerombolan kunang-kunang terbang menari sebelum hinggap di pohon.


"Cantiknya" seru Lindy kagum.


Luki menatapku.


"Iya cantik" ujarnya menatap Lindy.


Lindy hendak protes dengan komentar itu ketika ia melihat Luki mendekat ke arahnya. Seekor kunang-kunang lewat diantara kita.


Tiba tiba Luki mendekatkan bibirnya dan mencium Lindy lembut.


...****************...


Dear reader,


Sampai disini saja ya, kalau penasaran dengan lanjutannya , baca episode berikutnya ya!



Kunang-kunang di sepanjang jalan hutan.



Kunang-kunang di Sarang Peri.


__ADS_1


Kunang-kunang yang menempel di pohon terlihat seperti ini.


__ADS_2