
Luki masih berdiri menatap Lindy. Dia mengenakan seragam sekolah dengan kancing sedikit terbuka memperlihatkan T-shirt hitam. Dia menenteng ranselnya di bahu. Tangan kanannya menenteng jaring berisi bola basket dan tangan kirinya di saku.
Dia terlihat keren hari ini. Tapi Lindy menghela nafas dalam hati.
Hari apakah ini, haruskah aku menghadapi para cowok di pagi hari dengan piyama?
Tak bisakah mereka datang saat aku sudah mandi dan berdandan?
"Jadi kamu sudah melupakan kejadian semalam ya?"tanya Luki ketus.
"Kamu kenapa, apa yang kau lakukan disini?Kamu bisa terlambat" seru Lindy tak ingin menjawab pertanyaan itu.
"Ada apa dengan pemandangan tadi." tanya Luki lagi dengan nada kesal Lindy mengacuhkannya.
Lindy tahu Luki kesal setiap dia bersama Daniel.
"Pemandangan apa, kucing kecil ini?" ujar Lindy mengalihkan pembicaraan sambil menyodorkan si Centil ke mukanya sambil tertawa.
"Darimana kucing itu ?" tanyanya.
"Daniel yang memberikannya, lucu kan?" ujar Lindy.
Luki berlalu pergi tak menggubris pertanyaan itu.
"Hei, titip makanan kucing ya" teriak Lindy. Tapi Luki terus berjalan pura-pura tak mendengarnya.
"Dasar pelit!" teriak Lindy.
......................
Luki melempar bungkusan plastik besar pada Lindy yang tengah membaca di rumah pohon. Si Centil langsung lari melesat bersembunyi di bawah meja.
"Duh kaget!" seru Lindy.
Luki nyengir.
"Ketuk pintu dulu dong" omel Lindy.
"Kamu aja yang gak denger aku datang" ujarnya santai sembari langsung tidur di kasur lantai.
Rumah Luki yang bersebelahan dengan Lindy membuatnya dengan mudah memanjat pagar pembatas yang pendek. Lindy heran dengan desain rumahnya itu dengan pagar pendek yang membatasi rumah Luki dan rumahnya.
Lindy mengambil bungkusan besar itu dan tersenyum senang melihat gambar kucing kecil di labelnya.
"Ah thanks hehe" Lindy terkekeh.
"70 ribu" celetuk Luki. Lindy menoleh dan cemberut.
"Ya ileh, iya iya ku ganti ntar" jawab Lindy dongkol.
"Free jika kamu masakin telor dadar" ujarnya sambil mengambil buku komik disebelah sofa dan membacanya.
"Emang kamu belom makan apa" tanya Lindy heran karena udah hampir sore.
Si centil nongol dan mengeong ketika mendengar Lindy membuka plastik makanan kucing.
"Ogah, bibik libur trus mama yang masak hari ini" jawabnya di balik buku komik.
Lindy tertawa kecil. Dia mengerti karena dia sudah pernah mencicipi masakan tante Elena.
Si centil makan dengan lahap ketika Lindy menuang makanannya di mangkuk.
"Oke tunggu akan kubuatin" ujar Lindy.
"Pake nasi juga ya" ujarnya masih dari balik komik.
Lindy geram dan menarik buku komik dari mukanya. Lindy terkejut melihat plester di bawah mata Luki.
__ADS_1
"Itu kenapa?" tanya Lindy.
"Kau bertengkar?"
"Bukan" jawabnya singkat.
Lindy mengulurkan tangan ingin menyentuh lukanya.
Luki menangkap tangan itu dan menarik Lindy , Lindy terperangkap dengan Luki di atas tubuhnya.
Lindy merasakan debaran jantungnya lagi. Posisi ini membuat Lindy menatap bibir Luki. Dengan susah payah Lindy menelan ludah.
Luki menatapnya.
Luki merendahkan kepalanya. Dia begitu dekat dengan Lindy. Bibir Lindy yang terbuka menggodanya untuk mencicipinya.
Luki maju mendekat. Lindy spontan memejamkan matanya. Dia menunggu. Tapi dia hanya merasakan ******* di telinganya.
"Aku lapar" ujar Luki ditelinganya. Lindy membuka matanya dan mengerjapkan mata.
"Ah benar telor dadar" jawab Lindy kikuk.
Lindy spontan bangun dan merapikan rambutnya.
"Tunggu , aku masakin. Titip si centil"
"Si centil?"
"Namanya" jawab Lindy menunjuk si centil yang lagi tidur meringkuk di bantal duduk.
"Jelek ah" ujarnya ketus dibalik bukunya.
"Huh sirik" jawab Lindy sambil berlalu turun.
***
Lindy datang dengan sepiring telur dadar , spaghetti dan nasi.
"Ah aku tak tahu kalian disini. Aku cuman buat dikit"
"Gak usah, Kami udah makan kok" jawab Farah membantu membawakan piringnya.
"Wah terlihat enak" ujar Daniel mencomot telur dadar gulung. Tapi Luki menghalanginya.
"Maaf, ini milikku" ujarnya di balas tatapan permusuhan oleh Daniel. Luki balas menatapnya.
Lindy melihatnya.
"Aku akan buat lagi untukmu Daniel" ujarku melerai.
"Gak usah Lin, ku udah kenyang mama udah masakin ayam bakar, enakkkk sekali" kata Daniel dengan nada menyindir Luki. Dia tahu Luki tidak bisa makan masakan mamanya yang super ancur.
Luki tak peduli dengan sindiran itu dan mulai makan telur Lindy dengan lahap. Daniel menatapnya iri.
"Mereka kenapa sih" bisik Lindy pada Farah yang sedari tadi menonton mereka dengan santai sambil makan snack. Seperti menonton pertandingan. Kelihatannya Farah sudah terbiasa dengan suasana itu.
"Entahlah" ujarnya berbohong sambil terus makan. Lindy heran kemarin Farah bilang akan diet besar-besaran.
"Kau tau kenapa Luki terluka?" tanya Lindy berbisik sambil ikut duduk menonton di sebelahnya.
"Gosipnya, dia melamun di pertandingan basket pagi tadi" jawabnya ikut berbisik.
"Heh, kok bisa" Lindy terkekeh.
"Emang kau belum jadian sama si Luki ya?" bisik Farah.
"Hyaaa kenapa harus jadian sama dia?" tanya Lindy menolak pikiran itu dari Farah.
__ADS_1
"Ah pantas saja" celetuk Farah pelan. Dia akhirnya tahu kenapa Luki tak bersemangat hari ini.
Lindy memperhatikan Luki yang masih makan spagethi dengan lahap.
Daniel berhasil mencomot spagethi Luki dan mencicipinya.
"Wah Lin enak banget, kau bisa buka resto nih" ujar Daniel sambil menjilati tangannya.
Lindy tertawa.
"Serius lho" lanjut Daniel.
"Aku pernah belajar sama koki restoran bintang lima, teman papa" ujar Lindy bercerita.
Sejak kehilangan ingatan. Dia menghabiskan setiap akhir pekannya bersama koki teman papa di italia.
Mereka semua menghentikan aktivitas dan menatapku.
"Woww" ujar Farah.
"Beneran nih" ujar Daniel.
"Pantas enak" celetuk Luki sambil terus makan.
Mereka ramai bertanya pada Lindy tentang italia. Bahkan menanyakan apa aku bertemu dengan pemain sepak bola italia.
Lindy melirik Luki yang sudah menghabiskan piringnya. Dia tidak peduli Lindy di keroyok pertanyaan.
Andai saja Luki tahu dia belajar masak karena dirinya.
Aku ingin bisa masak agar Luki bisa makan dengan enak.
***
Malam ini sangat indah. Bintang terlihat jelas. Melodi gitar membuat nuansa malam itu begitu romantis.
Malam itu Daniel memainkan gitarnya. Lindy terpukau dengan kepiawaiannya memainkan gitar.
Farah bermain dengan si centil.
Luki membaca buku komiknya.
"Dan, ajari aku main dong" kata Lindy pada Daniel.
"Kemarilah" ujarnya.
Lindy duduk mendekat, Daniel memberikan gitarnya pada Lindy. Daniel berada di belakangnya, memegang tangannya dan mengarahkan jarinya pada senar gitar.
"Ini kunci C" ujar Daniel. Suaranya lembut di telinganya.
"Ah gitu" kata Lindy.
"Ini kunci F" lanjutnya.
Suara langkah kaki melangkah keluar menuruni tangga.
Luki keluar dari pondok.
Lindy melihat Farah dan bertanya dengan isyarat mata. Farah mengangkat bahu.
Lindy masih mendengarkan suara Daniel ditelinganya tapi pikiran Lindy tak ada disana.
***
Daniel dan Farah sudah pulang. Lindy masuk kamarnya yang gelap.
Lindy meraih tombol sakelar lampu. Sebuah tangan meraih tangannya Lindy terkejut. Luki?
__ADS_1
Dan Luki memelukku.
...****************...