Diary Puzzle

Diary Puzzle
Kepingan yang Hilang


__ADS_3

"Bagaimana yang ini" ujar Daniel memungut biji pohon Flamboyan. Mereka berdua sedang mendapat tugas kelas biologi. Tugas itu mengharuskan grup dua orang dan entah kenapa dirinya berakhir bersama Daniel padahal sebelumnya lima gadis mengantre agar dapat kerja kelompok dengan Daniel.


Saat itu dirinya hendak mencari teman ketika tangan Daniel menggenggam tangannya dan mengangkat tangan mereka berdua lalu mengumumkan dengan keras bahwa ia sudah punya pasangan kelompok. Karena itu dia juga populer di kalangan para gadis, caranya yang lembut dan manis membuat para gadis disekolah ini mengidolakannya.


Bahkan dirinya.


"Yah kurasa yang itu" jawab Lindy setelah puas dengan lamunannya.


"Lihat pohon yang itu besar sekali" Lindy menunjuk pohon besar yang jauh diatas bukit.


Daniel mengikuti arah pandangan Lindy dan tersenyum.


"Iya itu pohon terbesar disini, kamu ga ingat ya kita berdua sering main disana waktu kecil"


Lindy terkejut. Dia ingat sekilas bayangan masa kecilnya saat baru tiba disini. Dia mengingat dirinya bersama seorang anak laki-laki dibawah pohon flamboyan besar.


Apakah dia Daniel?


"Kita sering bermain ayunan disana" cerita Daniel tersenyum mengingat kembali kenangan masa kecil bersamanya.


"Ayunan?" tanyanya penasaran.


"Iya, mungkin itu masih disana. Kau mau mencobanya?" tanya Dan menatap matanya dengan lembut.


"Mau!" sahut Lindy tanpa ragu. Siapa yang menolak ajakan sang pangeran.


Daniel tersenyum. "Ayo cepat!" ujarnya mengulurkan tangannya.


Lindy menggapai tangan daniel tanpa ragu. Mereka berlari menuju bukit rumput yang tidak jauh dari kota. Disitu Lindy merasakan getaran perasaan yang begitu kuat dari pohon itu.


"Besar sekali" ujarnya kagum.


"Hebat kan, kurasa ini sudah ada saat kita lahir" ujar Daniel menjelaskan.


"Kau benar, pohon ini kelihatan sangat tua"


"Iya, sebentar kurasa ayunan itu diikat keatas"


Lindy melihat Daniel mencari cara menjatuhkan papan ayunan yang diikat di dahan pohon dengan ranting panjang. Berbeda dengan Luki, jika Luki ia pasti langsung memanjat pohon itu dan menarik ayunan itu dari sana.


Tunggu kenapa ia harus memikirkan Luki bukannya dia sedang bersama Daniel. Saat yang paling berharga seperti saat ini sebaiknya tidak memikirkan cowok usil itu.


"Oke selesai!" seru Daniel setelah berhasil menurunkan papan ayunan itu dari batang pohon.


"Wahh hebat!" Lindy memujinya. Daniel tersenyum senang. Dada Lindy serasa berbunga-bunga melihat senyuman itu.


Lindy ingin bermain dengan ayunan itu sebentar sebelum jam pelajaran selesai. Daniel dengan senang hati mendorong ayunannya.


Meskipun saat ini dia memakai seragam Lindy merasa dia memakai gaun pesta dengan banyak gliter dan seorang pangeran berbaju putih mendorong ayunannya.

__ADS_1


"Kurasa aku ingat pernah main ayunan ini"


"Ya kau harus ingat, aku mendorongmu ratusan kali disini sejak kecil" jawabnya.


Lindy tertawa.


"Dan aku ingin terus mendorong ayunan ini sampai kau tua" lanjutnya.


"Apa maksudmu?" tanya lindy sambil menjerit dan tertawa karena Daniel mengayunnya sangat kencang.


"Kau ingin tahu?"


Lindy mengangguk.


Daniel menghentikan ayunannya. Dan berhenti tepat di dekat punggung Lindy.


Daniel menutup telinga Lindy dengan tangannya dan berbisik. Meski sudah tertutup Lindy mendengar jelas bisikan itu.


"Artinya aku ingin disampingmu sampai tua"


Jantung Lindy hampir berhenti. Bisikan lembut itu sangat dalam hingga menusuk hatinya.


Lindy menoleh menatap Daniel. Dia bisa melihat tatapannya sangat lembut dan bibirnya yang lembut menempel di bibirnya sekilas. Berbeda dengan Luki yang selalu menciumnya penuh...


Lindy membuyarkan lamunan Luki dari pikirannya. Dia baru saja di cium pangeran impiannya kenapa dia harus memikirkan teman kecilnya yang usil.


"Gak papa, makasih"


"Untuk apa? ciumannya?" canda Daniel.


Mereka berdua tertawa.


***


Lindy termangu di atas pagar rumah pohon. Setelah pengakuan Daniel yang mempesona membuatnya sedikit terbuai, dia masoh tak percaya teman kecilnya yang selalu di idolakannya baru saja mengakui perasaan padanya bahkan menciumnya. Kyaaa membayangkannya membuat mukanya bersemu merah.


"Aduh!!" Lindy menjerit kecil ketika kepalanya tertimpuk benda kecil. Buah stroberi tergeletak di sampingnya dan sebuah tawa kecil di bawah tangga membuatnya menoleh ke bawah.


Luki dengan membawa sekeranjang buah-buahan naik keatas sambil terkekeh.


"Dasar usil, ga ada kerjaan apa" kata Lindy kesal.


"Yah, salah siapa melamun sore-sore gini" jawabnya sambil menyerahkan keranjang buah itu. "Nih, mami suruh kasih ke kamu"


"Wah banyak banget" seru Lindy senang.


"Gimana disekolah?" tanya Luki tiba-tiba. "Hari ini tak ada yang mengganggumu kan?"


"Tak ada, seharian aku bersama Daniel mencari biji pohon.." Lindy terhenti dan mengingat kejadian tadi membuat mukanya kembali panas. "Ja..jadi tak ada yang berani mengganggu" lanjutnya gugup. Lindy mengambil jeruk dan mulai mengupasnya untuk mengurangi kegugupannya. Dia merasa seperti berselingkuh padahal dia sama sekali bukan pacarnya.

__ADS_1


"Ah sayang kelasku berbeda, andai kita sekelas" ujar Luki mendesah.


"Emang kenapa? Mau bikin usil?" tanya Lindy yang menunjukkan tidak suka dengan ide sekelas itu. Dia membayangkan Luki mengganggunya setiap hari dikelas membuatnya sakit kepala.


Luki tertawa.


Lalu air mukanya tiba-tiba berubah.


"Aku hanya iri dengan Daniel"


Tangan Lindy berhenti mengupas, dia menoleh dan Luki sedang menatap langit. Perasaan bersalah merayapi dirinya.


"Bintang senjanya muncul" serunya membuat Lindy spontan menatap langit.


Langit itu biru meski sudah gelap, beberapa bintang muncul dilangit biru gelap itu.


"Wah bagus ya" ujar lindy sambil mengunyah jeruk. "Malam yang biru" lanjutnya. Tiba-tiba Lindy terdiam, ingatannya kembali tujuh tahun lalu.


Saat itu dirinya berumur sepuluh tahun. Waktu itu ibunya baru saja meninggal dan ayahnya tiba-tiba memutuskan untuk tinggal di luar negeri. Dia kabur di pohon Flamboyan di bukit penuh rumput dan duduk di ayunan sambil menangis.


Luki yang berumur sepuluh tahun berlari menghampirinya dan duduk di ayunan sebelahnya.


"Jangan nangis, aku akan menjemputmu jika aku sudah besar"


"Bohong" isak Lindy.


"Lihat ini malam biru, aku janji jemput kamu pas malam biru. Jadi tunggu aja ya tunanganmu ini akan menyelamatkanmu dari negeri asing dan menikahimu!" serunya serius.


Lindy tertawa.


Luki menciumnya. Bunga Flamboyan bertebaran diantara mereka.


Itu ciuman pertama mereka. Dia ingat sekarang. Dia mendapat jawabannya sekarang.


Luki menatap Lindy.


"Kau sudah ingat ya" tanyanya lembut.


"Iya...maaf.." jawab Lindy merasa bersalah melupakan kenangan berharga di masa lalu.


Luki memeluknya lembut seakan mengatakan itu bukan kesalahannya.


"Bau jeruk" celetuknya. Lindy mencubit punggungnya.


Mereka tertawa sambil berpelukan.


Dari bawah rumah pohon Daniel berbalik pergi sambil menenteng kembali gitarnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2