Diary Puzzle

Diary Puzzle
Pengantin Kecil


__ADS_3

Luki Alfin Candra menatap gadis itu berlari pergi tergesa-gesa ke pintu gerbang tua sambil celingak celinguk mencari pegangan pintu yang sudah berkarat.


Sudah lama jalan ini ditutup dan tak ada penduduk sini yang menggunakan jalan ini lagi bertahun-tahun lalu. Hanya beberapa orang saja yang mengetahui jalan ini karena tanah sepanjang flamboyan adalah milik ayahnya.


"Luki! Ada apa. Ayo cepat festivalnya sudah hampir di mulai tuh." seru temannya memanggil dari kejauhan.


"Iya, tunggu aku". Luki sekilas mendengar gadis itu mengumpat ketika pintunya tak mau terbuka. Luki tertawa pelan sambil berbalik menyusul temannya.


Hari ini diadakan festival lampion di pantai. Semua warga kota dan bahkan wisatawan bergabung di festival itu. Bahkan spanduk besar tentang festival hari ini dipasang di pelabuhan. Entah kenapa perempuan itu tak melihatnya.


Luki sebelumnya sempat melihat seorang gadis yang terlihat mencolok dan sama sekali tidak terlihat penduduk sini. Tubuhnya ramping dengan tinggi semampai dan kulitnya putih pucat. Rambutnya yang hitam panjang di hiasi topi baret. Pakaiannya yang modis mirip girl band korea. Sepatu hak tingginya yang cocok dengan penampilannya membuat tampak seperti model majalah remaja yang tersesat.


Luki tidak yakin usia perempuan itu karena dari jauh wajahnya tidak begitu jelas. Hanya saja kelihatanya dia sedikit lebih tua darinya. Gadis model itu celingak-celinguk sambil mondar mandir memegang buku pink dan koper dorong kecil. Luki yakin gadis itu datang bukan untuk menonton festival.


Luki tidak menyangka bertemu dengan gadis model itu lagi. Itu hanya kebetulan pikirnya.


"Semoga aku tidak bertemu dengannya lagi. "batin Luki. Tetapi dia salah.


......................


Lindy membuka pintu gerbang jalan flamboyan. Lindy mengumpat pelan. Pintu itu berat dan berkarat, sebagian penuh dengan tanaman merambat dan semak-semak. Entah kenapa jalan itu diberi gerbang berkarat. Ketika berhasil membukanya dia terpukau dengan pemandangan yang ada di depannya.


Jalan kecil itu mirip jalan setapak dengan batu paving yang sudah ditumbuhi rumput. Di pinggir jalan itu deretan pohon flamboyan dengan bunga merahnya yang sesekali jatuh tertiup angin.


Lindy terpukau dengan pemandangan di depannya.


"Indahnya" gumam Lindy kagum.


Dia tidak menyangka mendapatkan pemandangan indah ini di balik pintu yang berat tadi. Lindy sudah banyak melihat pemandangan yang menakjubkan selama tinggal di luar negeri dengan ayahnya tapi yang ini berbeda.


Lindy merasakan debaran aneh ketika berjalan melewati deretan pohon itu. Apa ini. Sepintas dia mengingat sebuah kenangan masa kecilku. Dia mengingat dirinya berdiri di balik pohon flamboyan.


Kenapa aku berdiri disana. Sepertinya aku menunggu seseorang. Siapa?

__ADS_1


PREK! Lindy bangun dari lamunannya dan melihat ujung sol sepatunya terjepit di sela-sela jalan berbatu.


"Sialan. Kurasa aku memilih sepatu yang salah" Lindy memaki sepatunya yang terjepit di sela-sela batu. Setelah berhasil melepaskan jeratan batu batu itu dia berjalan terseok-seok.


Lindy berhenti untuk memeriksa peta sekali lagi. Tujuannya adalah rumah yang ditinggalinya waktu kecil. Dan Lindy melihat perjalanannya masih panjang , Ia mendesah panjang dan kembali berjalan menyeret kakinya yang kelelahan.


......................


Akhirnya. Aku melihat sebuah bangunan dari jauh. Mini market kecil bertuliskan 'Adakadabra Market'. Nama yang aneh untuk sebuah mini market.


Mini market itu tidak tertera di peta buku harianku. Seperti namanya bangunan itu tiba-tiba muncul menyelamatkannya. Ah, aku tidak peduli kakiku sudah mulai sakit dan lecet.


Aku masuk dan mencari sandal. Saat aku sibuk mencari sandal sebuah suara melengking tinggi mengejutkanku.


"Ya ampun. Kamu Lindy Karina ya" sapa seorang wanita kurus berumur tiga puluhan dengan rambut keriting sebahu. Wajahnya tirus dengan alis tipis melengkung tinggi, bibirnya merah merona. Pakaiannya mirip gipsy pembaca tarot. Aku rasa kakak norak ini pemilik market adakadabra ini.


"Kamu sudah besar sekarang, cantik lagi" lanjutnya sambil menepuk bahuku.


"I..iya kak aku Lindy" jawabku masih setengah bingung karena aku sama sekali tidak mengingat si kakak yang mirip peramal ini. Dan dia tahu nama lengkapku berarti dia sangat dekat denganku waktu kecil.


Si kakak ini tak menghiraukan kata-kataku dan mendekap jari-jari tanganku.


"Ya ampunn. Masa kamu lupa sama kakak?" serunya tak percaya bahwa aku memang sama sekali tidak mengingatnya. Aku menggeleng pelan.


"Aku kak Miriam Angelin. Itu loh, kakak depan rumahmu dulu"


Tatapannya yang menyiratkan bahwa dirinya ingin diingat itu membuatku berpikir keras. Aku sudah menghafal ratusan kali semua orang yang tertulis di buku harianku. Depan rumah berarti kakak ini...


"Kak Mi?" jawab Lindy ragu-ragu. Jawaban itu langsung membuat wajah Kak Miriam tersenyum senang. Senyuman itu membuatnya lega. Ok, rintangan pertama sukses. Sekarang waktunya pergi dari sini sebelum kakak ini bertanya lagi.


"Iya bener, akhirnya kamu inget juga toh. Aku sudah menikah dan pindah disini sambil buka mini market" logatnya yang melengking terdengar lucu.


"Iya kak eh mbak. Ini sandal jepitnya berapaan kak? tanya Lindy untuk mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Itu sepuluh ribu. Kamu kesini sama siapa? " Kak Mi kembali dengan pertanyaan-pertanyaan.


"Sendiri kak." jawab Lindy singkat. "Pulangnya papa yang jemput." tambahnya sedikit berbohong sebelum dia bertanya tentang alasan dirinya pergi sendiri.


Sebenarnya ayahnya tak tahu dia akan kesini sendiri. Dia akan tahu setelah Lindy meneleponnya malam nanti ketika sampai rumah lama milik mereka.


Ayah Lindy bukannya melarang tetapi malah menyuruhnya berkali-kali mengunjungi rumah lama mereka dan tentu saja untuk bersih-bersih.


"Sendiri? Wah..Jangan-jangan kamu kesini karena ingin betemu tunangan kecilmu ya. Haha..." goda kak Miriam.


Ada kejutan apa lagi ini? teriak Lindy dalam hati. Tunangan?


Kenapa buku harian ini tak bercerita tentang itu? Lindy panik.


"Tunangan ?" tanya Lindy penasaran.


"Wah kamu lupa ya , itu lo si Luki Alfin aku lho yang menikahkan kalian berdua." kata kak miriam senang karena jadi comblang dua anak polos.


Luki. Ya tentu saja aku tahu. Nama yang paling banyak di sebut di buku harianku. Luki Alfin Candra. Siapa dia?


Setelah meladeni ocehan panjang si kakak satu ini. Aku akhirnya berhasil keluar dari tempat itu. Sebenarnya aku ingin bertanya tentang jalan rumahku tapi dia mengurungkan niatku.


Kak Miriam melambaikan tangan dan berseru dengan lantang.


"Lurus aja, disini cuma ada enam rumah. Rumah berpagar putih adalah rumahmu." serunya tersenyum dan sambil tetap melambaikan tangannya. Lindy bergidik. Bagaimana dia tahu pikiranku.


Lindy berjalan cepat menjauh dari tempat itu.


...****************...


Dear reader,


Terimakasih sudah membaca episode ini sampai akhir.

__ADS_1


Sampai jumpa di episode 3.


...****************...


__ADS_2