Diary Puzzle

Diary Puzzle
Rival Masa Kecil


__ADS_3

Lindy terbangun karena cahaya matahari masuk dari jendela kecil.


Ia mengucek matanya dan setelah beberapa detik berhasil mengenali keberadaan dirinya.


Pesta kecil semalam membuat mereka kelelahan dan tertidur di rumah pohon. Dia menyadari seseorang menyelimutinya tadi malam tapi karena kelelahan dia tidak mengenali siapa yang menyelimutinya. Lindy melihat Farah masih tertidur disampingnya dengan memeluk boneka beruang dia manis sekali dan tidak terlihat seperti anak berumur tujuh belas tahun.


Di seberang terlihat Daniel masih tertidur pulas. Wajahnya yang terlihat seperti malaikat membuatnya sejenak menikmati pemandangan itu. Lindy tidak melihat Luki di sebelahnya. Mungkin dia sudah bangun pikir Lindy.


Lindy membetulkan selimut Farah dan berjingkat turun dari pondok itu.


Ia menuruni tangga. Lampu-lampu sudah mati. Bau rumput basah menyambutnya. Burung gereja mulai ribut mencari makan.


Lindy menikmati suasana yang masih pure itu sambil berjalan menuju kamar mandi. Rumah Lindy sangat unik, rumah itu punya lorong kecil disetiap pojok rumah. Di belakang rumah ada lorong kecil menuju kamar mandi. Saat berada di tikungan lorong Lindy menabrak sesuatu.


Dukk!!


Lindy jatuh terduduk sambil memegang keningnya kesakitan. Air menetes jatuh di rambutnya, ia mendongak dan mendapati Luki menatapnya dengan setengah telanjang dan basah. Nafasnya yang berbau mint dari pasta gigi berhembus di wajahnya. Lindy menatap dadanya yang bidang sangat dekat dengan keningnya. Aroma sabun tercium dari tubuhnya. Lindy mengenali aroma itu.


"Sabunku!" seru Lindy protes untuk menyembunyikan rasa kikuk.


"Dasar pelit!" jawab Luki sambil menjitak kening Lindy dan berlalu pergi.


"Aww, sakit!" Lindy mengerang sambil hendak melakukan serangan balasan dari belakang tapi Luki melemparkan handuk basahnya.


Handuk basah itu mengenai wajah Lindy dan membuatnya semakin marah. Ia hendak balas melempar tapi seketika ia mengenali handuk ungu kesayangannya.


"Handukkuuuu!!!" Lindy berteriak sambil mengejarnya. Luki berlari sambil tertawa senang karena berhasil menggodanya.


Daniel dan Farah terbangun karena keributan itu. Mereka berdua mengintip dari jendela pondok. Mereka melihat Lindy mengejar Luki yang setengah telanjang di ladang rerumputan.


"Mereka berdua masih seperti dulu ya" kata Farah tertawa kecil.


"Yah, aku malah lupa kalau Lindy sedang broken memory" celetuk Daniel. Farah tertawa. "Kau tahu sendiri sejak dulu Luki suka menggoda Lindy"


Farah menatap Luki yang tertawa lepas ketika melihat Lindy kehabisan napas.


"Apa kau sadar Luki terlihat bersemangat beberapa hari ini, tidak seperti biasanya. Apa karena Lindy ya.." kata Farah pada Daniel. Mereka tahu Luki selalu menyibukkan diri di perpustakaan. Tak heran dia masuk siswa top di sekolah mereka.


"Yah, seperti anjing menemukan kucing" kata Daniel memperhatikan mereka.


"Kau tahu Farah, kurasa aku akan membuat Luki lebih bersemangat" lanjutnya.


Farah menatap Daniel dengan pandangan bertanya-tanya.


"Bagaimana caranya?" tanya Farah.


"Kau tunggu saja. Jika feelingku benar ini akan berhasil" ucap Daniel tersenyum. Farah makin penasaran dengan ucapan Daniel.


...----------------...


Luki kembali setelah mengganti bajunya. Rumah Lindy adalah rumah minimalis modern terbaik yang pernah lihat dari kecil sampai sekarang. Dengan pekarangan luas yang sangat ideal untuk bermain dan bersantai.


Luki sangat mengagumi ayah Lindy bahkan dia bercita-cita menjadi seorang arsitek seperti ayah Lindy.

__ADS_1


Luki melewati pekarangan bergaya english garden dan mendengar tawa kecil dan gemericik air di kejauhan. Rumah ini dekat dengan sungai kecil , mata air dari gunung. Jalan Flamboyan memang dirancang khusus oleh ayahnya dan ayah Lindy menjadi perumahan yang mirip villa.


Luki mengikuti suara tawa itu. Dan dia melihat Lindy bermain air dikejauhan dengan seseorang. Luki penasaran, dia maju lebih jauh.


Daniel. Lagi-lagi Daniel, perayu wanita kelas kakap pikir Luki.


Sejak dulu Daniel selalu di sukai, wajahnya yang mirip idola, kepintarannya bermain musik, perangainya yang lembut semuanya sangat sempurna di diri Daniel. tapi semuanya tidak membuatnya iri karena dia tetap sahabat terbaiknya. Hanya satu hal yang membuat Luki tidak menyukainya. Lindy Karina. Ia tidak suka Daniel terlalu dekat dengan Lindy.


Luki bersiap mengganggu mereka. Tapi seseorang menahan tangannya.


"Sssttt..jangan ganggu mereka" Farah datang menahannya.


"Kenapa?" tanya Luki dengan suara tegang.


"Kurasa Daniel suka Lindy" jawab Farah. Jawaban itu membuat Luki hampir berhenti bernafas. Semua yang dirasakannya sejak dulu benar. Daniel adalah rivalnya.


"Lindy bukan tipe Daniel" kata Luki ketus. Dia sangat tau tipe gadis kesukaan Daniel tapi sekarang dia tidak yakin lagi.


"Entahlah, siapa tau kan" ujar Farah.


"Ah, terserahlah" Luki berbalik pergi. Dia berhenti sejenak, terkekeh lalu melangkah pergi.


"Dia kenapa sih?" ucap Farah.


Daniel menatap Lindy yang tertawa saat bermain air. Lindy sudah dewasa berbeda dengan tujuh tahun lalu. Sekarang Lindy berada di level jauh bagi pria kota kecil di pulau terpencil seperti dirinya dan Luki.


Daniel adalah anak adopsi. Dia berbeda dengan yang lainnya. Saat kecil dia susah beradaptasi dengan anak-anak seumurannya sampai dia bertemu Lindy. Lindy adalah gadis pertama yang menyapanya. Dia mengajaknya bermain dan bergaul dengan teman-temannya. Dulu Lindy baginya adalah dewi penyelamatnya.


Daniel meraih kelopak flamboyan yang jatuh di rambut Lindy. Lindy tersentak dan menatap Daniel.


"Maaf..." ujar Daniel. "Ada kelopak bunga di rambutmu" lanjutnya. Daniel terhanyut pada wajah cantik di depannya. Jarinya turun merapikan rambut Lindy. Lindy terkesiap.


"Ah, Thanks" ujar Lindy malu-malu. Daniel maju mendekat. Daniel akan meraih pipi Lindy ketika merasakan air mancur mengenai kepalanya.


Ah sudah di mulai rupanya pikir Daniel. Seperti yang di rencanakan ternyata memang benar.


Luki menyukai Lindy.


Daniel berbalik dan mendapati Luki dengan dua pistol air besar kebanggaannya.


"Wooii, ayo main perang air!" serunya sambil nyengir lebar. Daniel mendesah. Lalu dengan terpaksa mengambil pistol air yang disodorkan Luki.


"Ingin bertaruh?" tanyanya pada Luki.


"Oke, Kau ingin bertaruh apa?" jawab Luki menerima tantangan Daniel.


"Lindy" jawab Daniel. Luki berdiri mematung mendengar jawaban itu.


"Siapa yang menang dapat waktu berduaan dengan Lindy seharian" lanjut Daniel.


Lindy yang sedari tadi diam melihat dirinya di buat taruhan akhirnya buka suara.


"Tunggu!! Siapa bilang aku mau di jadikan taruhan, kalian seenakny...mmphhh" Lindy belum menyelesaikan kalimatnya ketika sebuah tangan membungkam mulutnya.

__ADS_1


"Baiklah! Deal! Aku satu tim dengan cewek cerewet ini!" seru Luki sambil membungkam mulut Lindy.


"Mmmmphh..mmmpphh" Lindy menyerukan protes tapi tak di gubris oleh Luki yang lanjut menyeretnya ikut dengannya.


......................


Luki akhirnya melepaskan tangannya dari mulut Lindy setelah agak jauh. Luki langsung merogoh ranselnya.


"Jika kalian mau bertarung jangan bawa-bawa aku dong!" oceh Lindy yang tidak digubris oleh Luki. Dia melempar pistol air ke arahnya. Lindy terhuyung ke belakang.


"Serius nih, aku harus melakukan permainan anak-anak ini denganmu?" Lindy bingung dengan pistol air besar itu. Pistol itu berisi tinta yang berwarna hijau terang.


"Jangan cerewet, ini masalah harga diri. Gak mungkin aku melewatkan tantangan ini" ujar Luki sambil mengecek pistolnya dengan memuncratkan sedikit tintanya.


"Merunduk! serunya tiba-tiba. Lindy spontan menunduk dan bersembunyi di batu besar dekat dengan Luki.


Jantung Lindy berdetak kencang lagi. Entah karena berdekatan dengan Luki atau karena adrenalinnya meningkat karena permainan menegangkan ini.


Sementara Luki sibuk dengan pertahanannya. Lindy menyadari dia berada dalam hutan karet dekat dengan sungai kecil dekat rumahnya.


Lindy ingat tempat ini. Ini tempat dia dan Luki mencari kumbang. Dia ingat tempat ini juga tempat mencari kunang-kunang di malam hari bersama Luki.


"Tunggu, aku ingat tem..."


"Ssstt..." Luki memotong. Terdengar suara gemeresik di depan mereka. Luki langsung menarik tangan Lindy dan berlari.


Mereka berlari sejauh mungkin. Lalu sampai di bebatuan tinggi. Luki menariknya masuk celah kecil. Sebuah ladang rumput dengan pohon flamboyan yang amat besar. Tempat itu sangat indah, tempat itu mirip dengan negeri dongeng di buku dongeng anak.


"Sarang Peri" kata Lindy pelan. Luki tersentak.


"Kau ingat tempat ini?" ujar Luki kaget. Dia tau Lindy kehilangan ingatan masa kecilnya. Luki mendengar dari ayah Daniel saat berbicara di telepon dengan ayah Lindy. Hanya dia dan Lindy yang tau tempat ini. Lindy menamai tempat ini 'Sarang Peri'


"Aku ingat, kita mengejar kunang-kunang sampai ke tempat ini" jawab Lindy sambil takjub mengamati tempat itu.


Luki memeluknya tiba-tiba, pistol airnya terjatuh.


"Aku senang kau mengingatnya" ujar Luki.


"Aku juga" jawab Lindy tersenyum.


"Tunggu disini, Aku akan menangkan perang ini dan kita akan berkencan!" ujar Luki pergi mengambil pistol airnya dan menyandarkan di bahunya.


"Apaa!?" jawab Lindy bingung.


Luki melambaikan tangannya sambil berlari meninggalkan Lindy yang bingung.


Kencan??


...****************...


Dear reader,


Sampai jumpa di episode berikutnya !

__ADS_1


__ADS_2