
Dear diary,
Hari ini aku di bonceng Daniel ke sekolah naik sepeda. Rasanya seperti di bonceng pangeran dengan kuda putih seperti di buku dongeng. Daniel itu berambut pirang, matanya biru. Benar-benar mirip seperti pangeran.
Tapi sayangnya cerita putri dan pangeran berakhir. Si Luki tiba-tiba muncul dengan pistol airnya.
Dan akhirnya menjadi perang air.
......................
"Aku baik-baik saja papa" jawab Lindy menenangkan suara ayahnya yang khawatir di telepon.
Lindy tahu jika ini akan terjadi. Kepalanya kadang berdengung dan membuatnya pusing. Tapi dia tidak menyangka bakal pingsan di depan seorang cowok. Sungguh memalukan.
"Iya aku sudah minum obatnya, papa tenang aja" lanjut Lindy.
Lindy melihat obat di meja yang belum ia sentuh sejak bangun tadi. Dan semangkuk bubur oatmeal dengan keju di atasnya. Menu sarapan yang selalu menjadi favoritnya sejak kecil.
Secarik kertas tertempel di meja dengan pesan singkat diatasnya. Lindy mengambilnya dan membacanya. Tulisan cakar ayamnya membuat dirinya agak menyipitkan mata saat membaca tulisan kecil pada secarik kertas pink yang disobek.
'Minum obatnya setelah makan.' pesan singkat itu bikin Lindy tersenyum kecil. Entah kenapa ada aliran hangat di dadanya. Tapi kemudian dia mengenali sobekan kertas itu. Lindy mencari buku diary nya di tas dan membuka halamannya, dia menemukan sobekan kertas besar di bagian belakang. Lindy menggeram dalam hati. Dan meragukan kebaikan hati cowok yang baru dikenalnya hari ini.
"Tentu saja papa aku bukan anak kecil lagi. Nanti aku telepon lagi" Lindy mengakhiri telepon ayahnya yang panjang dan penuh kekhawatiran.
Lindy turun dari ranjang perlahan. Ia hendak meraih mangkuk bubur di atas meja ketika jari kakinya menyentuh sesuatu.
Ia mengambil secarik kertas struk bekas orderan bubur. Lindy terkekeh geli karena ia sempat mengira Luki yang membuat bubur itu sendiri.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seorang gadis bertubuh gempal muncul sambil menangis.
"Lindyyy! apa yang terjadi?" jeritnya sambil memeluk Lindy. Aroma kue dan roti tercium dari bajunya yang bercelemek coklat dengan logo kecil. Pasti dia si Farah teman kecilku anak tukang Roti di ujung jalan. Menurut buku diarynya Ayahnya mempunyai kafe dan toko roti yang terkenal di pulau kecil ini.
"Aku tak apa-apa, Farah kan?" tanya Lindy untuk meyakinkan dirinya. Gadis itu terkejut dan menatapku.
"Kamu mengenaliku?" tanyanya heran. Sepertinya Farah sudah tahu tentang kondisinya.
"Ah, syukurlah" serunya lega memelukku lagi.
"Aku merindukanmu Lin" tangisnya. Lindy memeluk balik sahabat kecilnya meski baru dikenalnya hari ini, dia merasakan perasaan aneh seperti telah merindukannya sejak lama. Ah.. semoga saja aku cepat mengingat kenangan manis bersama sahabat kecilku ini.
"Aku juga" jawab Lindy balik memeluknya meluapkan perasaannya saat ini.
Sebuah ketukan di pintu membuat Lindy dan Farah menoleh. Seorang cowok bule tampan menatap mereka dengan tatapan jenaka.
"Ahem..sudah nih sinetronnya" tanyanya. "Bisa-bisanya kalian tidak tahu aku datang" ujarnya dengan bahasa yang fasih. Tentu saja Lindy langsung menebak cowok itu adalah Daniel Rafael. Anak angkat Om David Herman di rumah sebelah kanan rumah Lindy. Dokter yang merawatnya hari ini. Dan juga teman papa sekolah.
Daniel benar-benar seperti yang di gambarkan di buku harianku. Wajah bulenya, rambut pirang, mata biru seperti gambaran pangeran di buku dongeng. Tak heran waktu kecil aku mengidolakannya.
"Hai Lindy, lama gak ketemu ya" suaranya lembut dan bahasanya yang fasih pasti membuat semua bertanya-tanya tentang kewarganegaraannya.
"H..halo Daniel, senang bertemu lagi" jawab Lindy tergagap karena aura Daniel yang bikin semua cewek terpesona dengan penampakannya.
"Wah kau ingat aku, berarti yang dikatakan daddy tentang kau hilang ingatan salah ya" kata Daniel.
__ADS_1
Lindy merasa ayahnya sudah menceritakan kondisinya pada om David temannya. Kondisi yang ingin ia sembunyikan dari teman-teman masa kecilnya.
"Ingatanku belum kembali, ingatanku masih bergantung pada buku harianku waktu kecil." jelas Lindy dengan singkat.
"Buku harian?" tanya Farah yang duduk disamping tempat tidurnya sedari tadi.
"Iya aku menemukan buku harian milikku waktu kecil dan membuatku ingin kembali kesini menemukan jati diri" ujarnya memaksakan tawa kecil.
" Jika mau mengingat, serahkan padaku. Aku akan menceritakan semua yang ingin kau tau." kata Farah yang tiba-tiba bersemangat.
"Benarkah. Terima kasih ya" jawab Lindy lega temannya tidak keberatan dengan kondisinya.
Tapi apakah Luki juga tahu? Lindy bertanya dalam hati.
Daniel memperhatikan Lindy yang celingukan mencari seseorang.
"Kau mencari Luki?"tanya Daniel
Lindy kaget dengan pertanyaan tiba-tiba itu dan tak tahu harus menjawab apa.
"Dia di festival lampion lagi bertugas jaga stand, soalnya siang tadi kabur" sambung Daniel.
"Ah benar iya dia seharusnya jaga siang tapi malah bolos tidur di rumah pohonmu" imbuh Farah terlihat kesal dengan tingkah Luki.
"Aku tak mencarinya, aku hanya mengira dia datang bersama kalian"
"Jangan hiraukan Luki, dia yang membuatmu pingsan. Urus dirimu dulu kau harus makan dan minum obat" seru Farah mengambil mangkuk bubur. "Aku akan menyuapimu, aa..."
"Aku bisa makan sendiri kok!" ujar Lindy menolak suapan itu dengan malu.
Lindy refleks membuka mulut. Daniel tertawa. Lindy menunduk malu.
Setelah ia menghabiskan bubur dan meminum obat. Farah pergi untuk mengambil kue pencuci mulut dari toko. Kini Lindy hanya berdua dengan Daniel.
Mereka duduk di teras belakang rumah sambil minum secangkir susu hangat dan menunggu Farah kembali. Meski dulu mereka adalah teman dekat entah kenapa terasa canggung duduk berdua dengan laki-laki yang dulu sempat diidolakannya.
"Sudah lama ya.." Lindy tersentak dengan suara lembut yang tiba-tiba itu tapi tetap mengangguk mengiyakan suara Daniel yang memecahkan keheningan diantara kita.
"Maaf aku melupakan semua kenangan kita disini" ujar Lindy dengan nada menyesal.
"Itu bukan salahmu" jawab Daniel sambil tersenyum. Lindy hampir bisa melihat lingkaran malaikat di atas kepalanya. Senyumnya bisa membuat para pendosa bertekuk lutut minta pengampunan. Lindy yakin jika Daniel ke Italia pasti sudah banyak orang yang menawarinya jadi model.
"Apa kamu tau, bagaimana kita semua bertemu?" tanya Lindy mengalihkan pesona Daniel yang kuat.
"Hm..gimana ya yang aku tahu kita bertemu berawal dari persahabatan orang tua kita. Ayah Luki membeli tempat ini dan meminta ayahmu yang seorang arsitek menata tempat ini. Karena itu di jalan Flamboyan hanya ada empat rumah awalnya. Kemudian muncul dua lagi rumah kak Miriam , Bu Lisa pengurus taman disini dan satu lagi Pak Lukas satpam disini."
"Ah karena itu taman belakang rumah selalu bersih" kata Lindy tersenyum puas menemukan teka teki taman rumahnya yang selalu rapi.
"Iya, dan.. rumah pohon itu Luki yang merawatnya dan mengecatnya kembali."
Daniel menunjuk rumah pohon miliknya yang masih terlihat baru. Ayahnya membuatkan rumah pohon sebagai hadiah ulang tahun. Dan disitu juga banyak kenangan bersama para sahabat kecilnya. Rumah pohon itu masih terlihat sama seperti di foto yang diselipkan di buku hariannya. Tak menyangka ada yang merawatnya.
"Terlihat baru kan?" ujar Daniel yang dijawab Lindy dengan anggukan kagum atas kerja keras Luki.
__ADS_1
Daniel tiba tiba berdiri. Siluetnya memantul karena cahaya lampu.
Oh, God terima kasih atas pemandangan indah ini.
Daniel berdiri dengan memegang cangkir dan satu lagi memasukan tangannya di saku.
Daniel menoleh kearahnya dan tersenyum sambil mengulurkan tangan padanya.
Lindy terperangah atas adegan yang hanya bisa ia lihat di drama korea yang ia tonton hampir tiap hari. Dan sekarang terjadi pada dirinya.
"Mau coba liat ke dalam rumah pohon?" Lindy terpesona dengan adegan ini. Siapa yang mau menolak ajakan seorang pangeran tampan ini.
Lindy hendak menerima uluran tangan itu ketika tiba-tiba muncul tangan lain menggenggam tangannya.
Lindy terkejut.
Ia menoleh kepada pemilik tangan itu. Luki tersenyum puas karena telah mengganggu adegan romantis itu.
"Aku juga ikut!" seru Luki. Daniel tertawa kecil seperti terbiasa dengan ulah si Luki.
Lindy menghela nafas kecewa. Luki melihatnya dan nyengir puas.
"Akhirnya kau muncul juga" kata Daniel meninju perut Luki ringan. Lalu Luki mulai membalasnya dengan tendangan ringan kemudian di tangkis Daniel dan terus berlanjut.
Lindy masih kesal. Kenapa Luki harus muncul sekarang.
"Mereka selalu seperti itu setiap bertemu" sebuah suara disampingnya membuatnya terkejut.
Farah duduk disampingnya sambil membawa dua kotak berisi penuh kue dan roti. Lindy bahkan tak menyadari Farah sudah disampingnya sedari tadi.
"Bikin kaget saja, aku tidak mendengarmu datang" katanya sambil membantunya membawa sebagian kotak kue. Bau harum roti yang baru dipanggang membuat dirinya kembali lapar.
Mereka berdua berjalan santai melewati medan perang yang masih berlangsung dan menaiki tangga rumah pohon sambil mengobrol.
Hari sudah gelap, rumah pohon itu terlihat indah dengan lampunya yang menyala otomatis. Di sepanjang teras penuh dengan lampu kecil yang menggantung. Dan lampu lampion bertenaga baterai di sepanjang anak tangga. Lindy merasa rumah pohon itu sekarang terlihat rumah pohon modern.
"Hei, kalian cepat bantu kami buka pintu!" teriak Farah dari atas teras rumah pohon.
"Siap Boss!!" seru mereka berdua. Lalu berlari sambil saling berlomba.
Aku takjub dengan kekuatan Farah menghentikan mereka berdua.
Kami berempat masuk dalam rumah pohon. Untuk pertama kalinya mereka berkumpul kembali dan mengadakan pesta kecil disana.
Dan untuk pertama kalinya Lindy bisa tertawa lepas bersama mereka.
...****************...
Dear Reader,
Terima kasih sudah membaca sampai akhir episode ini.
Aku suka bercerita tentang masa kecil. Masa kecil adalah masa dimana kita bermain dengan bebas, dunia penuh tawa dan imaginasi. Dunia penuh dengan kenakalan-kenakalan kecil.
__ADS_1
Bagaimana dengan masa kecil kalian?
...****************...