
Luki merasa tempat ini begitu magis. Cahaya kunang-kunang membuat wajah Lindy terlihat begitu cantik dimatanya.
Luki terhipnotis dengan suara tawanya yang manis membuatnya ingin lebih dekat dan lebih dekat lagi.
Dia memberanikan diri mengecup bibir Lindy.
Lindy terkesiap. Tapi tanpa perlawanan. Dia menyudahinya sebelum terhipnotis lebih jauh.
Luki membaca ekspresi Lindy. Dia sedikit terkejut.
"Apa ini..." tanyanya sembari menyentuh bibirnya.
Luki nyengir mendapat jawaban itu.
"Itu jawabanku atas pertanyaanmu tujuh tahun lalu" jawab Luki membuat alasan. Dia kesal dengan dirinya yang tidak sabaran.
Lindy mengernyit mendengar jawaban itu.
"Apa kamu mengerjaiku? Kau tahu aku bisa tidak mengingatnya"
"Maaf...aku lupa" ujar Luki menunduk.
"Aku mau pulang" ujar Lindy muram.
Luki ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa mengatakan apapun dia merasa bersalah.
Lindy berjalan cepat. Ia tak tahu kenapa ia kesal. Karena jawaban Luki atas ciumannya atau karena Luki lupa bahwa ia tidak memiliki ingatan teman gadisnya sepuluh tahun lalu.
......................
Lindy berbaring di tempat tidurnya dengan bantal menutupi kepalanya.
Ciuman pertamanya masih terasa berkedut di bibirnya.
Tapi ia merasa ciuman itu bukan miliknya.
Lindy ingin cepat mengingat kembali. Tiba-tiba ia ingat notes yang diberikan Farah.
Lindy membuka notes pink milik Farah sambil menggigit apel. Disitu tertulis nama-nama orang dan deskripsi lengkap tentang mereka.
Nama pertama yang dia cari adalah Luki.
Luki Alfin Candra. Anak dari Pak Candra tuan tanah di kota ini. Cowok ter-cool di sekolah dan..
Aku berhenti membaca dan tertawa. "Cool darimana" ujarku bicara sendiri.
Memang sih pertama bertemu Luki dia terlihat cool. Tapi setelah mengenalnya dia cowok yang 'to the point' banget dan sangat usil. Tapi dia sungguh perhatian.
Dan..
Ciumannya. Lindy menyentuh bibirnya. Lindy masih merasakan sentuhan lembut bibir Luki.
Inikah yang namanya ciuman pertama?
Rasanya benar-benar aneh tapi membuat jantungnya berdegup kencang ketika memikirkannya lagi.
TOK!!
__ADS_1
Lindy kembali sadar dari lamunannya. Dan mencari asal suara itu.
Lindy membuka pintu kamar tak ada siapapun disana. Lalu kembali berbaring.
TOK!!
Suara itu kembali terdengar. Lindy mendengar jelas suara itu datang dari arah jendela kamarnya. Dia mendekati jendela dengan perlahan. Rasa takut menjalar di sekujur tubuhnya.
......................
TOK TOK !!
Suara itu terdengar sangat jelas. Lindy membuka tirai jendela dan menjerit melihat seonggok wajah dan bibir tertancap dari balik jendela.
"Hei ini aku!" wajah itu berbicara dengan suara yang dikenalnya.
"Luki!!" ujarku kaget. "Kamu gila ya, ngapain kamu disana" tanya Lindy bingung dengan kehadiran Luki yang tiba-tiba.
Luki bergumam sambil mengetuk kaca jendela.
"Apaa??" tanya Lindy tak begitu mendengar suaranya dari dalam.
"Jendela, buka dulu" ujar Luki dengan isyarat tangan.
"Ahhh" ujar Lindy mengerti dan membuka jendela.
Akhirnya setelah beberapa saat jendela terbuka. Lindy naik ke balkon menemuinya.
"Aku bukan rapunsel, pintu depan juga tidak ada naga, kenapa kamu naik lewat sini?" kata Lindy menghampirinya.
"Lebih cepat lewat sini" ujarnya menunjuk jendela seberang.
"Kamu lewat pohon itu?" tanya Lindy melihat pohon besar yang tumbuh diantara kamarnya dan kamar Luki.
"Tunggu bukannya itu pohon ceri?" ucap Lindy senang melihat pohon yang dikenalnya.
"Kamu ingat ya" tanya Luki terkejut padahal pohon belum berbuah.
"Entahlah, itu tiba-tiba muncul di kepalaku" ujar Lindy yang juga terkejut. "Aku ingat suka berayun di bawah pohon"
"Ngomong-ngomong kamu ngapain kesini? tanya Lindy.
Luki menyodorkan bungkusan kresek berbau sedap. Perutku bergemuruh senang dengan bau itu.
"Apa ini, kelihatanya enak" seru Lindy mengambil bungkusan itu.
"Mi ayam" ujarnya.
"Hm..sogokan ya" tanya Lindy curiga.
"Gak mau ya, sini ku bawa pulang lagi" Luki mengambil kembali bungkusannya.
"Eh..jangan dong" Lindy langsung mengambil bungkusan itu.
"Kukira sudah tidur"
"Belum aku ga bisa tidur trus baca deh" jawab Lindy sambil membuka kotak makan. Membuka sumpit bambu.
__ADS_1
"Sama aku juga ga bisa tidur" ujarnya serak.
"Kenapa?" tanya Lindy polos sambil membuka plastik acar timun.
"Menurutmu kenapa?" tanyanya balik.
"Lalu apa ?" tanya Lindy polos. Dia benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan mereka.
Luki menatapku. Lindy menatapnya balik.
Luki turun dari pagar balkon dan menghampiri Lindy.
Lindy terkejut dan mundur selangkah. Luki terus menghampirinya. Lindy mundur lagi sambil memegang sumpit dan punggungnya terbentur tembok.
Lindy mendongak menantang matanya.
Luki menatap bibirnya. Dia melihat ada yang berbeda. Bibir Lindy bersemu pink menggoda.
"Kamu pake lipgloss ya?" tanyanya. Entah kenapa suaranya makin serak.
Pipi Lindy terasa panas.
Lindy mengangguk pelan. Mengabaikan rasa malunya dia tiba-tiba punya ide untuk menantangnya.
"Taruhan lipgloss rasa apa yang aku pakai hari ini. Jika ga bisa nebak, kamu harus turuti permintaanku."
"Kalo aku menang gimana?" Luki menaikan alisnya.
"Aku akan turuti permintaanmu" ujar Lindy memberanikan diri untuk bertaruh.
"Deal!" jawabnya tanpa berpikir.
"Ok, Start!" ujarku. Lindy pikir ini cara yang bagus mengalihkan pembicaraan.
Tapi Lindy salah. Benar-benar sebuah kesalahan.
Luki meraih dagunya dan mengecup bibirnya sekilas. Menjilat bibirnya dan tersenyum nakal.
"Ceri!" serunya tertawa senang.
"Sayang padahal aku lebih suka rasa strawberry" lanjutnya nyengir sambil menghapus bekas lipgloss di bibirnya.
"Dasar curang!" jeritku marah memukul dadanya.
Luki kabur dan menaiki pagar dengan cepat. Lalu meloncat memanjat pohon.
"Kau sudah merebut ciuman pertamaku dan sekarang..."
Luki berhenti memanjat.
"Ciuman pertama?" tanyanya memotong jeritan protes Lindy.
"Kurasa kau lupa, itu bukan yang pertama" Luki tersenyum lalu memanjat pergi meninggalkan teka-teki untuk Lindy.
"Apa maksudmu?" tanyanya setengah berteriak agar Luki mendengarnya.
Tapi Luki hanya melambaikan tangan dan menutup jendela kamarnya sambil tertawa.
__ADS_1
...****************...