
Dear Pink Diary,
Hari ini aku , Luki, Farah dan Daniel akan menginap di rumah pohon belakang rumahku. Kami membawa bekal dari rumah. Aku membawa nasi goreng buatan ibu, Farah bawa roti kismis dari toko roti ayahnya. Daniel membawa es sirup. Dan Luki membawa katak !! Aku dan Farah menjerit ketika katak itu melompat ke arah kami. Dan Luki tertawa senang melihat kami menjerit. Dan Luki berkata bahwa hari ini aku adalah Putri Katak.
Luki menyebalkan!
...----------------...
"Hatsyiiii!!!" Lindy membuka jendela rumah yang berdebu itu dan membuatnya bersin. Lindy menyeka hidungnya. Ketika merasa debu didepannya hilang, Lindy membuka mata.
Lindy melihat halaman belakangnya yang penuh dengan bunga. Lindy melihat sebuah rumah pohon mungil. Rumah pohon yang sering disebut dalam diary kecil Lindy. Anehnya rumah pohon itu terlihat terawat dan seperti baru. Sepertinya ada yang merawat rumah pohonnya dan juga halaman belakangnya.
Lindy menghampiri rumah pohon itu. Rumah pohon itu terlihat kecil sekarang. Dia mengingatnya samar. Dia sering kesini. Lindy menaiki tangga kecil perlahan. Dia sampai di beranda kecil rumah pohon itu dan mendapatkan pemandangan luar biasa diatas sana. Dia bisa melihat semua rumah penghuni jalan flamboyan.
Kemudian Lindy membuka pintu kayu yang terlihat kecil buat anak remaja seperti dirinya. Dia mendapati ruangan yang gelap. Lindy berjalan ke arah jendela dan membuka tirai agar sinar matahari sore bisa masuk.
Lindy mendapati ruangan yang bersih dan manis. Disitu terdapat meja kecil, disampingnya terdapat tumpukan bantal kursi dan lemari kecil. Lindy melihat sebuah kasur lantai dan selimut...Tunggu, Lindy mendengar dengkuran halus.
Ada orang di balik selimut! Pencuri? Lindy memekik pelan dan langsung membungkam mulutnya sendiri. Lindy berusaha tidak panik dan berjalan berjinjit mencari sesuatu untuk dijadikan alat bela diri.
Lindy meraih sapu ijuk dan menggenggamnya erat. Dia berjalan berjingkat mendekati sang pencuri.
Lindy sudah siap. Tangannya gemetar tapi keberaniannya memuncak. Lindy mengayunkan sapunya.
"Pencuri! Pergi kau!" teriak Lindy.
"Aduh! suara erangan dari balik selimut. Setengah mengantuk dia membuka selimutnya. Lindy sudah siap-siap mengayunkan sapunya lagi, ketika dia mengenali wajah yang muncul di balik selimut itu.
__ADS_1
Lindy benar-benar kaget tapi terasa sedikit lega melihat wajah orang yang dia kenal muncul dari selimut itu. Dia cowok yang aku temui tadi. Sedang apa dia disini.
"Kau?" tanya Lindy. Lalu tangannya tiba-tiba menarik Lindy hingga jatuh terlentang di atas selimut. Lindy menjerit. Cowok itu membungkam mulutnya.
***
Jantung Lindy berdetak cepat dan keras. Wajah cowok itu begitu dekat dengannya. Hidungnya hampir bersentuhan dengan keningku. Wajahnya sangat cakep meski baru bangun tidur. Cowok itu terlihat kaget melihat wajah yang dikenalnya lalu mengerjapkan mata. Dia membuka tangannya dari mulut Lindy kemudian duduk sambil mengucek matanya lalu menatap kembali.
"Ahh cewek model!" serunya tertawa sambil menunjuk dengan kurang ajar.
"Kenapa kau disini?" tanyanya heran dengan suaranya yang sedikit parau karena bangun tidur. Membuat suaranya terdengar greget di telinga Lindy.
"Seharusnya aku yang bertanya" kataku kesal sambil bangun dari atas selimut "Sedang apa kau di rumahku?!" tanya Lindy sedikit kesal.
"Rumahmu?" tanyanya bingung karena setengah tidur. "Bukannya ini rumah Lin.." dia menghentikan pertanyaannya dan menoleh ke arahku. Pandangannya menyeluruh dari atas kepala sampai kakiku lalu menatap tajam wajahku lama. Pandangan itu membuat wajahku merona.
"Lindy?" serunya kaget. Dia mengenalku. Siapa? Daniel..atau..Luki?
"Lu..luki?" dia menoleh ketika aku menyebut namanya. Luki tersenyum dan mengulurkan tangannya ingin menyentuhku. Aku menunduk. Dia mengacak rambutku.
"Welcome back , Nona Katak" Luki mencubit pipiku sambil tersenyum. Panggilan itu sangat familiar. Aku mengelus pipiku yang memerah sambil menatap Luki sebal.
"Ternyata kamu bisa tinggi juga ya" ejek Luki sambil nyengir.
Perasaanku benar-benar aneh. Padahal aku baru saja di bilang katak oleh laki-laki didepanku. Tapi aku seperti merasa pulang ke rumah. Perasaan nyaman ini membuatku melayang. Dan sedikit pening.
...----------------...
__ADS_1
Luki menatap gadis didepannya. Wajahnya yang dongkol saat dia mencubit pipinya mirip seperti ekspresi Lindy tujuh tahun lalu.
Luki sempat kesal saat Lindy mengira dirinya Daniel. Yah Daniel , sahabatnya sekaligus favorit Lindy sejak kecil. Lindy selalu mengidolakan Daniel.
Lindy menunduk saat Luki mengusap kepalanya. Dia masih manis seperti dulu pikirnya. Luki memperhatikan wajah Lindy yang mungil. Pipinya kemerahan. Bibirnya yang kecil terbuka.
Lindy menarik bajunya dan mendekati dirinya. Eh, apa ini.
Bibir Lindy mendekat. Luki panik.
"Pusing..aku pusing" Lindy berkata pelan lalu jatuh pingsan dipangkuannya.
"Hei, kau kenapa?" Luki mengguncangkan bahu Lindy. Dan badannya panas. Luki memeriksa dahinya. Tangannya terasa dingin di dahi Lindy.
"Kau demam" kata Luki khawatir dan langsung bangun menggendongnya dipunggung. "Sial!" gerutunya merasakan berat dipunggungnya.
"Kau datang untuk menyiksaku ya" gerutu Luki lagi sambil menuruni tangga.
Samar-samar Lindy mendengar gerutuan Luki. Lindy merasakan punggung Luki yang kuat menuruni tangga kecil. Dia mengumpat kecil ketika hampir terpeleset. Lalu Lindy kembali pingsan.
...****************...
Dear reader,
Happy reading!
Ketemu lagi di episode 4 !
__ADS_1
Terima kasih.
...****************...