
Setelah berkali-kali gagal menyatakan rasa sukanya, Luki sedang membuat skenario baru untuk dirinya dan Lindy. Dia mendapat lampu hijau dari pengakuan Lindy bahwa dirinya adalah cinta pertama Lindy membuat dirinya yakin untuk kembali pada misinya. Kemarin di gazebo adalah saat yang pas , tempat itu sangat indah dan Lindy begitu dekat dengannya. Dia ingin sekali langsung memiliki Lindy saat itu juga. Tetapi nasib berkata lain.
Hari ini akhir pekan waktunya membuat rencana baru.
Luki menenteng tas dan ransel perbekalan yang berat menuju rumah Lindy dan mengetuk pintunya dengan semangat.
Lindy membuka pintu dan menatapnya dan tas di belakangnya dan mengenali peralatan di dalamnya.
"Aku benci memancing!" ujarnya cepat membuat jantungnya seperti tertusuk pedang goblin. Penolakan yang cepat dan tegas bahkan sebelum ia mengutarakan ajakannya.
Suara tawa di belakang Lindy membuatnya tambah lemas. Daniel dan Farah ada disana memperhatikan dirinya yang tampak bodoh dengan semua ransel itu.
"Memang kenapa dengan memancing?" tanya Luki berusaha mengubah jawaban Lindy.
"Buang waktu lah" jawab Lindy masam seakan membayangkan dirinya berada di sungai duduk berjam-jam. "Masuklah, aku akan membawakanmu minum, ransel itu kelihatannya berat" lanjutnya mempersilahkannya masuk lalu menghilang ke dapur.
Luki diam sejenak lalu meletakkan semua barangnya di teras dengan enggan.
"Wah, kenapa tak mengajak kita juga, aku suka memancing" ledek Farah.
"Woi sadar, jaman sekarang mana ada ngajak cewek mancing" celetuk Dani membuat Farah kembali tertawa.
"Kenapa kalian ada disini pagi-pagi?" celetuknya tanpa peduli ledekan mereka.
"Kita rencana mau seru-seruan nih di pantai" jawab Daniel.
"Tapi delay karena Lindy dapat surat teror dari seseorang" lanjut Farah.
"Surat teror?" tanya Luki terkejut.
"Kurasa dari fansmu" Lindy bergabung dalam obrolan setelah kembali dengan membawa nampan penuh dengan gelas dan camilan. Lindy tak pernah membeli apapun disini tante Elena mama Luki sudah mengisi kulkas dan bahan makanan lainnya. Dia mengecat rumah dan mendekor kembali kamarnya dan memberikan sentuhan seorang ibu di berbagai sudut ruangan.
"Kurasa itu Rosana, ketua klub penggemarmu" kata Farah sambil mencomot camilan dari piring.
"Luki punya klub penggemar??" seru Lindy kaget dan langsung menatap Luki tak percaya. Luki yang merasa dibicarakan langsung mengibaskan rambutnya kebelakang untuk menonjolkan pesonanya. Lindy langsung mencibirnya.
"Ah itu karena mereka tak tau sifat aslinya" celetuk Dani sambil menyesap minumannya. Mereka berdua tertawa dan Luki berdecak pada Daniel sambil menampar pahanya.
"Memang siapa sih Rosana yang kamu maksud, kemarin kamu juga bilang aku harus hati-hati dengannya kan?" tanya Lindy pada Farah.
"Dia itu menyukai Luki sejak SMP dan udah ditolak berkali-kali tetep aja gak menyerah." jelas Farah
Lindy meremas tissue di tangannya mendengar ceritanya.
"Mungkin dia mendengar kau bertunangan dengan Lindy dan ia mungkin mengirim surat itu pada Lindy." ujar Daniel pada Luki yang duduk disebelahnya.
Daniel yang duduk memeluk teddy bear milik sejenak mirip karakter anime. Lindy fokus dengan pemandangan didepannya dan imaginasinya sehingga dia tidak mendengar suara Luki bertanya padanya.
__ADS_1
Lindy tersadar. "Hah apa?" tanyanya kembali. Luki kesal dia tau arah pandangan Lindy.
"Aku tanya apa isi surat itu!" jawabnya hampir setengah berteriak karena kesal.
"Anime eh.. bukan anu" jawab Lindy gagap pikirannya masih belum lepas dari anime ciptaannya. "Dia mengancamku agar tidak mendekati Luki " lanjutnya setelah fokus kembali.
"Mana sini aku liat " tanya Luki.
Farah menyerahkan surat dengan amplop berwarna hitam.
Surat itu diketik dengan huruf besar dan font yang tebal.
MENJAUHLAH DARI SAMPING LUKI JIKA KAU TAK INGIN CELAKA !!
"Wah berani juga ya dia mengirim ini ke tunanganku" ujarnya dengan nada bercanda.
Mereka berempat tertawa bersama. Mereka bisa mentertawakan ancaman itu meski dalam hati Luki, Daniel dan Farah mencemaskan Lindy.
Mereka bertiga menatap Lindy dengan pandangan khawatir tapi Lindy terlihat santai bermain dengan si centil.
"Jangan cemas kami memastikan ancaman itu tak terjadi" ujar Daniel.
"Aku ga takut kok" jawab Lindy sambil menggoda si Centil. Membuat dua para cowok disana cemburu pada si kucing beruntung itu.
Farah mendekap Lindy. "Betul ga usah takut, cewek itu ga penting kok" ujarnya menenangkan sahabatnya itu.
Hari itu mereka menghabiskan waktu bersama di rumah pohon. Tak ada acara memancing.
....
Esok harinya sesuai dengan prediksinya ia berhadapan dengan Rosana. Gadis itu amat cantik, kulitnya putih mulus tanpa cacat rambutnya pendek dengan anting bulat besar di telinganya, sebuah jam luxury. Dari penampilannya ia terlihat seperti gadis kaya yang manja.
Beberapa murid lainnya berbisik-bisik melihat mereka berdua berpapasan.
Rosana menghampirinya dan meneliti penampilannya. Dia membuang muka dan hanya lewat kemudian berhenti sebentar.
"Dia milikku kau mengerti!" ujar Rosana. Lindy berbalik dan menatapnya.
"Bukannya kau sudah ditolak berkali-kali?" kata Lindy santai dengan ancaman itu.
Beberapa gadis terkikik mendengar kata-kata bom yang ditujukan ke dirinya. Rosana menatap tajam mereka dan mereka terdiam.
Rosana kesal dan ingin membalasnya tapi Lindy sudah menghilang dari pandangannya.
"Gadis sial!!!" gerutunya marah. "Awas ya kalau aku bertemu lagi dengannya!" ujarnya kesal.
....
__ADS_1
"Kau hebat Lin!" seru Farah bersemangat setelah mendengar cerita Lindy. "Tak ada yang berani menentang Rosana disekolah, para gadis takut padanya." lanjutnya sambil mengunyah saladnya dan mengernyit saat menelannya.
Sudah seminggu sejak Farah bilang dia sedang diet, Lindy kasihan melihatnya menelan sayuran itu seperti sedang kesakitan. Dirinya lebih suka melihatnya makan dengan lahap kue cake dan burger yang disukainya. Farah yang malang.
"Memang kenapa mereka takut?" tanya Lindy sambil mengunyah roti sandwichnya.
"Aku dengar beberapa yang bermasalah dengannya bisa dikeluarkan dari sekolah."
"Wow.." komentar Lindy cuek. Dia tidak terlalu peduli dengan gadis itu. Tetapi beberapa temannya terlalu mengkhawatirkan dirinya.
"Dia anak pemegang saham sekolah, jadi ayahnya berpengaruh disini" lanjut Farah.
"Oh..." seru Lindy pura-pura kaget.
"Siapa yang pemegang saham?" tanya Daniel yang muncul bersama Luki. Hari ini mereka berjanji bertemu di gazebo lagi saat istirahat makan siang.
"Ayah Rosana" jawab Lindy. "Apa itu benar?"
"Iya sih, tapi pemegang saham terbesar ya Om Chandra lah" ujar Daniel sambil menepuk bahu Luki bangga.
Lindy dan Farah terkejut.
"Wah hebat" seru Farah kagum
"Papa Lindy juga punya saham dia arsistek sekolah ini" Luki angkat bicara.
"Benarkah !?" seru mereka bersamaan.
"Aku tak tahu" kata Lindy yang tak menyangka ayahnya juga punya andil dalam pembangunan sekolah ini.
"Makanya kau tak usah pedulikan dia, kau fokus belajar aja" kata Luki.
"Siapa yang peduli, dia sendiri yang bilang kau miliknya." kata Lindy kesal.
"Apa? trus kau jawab apa?" tanya Luki
Lindy diam.
Daniel dan Farah memperhatikan mereka sambil makan kacang atom. Rasanya seperti menonton pertandingan.
"Aku bilang dia udah ditolak" Lindy menjawab tanpa menatap mata Luki. Tangannya sibuk mengupas kulit jeruk.
Luki tertawa.
"Bilang dong kalau kau sudah jadi milikku" ujar Luki sambil tertawa.
Farah tersedak kacang. Daniel langsung menepuk punggungnya.
__ADS_1
Lindy langsung menimpuk Luki dengan jeruk ditangannya. Luki tertawa. Dia langsung menunduk menyembunyikan mukanya yang memerah.
...****************...