Diary Puzzle

Diary Puzzle
Rapunsel dan Jagung


__ADS_3

Dear pink diary,


Hari ini Luki jatuh ke kolam ikan. Aku tertawa paling keras. Tapi Luki menarik aku dan akhirnya kami berdua basah kuyup.


Sehabis ganti baju kami berdua duduk di balok kayu dengan rambut basah sambil makan jagung. Didepan kami pemandangannya menakjubkan.


Meski ini hari sialku. Tapi berakhir dengan indah. Aku akan mengingat kejadian ini selamanya.


...----------------...


Luki sadar memeluk Lindy berarti dia harus menjelaskan situasi yang tiba-tiba ini. Tapi dia tak peduli dengan itu, melihat Lindy bersama Daniel membuat dirinya tak tahan untuk tidak memeluk Lindy.


Luki tak ingin terburu-buru, ia hanya ingin Lindy mengingat kembali kenangan terakhir mereka. Ia bersabar agar Lindy tak menganggap dirinya cowok yang agresif. Tapi malam ini kenyataannya dirinya sudah tak tahan lagi ketika melihat Lindy dan Daniel semakin dekat. Dia akan mengatakannya malam ini.


Lindy ingin protes tapi dia merasakan ada yang berbeda dengan pelukan Luki, ia merasakan


pelukannya sedikit protektif.


Lindy terbawa arus dan terhanyut dalam pelukannya.


"Lu..luki ada apa?" tanya Lindy tersadar dan melepaskan pelukan itu sebelum Luki mendengar detak jantungnya yang mulai menari-nari.


Luki menariknya semakin mendekat dan mempererat pelukannya. Dan Lindy mendengarkan ia menggumamkan sesuatu.


"Dingin..." ujarnya pelan.


Lindy langsung menendang kakinya, membuat Luki menjauh karena kesakitan.


"Aduh!! sakit!" jerit Luki memegangi kakinya.


"Kalau dingin ya sana pulang selimutan!" celoteh Lindy kesal karena berdebar dengan percuma, berdebar hanya untuk cowok yang tidak berperasaan didepannya. Ia merasa dikhianati oleh jantungnya sendiri.


"Wow tenang..tenang aku kesini ingin mengajakmu ke sea world minggu ini , kamu mau kan?" ujar Luki berubah arah menjadi plan B. Ia berharap rencana cadangan ini berhasil.


"Sea World?" ujar Lindy dengan mata berbinar. Sudah lama ia tidak ketempat hiburan. "Mau..mau, tapi kamu yang bayar tiketnya ya"


"Tenang saja , aku yang traktir nanti" jawabnya sambil nyengir. "Disana ada roasted corn yang terkenal, sea foodnya juga enak, kokinya bintang lima" ujarnya melanjutkan membuat Lindy berangan-angan dan menjilat bibirnya.


Luki nyengir senang melihat raut muka Lindy yang berubah berseri-seri.


......................


Lindy membutuhkan waktu berjam-jam untuk memilih gaun manis terbaiknya. Meski ini bukan ajakan kencan tapi Lindy tetap merias dirinya mati-matian.


Dia bahkan menggunting poninya sendiri karena tak sempat ke salon. Gaun terusan bermotif bunga kecil berwarna biru muda menjadi pilihannya, ia menata rambutnya menjadi sedikit berombak natural dengan riasan tipis membuatnya menjadi sempurna untuk hari ini. Tak lupa tas kecil putih, dan sepatu sandal bertali putih menjadi pelengkap terakhir.


Lindy tersenyum penuh arti ke arah cermin.


"Sempurna!"


......................


Lindy melongo menatap motor scuter kecil milik Luki.


"Kita naik ini!?" tanya Lindy tak percaya.


"Tentu saja ini kendaraan anti selip yang paling asyik" ujar Luki bangga dengan scuternya.

__ADS_1


Lindy menatap gaunnya kemudian scuter pendek itu. Luki mengikuti arah tatapan Lindy dan tertawa geli membuat Lindy menyodok pinggangnya dengan sikutnya karena malu. Ia melemparkan jaket besar miliknya.


"Jangan khawatir, tutupi dengan itu!" ujarnya pura-pura tenang, padahal dirinya hampir lari pulang dan membawa karung goni untuk menutupi Lindy. Penampilan Lindy hari ini membuat naluri hero-nya bangkit dan dia tak ingin cowok lain melihat Lindy dengan penampilan yang super manis itu.


Lindy mengambil jaket itu dengan terpaksa.


"Benar-benar kendaraan antik untuk pergi ke negeri dongeng" celetuknya kesal sambil bercanda. Luki mentertawakan candaan itu sambil menyerahkan helm hitam dengan stiker tengkorak dibelakangnya. Lindy memutar bola matanya melihat stiker itu. Benar-benar hari yang buruk untuk memulai mode busananya. Tapi dia terlalu malas untuk berkomentar, dia memakai helmnya dan mulai naik.


"Pegangan rapunsel!" seru Luki tertawa sambil memencet starter dan memutar gasnya. Lindy kaget dan hampir terjungkal, ia menjerit dan tertawa sambil menarik baju Luki.


Perjalanan itu cukup jauh. Lindy merasakan bau laut diantara pohon-pohon yang di laluinya.


"Berapa lama lagi?"tanya Lindy setengah berteriak karena suara skuter Luki yang sedikit berisik.


"Hampir sampai!" jawab Luki ikut berteriak mengalahkan suara skuternya.


Tiba-tiba hujan turun di tengah perjalanan tapi Luki malah menambah kecepatan skuternya, Lindy makin erat menarik kaos Luki. Dan dalam lima menit Luki memakirkan skuternya di bawah pohon. Lindy turun dari skuter dengan basah kuyup.


"Udah sampai" kata Luki tersenyum dengan rambut basah karena hujan langsung menerjang rambutnya saat membuka helm.


Lindy memandang sekeliling. Dia mencium bau laut tapi tak ada tulisan sea world. Sepi... hanya ada rumah tua klasik peninggalan belanda.


"Yang mana?" tanya Lindy bingung.


"Yang ini" Luki menunjuk rumah tua itu.


"Apa!?" teriak Lindy tak percaya.


Luki terkekeh sambil berlari masuk ke rumah tua itu.


"Penipu !!!" teriak Lindy kesal mengejar Luki yang masuk ke rumah tua itu.


"Sinyo!" serunya senang.


"Oma!" panggil Luki sambil memeluk wanita tua itu. Lindy berhenti di pintu pagar. Otaknya mencari data di buku diarynya, juga mencari data di buku catatan Farah tapi dia tidak menemukan data nenek Luki.


"Ya ampun kalian basah kena ujan ya, ayo non cepat masuk!"


"Ya Oma" sahut Lindy pelan karena tak tahu harus memanggilnya apa.


Apakah aku pernah kesini?


Lindy mempertanyakan tempat yang sangat tak asing baginya. Deretan foto keluarga di dinding saat Lindy masuk menandakan dirinya pernah kesana. Sekilas ia melihat foto masa kecilnya ada disana.


Lindy mengeringkan rambutnya dengan handuk dan mengernyit melihat dirinya di cermin dengan mengenakan daster milik oma Luki yang kebesaran.


Lindy mengendus, hidungnya mencium aroma yang sangat dikenalnya di dekat jendela. Ia melihat rimbunan bunga putih yang harum berbaur dengan hujan. Lindy merasakan Déjà vu.


*Déjà vu : fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu.


"Disini toh non." suara oma yang lembut menyadarkan lamunannya.


"Iya oma, bunganya wangi sekali, itu bunga apa?"


"Oh itu gardenia, bunga kesukaannya oma. Oma inget dulu masih kecil Luki suka petik bunganya sampai habis, ga tau dibuat apa." ujar oma Luki yang bercerita sambil tersenyum mengingat tingkah cucunya dulu.


"Oh iya dimana Luki?" tanya Lindy baru ingat pada cowok yang ingin dihajarnya dari tadi.

__ADS_1


"Oh dia dibawah" jawab oma sambil berjalan santai kedapur.


"Bawah?" tanya Lindy bingung. Oma menunjuk papan kayu yang menutupi lantai di pojok ruang tengah.


"Itu pintunya buka aja non, sudah lama ga kesini lupa ya" ujar oma tertawa kecil.


"A..haha iya oma lupa" jawabnya sambil tertawa yang dibuat-buat.


Lindy membuka pintu bawah tanah itu dan melihat tangga kayu panjang. Sekejap dalam benaknya sebuah kenangan kembali. Ia melihat dirinya bolak balik menuruni tangga itu.


Diujung tangga dia melihat ruangan bawah tanah yang tertutup. Ruangan itu beraroma herbal dan aroma manis asinan bercampur dengan bau dendeng, banyak toples bumbu di rak kuno juga bahan-bahan makanan lainnya yang diawetkan.


Lindy berjalan terus menuju pintu kecil putih di ujung ruangan pintu itu masih sama seperti yang diingatnya, hanya saja catnya mulai mengelupas dimakan usia.


Lindy pelan-pelan memutar gagang pintu dan langsung memalingkan wajah saat hembusan angin pantai menerpa wajahnya dan membuat rambutnya melambai-lambai.


"Wah gaun ini lebih cocok untukmu"


Mendengar komentar tentang dasternya Lindy langsung menatap tajam empunya suara. Luki nyengir sambil memegang jagung bakar dan kipas di kedua tangannya.


"Sial..roasted corn.." (roasted corn \= jagung bakar)desah Lindy merasa ditipu lagi. Luki tertawa terbahak sambil menyodorkan jagung bakar yg selesai dibakarnya.


Luki tertawa dan di belakang wajah nakal itu hamparan pasir laut yang luas dan laut biru yang tenang. Hatinya berdebar.


Lindy mengambil jagungnya menepis perasaannya sambil duduk disebelah Luki. Mereka duduk di anak tangga teras dengan api unggun di depannya, jagung mulai kecoklatan diatas bara api.


"Kukira ini menu jagung di restoran seaworld" ucap Lindy kesal dan mulai menggigit jagungnya. Enak..Lindy tidak menyangka jagung bakar bisa seenak itu.


"Aku ga bohong kan cuman kamu aja yang nangkepnya salah" celetuk Luki tersenyum.


Lindy tersenyum kecut sambil mengambil jagung kedua. Meski perjalanannya gagal setidaknya dia bisa menikmati jagung bakar di tepi pantai. Tiba-tiba keheningan diantara mereka, matahari semakin tenggelam. Gemeletik bara api membuat suasana menjadi hangat.


"Kolam ikan.." Lindy berkata pelan, Luki langsung menoleh.


"Ah kamu..ingat ya" ujar Luki kaget ia bisa mengingat kejadian itu. "Sayangnya kolam itu sudah tak ada"


"Iya aku ingat, kita suka main disini ya?"


Luki mengangguk. Dalam hatinya jantungnya berdebar karena kenangan Lindy kembali karena ia membawanya ke rumah ini.


Karena orangtua mereka suka memancing mereka sering bertemu disini. Lindy menatap laut yang sering dilihatnya waktu kecil. Ia mendongak keatas dan melihat beranda teras atas rumah Oma tetap sama, pot kayu panjang yang penuh bunga krisan juga masih tergantung dipagarnya.


"Kita juga pernah makan jagung disini sambil melihat matahari terbenam seperti ini kan" ujar Lindy mengingat kembali kepingan-kepingan kenangan di tempat ini.


"Wah wah, lanjut! keluarkan semuanya!" ucapnya senang.


"Kita pernah bermain petak umpet di loteng dan bermain pesawat kertas disana" lanjut Lindy


"Yak betul, lanjut!" seru Luki senang sambil mengunyah jagungnya.


"Disini juga aku menyukai seorang anak nakal, dan dia cinta pertamaku"


Luki batuk.


Ia terkejut dengan ucapan teman masa kecilnya itu dan langsung menatapnya. Dan Lindy menatapnya balik dan tersenyum lembut.


Sebuah suara sayup-sayup terdengar dari atas. Suara Oma yang mengajak mereka makan terasa jauh.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2