Diary Puzzle

Diary Puzzle
Kejutan Manis


__ADS_3

"Sudah bangun?" seorang wanita cantik berumur sekitar empat puluhan berdiri di dapur sambil tersenyum menyapa Lindy.


Mama..?


Mata Lindy berkaca-kaca. Bayangan masa kecilnya yang sedang duduk di meja dapur menunggu makanan yang sedang dibuat oleh seorang wanita muda dengan rambut diikat kebelakang dan mengenakan celemek bermotif bunga. Dia sedang memasak sesuatu sambil mengumamkan lagu 'My sweet baby'. Bayangan itu terlintas begitu saja di kepalanya.


Bayangan itu persis seperti wanita yang sedang berdiri di depanku saat ini.


Lindy sudah bisa menebak siapa wanita itu.


"Pagi tante Elena" ujar Lindy tersenyum. Tante silvia adalah ibu Luki, wanita berpenampilan menarik dan anggun itu agak mirip dengan Luki.


"Hai Lin lama ga ketemu" ujarnya sambil memeluk Lindy.


Mereka berbincang di bar dapur sambil meminum teh buatan tante Elena.


"Tante kira kamu lupa tante, tante dengar kamu datang dan baru sempat mampir kesini lihat kamu. Ternyata kamu sudah besar ya" ujar tante Elena menyentuh pipi Londy lembut.


Sebenarnya Lindy lupa namanya. Catatan Farah sangat membantunya mengenali orang-orang terdekat.


Helena Olivia (tante Elena), Ibu Luki. Cantik, tinggi, langsing dan selalu berbusana anggun. Rambutnya ikal coklat panjang. Agak mirip dengan Luki.


"Kau mirip banget dengan Rina" ujarnya. Belinda Katharina adalah nama Ibu Lindy. Dan Elena sahabat ibunya dari kecil.


"Ya, semua yang mengenal mama berkata seperti itu." jawab Lindy tersenyum senang.


Elena memeluknya erat.


"Aku turut sedih, kau besar tanpa mamamu. Tapi aku senang kau tumbuh dengan baik"


Lindy ingin sekali mengatakan sebenarnya dibalik dirinya sekarang ada perjuangan ayahnya yang selalu memberikan terbaik untuknya.


Elena mengusap air matanya dengan kain. Lindy hampir tersedak karena geli ketika mengenali kain itu ternyata kain lap dapur.


"Tante masak apa, kayaknya udah mendidih" tanya Lindy sembari menunjuk panci yang mendidih dan penuh uap.


"Oh, ya Tuhan lupa aku" jerit tante Elena terkejut dan berlari mematikan kompor.


"Aku masak sup ayam, aku sudah telepon papamu bahwa tante yang akan urus kamu"


"Kurasa papa terlalu khawatir. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Hanya karena aku sempet pingsan papa membuat repot tante" ujarku tak nyaman dengan perlakuannya yang terlalu baik.


"Tenang aja, di rumah tante sudah ada pembantu. Orang rumah pada gak suka kalo tante yang masak, ya udah tante masak disini aja"


Lindy menyendok sup ayam yang disodorkannya dan terdiam. Lindy tidak heran Luki dan ayahnya tidak menyukai masakannya. Sup itu sama sekali tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.


"Enak kok " ujar Lindy memujinya tidak tega padanya yang bersusah payah masak untuknya.


Tante Elena senang Lindy memujinya. Dan menyendok sup dan menambahkan di mangkok Lindy.


"Habiskan ya, masih banyak" ujarnya berseri-seri.


Lindy terpaksa tersenyum. Lalu berjuang menghabiskan sup itu lagi.

__ADS_1


Hari ini Farah ada kelas, begitu juga Luki dan Daniel. Lindy merasa sedikit kesepian, padahal ia sudah terbiasa sendiri di luar negeri.


Lindy mengobrol lama dengan tante Elena. Soal liburannya dan sekolahnya juga keadaan ayahnya yang super sibuk.


"Kudengar disini banyak festival ya te" tanya Lindy sambil membantu Elena mencuci piring.


"Betul betul, banyak sekali kemarin lampion dan dua hari lagi ada festival kembang api dan akhir bulan agustus ini festival bunga. Banyak pawai dan tante buka stand juga. Kamu harus melihatnya, datanglah bersama Luki"


"Iya tante mungkin aku datang bersama Farah." seperti menjelaskan padanya bahwa mereka tidak ada hubungan apa-apa.


"Loh kok ga sama Luki? bukannya kalian sudah tunangan?" ujarnya tersenyum menggodaku.


"Tante juga tahu ya, ternyata itu memang ada ya kukira itu gurauan."


"Waktu itu Luki dan kamu masih kecil tujuh tahun kalo ga salah. Pulang dari rumah si Miriam, Luki bilang ke tante kalo dia sudah menikah denganmu." kata Elena bercerita sambil tertawa.


Lindy bertanya-tanya kenapa kejadian itu tidak ada di diary.


"Lalu tante bilang karena kalian masih kecil dan belum boleh menikah tapi boleh bertunangan jadi sejak hari itu kau menjadi tunangan kecil Luki." celotehnya senang seperti mendapat menantu.


"Ah.. begitu." ujar Lindy. Lindy agak sedih sih karena statusnya disini bukan jomblo lagi.


Kenapa harus Luki?


......................


Akhirnya Lindy bebas dari tante yang suka menggodanya. Dengan alasan buang sampah dia pergi dengan selamat.


Ibu dan anak sama saja pikir Lindy.


"Daniel?" ujarnya terkejut.


Sial. Kenapa dia harus menghadapi Daniel dengan masih memakai piyama dan seonggok kantung sampah di tangannya. Benar-benar parah.


"Halo Lindy, wah piyama yang manis" ujarnya tersenyum menatap piyamanya yang bermotif kelinci. Lindy tersipu meski dia tidak tahu apa itu pujian tau sindiran tapi tetap saja Daniel selalu berkata dengan manis membuat semua gadis salah paham.


Untung aku membawa piyama yang kubeli di new york tahun lalu.


"Ada apa, kau belum berangkat?" tanya Lindy padanya.


Daniel mengangguk.


"Kemarilah!" ujarnya.


Lindy mendekat.


Terdengar suara kecil. Suaranya mirip bayi alien yang menangis.


"Suara apa itu?" tanya Lindy.


Daniel mengeluarkan kotak kardus kecil dari semak-semak depan pagar.


"Nih, untukmu" ujarnya menyerahkan kardus itu.

__ADS_1


"Untukku?" tanya Lindy tak percaya.


Lindy menaruh kantong sampah dan menghampiri kotak yang dipegang Daniel dan melongok isinya.


Dari dalam kotak muncul makhluk kecil menggemaskan berbulu putih dan mengeong dengan keras.


"Ya ampun lucunya." serunya mengangkat kucing kecil itu.


"Aku memungutnya, aku kira dia akan cocok bersamamu, aku tidak bisa memeliharanya karena mamaku alergi bulunya." Daniel menjelaskan sambil menyodorkan pada Lindy.


"Makasih ya, ini hadiah terlucu yang pernah kuterima" kataku senang sambil mengelus kucing kecil itu.


"Baguslah kau suka" ujarnya tersenyum melihat sisi lain dari Lindy saat bermain bersama kucing. Ekspresinya menggemaskan. Lebih menggemaskan dari kucing kecil itu. Membuat Daniel ingin memeluknya dan membuatnya tidur di pangkuannya.


"Tentu saja suka , dia manis" ujar Lindy senang sambil mengelus-ngelusnya.


"Ya kau benar sangat.. manis" ujar Daniel terbata pelan membuatku menoleh. Daniel menatap Lindy tanpa berkedip. Tatapannya aneh.


"Siapa namanya" tanya Lindy mengalihkan suasana.


"Kau saja yang beri nama, kan udah jadi milikmu" jawabnya.


"Mmmm..apa ya 'centil' ?" ujarku. Daniel tertawa.


"Dia emang centil ya" ujarnya.


Lindy mengangguk sambil tertawa.


"Kau pergilah nanti terlambat, aku akan mengurusnya" ujar Lindy mendorong bahu Daniel.


Daniel memeriksa jam tangannya dan terkejut.


"Kau benar, aku harus pergi nih"


Lindy melambaikan tangan pada Daniel seperti istri yang mengantar suaminya.


"Daniel thank you!" kata Lindy sambil melambaikan tangan.


Daniel berbalik dan tersenyum dan memberi isyarat 'ok' padanya.


****


Lindy menatap Daniel yang sudah jauh, dia menggendong si Centil dan berbalik.


Lindy terkejut melihat Luki menatapnya tajam dan sedikit kesal. Tangannya terkepal.


...****************...


Dear Reader,


Aku berharap bisa update banyak bab baru.


Aku masih berusaha meluangkan waktuku untuk menulis.

__ADS_1


Tunggu terus kelanjutannya. Terima kasih ♡


__ADS_2