
Bagas memberikan sebuah paper bag kepada Reina, Reina bingung apa lagi yang Bagas berikan kepada nya semakin Bagas membelikan ini dan itu Reina semakin tak enak hati sudah cukup dengan Bagas membantu nya ia tak ingin menjadi tak tau diri dengan pemberian pemberian Bagas yang bermacam macam.
Reina membuka paper bag itu dan terkejut lagi dengan isi nya, Reina melihat ponsel model terbaru dan ia tau pasti ponsel merek itu harga nya mahal sekali.
"Untuk kamu, buat ganti handphone kamu yang rusak karna aku"ujar Bagas.
Reina kembali menutup kotak hp tersebut dan kembali menyodorkan nya ke Bagas kembali
"aku gak terlalu butuh ini gas"ucap Reina kepada Bagas
"No no ini aku kasi buat anak kamu bukan kamu... Biar kalo ada apa apa kamu bisa telfon aku atau yang lain nya"tolak Bagas dan kembali menyerahkan ponsel itu kembali ke Reina.
Sepuluh menit mereka ber dua berdebat dan Bagas tetap menjadi pemenang debat itu , yang menjadikan Reina menerima pemberian ponsel yang Bagas berikan dan Reina yang kembali mengucapkan terima kasih kepada Bagas yang entah sudah yang keberapa kali nya ia ucap kan.
Makanan mereka pun datang dan mereka ber dua makan dengan tenang mengisi tenaga yang hilang sehabis debat ponsel tadi, Bagas memesan spaghetti carbonara dan americano untuk dia dan steak daging sapi serta jus apel untuk Reina.
"Kamu Masi mual mual ?"tanya Bagas membuka topik bicara.
"Semenjak obat yang di kasih dokter udah mendingan gak separah kayak perjalanan ke sini waktu itu"jelas Reina.
"Kamu gak kerja?"tanya Reina balik kepada Bagas.
"Hari ini Masi cuti...besok baru masuk" jelas Bagas
Dan mereka ber dua berbincang bincang dengan topik topik yang lain sambil memakan makanan masing masing dengan tenang sampai selesai dan Bagas pulang dari cafe sedang kan Reina kembali melanjutkan pekerjaan nya tadi.
SKIP 8 bulan kemudian....................
__ADS_1
Bagas berlari dengan secepat mungkin dari ruangan tempat nya bekerja ke ruangan persalinan setelah ia mendapat kabar dari Adel bahwa Reina akan melahirkan dan Reina sudah pecah ketuban saat Masi di rumah.
Ya Reina tinggal di rumah keluarga Abimanyu sejak usia kandungan nya memasuki bulan ke 8 karna permintaan dari Desi Abimanyu ibu Bagas, para suster suster dan dokter yang lain terlihat bingung dengan Bagas yang berlari di lorong rumah sakit.
Saat sampai di depan ruangan persalinan sudah ada mama papa dan adik nya mereka baru sampai dan menunggu penjelasan sang dokter baiknya Reina melahirkan normal atau operasi.
Dokter keluar "Bu Reina bilang ia ingin melahirkan normal, posisi bayi nya bagus dan seperti nya Bu Reina Masi kuat jadi tak perlu harus operasi"begitu jelas Riri sang dokter yang akan membantu persalinan Reina.
"Jadi siapa yang akan menemani ibu Reina melahirkan?"tanya sang dokter karna ia tak melihat laki laki lain selain pemilik rumah sakit ini , ia juga tahu Bagas rekan kerjanya itu belum menikah jadi di mana suami dari pasien nya ini.
Para keluarga Abimanyu saling menatap satu sama lain, Desi (mama Bagas)menatap Faisal, Faisal menatap Adel (adik Bagas), dan Adel yang menatap Bagas Abang nya.
Desi(mama Bagas)dan Adel adik nya punya kesamaan yaitu takut akan darah jadi gak bisa menemani Reina melahirkan sedangkan sang papa? Ia sudah menikah,Tak pantas jika menemani Reina takut nya nanti timbul rumor rumor yang buruk dan pilihan tersisa Bagas, ia belum menikah jadi jika nanti ada rumor rumor buruk diri nya dengan Reina keluarga nya tak apa karna mereka tau.
"gas.."bisik mama nya pelan sambil melotot ke arah nya
Bagas terkejut dan menunjuk diri nya sendiri sambil bertanya kepada keluarga nya itu "aku?.."ucap Bagas dan di balas anggukan dari keluarga nya itu.
"saya yang akan menemani nya"ucap Bagas akhir nya mengajukan diri.
Desi sang mama tersenyum melihat tindakan anak nya ia tak mempermasalahkan persoalan ini, ia tau Reina sangat butuh di temani Desi malah merasa bersalah karena tak bisa menemani Reina.
Bagas berjalan masuk ke ruang persalinan, Reina terkejut yang datang menemani nya itu Bagas bukan mama Desi atau Adel, ia tak ingin ambil pusing karna rasa sakit nya sudah ke Ubun-ubun.
Bagas berdiri di samping ranjang dengan Reina yang sudah siap untuk berjuang melahirkan , ke dua tangan Reina memegang tangan kanan Bagas.
"sudah siap...tarik nafas..buang...1..2..3 dorong.." ujar dokter
__ADS_1
Reina berteriak dengan keras sekali pegangan tangan nya menjadi kuat pada Bagas, sedang kan tangan kiri Bagas terangkat mengusap kepala Reina .
di luar ruangan pun Faisal papa Bagas, Desi mama nya dan Adel adik nya pun mendoakan keselamatan Reina dan bayi nya mereka berdoa dengan tulus.
Bagas yang hanya melihat Reina pun tahu betapa sakit nya Reina saat ini , keringat bercucuran di kening Reina tangan Bagas tak henti mengusap kepala Reina.
sang dokter terus mengulangi perkataan nya yang tadi dan Reina kembali berteriak berjuang untuk mengeluarkan bayi nya, sudah 20 menit Reina berjuang
.
"AAAAAAAAAAAAAAAA........" teriak paling keras Reina akhir nya.
dan "oekk oek..oek..oek.."terdengar suara tangis bayi yang nyaring
akhir nya setelah berjuang 20 menit seorang bayi laki laki yang ia tunggu tunggu pun lahir di dunia ini, Reina kembali menetes kan air mata nya sambil tersenyum.
dan Faisal , Desi dan Adel yang juga mendengar tangisan bayi dari dalam ruangan pun mengucap syukur berkali-kali.
sang dokter mengangkat bayi yang berjenis kelamin laki laki itu dan memberikan pada suster untuk di bersihkan dan mengecek tubuh sang bayi, sedang kan yang lainnya membantu membersihkan Reina .
tanpa di sadari Bagas menetes kan air mata nya, ia merasakan perasaan campur aduk antara lega, terharu dan bahagia melihat bayi Reina yang baru saja lahir meski bukan anak nya sendiri ia tetap merasa kan perasaan tersebut.
sang suster menimbang, mengukur tinggi, menghitung jumlah jari dan mengecek bagian bagian lainnya dari bayi tersebut.
bayi berjenis kelamin laki-laki itu memiliki berat 2,8 kg , tinggi 50,4 cm dan tak ada yang kurang dan lebih tubuh nya sempurna tak ada kecacatan.
setelah selesai di bersihkan dan di periksa bayi nya sang suster memberikan bayi laki laki itu kepada Bagas untuk di gendong nya.
__ADS_1
Bagas menerima dan menggendong bayi Reina ia sempat terlena melihat anak itu sedetik kemudian ia sadar dan mendekatkan wajah nya ke telinga sang bayi dan mulai mengumandangkan adzan.