
"Umi… Umi… Budi pulang, Umi.”
Tubuh yang rapuh itu tersentak oleh suara yang tidak akan pernah asing baginya. Rona wajahnya yang mulai pucat pasi itu, seketika membuka matanya dengan sayup.
"Ehh.. Budi, sudah selesai sekolahnya?”
Ya.. Dialah Budi. Hatinya kokoh layaknya sebuah pilar yang terbuat dari baja. Bersikap tenang seolah-olah semuanya akan baik-baik saja, meski indranya selalu saja terus menerus bergejolak. Berulang kali berupaya meruntuhkan keagungan dari sang pilar Baja.
"Iya, Umi… Ujian Budi yang kemarin dapat nilai Aa.”
Tangan yang berpeluh dingin itu mengepakkan sehelai kertas. Namun jauh di dasar hatinya sangat berharap bahwa sehelai kertas itu akan dapat mengubah kondisi ibunya.
Tubuh yang lemah itu berupaya sekuat tenaga mengangkat tangannya demi menggapai wajah seorang anak manusia yang telah mewarnai dunianya. Dengan senyuman yang penuh ikhlas, tangannya mengusap rambut itu dengan penuh kelembutan.
“Anak Umi memang pintar.”
Tangan yang lemah itu mulai mengusap pipi anak yang masih lugu itu dengan segenap kasih sayang.
"Budi..”
Budi yang mulai bimbang hanya bisa mendekap sentuhan kasih sayang ibunya.
Senyuman yang tidak tergoyahkan itu, kini telah menerima pertanda dari sang Maha Pencipta. Dengan nada nan lembut, wanita yang berkaruniakan kasih sayang itu mengucapkan salam untuk perpisahan.
"Budi.. Maafkan Umi, ya..”
Seketika anak manusia itu terdiam membisu. Kesadarannya berefleksi untuk menahan distorsi. Sungguh, Pernyataan itu telah membuat jiwanya berupaya menyelam ke masa lalu hanya demi memungut kepingan-kepingan warna yang tersisa.
Angin yang lembut masuk dari celah-celah kaca, serta melambungkan sutra. Aroma yang panas berganti dengan kesejukan. Dekapan lembut itu kini mulai melemah, dengan perlahan mata itu kini menjadi sayup, sayup, dan semakin sayup. Hingga akhirnya hanya menyisakan sebuah senyuman yang terlihat begitu mempesona.
Ya… Kini, jiwa yang tenang itu telah memudar menjadi cahaya yang indah. Melesat menembus ruang dan waktu menuju ke sisi-Nya. Wahai jiwa yang pengasih dan penyayang, sungguh beruntungnya dirimu.
Anak manusia itu kini telah menyadarinya. Dengan perlahan ia mengembalikan dekapan ibunya. Namun raganya mulai tidak kuasa untuk menahan gejolak. Nafasnya mulai tersengal-sengal, jantungnya berdebar-debar, dan matanya mulai berkaca-kaca. Kini ia melihat ibunya terbaring dengan senyuman yang manis.
Dug... Dug... Dug... Terdengar suara langkah kaki yang mendekat secara perlahan. Dengan segera, Budi berupaya untuk menstabilkan dirinya.
Dari depan pintu kamar yang terbuka, berdirilah seorang pria tua nan bijak dengan tangan yang tersimpul ke belakang tubuhnya. Ia seketika mengetahui apa yang telah terjadi dan kemudian pandangannya berpindah ke arah jendela dengan pandangan yang jauh seakan-akan pandangan tersebut telah menembus celah-celah langit dari masa lalu.
Budi mulai sedikit menguasai dirinya. Ia memberanikan dirinya untuk menghampiri si pria tua itu.
Budi: "Datuk, Umi baru saja tidur.”
Datuk: "Ya.. Umi sudah tidur. Umi itu sudah Datuk anggap seperti anak sendiri. Dan kamu cucu kesayangan Datuk.”
Budi kembali mulai kehilangan kuasa dirinya. Tangan yang lusuh itu kemudian menggapai pundak anak manusia yang berupaya sekuat tenaga untuk tegar itu.
Datuk: "Kamu sudah tahu situasinya, kan?”
Budi dengan segera mengusap matanya yang kembali mulai berkaca-kaca. Ia hanya mengangguk atas ucapan pria tua tersebut.
Datuk: "Cucu Datuk benar-benar hebat.” (Sambil mengusap-usap kepala Budi.)
"Ada banyak hal yang membuat manusia terikat dengan dunia ini. Sebegitu terikatnya, sampai-sampai mereka lupa atau bahkan dengan sengaja lupa bahwa waktu akan menggiring mereka menuju perpisahan."
Datuk: "Kamu akan tahu kebenaran tentang Umi jika sudah sampai pada waktunya. Jadi, teruslah menjadi kuat.”
Pria tua itu kemudian beranjak pergi. Seakan-akan ia telah meninggalkan bayangan sebilah kunci untuk menemukan sebuah misteri yang hanya bisa dibuka dengan kekuatan dari masa depan.
Setelah memasang bendera kuning di depan pagar rumah, pria tua itu memanggil-manggil anaknya yang sedang mencuci di sungai kecil di sebelah rumah.
Datuk: "Mina..! Minaaa..!”
Mendengar hal itu, Mina dengan sigap memenuhi seruan ayahnya tersebut.
Mina: "Iya, Ayah.. Ada apa, Ayah?”
Mina tersentak melihat bendera kuning yang terpasang di depan rumahnya dan seketika itu juga ia langsung menyadari hal yang baru saja terjadi.
Mina: "Budi gimana, Ayah?”
Datuk: "Dia sudah pulang sekolah, sekarang ada di kamar Uminya.”
Mina: "Aduh Ayah, kenapa ditinggal..? Orang lagi sedih kok ditinggal?”
Datuk: "Karena dia kuat, makanya ditinggal. Biarkanlah dulu, dia berlama-lama dengan Uminya.”
Mina hanya bisa diam dengan membenarkan hal tersebut.
Datuk: "Kamu tunda dulu nyucinya. Sekarang kamu pergi ke Pos, panggil si Abas dan yang lain untuk secepatnya menemui Ayah di surau. Setelah itu kamu kosongkan ruang tamu, pindahkan ke halaman saja.”
Mina: "Baik, Ayah.. Mina pergi dulu.”
Tanpa panjang lebar mereka bergerak meninggalkan rumah dengan langkah pasti. Meski dalam hati merasakan berat untuk meninggalkan Budi dalam kondisi yang seperti ini.
Dari kejauhan terlihat Mina dengan langkah kaki yang cepat menuju Pos.
__ADS_1
Muis: "Bos.. Mina, Bos.”
Abas: "Wah.. Kebetulan, bisa dapat kopi gratis.”
Ujang: "Sekalian camilannya juga, Bos.”
Mina sampai ke Pos dengan nafas yang cukup tersengal-sengal.
Mina: "Bang Abas.. Ayah suruh pergi secepatnya ke surau. Bang Muis sama Bang Ujang juga.”
Abas: "Waduh, kirain dapat kopi gratis.”
Mina: "Iya, nanti ada kopinya. Tapi sekarang Bang Abas temui Ayah dulu.”
Muis: "Wah.. Ada kejadian apa, Dek? Kok serius begitu?”
Mina: "Iya, Bang.. Uminya si Budi baru saja meninggal.”
Abas dan kawan-kawan hanya bisa berucap dengan pelan sembari terkaget. Abas dengan spontannya langsung memberikan instruksi kepada Ujang dan Muis.
Abas: "Muis.. Kamu segera ke gudang desa, ambil kursi. Ambilnya yang banyak. Ujang, kamu ke warung Ibu Sophia. Cari orang-orang yang mau bantu gali kubur.”
Ujang: "Wah.. Tumben encer, Bos?”
Abas: "Sudah, kamu nggak usah ngeledek. Ini sudah kewajiban kita. Uminya Budi itu jasanya banyak, sering bawain minuman sama camilan ke kita. Ayo, mulai bergerak.”
Muis dan Ujang: "Laksanakan, Bos! Siap, Bos!” (Memberi salam hormat.)
Mereka semua bersegera meninggalkan Pos menuju tujuan mereka masing-masing.
Dilain sisi, Datuk dengan pengeras suara memberikan pemberitahuan kepada masyarakat.
"Innalillahi… Telah berpulang ke Rahmatullah anak kami yang ber… …”
Dari depan surau, Abas telah duduk di teras sembari menantikan Datuk menyelesaikan pemberitahuannya. Sekeluarnya Datuk dari surau, ia cukup kaget melihat kehadiran Abas yang telah menunggu di luar.
Datuk: "Tumben, cepat?”
Abas: "Oh, iya dong Pak Wali. Situasinya sekarang Darurat Sipil, Pak Wali.”
Datuk: "Kamu ini ngomong apa? Darurat Sipil Darurat Sipil nggak jelas. Si Muis sama si Ujang ke mana?”
Abas: "Oh, tadi sudah saya suruh ambil kursi sama cari orang buat gali kubur, Pak Wali."
Datuk: "Nah, tumben encer?”
Datuk: "Kamu jadi tim gali kubur. Selesaikan sebelum Ashar, kira-kira dua jam lah itu.”
Abas yang terlihat penuh semangat dan begitu antusias itu pun memberi saran kepada Datuk.
Abas: "Satu jam, Pak Wali.”
Datuk: "Wah, bagus. Makin cepat makin… ...”
Abas memotong perkataan tersebut.
Abas: "Kalau ada minum sama camilannya, Pak Wali. Dobel, Pak Wali.”
Datuk: "Wah, kamu ini.. Mau ngegosip, apa mau gali kubur?”
Abas: "Ya.. Gali kuburlah, Pak Wali. Sambil ngegosip dikit-dikit.”
Datuk: "Terserah kamu sajalah, nanti biar si Mina yang antar ke situ.”
Abas seketika membusungkan dada dan menyahut sembari berpose salam hormat.
Abas: "Siap! Ndan!!”
Datuk pun hanya bisa geleng-geleng kepala sembari meninggalkan tempat tersebut.
Hari pun menjelang sore, orang-orang yang tadinya berkumpul di atas liang lahat yang masih basah, kini beranjak menghilang satu demi satu. Yang tersisa hanyalah mereka-mereka yang mendapati diri mereka terlilit dengan tali yang amat kuat. Budi hanya bisa terdiam menatapi batu nisan dengan tatapan kosong, seakan-akan jiwanya lepas dan berupaya meraba-raba langit, berharap bisa menemukan celah-celah dimensi untuk dapat mendistorsi waktu.
"Budi… Budi… Budi…”
Jiwa yang malang itu kembali dengan paksa. Kepalanya mendongak dan mencari titik suara.
"Iya, Budhe…”
Seorang wanita paruh baya itu berkata dengan mengibakan wajahnya.
Budhe: "Budi.. Yang tabah, Budhe turut prihatin. Umi kamu itu orangnya jujur, jasanya banyak buat Budhe. Jadi jangan sedih, nanti Umi mu bisa-bisa juga ikutan sedih. Direlakan ya Bud… Kamu jangan khawatir, masih ada Budhe.”
Dengan sedikit kekuatan, Budi berupaya mengangkat senyuman dari ekspresi wajahnya yang datar.
Budi: "Enggak kok Budhe, Budi sudah nggak sedih lagi. Barang kali Umi sekarang sudah ketemu sama Abi.”
__ADS_1
Seketika perasaan wanita paruh baya itu meledak-ledak. Ia mengusap kepala anak itu dengan lembut.
Budhe: "Duh, Budi… Kamu ini kok kuat sekali? Budhe jadi kepingin adopsi kamu. Kamu tinggal di rumah Budhe saja, ya? Budhe bisa bantu penuhi kebutuhan kamu.”
Datuk yang merasa waswas berupaya menyingkirkan tangan wanita paruh baya itu dan mendekap Budi dengan seketika.
Datuk: "Ini cucu aku!”
Mereka-mereka yang tinggal seakan-akan bersiap dengan pertarungan mental antara keduanya. Dan perdebatan alot pun dimulai.
Budhe yang keheranan mencoba untuk melakukan interupsi terhadap hal tersebut.
Budhe: "Wah, sejak kapan kamu punya cucu. Si Mina kan masih kuliah? Belum nikah malahan.”
Datuk: "Iya, si Mina belum nikah… Makanya dia ini cucu aku.”
Budhe: "Loh, logika macam apa itu. Kalau belum waktunya dikasih cucu, ya… Nggak usah punya cucu. Kamu kan Wali Desa, jadinya kan nggak punya banyak waktu buat ngurus cucu.”
Budhe mendominasi pertikaian tersebut. Orang-orang yang tadinya putih seakan-akan digiring untuk menjadi biru.
Datuk: "Ehh, Lena.. Meski aku ini Wali Desa, pasti ada lah waktu buat dia. Lagi pula dia ini sudah bisa mandiri, dia bisa-bisa jadi risi kalau dimanja-manja sama kamu.”
Budhe: "Aku ini kan sosok seorang Ibu.. Ya, wajar dong dimanja. Nggak kayak kamulah, yang bisanya cuma sok ngatur-ngatur.”
Datuk: "Harus diaturlah.. Kan liat sendiri buktinya, sekarang dia bisa kuat dan mandiri. Lagian, yang kasih makan itu aku, yang sekolahin itu aku, yang kasih jajan itu aku.”
Budhe: "Huuu.. Orang pelit kayak kamu ngaku-ngaku punya jasa besar. Kalau ngasih makan mah sudah sewajarnya, malahan aku bisa bikinkan camilan juga. Apalagi sekolah, kalau dia mau, bisa aku daftarkan ke pesantren swasta yang baru buka di kota itu. Aku malahan jadi iba kalau sama kamu, masa tiap hari cuma dikasih kuniiiing terus.. Kuniiiiiiing terus. Makanya aku sering titipkan ke Uminya jajan tambahan biar tidak ketularan pelit kamu.”
Datuk tersentak dan tingkahnya seolah-olah mengisyaratkan agar Budi mengungkapkan bukti.
Wajah yang datar itu kemudian memancarkan cahaya dengan senyuman lugunya.
"Hhmm hhmm… Seratus.”
Jedddeer!!!
Seketika Datuk menjadi putih membatu seakan-akan tersambar petir yang amat dahsyat. Orang-orang yang tadinya biru, kini bergemuruh dan seakan-akan mereka bersedia dengan suka rela jika diminta untuk mendukung di garis terdepan.
Budi: "Budi benar-benar berterima kasih sama Budhe, sama Datuk, dan juga yang punya hubungan baik sama Umi. Karena Budi masih bisa diterima di sini meski Umi sudah nggak ada. Sebenarnya Umi pernah bilang untuk selalu patuh sama Datuk… …”
Datuk yang tadinya membatu, perlahan-lahan mulai meleleh dan kembali memunculkan warna-warna bercahaya.
“… Jadi, Umi mungkin suruh aku tinggal sama Datuk saja. Tapi sebenarnya, aku senang dapat jajan lebih banyak dari Budhe dibandingkan Datuk.”
Jedderrr!!!
Datuk seakan-akan kembali menjadi batu hitam nan gosong.
Budhe: "Oh.. Kalau itu pesannya Umimu, Budhe ya, setuju-setuju saja. Tapi tetap, kalau kamu butuh apa-apa, rumah Budhe selalu terbuka buat kamu.” (Sembari kembali mengusap-usap kepala Budi.)
Budi: "Iya, Budhe.. Terima kasih banyak.”
Budhe: "Iya.. Kalau begitu, Budhe pamit pulang dulu ya. Kamu yang rajin ya, nanti biar Budhe tambahin jajannya jadi warna ijo. Biar nggak bosan sama kuning-kuning terus.” (Sembari menatap tajam ke arah Datuk.)
Jedddeeerrrr!!!
Datuk lagi dan lagi merasa seperti tersambar petir.
Budi: "Iya, Budhe.. Meskipun Datuk bisanya cuma kasih jajan segitu, nggak apa-apa.”
Jeddeeeer!!!
Budhe pulang dengan pamornya yang begitu kuat. Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan area pemakaman. Yang tersisa hanyalah Abas beserta anggotanya.
Abas: "Pak Wali.. Saya turut prihatin. Saya tetap dukung Pak Wali, kok. Meski selalu saja kalah telak kalau debat sama Ibu Juragan.”
Jeddeerrr!!!!
Abas dan kawan-kawan pun kemudian berlalu. Hingga yang tersisa hanyalah mereka berdua. Datuk terlihat sedang mengatur nafasnya yang tersengal akibat dari serangan bertubi-tubi dari perdebatan tadi.
Datuk: "Bud.. Pelajaran yang harus kamu ambil dari pembicaraan tadi adalah, wanita biasanya lebih cenderung menggunakan rasa dan mengesampingkan akal dalam hidup. Tapi, lain kasus dengan si peyot barusan.. Dia itu sudah mengalami evolusi, sudah menggunakan keduanya secara bersamaan. Kalau diajak debat, tamat sudah. Tapi di desa ini, masih ada orang yang lebih dahsyat lagi dibanding si peyot itu.”
Budi mulai menunjukkan gejala ketertarikannya untuk hal tersebut.
Budi: "Siapa itu, Datuk?”
Datuk: "Kamu lihat pondok kecil di atas bukit itu, kan? Dia itu Rajanya Rasa. Saking pekanya terhadap rasa, sekali berucap saja masalah jadi beres.” (Sembari mengarahkan telunjuknya ke arah bukit yang tidak jauh dari tempat mereka berada.)
Budi hanya mengangguk-angguk meski belum memahaminya.
Budi: "Siapa itu, Datuk?”
Datuk: "Orang-orang di desa semua memanggil beliau dengan sebutan Inyang.”
Rasa ingin tahunya menuntun pandangannya ke arah bukit. Bak harta karun yang masih tertutup rapat dan berharap untuk segera membukannya.
__ADS_1
Datuk: "Nah, Bud.. Sekarang sudah mulai petang. Mari kita pulang.”