
Aku bukanlah sang raja penguasa yang bertahtakan singgasana di langit dunia.
Aku hanyalah sebongkah batu yang terlempar dengan membawa pesan-pesan hikmah.
Aku bukanlah sang raja pencipta yang bisa dengan mudah memutar balikkan dunia.
Aku hanyalah sebatang kayu yang tertanam dengan berlapiskan kain-kain di tengah sawah.
Tok tok tok.. (Suara ketukan pintu.)
Law: "Masuk."
Seorang pria yang terlihat berpakaian elegan datang menghadap kepada Law.
Law: "Ling, kemarilah.. Bisa tolong atur ulang agendaku?" (Memanggil.)
Link: "Baik, Tuan Muda. Segera akan saya kerjakan." (Mendekati Law dan mengambil cangkir kosong di atas meja.)
Law: "Terima kasih, ya."
Pelayan tersebut terus saja diam di dekat Law
Law: "Ada apa lagi?"
Link: "Baik, Tuan Muda.. Dokumen-dokumen yang Tuan minta sudah saya siapkan di ruang kerja."
Law: "Baiklah.. Aku akan segera ke sana."
Link: "Baik, Tuan Muda. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Pelayan tersebut berlalu meninggalkan Law. Kini hanya tinggal ia dan keheningan. Tatapannya yang jauh keluar jendela membuatnya bergumam dalam hati.
"(Ayah.. Seperti apakah ekspresi Ayah jika menangis?)"
Law kemudian masuk ke ruang kerjanya. Di atas meja telah berjejer rapi tiga buah dokumen yang masih tersegel dengan kuat. Dengan segera ia duduk di kursi kehormatannya agar dapat segera membuka dan mempelajari semua isi dokumen tersebut.
Law: "Kerja bagus, Ling.. Sekarang beri aku waktu untuk mempelajari dokumen ini."
Link: "Baik, Tuan Muda." (Sembari menuangkan teh ke cangkir yang terletak di bagian pinggir meja tersebut.)
Law: "Hari ini, kamu kuliburkan." (Membuka bungkusan dokumen.)
Link: "Baik, Tuan Muda." (Berdiri di samping Law.)
Waktu berjalan cukup lama..
Law: "Kamu kenapa masih di sini?"
Link: "Saya lebih suka menemani Tuan Muda bekerja. Barangkali saya bisa menyiapkan kebutuhan Tuan Muda jika diperlukan."
Law: "Mentalmu jangan mental budak begitu. Kalau libur, ya libur."
Link: "Baik, Tuan Muda. Saya akan berlibur."
Waktu berjalan cukup lama..
Law: "Kamu kenapa masih di sini?"
Link: "Saya sedang berlibur, Tuan Muda."
Law: "Kalau libur itu maksudnya, nongkrong ke mana, pergi ke warung mana, ke pasar mana, ke pantai mana. Lah, kamu malah masih di sini."
Link: "Melihat Tuan Muda sedang bekerja merupakan hiburan tersendiri bagi saya pribadi."
Law: "Tidak Ling.. Aku butuh konsentrasi tinggi. Keberadaanmu di sini bisa mengganggu dunia dua puluh tahun yang akan datang."
Link: "Baiklah Tuan Muda.. Kalau begitu, saya permisi."
Waktu terus bergerak maju. Hari-hari pun terus berganti. Law terus saja mengurung diri di ruangan kerjanya. Ia sesekali membuka pintu ruangan meski hanya sekedar mengambil makanan yang telah disediakan Link di depan pintu ruangan tersebut.
Sampai pada akhirnya, setelah berlalu beberapa hari, di pagi yang cerah Link melihat pintu ruangan tersebut terbuka lebar dan ia menyegerakan diri untuk mencari tahu situasi Law. Link hanya bisa tersenyum menyaksikan Law tertidur lelap di atas sofa dengan begitu banyak kertas yang berserakan di lantai ruangan tersebut. Dengan segera ia merapikan kembali ruangan tersebut dan tanpa sengaja membangunkan Law.
Link: "Selamat pagi, Tuan Muda."
Law: "Ling.. Sekarang jam berapa?"
Link: "Jam sembilan kurang sepuluh menit, Tuan Muda."
Law: "Tiga jam sepertinya sudah cukup. Ling.. Siapkan kamar mandiku."
Link: "Baik, Tuan Muda. Segera akan saya siapkan."
Law: "Maaf, ruangannya jadi berantakan begini."
Link: "Jangan khawatir, Tuan Muda. Sudah jadi tugas saya untuk membantu."
Law terlihat masih terbaring untuk mengumpulkan tenaga. Link terus saja membersihkan kertas-kertas tersebut dan merapikannya.
Law: "Ling.. Aku ingin dikosongkan lagi agendaku untuk hari ini."
Link: "Baiklah, Tuan Muda.. Kita kan ke mana hari ini tuan?"
Law: "Aku ingin berbelanja, setelah itu bertemu abangku."
Matahari sudah berada di puncaknya, kali ini ia bersiap-siap untuk mengejar sang malam. Dari celah kaca, sepasang mata baru saja dikejutkan oleh konvoi mobil yang hendak menyerobot masuk ke dalam sebuah kawasan industri. Tatapan tajam ke arah yang jauh tersebut mendatangkan kegelisahan dalam hatinya. Sepertinya, ia harus menyiapkan mental untuk kejadian yang tak terduga ini.
Law dengan konvoinya sampai ke pabrik tersebut. Pria sangar berkaca mata hitam dengan sigap membukakan pintu untuk Law. Terlihat dari lobby, para pegawai hanya diam membisu melihat kejadian tersebut. Dalam penjagaan yang cukup rapat, pria sangar berkaca mata hitam tersebut menuntun Law menuju ruangan yang telah ditentukan sebelumnya.
Tok.. Tok.. Tok.. (Suara ketukan pintu.)
"Silakan masuk."
Tanpa ada keraguan, pintu pun terbuka. Semua orang yang tadinya mengikuti Law dari belakang, kemudian bergerak mencari posisinya masing-masing. Kali ini Law telah duduk bersandar dan kemudian menyilangkan kakinya. Ia duduk berhadap-hadapan dengan pemilik pabrik tersebut.
Law: "Tuan Muramasa..." (Memulai percakapan.)
Hanya kalimat itulah yang terucap. Suasana benar-benar hening sangat-sangat lama. Law dan pemilik pabrik tersebut hanya saling beradu pandang. Bahkan suara AC jauh lebih terdengar nyaring dari pada keberadaan mereka. Situasi terasa begitu menegangkan. Mereka-mereka yang menyaksikan diamnya Law dan pemilik pabrik tersebut, bahkan tidak berani bergerak meskipun hanya sepersekian mili saja.
Muramasa: "Baiklah.. Kalau begitu, izinkan saya mengelola pabrik ini."
Law: "Setuju."
Kemudian Law memberikan sebuah isyarat kepada bawahannya dengan mengangkat jari tangannya hingga sebahu. Dengan segera bawahannya tersebut membawa sekaligus membukakan sebuah koper untuk diperlihatkan kepada pemilik pabrik tersebut. Dan tanpa pikir panjang, Muramasa mengambil dokumen yang ada di dalamnya dan kemudian segera mempelajarinya. Hingga pada akhirnya, ia pun tersenyum
Muramasa: "Saya mengaku kalah. Sebenarnya, apa tujuan Anda?" (Tersenyum kepada Law.)
Law: "Cukup sederhana. Saya ingin membuat seseorang menangis."
Muramasa: "Anda benar-benar orang yang sulit ditebak." (Tersenyum bangga.)
Law kemudian membalas senyuman tersebut dan bangkit dari duduknya. Ia dengan segera mendekati Muramasa dan langsung memeluknya sekaligus menjabat tangannya.
Law: "Selamat datang di keluarga kami. Mulai hari ini dan seterusnya, mohon kerja samanya." (Tersenyum manis kepada Muramasa.)
Muramasa: "Baik.. Saya akan berusaha semaksimal mungkin menjalankan perusahaan ini." (Membalas senyuman tersebut.)
Law: "Kalau begitu, saya ingin programnya secepatnya diterapkan."
Muramasa: "Dengan senang hati. Secepatnya akan saya terapkan." (Tersenyum puas.)
Mereka terlihat begitu akrab meskipun hanya dari pertemuan singkat tersebut.
Law: "Karena saya ada acara lain, saya mohon undur diri dulu."
Muramasa: "Baik, Tuan Law.. Sekali lagi terima kasih banyak atas kerja samanya."
Law: "Tidak apa-apa.. Santai saja. Kita ini keluarga."
Law kemudian beranjak pergi dari tempat tersebut untuk menuju mobil yang telah bersiap-siap menunggu kedatangannya di depan lobby. Law dengan segera memasuki mobilnya.
Link: "Sekarang kita ke mana, Tuan Muda?"
Law: "Kita akan ke desa. Aku ingin bertemu Abang."
Link: "Baik, Tuan Muda."
Konvoi mereka dengan segera meninggalkan area kantor sekaligus pabrik tersebut.
Muramasa: "Baiklah Bapak Ibu sekalian. Terima kasih sudah berkumpul di sini. Maka dari itu, tanpa panjang lebar, saya akan menyampaikan dua kabar baik untuk Bapak Ibu sekalian. Kabar baiknya yang pertama adalah, saya tidak lagi menjadi pemilik dari perusahaan ini."
Para karyawan: "Waduh, Bos.. di mana letak kabar baiknya, Bos? Masalah-masalah masa transisi ke depannya nanti bagaimana? Nasib kami bakalan seperti apa nantinya, Bos?"
Muramasa: "Pemilik baru perusahaan ini adalah orang yang jauh lebih hebat dari pada saya. Dan berdasarkan hasil analisa saya, kemungkinan terjadinya masalah pada masa transisi hampir mendekati nol persen. Maka dari itu, saya ucapkan selamat kepada Bapak Ibu sekalian karena baru saja mendapatkan pimpinan yang hebat. Meskipun perusahaan ini bukan lagi ada di tangan saya, beliau masih mengizinkan saya untuk mengelola perusahaan ini."
Para karyawan terlihat hiruk pikuk membincangkan pernyataan yang baru saja mereka dengar. Muramasa tidak begitu menghiraukan kondisi kebingungan dari orang-orang yang ada di lapangan terbuka tersebut. Ia dengan segera melanjutkan pernyataannya.
__ADS_1
Muramasa: "Bapak Ibu sekalian.. Kabar baiknya yang kedua adalah, kita tidak lagi memakai system upah minimum. Perusahaan kita akan beralih ke system terbaru di mana pimpinan telah menetapkan bahwa lima puluh lima persen keuntungan bersih perusahaan akan disalurkan secara merata setiap bulannya. Baik yang duduk maupun yang berdiri, semuanya akan dibagi secara merata. Meskipun ada beberapa bagian yang harus dipertimbangkan. Di antaranya, mengenai cuti, jam kerja, dan lain sebagainya."
Mendengar hal itu, semua orang yang berkumpul bersorak-sorak gembira. Tertawa lepas, tangisan haru, pelukan hangat, tepukan tangan, dan lain-lainnya, semuanya bercampur aduk di lapangan terbuka tersebut.
Law tiba di kediaman Datuk. Link dengan segera keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Law. Datuk terlihat begitu santai di meja tamu depan rumahnya. Ia tidak begitu kaget melihat mobil tersebut karena ia telah mengetahui bahwa yang datang pastilah adiknya. Sekeluarnya Law dari mobil, ia terlihat begitu percaya diri dengan semua rencananya.
Law: "Bang.." (Menyahut Datuk sekeluarnya dari mobil.)
Datuk: "Laut, kemarilah.." (Mengangkat tangannya sembari membalas sapaan Law.)
Dengan senyuman yang pasti, ia kemudian mengikuti seruan abangnya.
Law: "Bang.. Sudah lama kita tidak bertemu."
Datuk: "Mana ada.. Rasanya baru kemarin aku masih mengelap ingusmu. Hahaha..." (Tertawa terbahak-bahak.)
Law: "Hahaha... Abang bisa saja. Hahaha..."
Mereka berdua tertawa bersama sembari berbalas salam.
Datuk: "Jadi, hari ini kamu bawa kabar besar apa?"
Law: "Aku baru saja menang tender, Bang... Kita berhasil memenangkan hak hasil tambang helium tiga sebesar empat puluh persen plus minus, Bang. Meskipun mereka cuma bisa baca yang tertulis di kertas saja."
Datuk: "Maksudnya?"
Law: "Iya.. Listrik kita gratis."
Datuk: "Bukannya listrik sudah gratis?"
Law: "Iya, gratis.. Sekarang kebalikannya, Bang. Kalau Abang pakai listrik, Abang aku kasih duit."
Datuk: "Waduh.. Gimana ceritanya itu..? Otakku mendadak error."
Law: "Begini saja Bang.. Ini ibaratnya satu orang prajurit balok satu dikasih jatah amunisi sebanyak satu pesawat."
Datuk: "Wah... Seram juga, ya.."
Mina keluar dari rumah dengan membawa segelas teh dengan nampan. Kemudian menyuguhkannya kepada tamu ayahnya itu dengan sedikit senyuman basa-basi.
Law: "Terima kasih." (Membalas senyuman.)
Datuk: "Jadi, ada cerita apa lagi? Tidak mungkin cuma masalah amunisi."
Law: "Ada, Bang.." (Meminum teh tersebut seteguk.)
Datuk: "Apa itu?"
Law: "Si Tukang Daging ternyata sudah sejak lama pantau ayah pakai satelit."
Datuk: "Wah... Pantas saja tidak ada gerakan yang mencurigakan. Tahunya dari atas."
Law: "Aku berhasil susupkan tiga orang-orangku ke Pe eL Ge. Mereka sedang menyusun rencana agar ayah melanggar isi perjanjian. Itu artinya, Asia Timur akan dijebol dan Kekaisaran Jipen sudah bisa dipastikan akan dilenyapkan dari peta."
Datuk: "Wah.. Ceritamu itu kalau disebar luaskan, bisa bikin sakit perut, pasti. Hahaha..."
Law: "Iya.. Hahaha..."
Datuk: "Aku berpikirnya yang sederhana-sederhana saja. Beri kami senjata, kamu tinggal tentukan targetnya yang mana.. Itu saja.. Hahaha..."
Law: "Menurut analisaku, kemungkinannya sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan tidak ada perang, Bang."
Datuk: "Mana ada.. Tidak ada manusia yang hidupnya tanpa punya kepentingan. Kalau sudah tidak ada kepentingan lagi, sebaiknya mati saja. Pasti akan selalu ada saling sikut. Kamu merasa bahwa tidak akan terjadi apa-apa, namun tiba-tiba tanganmu secara refleks melindungimu dari hujan batu yang ada di atas kepalamu."
Law: "Wah.. Sepertinya aku sedang diomeli, pasti."
Datuk: "Tentu saja.. Kamu pasti masih ingat dengan kecolonganmu di eN Aa Uu sepuluh tahun yang lalu. Saudara-saudara kita banyak yang dibunuhi di situ. Kalau sekiranya aku tidak cepat-cepat meresponsnya waktu itu, pastilah kamu terus disibukkan dengan masalah itu-itu saja sekarang ini."
Law: "Yaaa.. Maafkan aku, Bang.. Aku akui waktu itu aku teledor, Bang. Karena waktu itu aku masih belum bisa petakan orang-orang yang ada di belakang si Tukang Daging."
Datuk: "Sudah.. Yang lalu, biarkan berlalu. Aku yakin sekarang kamu juga sedang sibuk-sibuknya dengan tugasmu."
Law: "Lumayan, Bang."
Datuk: "Laut.. Si eS Je eM bagaimana kabarnya?"
Law: "Iya Bang.. Dia nangis-nangis ke aku minta tolong carikan pengganti posisinya.. Hahaha..."
Datuk: "Hahaha... Wajarlah, masih muda begitu disuruh Kerja Rodi. Hahaha..."
Law: "Hahaha... Iya, Bang.. Tapi, yang aku suka dari dia itu, ide-idenya brilian, Bang."
Law: "Iya, Bang.. Baru saja sebulan menjabat, dia sudah bikin peraturan manajemen keuangan yang transparan, Bang.. Jadi, setiap proyek-proyek yang didanai pusat itu mewajibkan pemegang proyek melakukan konferensi pers di depan media dan tokoh-tokoh masyarakat setempat, Bang. Alhasil rakyat sendiri yang disuruh menilai, mana yang orang kerjanya bagus, mana orang yang kerjanya jelek."
Datuk: "Wah, berarti yang jelek-jelek itu bisa langsung hancur karier politiknya, ya? Lumayan seram juga. Hahaha..."
Law: "Iya, Bang.. Bahkan saking transparannya, negara-negara tetangga langsung iri lihat isi kantong kita. Hahaha..."
Datuk: "Hahaha..."
Mereka berdua berbicara dan tertawa lepas tanpa ada beban sama sekali.
Datuk: "Ceritamu lumayan seru juga, Laut.. Sekarang keluarkan ceritamu yang paling serunya."
Law: "Hahaha... Abang penasaran?"
Datuk: "Tentu saja.."
Law: "Abang pernah lihat ayah menangis?"
Datuk: "Maksudnya?"
Law: "Hari ini, aku akan buat ayah menangis."
Mendengar hal itu, membuat Datuk terdiam sejenak. Akalnya berupaya mengkait-kaitkan apa-apa yang ia ketahui dengan maksud dan tujuan dari pernyataan Law.
Datuk: "Bumbu yang waktu itu?"
Law: "Iya.."
Datuk: "Kenapa malah ketemunya di situ?"
Law: "Waktu itu aku disuguhi oleh ayah nasi garam minyak buatan seseorang. Akhirnya aku dapat informasinya dari situ, Bang."
Datuk: "Jadi, siapa?"
Mina rupanya tidak sengaja mendengar percakapan tersebut dari balik pintu di saat hendak keluar dari rumah.
Mina: "Itu kerjaannya si Budi, Ayah.."
Datuk: "Kenapa kamu bisa tahu?"
Mina: "Iya.. Kan dia yang bikin nasi garam minyak pakai bumbu itu. Bilangnya sih untuk makan siang Inyang."
Datuk: "Wah.. "
Law: "Nah.. Dari bumbu itu Bang, asal mula informasinya."
Mina terlihat seperti sedang bersiap-siap untuk pergi.
Datuk: "Ehh, kamu mau ke mana?"
Mina: "Mina mau ke warung, Ayah.."
Datuk: "Jangan lama-lama, ya.. Soalnya sebentar lagi Ayah mau ke tempat Inyang."
Mina: "Iya, Ayah.."
Segera Mina pun berlalu meninggalkan mereka.
Datuk: "Wah.. Benar-benar tidak terduga. Sekarang, bagaimana kondisinya?"
Law: "Iya, Bang.. Ternyata selama ini keberadaan mereka disembunyikan."
Datuk: "Ya.. Wajarlah.. Pasang badan setelah dihajar bertubi-tubi begitu. Mau nggak mau ya ambil posisi netral kalau situasinya sudah di ujung tanduk begitu."
Law: "Tapi.. Kenapa sampai sebegitunya ayah lebih memilih mundur, ya Bang?"
Datuk: "Dendam pribadi."
Law: "Wah.. Buat perjanjian sampai sebegitunya?"
Datuk: "Iya.."
Law: "Isinya apa, Bang?"
__ADS_1
Datuk: "Mana mungkin aku akan meneteskan setitik nila ke dalam belanga yang telah dipenuhi susu."
Law hanya terdiam mendengar hal tersebut. Ia sangat paham dengan kalimat yang diucapkan Datuk.
Law: "Kalau begitu, aku hanya perlu menambahkan susu sebanyak-banyaknya agar nilanya tidak bernilai lagi."
Datuk: "Sepertinya begitu. Hahaha..."
Law: "Apa iya, bisa begitu? Hahaha.."
Datuk: "Ya.. Aku sendiri juga bingung. Kok malah tanya aku.. Hahaha..."
Mereka berdua tertawa karena paradoks yang mereka buat-buat sendiri.
Law: "Bang.. Bagaimana kalau kita lanjutkan bicaranya di tempat Ayah saja?"
Datuk: "Boleh juga.. Ayo, mari."
Law: "Kalau begitu, kita ke sana sama-sama saja."
Datuk: "Wah.. Nggak apa-apa.. Dekat kok dari sini. Kamu duluan saja."
Law: "Aku jadinya nggak enaklah sama Abang. Masa Abang ditinggal..?"
Datuk: "Nggak usah sungkan, santai saja.."
Law: "Nanti kalau Abang nggak sempat lihat situasinya, bagaimana?"
Datuk: "Iya juga, ya.. Baiklah, aku ikut."
Law: "Nah.. Ayo kita pergi."
Mereka berdua saat itu juga beranjak dari duduknya untuk menuju ke dalam mobil. Link yang sejak tadi setia menunggu, dengan segera membukakan pintu mobil untuk mereka. Law kemudian masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Datuk. Datuk terlihat seperti orang yang sedang linglung. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia kemudian mencoba untuk masuk ke dalam mobil.
Link: "Loh, Tuan..? Kok sendalnya dilepas?" (Keheranan.)
Datuk: "Oh.. Boleh pakai sendal, ya? Hehehe.." (Mati gaya.)
Law: "Hahaha.. Dipakai saja Bang." (Tertawa melihat tingkah abangnya.)
Datuk: "Ya.. Harap maklumlah. Aku mana ngerti mainannya orang kaya." (Tersipu malu sekaligus canggung.)
Mereka sepertinya telah siap untuk melanjutkan perjalanan.
Law: "Abang tidak usah tegang begitu. Santai saja. Hahaha.."
Datuk: "Bukan.. Ini kok rasanya kayak di kulkas ya?"
Law: "Pakai pendinginlah Bang.."
Datuk: "Wah.. Gitu, ya..? Harap maklumlah. Aku mana ngerti mainannya orang kaya."
Law: "Hahaha.."
Mobil pun melaju dan tidak butuh waktu yang lama untuk sampai ke kediamannya Inyang. Segera setelah sekeluarnya mereka dari mobil. Datuk dan Law beranjak pergi menyusuri tangga yang terbuat dari tanah itu dengan santainya. Sesampainya mereka berdua di atas, Inyang terlihat tersenyum menyaksikan Law yang kembali datang berkunjung.
Inyang: "Kamu terlihat berseri-seri hari ini. Sepertinya kamu yakin sekali sudah menang besar kali ini."
Dengan senyuman yang terukir jelas di wajahnya, Law kemudian menghampiri ayahnya dengan langkah pasti.
Law: "Iya, Ayah.. Seperti yang Ayah sarankan waktu itu, sekarang aku sedang bersiap-siap lepas landas. Aku sudah bersiap-siap untuk terbang tinggi. Aku bahkan bisa bayangkan wajah-wajah mereka yang saat ini sedang membenci dirinya sendiri. Hahaha.."
Inyang: "Kamu ini benar-benar anak yang bandel.." (Senyuman khasnya.)
Datuk: "Iya, Tuan Guru.. Dia ini memang bandel."
Inyang: "Kamu juga bandel."
Datuk: "Wah.."
Mereka semua bersuka ria atas pertemuan mereka. Budi hanya bisa mendengarkan tawa canda mereka dari samping pondok karena sedang asyik mencuci piring sehabis makan siang dengan Inyang.
Inyang: "Kalian cerita apa? Kuperhatikan dari tadi, sepertinya kalian begitu asyik bicara."
Datuk: "Iya, Tuan Guru.. Tadi kami cerita-cerita kalau pakai listrik, kita akan dikasih duit."
Inyang: "Oohh.. Jadi, kamu sudah dapat energi terbaru, ya?"
Law: "Iya, Ayah.. Tiga bulan lagi, dua roket kita akan mengudara."
Budi terlihat antusias sewaktu mendengar kata-kata roket dari pembicaraan yang ia dengar. Budi dengan segera mempercepat kegiatannya supaya dirinya dapat ikut dalam perbincangan tersebut. Datuk dan Inyang sangat mengapresiasi pencapaian Law itu dengan memberikan senyuman manis terhadapnya.
Datuk: "Wah... Ada roket lagi? Hampir tiap bulan aku lihat roket, itu kerjaanmu ya, Laut?"
Law: "Mungkin yang Abang lihat itu uji coba rudal, Bang. Yang pasti, bedalah Bang."
Inyang: "Kamu kasih ultimatum ke siapa lagi?"
Datuk: "Wah.."
Law: "Ultimatum untuk anak yang bandel-bandel lah, Ayah. Hahaha.."
Datuk: "Hahaha.. Kamu ini ada-ada saja, Laut ."
Inyang hanya tersenyum mendengar pernyataan tersebut. Budi yang keheranan mencoba untuk mencari tahu maksud dari perkataan tersebut.
Budi: "Ultimatum itu apa, Datuk?" (Berbisik-bisik kepada Datuk.)
Datuk: "Ohh iya.. Ultimatum itu, memberi ancaman ke pihak musuh." (Juga berbisik-bisik mengikuti cara yang dilakukan Budi.)
Inyang dan Law terlihat tersenyum melihat Budi yang punya keingintahuannya tinggi. Mereka semua memahami bahwa Budi merasa canggung dengan kehadiran Law yang tentu saja asing baginya.
Datuk: "Laut.. Perkenalkan, ini cucu aku."
Law: "Wah, anak Abang yang tadi sudah nikah, rupanya.. Kenapa tidak undang aku?"
Datuk: "Yang tadi itu belum.. Makanya yang ini jadi cucu aku."
Law: "Waduh, gimana ceritanya? Belum nikah, tapi sudah punya cucu?"
Datuk: "Sudah.. Kamu jangan banyak protes. Pokoknya ini cucu aku, titik."
Law: "Berarti cucu Abang, cucu aku juga dong?"
Datuk: "Jangan.. Kamu jadi Om saja."
Law: "Maksudnya?"
Datuk: "Kalau kepingin cucu, harus ada jenggotnya dulu.. Karena jenggotmu nggak ada, ya.. Cuma bisa jadi Om saja."
Law: "Oh.. jadi begitu, ya?"
Datuk: "Iya.. Kalau di desa, aturannya harus begitu."
Inyang: "Mana ada." (Tersenyum khasnya.)
Law: "Wah, Abang.. Kebiasaan dari dulu bikin aturan sesat. Hahaha.." (Tertawa.)
Mereka semua terlihat tertawa bahagia dan penuh dengan suka ria. di saat tawa canda tersebut, Datuk dan Law sepertinya sudah saling bertukar isyarat untuk memulai aksi mereka.
Law: "Ayah.. Sebenarnya aku juga bawa hadiah untuk Ayah."
Datuk dan Law sepertinya sedang menahan dirinya untuk memperlihatkan luapan kegembiraan mereka. Inyang hanya terpaku menanti hadiah seperti apa yang akan ia dapatkan.
Law: "Namanya Hikari.. Tahun ini baru masuk Te Ka." (Sembari tersenyum kepada Inyang.)
Ucapan tersebut membuat Inyang terpana. Seketika matanya menjadi berkaca-kaca. Ia baru saja mendapatkan sebuah hadiah yang tidak terduga. Perasaan haru dan bahagia hampir-hampir menenggelamkannya.
Inyang: "Hikari.." (Tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.)
Law: "Aku sudah kirim orang ke sana untuk jaga-jaga, Ayah."
Inyang terus saja tersenyum meskipun matanya mulai semakin berkaca-kaca. Ia terus saja dengan sekuat tenaga menahan tetesan air matanya.
Inyang: "Kalian ini benar-benar anak yang bandel." (Tersenyum dengan air mata yang mulai menetes.)
Mereka yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa terhanyut dalam senyuman kebahagiaan Inyang.
Inyang: "Sebentar.. Aku mau ke dalam dulu." (Bangkit dari singgasananya.)
Inyang pun berlalu meninggalkan mereka. Yang tersisa hanyalah keheningan dan sisa-sisa aroma kasih sayang dalam kerinduan. Datuk dan Law terlihat senyum-senyum sendiri setelah keberhasilan dari tujuan mereka.
Law: "Gimana, Bang?" (Tersenyum lebar kepada Datuk.)
Datuk: "Aku nggak tanggung jawab ya, kalau dunia tiba-tiba kiamat.." (Membalas senyuman Law.)
__ADS_1
Law: "Risiko kita tanggung berdua, Bang. Hahaha..." (Tertawa dengan suara pelan.)
Datuk: "Hahaha.." (Mengikuti Law.)