Dimensi Milikku Sendiri

Dimensi Milikku Sendiri
Ganteng alami


__ADS_3

Ujang terlihat lesu, ia terlihat seperti tidak bertenaga. Tubuh bagian atasnya terkapar begitu saja di atas meja dengan pandangan yang hampir kosong.


Sophia: "Eh, Jang.. Kalau mati, jangan di sini.. Bikin repot."


Ujang: "Siapa yang mati, Bu Sophia? Saya masih kepingin hiduplah."


Sophia: "Mana ada orang kepingin hidup tapi lesu kayak begitu.."


Ujang: "Ada lah, Bu.. Ini buktinya.. Saya." (Menunjuk dirinya sendiri kemudian terbaring lesu kembali.)


Sophia: "Aduh Jaang.. Kasihan sekali kamu, Jang. Hari ini, kopi pesananmu nggak usah dibayar saja. Kamunya yang semangat dong.." (Mencoba menghibur Ujang.)


Ujang: "Wah.. Yang benar, Bu? Hari ini nggak usah bayar?" (Kembali ceria dan penuh semangat.)


Sophia: "Iya.. Hari ini nggak usah bayar. Kamu boleh bayarnya besok saja."


Seketika keceriaan itu berganti dengan ekspresi wajah yang datar, Ujang jadi melongo mendengar ucapan Sophia.


Ujang: "Bukannya gratis, Bu Sophia?" (Mempertanyakan.)


Sofia: "Mana ada yang gratis. Kalau hari ini nggak usah bayar, ada.. Kan, bisa dibayar besok."


Ujang: "Ha ha, lucu.. Bu Sophia lucu.. Ha ha.." (Tertawa muram dengan ekspresi wajah datar dan lesu.)


Ujang kembali roboh ke atas meja. Kali ini ia mulai merenung memandangi secangkir kopi hitam yang ada di dekatnya. Ia mulai merasa gundah akan nasibnya.


Ujang: "Bu Sophia.. Kok saya selalu ditolak wanita, ya Bu?"


Sophia: "Ya... Kamu tiap hari ngaca dong."


Ujang: "Bu Sophia pasti ngejek lagi, kan? Ngejek kalau saya jelek, kan?"


Sophia: "Nggak gitu maksudnya, Jaang.. Sensitif sekali kamu Jang.. Yaa.. Kamu tiap hari ngaca dong, biar tambah itu.."


Ujang: "Itu apa, Bu?"


Sophia: "Yaaaa.. Itu.. Biar tambah sabar.."


Ujang: "Wah.. Bu Sophia kejam sekali.. Bukannya dihibur, malah dibecandain."


Sophia: "Eeeeh.. Jangan salah loh, Jang. Sebenarnya kamu itu jasanya besar, loh."


Ujang: "Wah.. Jasa saya besar, ya? Waduh.. Nggak nyangka, ternyata saya punya jasa besar juga." (Kembali bersemangat.)


Sophia: "Iya.. Kalau nggak ada orang jelek kayak kamu, berarti orang gantengnya nggak ada dong.."


Ujang: "Iya juga sih.. Tapi kan... ..."


Sophia: "Coba kalau orang jeleknya nggak ada?"


Ujang: "Nggak ada yang ganteng.."

__ADS_1


Sophia: "Nah... Kalau orang gantengnya nggak ada?"


Ujang: "Iya juga ya.. Saya pasti ganteng."


Mendengar hal itu, Sophia seketika geregetan..


Ujang: "Kok geregetan gitu, Bu?"


Sophia: "Nggak kebayang, di dunia ini kalau yang ganteng adanya cuma kayak kamu. Hiii."


Ujang: "Waduh.. Sungguh kejamnya dirimu, Bu. Jangankan jadi ganteng sungguhan, mengkhayal jadi ganteng saja sampai segitunya."


Tiba-tiba warung Sophia kedatangan tamu yang tidak dikenal. Ia adalah Agus yang sedang kebingungan mencari lokasi rumah teman mengajarnya, Faiz. Ia tersesat hingga memilih untuk mampir terlebih dahulu ke warungnya Sophia. Agus dengan santai duduk di sebuah meja kosong dan memesan sebuah minuman.


Agus: "Teh panasnya satu, Bu." (Meminta pesanan dari tempat duduknya.)


Sophia: "Iya.. Dibuatkan dulu, ya."


Sophia segera meninggalkan Ujang yang baru saja babak belur oleh perkataan Sophia. Ujang yang melihat ada wajah baru yang tidak ia kenal sebelumnya, membuat insting untuk mengamankan wilayah teritorialnya menjadi bangkit. Tanpa pikir panjang, Ujang lekas menuju ke meja orang yang tidak ia kenal tersebut dan duduk berhadap-hadapan.


Ujang: "Siang." (Memberikan sedikit senyuman.)


Agus: "Siang juga." (Membalas senyuman tersebut.)


Ujang: "Maaf, mengganggu. Perkenalkan, nama saya Ujang. Saya petugas keamanan di desa ini."


Agus: "Oh, iya.. Saya Agus. Saya baru saja dipindah tugaskan untuk mengajar di sekolah itu." (Menunjuk ke arah sekolah yang terlihat dari tempat mereka.)


Agus: "Iya.. Sebenarnya tadi saya sudah ditanya-tanya juga di pos."


Ujang: "Pak Guru mengajar apa, kalau boleh tahu?"


Agus: "Saya mengajar Saint."


Ujang: "Wah.. Ilmu yang buat bikin obat pelangsing itu, ya?"


Agus: "Bukan.. Hahaha.."


Ujang: "Obat kuat?"


Agus: "Bukan juga.. Hahaha.."


Ujang: "Terus obat apa, dong?"


Agus: "Hahaha.. Kok malah obat? Saint bukan begitu, Mas Ujang. Saint itu mempelajari alam menggunakan metode rasional dan empiris. Mas Ujang ini ada-ada saja. Hahaha.."


Ujang: "Waduh.. Berarti, anak-anak zaman sekarang pintar-pintar ya, Pak Guru?"


Agus: "Kurang lebihnya seperti itu, Mas Ujang."


Ujang: "Saint itu bisa bikin orang yang jelek jadi ganteng nggak, Pak Guru?"

__ADS_1


Agus: "Kalau secara Saint, bisa."


Ujang: "Wah.. Harusnya Pak Guru bilang nggak bisa, dong.. Mana ada orang jelek jadi ganteng."


Sophia kemudian datang dengan membawa secangkir teh panas. Sophia terlihat senyum-senyum sendiri mendengar percakapan yang baru saja ia dengar.


Sophia: "Ini Pak, tehnya." (Menyuguhkan teh tersebut ke atas meja Agus.)


Setelah menaruh teh tersebut, Sophia menjadi geleng-geleng kepada sembari memegangi pinggangnya karena kelakuan Ujang.


Sophia: "Aduh Jaang, Ujang.. Kamu ini gimana sih? Dibilang bisa, malah nolak. Terus maunya gimana?"


Ujang: "Memangnya Bu Sophia percaya kalau saya bisa jadi ganteng?"


Sophia: "Oohh.. Kalau itu.. ya.. Begitulah.." (Matanya melirik ke sana kemari.)


Ujang: "Bu Sophia saja nggak yakin, apalagi saya.."


Agus: "Hahaha.. Bisa, Mas Ujang. Tinggal yang jadi masalahnya itu, Mas Ujang mau pakai cara buatan atau cara alami."


Ujang: "Wah... Saya bisa ganteng alami juga, ternyata." (Terlihat bahagia.)


Sophia: "Ganteng alami.." (Menatap Ujang sembari tersenyum lebar karena menahan tawa.)


Ujang: "Wah, Bu Sophia ngeledekin saya lagi nih, kayaknya."


Agus: "Saint sendiri telah membuktikan adanya perubahan genetika yang terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Contoh simpelnya adalah proses genetika yang terjadi pada ras manusia modern. Ras manusia purba memiliki volume otak yang kecil, hingga akhirnya lahirlah ras manusia modern yang memiliki volume otak jauh lebih besar. Jika mengikuti prinsip perubahan perkembangan genetika secara alami, maka ras manusia purba mungkin butuh waktu puluhan bahkan ratusan ribu tahun lagi agar volume otaknya bisa seukuran volume otak manusia modern seperti yang kita lihat sekarang ini. Namun berbeda kasusnya dengan Nabi Adam, beliau mengalami lompatan yang harusnya memakan waktu yang panjang dan lama tersebut dengan cara yang singkat. Beliau dinobatkan sebagai manusia modern pertama. Para kalangan Saintis menyimpulkan bahwa Itu semua hanya bisa dilakukan dengan cara rekayasa genetika."


Ujang: "Waduh.. Otak saya mulai rada-rada oleng nih, Pak Guru."


Agus: "Nah.. Begini saja, Mas Ujang.. Mas Ujang tahu Nabi Yusuf?"


Ujang: "Ya, tahu dong, Pak Guru.. Nabi paling ganteng."


Agus: "Nah.. Kegantengan Nabi Yusuf itu didapatkan melalui lompatan genetika.


Ujang: "Lompatan genetika?"


Agus: "Iya.. Kegantengan yang seharusnya hanya bisa didapatkan dengan melalui proses waktu yang sangat-sangat lama, namun untuk Nabi Yusuf direkayasa genetikanya agar manusia terganteng itu bisa muncul lebih cepat sebelum waktu yang semestinya."


Ujang: "Waduh.. Intinya, biar bisa jadi ganteng itu butuh waktu lama, ya?."


Agus: "Kalau manusia zaman dulu masih terlihat jelek, maka semakin bertambahnya zaman, maka akan semakin terlihat bagus, semakin bagus, terus bertambah bagus, sampai ke zaman manusia sekarang ini."


Ujang: "Saya kok nggak?" (Terlihat protes.)


Sophia: "Ujang, kamu yang sabar. Sebenarnya kamu itu ganteng, kok.. Cuma salah zaman saja.. Kamu kalau balik ke zaman purba, pasti dianggap orang paling ganteng, Jang.. Dianggap Titisan Dewa, lah.. Anak Tuhan, lah.. Atau apalah, gitu Jang.."


Ujang: "Wah.. Dengar Bu Sophia bicara, serasa kayak ada manis-manis pedas gimanaaaa, gitu ya?"


Aku ingin menjadi indah dan berwarna cerah.

__ADS_1


Oh, Tuhan.. Wujudkanlah.


__ADS_2