Dimensi Milikku Sendiri

Dimensi Milikku Sendiri
Selamat tinggal… Ilusi


__ADS_3

Faiz: "Selamat pagi anak-anak rajin dan pintar. Hari ini pelajaran kita cukup santai. Kita akan mendengarkan cerita. Enaknya kita belajarnya di kelas atau di pekarangan saja?”


Udin: "Pekaranganlah, Pak.. Kan, bisa sekalian main bola.."


Faiz: "Kamu itu mau belajar, apa mau main bola?”


Udin: "Ya.. Belajarlah, Pak.. Menurut buku yang Bapak pinjamkan itu, belajar sambil bermain akan meningkatkan kualitas pendidikan.”


Faiz: "Mana ada orang gelindingin bola sambil baca cerita..”


Udin: "Ada, Pak.. Menurut buku yang Bapak pinjamkan itu, orang jenius itu biasanya punya banyak keahlian, Pak.”


Faiz: "Kamu sekarang sudah hebat, ya.. Semenjak baca buku, sudah jadi siswa yang menurut."


Udin: "Iya dong, Pak.. Menurut buku yang Bapak pinjamkan itu, siswa yang menurut itu salah satu bukti suksesnya proses pembelajaran."


Faiz: "Kalau begitu.. Menurut Bapak, nilaimu Ee saja..”


Udin: "Hehe.. Bercanda kok Pak, bercanda.. Hehehe..”


Para murid yang mengikuti pelajaran hari ini terlihat begitu penuh dengan keceriaan. Mereka berkumpul dan duduk di bawah pohon yang rindang.


Faiz: "Selanjutnya.. Beni.”


Beni kemudian maju dengan penuh rasa percaya diri. Kali ini wajahnya menunjukkan ekspresi yang serius dan segera memulai aksinya.


Beni: "Ku ukir sebuah kisah di bawah pokok kayu cinta.


Tangan riuh gemulai itu seketika bertahtakan bibir-bibir manis mereka.


Hanya bibir merah si pendosa yang melontarkan cemoohan.


Tangannya mengepal dengan kasar karena kedengkian.”


Faiz: "Ehhh.. Stop, stop, stop.. Bapak suruh kamu bikin cerita, bukannya puisi. Bapak tetap akan hargai usahamu. Tapi, Karena kamu salah bikin tugas, Bapak hanya bisa kasih kamu nilai Be."


Beni: "Cerita hanyalah keluguan manusia akan ucapan."


Faiz: "Ce."


Beni: "Waduh.. Kok malah turun jadi Ce, Pak? Sungguh teganya dirimu, wahai sang penimbang amal.”


Faiz: "Wah.. Konsletnya unik... Begini saja.. Kalau kamu bisa bikin puisi bagus, bapak naikkan nilaimu jadi Aa.”


Beni: "Nah.. Itu baru adil, Pak Faiz.”


Beni kemudian terdiam sejenak, memikirkan kalimat-kalimat apa yang harus ia lontarkan.


Beni: "Dengan perasaan yang kuat.. Langit cerah pun pastilah selalu mengikuti ke mana awan mendung akan berembus.. Maka.. Julurkanlah tanganmu ke ujung langit, agar dapat menyentuh cahaya yang lembut.”


Faiz: "Bapak tahu.. Maksudnya pasti sabar dan shalat, kan? Plagiat.. Ce.”


Beni: "Wah..” (Tertunduk lesu dan kembali ke tempat duduknya.)


Faiz: "Selanjutnya.. Budi.”

__ADS_1


Budi kemudian berdiri dan segera menuju titik yang telah disiapkan Faiz. Di bawah pohon yang rindang itu, Budi mengambil nafas yang dalam meskipun hanya sekedar untuk menguatkan mentalnya. Ia pun kemudian mulai membacakan bukunya.


Dalam ilusi, aku melihatnya tersenyum manis. Dalam ilusi, aku mendengarnya tertawa ceria. Dalam ilusi, aku merasakan hangatnya suasana suka cita.


"David.. David..! Bangun..! Ayo banguuuuun..!!”


Suara yang lembut itu memanggil-manggil namanya.


David: "Ada apa, Erza?”


Erza: "Lihat itu..! Lihat itu..!!”


Ia mengarahkan telunjuknya kepada suatu makhluk langit. Sebuah Bintang mati yang diselimuti oleh awan tebal.


Erza: "Aku ingin ke langit.. Aku ingin menghidupkannya..”


David: "Baiklah.. Ayo kita ke sana.”


Melangkah bersama.. Mendaki bukit-bukit yang menebarkan aroma matahari. Menerjang rumput-rumput yang menghamburkan bunga dandelion. Menyusuri Lembah-lembah yang memercikkan kabut dingin.


Erza: "David, itu tangganya.”


David: "Benar-benar tangga yang indah.”


Mereka menemukannya.. Sebuah tangga putih tanpa cela noda yang melingkar dan meliuk-liuk hingga ke ujung langit.


Erza: "Ayo kita naik.”


David: "Baiklah. Ayo kita naik."


Ada begitu banyak kata-kata yang ingin terucap, namun hanya bisa mendapati suara hati yang terus saja menjerit. Pandangannya perlahan tenggelam tersapu oleh awan. Tenggelam dan semakin tenggelam. Ingin rasanya waktu berhenti seketika, meskipun hanya sekedar untuk melihatnya lebih lama lagi.


Namun kini... Ia telah menghilang begitu saja... Ia telah jatuh dan menghantam tanah. Bahkan, kematian pun seakan-akan tak ingin bersahabat dengannya, meski tubuhnya telah dipenuhi oleh begitu banyak luka.


Ia… Telah lupa bagaimana cara untuk bisa berdiri.


Pria itu mengumpulkan kembali sisa-sisa kekuatan yang ada untuk bisa bangkit. Dengan perlahan, ia berusaha untuk berdiri meskipun merasakan sakit yang teramat sangat.


Kini... Sebuah bintang baru telah lahir.. Bersinar dengan kemilaunya yang dihiasi oleh berbagai macam warna. Pria itu mendongak ke atas langit. Dan dengan sedikit senyuman, ia hanya bisa berucap dalam hati.


“(Syukurlah... Kamu berhasil... Ku ucapkan selamat.)”


Tangga yang indah itu seketika mulai menjadi rapuh dan pecah menjadi kepingan-kepingan yang kecil. Hingga akhirnya, berubah menjadi kilauan debu yang diterbangkan angin lembut.


Dengan segala yang ada, ia menguatkan langkah kakinya menyusuri jalan setapak yang telah dipenuhi oleh lumpur-lumpur pekat dan hitam. Selangkah demi selangkah, setapak demi setapak, hingga rasa lelah pun akhirnya berhasil mengalahkannya.


Ia bersandar kepada sebatang pohon tua yang bahkan tak akan mungkin bisa menaunginya dari warna langit merah menyala.


Kegelapan sedikit demi sedikit mulai menelan pemandangan senja kota. Sampai pada akhirnya, kegelapan itu juga sedikit demi sedikit mulai menelan dirinya. Tenaganya sudah berada pada titik yang terakhir. Matanya menjadi sayup dan dengan perlahan mulai tertutup... Terus perlahan... Semakin perlahan... Dan dengan perlahan akhirnya tertutup...


“(Selamat tinggal... Ilusi.)”


Budi telah menyelesaikan ceritanya, namun Faiz masih saja terpana dan larut dalam lamunannya. Budi hanya bisa diam menunggu tanggapan dari Faiz.


Faiz: "Ini benar kamu yang bikin?” (Meragukan.)

__ADS_1


Budi: "Pak Faiz meragukan kredibilitas karya ini?”


Faiz: "Bukan begitu.. Bapak suka sih ceritamu. Tapi, karya itu terlalu abstrak untuk anak seusiamu.”


Budi: "Aku cuma mengikuti panduan di buku yang Pak Faiz pinjamkan itu.”


Faiz: "Wah, baguslah. Ceritamu Bapak kasih nilai Aa. Bapak boleh minta salinan ceritanya, ya?”


Budi: "Aa plus.”


Faiz: "Iya deh, Aa plus.”


Budi kemudian menyerahkan bukunya tersebut dan kembali dengan senyuman kemenangan.


Faiz: "Selanjutnya... …”


Mereka berkata… Yang aku butuhkan adalah cinta.


Namun cinta malah membuatku semakin gersang.


Mereka berkata… Jadilah sang pejuang cinta.


Namun cinta malah memperlakukanku seperti pecundang.


Bell sekolah berbunyi dengan kerasnya. Anak-anak yang lugu itu seketika berlarian dengan membawa senyuman lebar di wajah mereka. Berlari dengan tujuan yang pasti.. Yakni, mengejar kebahagiaan lainnya di luar sana. Para guru pun terlihat membawa senyum lebar di wajah mereka. Saling bercengkerama dan saling tertawa. Tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah saling mengapresiasi kerja keras mereka hari ini.


Faiz terlihat tergesa-gesa pergi dari ruang guru setelah menyelesaikan buku laporannya. Dengan sehelai kertas yang ada di tangannya, ia melangkah dengan sangat cepat, hanya demi bisa sampai ke tempat yang ingin ia tuju.


Inyang: "Sepertinya saya kedatangan tamu spesial, hari ini.” (Inyang seketika berdiri melihat kedatangan Faiz.)


Faiz: "Wah, tamu spesial apa sih, Prof? Cuma guru begini kok.” (Menjadi sungkan.)


Inyang: "Tidak usah malu begitu. Selamat datang Syekh, di gubuk kecil saya ini.” (Menjabat tangan Faiz.)


Faiz: "Wah.. Tidak perlu merendah sebegitunyalah, Prof. Boleh jadi gubuk kecil, siapa tahu isinya bisa mengguncang dunia.” (Berupaya mengimbangi Inyang.)


Inyang: "Mari, Syekh. Silakan duduk. Saya akan buatkan minum.” (Tersenyum kepada Faiz.)


Faiz: "Nggak usah repot-repotlah Prof, air putih saja. Kebetulan, tenggorokan saya agak kering juga."


Inyang: "Baiklah. Air putihnya akan saya ambilkan dulu. Mohon ditunggu sebentar.” (Segera berlalu.)


Tidak lama berselang, Inyang datang dengan membawa gelas kosong dan teko air di tangannya.


Inyang: "Jadi, hal apakah yang menuntun Syekh untuk datang menemui saya, hari ini?”


Faiz: "Begini, Prof.. Saya hanya ingin tahu, bagaimana pendapat Prof tentang karya ini." (memberikan kertas Salinan tersebut kepada Inyang.)


Inyang kemudian membaca tulisan yang ada di kertas itu dengan penuh hikmat. Inyang seketika terdiam dan tatapan matanya terlihat mengarah ke ujung jauh dunia setelah membaca ke seluruhan isi cerita.


Inyang: "Begini, Syekh..”


Faiz: "Ya?”


Inyang: "Jika seseorang yang terluka dan kemudian berkata tidak apa-apa atau baik-baik saja, justru orang itulah yang sebenarnya harus diutamakan untuk segera disembuhkan. Bisa jadi ia terlihat baik-baik saja, padahal luka yang dideritanya itu secara perlahan tengah melahap jiwa dan hatinya.”

__ADS_1


Faiz: "Wah..”


__ADS_2