
Akulah panas yang menyejukkanmu.
Akulah dingin yang menghangatkanmu.
Akulah tawa yang meninggikanmu.
Akulah sedih yang membahagiakanmu.
Akulah cahaya yang menyembunyikanmu.
Akulah gelap yang memperlihatkanmu.
Akulah bising yang menenangkanmu.
Akulah sunyi yang menentramkanmu.
Muis: "Bos.. Burung yang kemarin itu sekarang bikin sarang di pohon depan rumahku, Bos.”
Abas: "Wah.. Kebetulan sekali, Ayo kita tangkap. Lumayan, bisa buat beli camilan..”
Muis: "Yah, Bos.. Bos kan sudah janji."
Abas: "Sekarang kan situasinya darurat, Muis. Nggak apa-apa, dong?”
Tiiiiiit.. (Suara klakson dari sebuah mobil.)
Abas dan kawan-kawan mengalihkan pandangannya menuju ke arah sumber suara. Dan ia pun segera bangkit dari duduknya untuk memberikan aba-aba berhenti pada mobil tersebut.
Abas: "Stop..! Stop..!” (Sembari membentangkan tangan kanannya.)
Kaca mobil yang hitam mengkilap itu turun secara perlahan. Terlihat seorang yang berambut cepak dan berkaca mata hitam menoleh kepada Abas.
Abas: "Saya ketua pos jaga di desa ini. Boleh diberitahukan maksud dan tujuan datang kemari?”
Seseorang yang duduk di kursi belakang memberikan isyarat kepada sang sopir untuk tetap tenang.
Pria dalam mobil: "Biar aku saja."
Kaca mobil penumpang itu perlahan turun dan terlihat sesosok pria yang gagah dengan jas hitamnya tanpa cela. Dengan sedikit senyuman, ia pun mencoba untuk menyapa Abas dengan ramah.
Pria dalam mobil: "Siang..” (Tersenyum.)
Abas hanya bisa terpana dan bergumam dalam hati.
Abas: “(Ini orang, pasti bukan sembarang orang. Jangankan orangnya, lihat kursinya yang mengkilap saja sudah bikin jantung mau copot.)”.
Untuk mengobati mentalnya yang perlahan turun, iya mencoba untuk memberanikan diri dengan cara mempertegas identitas dirinya.
Abas: "Ahh, iya.. Siang. Perkenalkan, saya ketua keamanan di desa ini. Jadi, mobil Anda harus saya berhentikan.”
Pria yang di dalam mobil tersebut kembali tersenyum mendengar hal tersebut.
Pria dalam mobil: "Wah, Anda benar-benar hebat sekali. Dari sekian banyak jalan yang sudah saya lalui, satu kali pun saya tidak pernah diberhentikan. Kecuali yang memberhentikan itu Anda.”
Abas merasa dirinya sedang di atas angin. Seakan-akan telah mendominasi perbincangan singkat tersebut.
Abas: "Hohoho.. Iya dong. Ketua keamanan gitu loh.” (Sembari melirik Muis dan Ujang, berharap mereka juga memberikan atensi dan apresiasi terhadap pernyataannya tersebut.)
Melihat tingkah Abas tersebut, pria itu menjadi semakin tersenyum dan bahkan sopirnya pun juga ikut tersenyum.
Pria dalam mobil: "Jadi, apa kami sudah boleh lewat?”
Abas terdiam sejenak, dan kemudian mengalihkan pandangannya kepada Muis dan Ujang. Melihat situasi dan kondisi mereka yang dirasa cukup tragis saat ini, muncullah ide busuknya untuk mengakali pria dalam mobil tersebut.
Abas: "Ohhh.. Boleh masuk, tapi ada pertanyaan sebagai syaratnya.” (Muis dan Ujang meninggalkan tempat duduk dan segera berdiri di sisi Abas, bosnya.)
Pria yang ada dalam mobil tersebut kemudian menyambut baik pernyataan Abas.
Pria dalam mobil: "Silakan."
Abas yang merasa masih mendominasi jalannya perbincangan menjadi merasa lega mendengar ucapan pria dalam mobil tersebut. Terlihat jelas dari postur wajahnya bahwa kesempatan untuk menyalurkan ide busuknya seperti dibukakan lebar-lebar. Terbayang seakan-akan sedang memanen hasil yang besar.
Abas: "Hal pertama yang harus Anda ketahui adalah, desa ini isinya orang-orang hebat semua. Jadi, sebelum masuk ke desa kami, sebutkan dulu Anda ini orangnya sehebat apa.”
Mendengar hal itu, pria tersebut kemudian terdiam sejenak dan kemudian memulai diskusi antara mereka.
Pria dalam mobil: "Kalian tahu eS Je eM?”
Abas: "Ya tahulah. Semua orang juga pasti tahu. Nggak mungkinlah ada orang yang masih nggak kenal sama eS Je eM.” (Ujang dan Muis mengangguk-angguk mendengar ucapan Abas.)
Pria dalam mobil: "Dia itu anak buah saya." (Mengatakan hal tersebut dengan sorot mata yang tajam dan sedikit tersenyum.)
Suasana tiba-tiba berubah menjadi hening seketika. Mereka bertiga seakan-akan sedang dilumat oleh bayang-bayang yang mematikan pola pikir mereka. Ujang yang merasakan tekanan yang kuat terhadap mentalnya mencoba memalingkan pandangannya ke arah obyek besar di arah bukit pekuburan. Dan Muis berupaya menyelam ke masa lalunya seraya mencari-cari dosa-dosa yang mungkin telah ia lakukan kepada orang tuanya.
Ujang: "Haha.. Lawakannya lumayan seram juga, ya Bos?” "(Ahhh.. Tinggi sekali pohon itu, ya?)"
Muis: "Anak buah katanya, Bos. Haha..” "(Maak.. Baah… Maafkan aku kalau masih ada salah sama Mak sama Abah.)"
Abas diam terpaku menelan liur karena akalnya meyakini bahwa ia baru saja mendengar berita yang sangat besar.
Abas: "Ohh.. Ya.. Haha.. Ternyata Anda lumayan hebat juga melawak, ya.. Haha..” (Berbicara dengan rasa waswas.)
Pria dalam mobil: "Haha.. Anda juga lumayan menarik, ya.. Haha..”
Melihat pria tersebut tertawa, Muis, Ujang dan Abas juga ikut tertawa meskipun mental dan akalnya sudah bercampur aduk tidak karuan.
Abas, Muis, dan Ujang: "Haha.. Hahaha.. Haha..”
__ADS_1
Pria di dalam mobil: "Karena kalian sudah berhasil menghibur saya, kalian akan saya beri hadiah.”
Muis: "Bos.. Kita dikasih hadiah, Bos!”
Ujang: "Wah.. Kebetulan ini, Bos.” (Sembari menyikut lengan Abas. Seakan-akan ingin memberi isyarat.)
Abas: "Haha.. Tidak perlu repot-repot. Sudah jadi kewajiban kami menjalankan tugas desa. Haha." (Sembari menggaruk-garuk kepala belakangnya.)
Pria di dalam mobil: "Tidak perlu sungkan, ambil saja di bagasi belakang. Terserah, mau yang merah atau yang kuning silakan ambil sebanyak yang bisa diambil.”
Sopir tersebut kemudian turun dari mobil dan segera menuju bagasi belakang mobil tersebut.
Abas dan kawan-kawan terbelalak kaget di saat sopir tersebut membuka bagasinya. Mereka melihat senjata shotgun dan submachine gun menempel di dinding bagasi beserta dua koper putih besar di antara keduanya.
"Klik klik, klik klik." kedua koper itu terbuka secara bersamaan.
Sopir: "Silakan."
Mereka bertiga melongo takjub melihat isi dari koper tersebut dan bahkan sampai tidak bisa berkata-kata. Koper tersebut ternyata berisikan tumpukan uang dan emas batangan yang tertata dengan sangat rapi. Suasana kembali menjadi hening, tubuh Abas bergetar tiada henti menyaksikan pemandangan yang ada di depan matanya. Dengan kesadaran sesaat, ia pun berbalik dan merangkul kedua kawannya tersebut seakan-akan ingin untuk diadakan diskusi darurat di antara mereka bertiga. Mereka saling melotot dan mengeraskan urat wajah mereka satu sama lainnya. Diskusi mereka terlihat sangat alot meskipun tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.
Ujang: “(Booooossss!! Kita kaya mendadak Booosss!! Ambil, Booosss!!! Ambiiiiiiill!!!)”
Muis: “(Ini jebakan Booooossss!!! Ini jebakan!!! Jangan terpengaruh si Ujang, Booooosss!!)”
Abas: “(Kalian jangan bikin aku tambah bingung!!! Ambil atau tidaaaaaak!!!!??)”
Suasa hening yang berjalan cukup lama.. Suara padi yang saling berbisik bahkan lebih terdengar nyaring dibandingkan keheningan mereka.
"Ehhmmm..” (Sopir tersebut mencoba untuk memberi kode terhadap mereka bertiga.)
Abas dan kawan-kawan kemudian menyudahi diskusi mereka, Ujang dengan sigap bergerak menemui pria yang berada dalam mobil.
Ujang: "Juragan.. Itu yang di baga… …”
Belum selesai Ujang berbicara, pria tersebut kemudian memotong ucapan tersebut..
Pria dalam mobil: "Oh, iya.. Silakan diambil hadiahnya, yang merah atau kuning atau keduanya, silakan diambil sebanyak yang bisa diambil.”
Dengan wajah berseri-seri Ujang pun kemudian bergegas menghampiri Abas.
Ujang: "Bos…” (Dengan ekspresi penuh semangat di wajahnya.)
Melihat tingkah Ujang yang mulai menunjukkan keserakahannya, Abas pun kemudian tersadar dari ilusi-ilusi yang menggerogoti pikirannya. Dengan mata mulai terlihat berkaca-kaca, Abas hanya bisa menggumam dalam hati.
“(Maafkan Abang, Dek.. Abang belum bisa penuhi janji Abang ke kamu.)”
Abas mendekati koper tersebut dan dengan segera menutupnya. Ia pun kemudian menghampiri pria yang ada di dalam mobil.
Pria dalam mobil: "Sudah?”
Abas: "Sudah.. Semua aman. Kalau boleh tahu, Juragan ada keperluan apa datang ke desa ini?”
Abas: "Baiklah kalau begitu. Akan saya tuliskan di buku tamu.”
Muis dengan segera mengambil buku tamu yang tergeletak di dalam pos.
Pria dalam mobil: "Iya, silakan.”
Abas: "Kalau boleh tahu, nama Juragan bisa diberitahukan kepada kami?”
Muis mengangkat buku tersebut untuk diperlihatkan kepada pria yang berada dalam mobil.
Law: "Law, panggil saja saya begitu.”
Abas: "Baik, Juragan.. Selamat datang di desa kami yang tercinta ini.”
Pria dalam mobil: "Terima kasih. Tidak apa-apa, panggil Law saja. Jadi tidak enak rasanya dipanggil Juragan-juragan segala.”
Muis: "Kalau panggil nama langsung jadi nggak enaklah, Juragan. Kalau kami panggil Sultan, Raja atau Pangeran, pasti Juragan juga keberatan.”
Law: "Benar sekali. Hahaha…”
Melihat pria tersebut tertawa, mereka pun juga ikut tertawa.
Djuukk!! Pintu bagasi pun tertutup. Dengan segera sopir itu masuk ke kursi kemudi.
Law: "Baiklah kalau begitu. Saya sudah suruh orang untuk bawakan camilan kemari.”
Abas: "Wah.. Nggak usah repot-repot, Juragan. Saya jadi nggak enak nih.” (Dengan senyum malu-malu mau.)
Law: "Hahaha.. Santai saja. Ayah saya dimakamkan di sini, artinya kalian semua saudara saya juga.”
Sopir tersebut kemudian sesekali melirik ke kaca depan, seolah-olah bersiap menunggu perintah untuk memulai perjalanan.
Law: "Oh iya, terakhir. Saya boleh tanya?”
Abas: "Silakan, Juragan.”
Law: "Walinya sudah pernah diganti?”
Abas: "Belum, Juragan. Masih wali yang lama. Tapi sayangnya Pak Wali sekarang sedang tidak ada di tempat, beliau sedang ada rapat dengan desa sebelah.”
Law: "Oh, jadi begitu. Baiklah, Saya kembali lanjutkan perjalanannya.”
Abas: "Baik, Juragan. Hati-hati di jalan.”
Pria tersebut tersenyum diiringi kaca mobil yang menutup sempurna secara perlahan.
__ADS_1
Tiiiit~ (Mobil kembali bergerak dengan salam sapaannya.)
Law kemudian bergumam dalam hati saat kembali mengingat ucapan Abas tadi tentang Wali Desa.
“(Sekian lama dinonaktifkan, ternyata Abang masih punya belang juga rupanya.)”
Di saat Law melihat kaca depan, ia pun kemudian teringat sesuatu.
Law: "Kamu dari tadi melirik-lirik terus, ada apa?”
Sopir: "Maaf, Tuan Muda. Setelah menutup bagasi tadi, perut saya tiba-tiba jadi sakit, Tuan. Saya mulai kesulitan menahannya, Tuan.”
Law: "Ada kejadian apa? Jangan ditahan, keluarkan saja semua.”
Sopir: "Saya merasa terharu sekaligus bercampur lucu melihat penjaga tadi, Tuan."
Law: "Oh, iya.. Kenapa?”
Sopir: "Dia gemetaran… Menetes… Hahaha… Ke tanah… hahaha..” (Dengan kembali teringat gambaran yang sudah terjadi.)
Law: "Wah, keluarkan lagi…” (Dengan tersenyum karena mengetahui hal yang telah terjadi.)
Sopir: "Dia tutup kopernya… hahaha…” (Tidak kuasa menahan tawa.)
Law: "Hahaha… Ayo, lagi.. Sedikit lagi, keluarkan… Hahaha…” (Law berusaha menggoda sopir untuk mengatakannya.)
Mereka pun tertawa bersama di sepanjang perjalanan.
Ujang: "Bos.. Kencing di celana, ya? Celananya jadi basah tuh, Bos.”
Muis: "Uhh, iya nih.. Pantas saja bau pesing dari tadi. Kebanyakan makan jengkol sih, Bos." (Sembari menutupi hidungnya dan mengibas-ngibaskan tangannya.)
Abas: "Mana ada!! Kalian ini nggak bisa bedakan mana keringat mana kencing, ya?”
Ujang: "Jadi, Bos nggak kencing di celana?”
Abas: "Nggaklah.. Ini kan keringat!!”
Muis: "Jang, kita mengalah sajalah.. Nanti nangis. Hahaha…”
Muis dan Ujang tertawa terbahak-bahak. Dan Abas terlihat seperti ingin melarikan diri dari ejekan Muis dan Ujang. Ia pun kemudian mengeluarkan ponselnya, berlagak seperti sedang menelepon seseorang.
Abas: "Halo? Oh, iya.. Tunggu sebentar ya.”
Ujang dan Muis mengiyakan saja tingkah bosnya tersebut.
Muis: "Mau ke mana, Bos?”
Abas: "Ada perlu sebentar, aku pulang dulu. Nanti balik lagi.”
Abas kemudian melompati semak-semak di pematang sawah dan bergegas pergi meninggalkan mereka.
Ujang: "Ehh, ehh… Bos, Boooss!! Kok lewat pematang, Bos? Lewat sini saja, lebih cepat..”
Abas: "Nggaklah.. Justru lewat sini yang lebih cepat!!”
Muis: "Halah, Bos.. Alasan.. Hahaha…”
Abas kemudian memacu langkahnya di pematang sawah. Muis dan Ujang tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah bosnya tersebut.
Muis: "Bos itu kelakuannya ada-ada saja. Hahaha…”
Ujang: "Iya, hahaha.. Tapi aku salut juga sama si Bos.” (Ujang mencoba untuk menganalisis kembali kejadian sebelumnya.)
Muis: "Iya.. Waktu lihat koper tadi, gemetarnya luar biasa. Pasti akalnya sudah melayang ke mana-mana.”
Ujang: "Sebenarnya yang dia lihat itu bukan kopernya, tapi kejadian-kejadian setelahnya. Kemudian cuuuuuuuuus, hahaha…” (Dengan memperlihatkan telunjuknya.)
Muis: "Hahaha…” (Muis kembali terbayang celana Abas yang basah.)
Ujang: "Sekarang aku mulai paham kenapa Pak Wali suruh jaga di sini.”
Muis: "Benar juga, ya.. Aku juga sebenarnya belajar banyak dari si Bos.”
Dilain sisi, Abas terlihat berjalan dengan langkah yang cepat, hingga akhirnya sampailah ia di depan rumah. Melihat kedatangan Abas yang begitu mendadak, Shinta istrinya menjadi keheranan.
Shinta: "Ehh, Abang..? Kok pulangnya cepat?”
Abas: "Sedang darurat, Dek.”
Shinta yang mulai mencium aroma kurang sedap, kemudian mencari-cari dari mana sumber itu berasal.
Shinta: "Abang..? Abang kencing di celana, ya?” (Sembari tersenyum.)
Abas: "Nggaklah.. Mana ada. Ini namanya keringat.” (Bersuara parau dan mata yang berkaca-kaca.)
Abas pun kemudian segera menghindar dari istrinya. Selang beberapa langkah, ia pun seketika berhenti.
Abas: "Adek..?”
Shinta: "Iya, Bang.”
Abas: "Maafkan Abang, ya.. Abang belum bisa penuhi keinginan Adek.”
Shinta kemudian tersenyum manis, ia seakan-akan mengetahui bahwa suaminya itu baru saja mengalami hal yang sulit.
Shinta: "Iya, Abangku sayang.. Adek bersyukur dapat suami terbaik kayak Abang, meskipun bau pesing.”
__ADS_1
Abas: "Adek ini sebenarnya memuji atau ngeledek, sih?”
Shinta: "Hahaha… Abang buruan gih mandi.” (Tertawa jahil.)