Dimensi Milikku Sendiri

Dimensi Milikku Sendiri
Telur dadar


__ADS_3

Kegelapan yang hitam mendatangkan semangat ketika cahaya yang putih mendatangkan kedamaian.


Kegelapan yang hitam terasa begitu nikmat ketika cahaya yang putih terasa begitu nyaman.


Mina: "Ayah, ini kopinya..” (Menyodorkan secangkir kopi panas.)


Datuk: "Terima kasih.”


Mina kemudian juga ikut duduk di samping ayahnya. Mereka terlihat bersantai di pagi hari ini.


Mina: "Ayah kira-kira pulangnya kapan?”


Datuk: "Karena ini rapat gabungan, mungkin Ayah pulang agak malam..”


Mina: "Ohh..”


Datuk: "Kamu pasti khawatir kan, kalau Ayah nggak bisa pulang hari ini? Hahaha...” (Tertawa.)


Mina: "Ihh.. Ayah kepedean. Ayah nggak usah pulang saja, biar aku nggak capek-capek buat mengurusi Ayah tiap pagi. Haha..” (Membalas pernyataan ayahnya.)


Datuk: "Wah.. Sungguh teganya dirimu. Ayah kan juga kepingin dimanja-manja sama anak Ayah sendiri.” (Ekspresi wajah cemberut.)


Mina: "Iya, tega.. Hahaha..” (Tertawa melihat kelakuan ayahnya.)


Suasana pagi yang cerah ini menumbuhkan semangat untuk memulai aktivitas. di sela-sela perbincangan mereka, Abas dan kawan-kawan akhirnya datang sesuai dengan jadwal yang diperintahkan Datuk kepada mereka.


Abas: "Pagi, Ndan.” (Salam hormat sembari berjalan mendekati Datuk.)


Datuk: "Nah.. Akhirnya datang juga.”


Dengan sedikit senyuman, Mina kemudian bangkit dari duduknya.


Datuk: "Bang Abas, Bang Muis, Bang Ujang, mari duduk dulu. Biar Mina ambilkan minum."


Ujang: "Nggak apa-apa, Dek Mina. Nggak usah repot-repot. Ya kan, Bos?” (Mencoba memberikan instruksi kepada bosnya.)


Abas: "Iya, Dek Mina.. Nggak usah repot-repot, hahaha..” (Basa-basi.)


Muis: "Kami cuma ada urusan sebentar saja kok Dek.” (Tersenyum riang kepada Mina.)


Mina: "Iya, Bang Muis.” (Membalas dengan senyuman yang manis kepada Muis.)


Mereka berdua terus saja saling berbalas senyuman.


Datuk: "Hei hei.. Masih pagi, ini.. Kalian berdua jangan bikin gerah..” (Melerai kelakuan mereka berdua.)


Mina: " Iiihhh.. Ayah, apa sih? (Cemberut malu.)


Mina kemudian masuk ke dalam rumah.


Datuk: "Muis.. Anakku masih kuliah, loh ya..” (Dengan nada datar dan wajah serius.)


Muis: "I-iya, Ayah..” (Malu.)


Datuk: "Sejak kapan aku jadi Ayahmu..?” (Membantah pernyataan Muis.)


Muis: "Hehe.. Iya juga, ya..” (Menjadi canggung dan menggaruk-garuk kepala belakangnya.)


Abas: "Jalanmu masih panjang, Muis. Hahaha..” (Meledek Muis.)


Ujang: "Hahaha...” (Ikut tertawa.)


Suasana dipenuhi dengan semangat untuk memulai segala kegiatan di hari ini.


Datuk: "Nah, nah.. Kalian sudah tahu, kenapa saya suruh datang ke sini?” (Kembali memulai pembicaraan.)


Abas: "Belum, Ndan. Tapi, siap laksanakan, Ndan!” (Memberikan hormat.)


Ujang & Muis: "Siap, laksanakan!” (Ikut-ikutan hormat.)


Datuk: "Siap laksanakan, siap laksanakan apa kalian ini? Nggak jelas.”


Abas: "Hehe.. Maaf, Ndan. Kira-kira tugasnya apa, ya?”


Datuk: "Hari ini tugas kalian jaga pos lebih lama dari biasanya.”


Abas: "Siap laksanakan, Ndan!” (Kembali hormat.)


Mereka bertiga kembali mengangkat tangan untuk memberikan salam hormat. Datuk hanya geleng-geleng melihat tingkah mereka.


Ujang: "Maaf, Pak Wali.. Kalau boleh tahu, ada kejadian apa ya?”


Datuk: "Oh, iya.. Saya mau pergi rapat ke desa sebelah. Mungkin pulangnya agak lama. Selagi saya belum kembali, kalian dilarang meninggalkan pos. Ya, kalian ganti-gantian saja kalau mau pulang.” (Memperjelas arahan.)


Muis: "Wah.. Tidak biasanya begini, ya Bos?”


Abas: "Iyalah.. Mana ada yang biasa kalau Komandan sudah ngomong. Pasti ada sesuatunya nanti."


Datuk hanya tersenyum mendengar pernyataan Abas.


Datuk: "Tadi malam, saya mimpi melihat ikan besar. Kalian berhati-hatilah dengan ikan besar.”


Ujang: "Wah..”


Datuk: "Maksudnya, Kalian jangan lengah.”


Abas, Muis & Ujang: "Siap! Laksanakan, Ndan!” (Mereka kembali melakukan salam hormat.)


Datuk hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.


Datuk: "Nah, nah.. Kalian kerjakan sekarang. Saya harus siap-siap dulu, sebentar lagi harus berangkat.”


Abas, Muis & Ujang: "Siap laksanakan, Ndan!” (Lagi-lagi mereka kembali menunjukkan salam hormat.)


Datuk: "Wah, kalian ini.. Yakin bisa aman?” (Geleng-geleng kepala.)


Abas: "Tenang saja Pak Wali.. Beres pokoknya. Tapi ya.. Itunya, Pak Wali..” (Malu-malu.)


Datuk: "Apa lagi?’


Abas: "Yaaa.. Kira-kira, begitulah. Hahaha...” (Tertawa sembari memegang kepalanya.)


Ujang: "Maksudnya Bos.. Masalah logistiknya, Pak Wali.” (Cengar-cengir.)


Datuk: "Iya.. Biar si Mina yang antarkan ke pos.” (Menatap tajam ke arah Muis.)


Tatapan tersebut membuat Muis merasakan tekanan mental. Ia hanya bisa melirik ke sana kemari akibat tatapan tersebut.


Abas: "Kalau begitu, kami permisi dulu, Pak Wali.”


Datuk: "Iya.. Hati-hati di jalan.”


Abas: "Siap, Ndan!” (Salam hormat.)


Mereka bertiga kemudian meninggalkan kediaman Datuk dan bersegera menuju pos desa. Datuk kemudian minum beberapa tegukan kopinya sebelum masuk ke dalam rumah untuk mempersiapkan keberangkatannya.


Datuk: "Mina?” (Memanggil dari ruang tamu.)


Mina: "Iya, Ayah."


Mina yang sedang duduk di ranjangnya segera bergerak ke depan menemui ayahnya


Mina: "Ada apa, Ayah?”


Datuk: "Tolong ambilkan tas kerja Ayah yang menggantung di pintu kamar.”


Mina: "Ayah mau berangkat sekarang?"


Datuk: "Iya." (Sembari mengambil sepatu kerjanya di rak-rak sepatu.)


Mina dengan santai bergerak menuju kamar ayahnya.


Datuk: "Eh, Mina..”


Mina: "Iya, Ayah?” (Berhenti sejenak.)


Datuk: "Sekalian, panggil si Budi.” (Menenteng sepatu menuju kursi tamu.)


Mina kembali melanjutkan langkah untuk mengambil tas kerja yang dibutuhkan ayahnya tersebut. Setelah mengambilnya, ia kemudian menuju kamar Budi yang letaknya hanya berhadap-hadapan dengan kamar ayahnya. Dengan seketika, ia mengetuk pintu kamar Budi.


Tuuk.. Tuuk.. Tuuk.. (Suara ketukan pintu.)


Mina: "Budi..?”


Dari dalam kamar, Budi menyahut kakaknya.


Budi: "Iya, Kak..” (Segera berlari ke pintu kamar.)


Pintu kamar pun terbuka dengan segera. Budi melihat Mina berdiri sambil menenteng sebuah tas kerja.


Mina: "Kamu lagi apa?” (Melirik-lirik ke dalam kamar Budi.)


Budi: "Lagi baca buku."


Mina: "Wah, rajin ya..” (Berusaha memuji dan mengusap-usap kepala Budi.)


Budi: "Hmm..” (Tersenyum malu.)


Mina: "Kamu dipanggil tuh. Tunda dulu baca bukunya."


Budi: "Iya..”


Mina kemudian bergerak menuju depan rumah diikuti Budi dari belakang. Datuk terlihat telah menunggu kedatangan mereka berdua sembari meneguk kopi yang mulai tersisa sedikit.


Mina: "Ayah.. Ini tasnya." (Menyodorkan tas tersebut.)


Datuk: "Terima kasih." (Mengambil tas tersebut dan menaruh tas tersebut di dekat kakinya.)


Budi: "Ada apa, Datuk?”


Mina terlihat mengambil gelas kopi yang hanya tersisa ampasnya tersebut dan langsung membawanya ke dalam rumah.


Datuk: "Kamu ke mana? Dari tadi, Datuk tidak lihat kamu." (Merapikan kaos kakinya.)


Budi: "Di kamar.. Baca buku."


Datuk: "Buku?”


Budi: "Iya.. Kemarin aku pinjam buku Pak Faiz. Buku cerita-cerita pendek." (Menjelaskan situasinya.)


Datuk: "Wah.. Rajinnya cucu Datuk. Coba hal-hal yang baru itu bagus dong." (Mengusap kepala Budi.)


Budi hanya tersenyum malu atas perlakukan Datuknya.


Datuk: "Nah.. Datuk mau pergi rapat dulu. Mungkin pulangnya agak kemalaman. Kamu pergi mainnya jangan kelamaan, ya.. Kasihan kakakmu sendirian di rumah.”


Mina terlihat sedang berdiam diri menunggu di pintu menyaksikan perbincangan Budi dan Datuknya.


Budi: "Iya.. Budi kan belum selesai baca bukunya. Keluar rumah mungkin cuma pergi jajan, hehe..” (Mencoba meyakinkan Datuknya.)


Datuk: "Oh, iya.. Baguslah. Kalau begitu, Datuk berangkat dulu.” (Bangkit dari duduknya.)


Mina: "Ayah berangkat pakai apa?”


Budi kemudian menyalami Datuknya. Mina pun juga dengan segera menyalami ayahnya.


Datuk: "Pakai kakilah.. Masa, mengesot-ngesot pakai pantat.." (Menggoyang-goyangkan pantatnya.)


Budi dan Mina tertawa lepas membayangkan hal tersebut


Datuk: "Nah.. Sebentar lagi jemputannya datang.” (Mengangkat tangannya sedikit untuk melihat jam.)


Budi: "Mana? Nggak ada..”


Datuk: "Ada... Sekarang masih gaib. Tinggal dikasih Kun Faya Kun, baru ada.” (Memberikan penjelasan.)


Budi: "Wah, hebat ya..” (Takjub sekaligus ragu.)


Datuk: "Kun Faya Kun.. Kun Faya Kun.. Kun Faya Kun..” (Menutupkan mata sembari menggerakkan tangannya ke sana kemari layaknya seorang dukun.)


Budi hanya kebingungan. Mina tersenyum melihat tingkah Ayahnya tersebut.


Mina: "Nah, Ayah.. Jemputannya sudah datang." (Melihat sebuah mobil yang berhenti di pinggir jalan utama dari kejauhan.)


Budi kemudian juga mengikuti arah penglihatan Mina.


Budi: "Wah.. Ternyata begitu. Haha..” (Tertawa.)


Datuk: "Akhirnya datang juga. Ayah berangkat dulu. Budi jaga rumah, ya..” (Merapikan baju dan mulai melangkah.)


Mina: "Hati-hati di jalan, Ayah.”


Budi: "Hati-hati di jalan, Datuk.”


Berbekal kesunyian dan dimensi milikku sendiri.


Aku akan hadirkan kembali bias-bias pelangi.


Coretan-coretan tinta hanyalah lukisan yang penuh dengan misteri.


Aku hanyalah sepasang mata yang belum bisa untuk mengerti.


Matahari mulai sepenggalah naik. Dengan segera, Mina kembali ke dalam rumah dengan menenteng sebuah ember kosong. Segelas air sudah lebih dari cukup untuk melepas dahaga dari aktivitas pagi yang baru saja ia lakukan. Dalam keheningan sesaat, ia teringat dengan Budi yang sepertinya sedang asyik dengan buku bacaannya. Dengan langkah pasti, Ia kemudian menghampirinya meskipun hanya sekedar melepas sedikit rasa penasarannya. Dari depan pintu, Mina melihat Budi yang hanya diam membisu di meja belajarnya. Ia melihat Budi tengah asyik dengan dunia barunya tersebut. Saking fokusnya, Budi bahkan tidak sadar bahwa Mina diam-diam telah berada di belakangnya dan mengikuti bacaannya tersebut.


Mina: "DUAAAARRR!!!” (Suara teriakan diiringi tepukan di pundak Budi.)


Budi: "WAAAA..‼” (Terkaget-kaget.)


Mina tertawa terbahak-bahak melihat reaksi adiknya tersebut. Budi mengikutinya dengan senyuman karena kakaknya baru saja menjahilinya.


Budi: "Wah, Kak Mina.. Bikin kaget saja.” (Tersenyum lega.)


Mina: "Hahaha.. Kamu sih, diamnya kayak batu.” (Tertawa.)


Budi: "Bukunya seru, Kak.” (Sembari memperlihatkan buku tersebut ke hadapan Mina.)


Mina: "Literatur sastra..?” (Menatapi buku tersebut dengan serius.)


Mina mulai keheranan dengan buku yang sedang dibaca Budi tersebut.


Mina: "Wah, Bud.. Untuk seumuran kamu itu harusnya baca cerita dongeng-dongeng atau cerita fiksi atau cerita fantasi atau apa, gitu. Kok malah baca yang itu?”


Budi: "Ini kan buku cerita juga, Kak..” (Mencoba memberi bantahan kepada kakaknya.)


Mina: "Yeee.. Dari judulnya saja sudah ketahuan isinya tentang apa. Kamu pasti kesulitan bacanya."


Budi: "Hehe.. Iya sih. Tapi, aku sedikit-sedikit bisa paham maksudnya.”


Mina: "Mana..? Coba Kakak lihat..” (Melihat buku tersebut.)


Budi kemudian menggeser sedikit duduknya untuk membiarkan Mina melihat buku tersebut.


Mina: "Coba kamu jelaskan maksud kalimat ini..” (Menunjuk kepada sebuah kalimat yang terdapat di buku tersebut.)


Budi: "Ia memilih untuk mengsubordinasikan dirinya. Aksioma-aksioma dasar yang selama ini ia pegang teguh, kini telah terdestruksi menjadi serpihan-serpihan debu.” (Membaca kalimat yang ditunjuk Mina.)


Mina: "Nah.. Coba jelaskan.” (Menantang Budi.)


Budi kemudian terdiam sejenak untuk memikirkan maksud dari kalimat tersebut.


Budi: "Hancur.. menjadi.. serpihan debu.. Hehe..” (Cengar-cengir.)


Mina tertawa melihat keluguan adiknya tersebut.


Mina: "Hahaha.. Bacaanmu terlalu berat, Budi. Hahaha..” (Tertawa.)


Budi: "Biarin.. Aku bisa tahu dikit-dikit, kan lumayan." (Menyanggah pernyataan Mina.)

__ADS_1


Tak peduli apa pun yang menjadi sanggahan Budi, Mina terus saja tertawa karena membayangkan jurang yang terlalu lebar antara Budi dengan buku yang dibacanya.


Mina: "Kamu harus jadi Dosen dulu, baru bisa baca buku yang begitu. Hahaha...” (Tertawa sembari melangkah meninggalkan Budi.)


Budi hanya bisa terdiam mendengar pernyataan kakaknya dan kemudian melanjutkan membaca buku tersebut.


Wahai sang raja udara. Tebarkanlah aroma-aroma surga.


Teruslah berlari dengan membawa sekantong dahaga penyiksa.


Hilangkanlah kemunafikan pikiran akan jati diri mereka.


Sampai pada akhirnya terkulai lemas dengan sendirinya.


Mina terlihat sedang membawa beberapa perkakas dapur yang masih basah menuju dapur karena sehabis dibersihkan di sungai kecil dekat rumah. Ia sepertinya sedang bersiap-siap untuk melakukan kegiatan selanjutnya di hari ini yang panas teriknya mulai meninggi. Suara kasak-kusuk mulai mendominasi seisi ruangan kegiatan. Asap yang mengepul dari api yang berwarna keemasan dengan sekejap dilahap oleh ventilasi di atasnya. Minyak yang panas itu mengeluarkan suara khasnya. Mina terlihat asyik mencincang daun bawang yang ada dalam genggamannya. Tok.. Tok.. Kini telur itu meluncur jatuh ke dalam wadah mangkuk yang ada di bawahnya. Ia mencampurkan semua, termasuk daun bawangnya, termasuk bumbu-bumbu lainnya. Seluruh isi dari mangkuk itu berputar melawan arah jarum jam dengan begitu cepatnya. Chraaasszzz... Cairan keemasan itu mengepulkan aroma yang mengundang rasa lapar hingga menyebar ke setiap penjuru rumah.


Budi mencium aroma masakan tersebut. Seketika pandangnya berpaling ke arah pintu kamar meskipun hanya sekedar memastikan masakan apakah itu. Setelah menyadari hal tersebut, ia dengan segera merapikan alat-alat tulis beserta bukunya. Aroma dari masakan tersebut telah mengalahkannya. Ia bangkit dari kekhusyukannya dan segera menuju sumber aroma itu berada.


Budi: "Asyik.. Telur dadar." (Tersenyum ceria.)


Mina: "Nah.. Kamu sudah lapar, kan? Makan dulu.”


Tanpa basa-basi lagi, Budi kemudian duduk di meja makan dan segera menyendokkan nasi ke piring kosong yang sudah ada di depannya dan Mina kemudian juga ikut menyertainya. Dengan tangan yang agak basah, Budi lalu mengambil rebusan daun ubi yang dimasak sebelumnya sejumput demi sejumput. Mina terlihat sedang memotong telur dadar yang lumayan besar itu layaknya potongan sekotak pizza. Kali ini Budi telah siap untuk mengambil telur dadar yang telah menggugah seleranya tersebut. Potongan dadar yang sedikit berminyak dan masih melepaskan hawa panasnya itu semakin menambah rasa laparnya. Mereka berdua makan dengan lahapnya.


Mina: "Gimana? Enak?’ (Mina mencoba berbasa-basi.)


Budi: "Kalau Kak Mina yang masak, pasti enaklah. Hehe..” (Cengar-cengir.)


Mina: "Baguslah..” (Tersenyum.)


Di saat makan yang penuh lahap itu, Budi tersentak sejenak karena mengingat sesuatu hal yang penting. Ia kemudian mulai memacu gerakannya bertambah cepat dan bertambah cepat.


Mina: "Eeehh, Budi.. Nggak usah cepat-cepat begitu makannya.. Kamu tenang saja, Kakak lagi diet kok.”


Budi: "Wah.. Kak Mina kurus begitu, kok malah diet? Tidak rasional sama sekali." (Menyanggah ucapan kakaknya.)


Mina: "Hoooo.. Sudah sok-sokan intelek ya, sekarang?“


Budi: "Iya dong, Kak. Keilmuan itu kan harus ada aplikatifnya."


Mina: "Dengar kamu ngomong, Kakak kok malah jadi kebayang sama kepala gundul, ya? Haha...“ (Tertawa.)


Budi terus saja melanjutkan makannya hingga yang tersisa hanyalah piring putih yang dilumuri sedikit minyak di atasnya. Ia dengan segera menyudahinya dan membersihkan tangannya.


Budi: "Kak Mina.. Minyak gorengnya masih ada?”


Mina: "Iya.. Buat apa?’ (Mempertanyakan.)


Budi: "Aku ada janji sama Inyang sebentar lagi. Aku minta minyaknya sedikit, ya..” (Menatap ke arah kuali.)


Mina: "Iya, boleh saja. Tapi buat apa?’


Budi: "Aku mau bikin nasi garam minyak."


Mina: "Oh.. Yang itu. Mau Kakak bantu?” (Mencoba memberi bantuan.)


Budi: "Nggak apa-apa, Kak. Aku mau bikin kreasi sendiri.”


Budi mengambil sebuah wadah untuk bekal kemudian memasukkan nasi panas dan beberapa sendok minyak ke dalamnya, lalu mengaduknya. Setelah melakukan hal tersebut, ia kemudian berlari kecil menuju kamarnya untuk mengambil resep rahasia yang telah ia persiapkan sebelumnya. Setelah mengambil yang ia butuhkan, Budi kemudian memasukkannya ke dalam wadah bekal tersebut dan mengaduknya kembali. Hawa panas dari nasi dan resep rahasia tersebut menyatu menciptakan aroma yang sedap. Mina hanya tersenyum kecil melihat Budi dengan segera menutup wadah bekal tersebut lalu memasukkannya ke dalam bungkusan.


Budi: "Kak Mina.. Budi mau ke tempat Inyang dulu.” (Meminta izin kakaknya.)


Mina: "Iya.. Sekalian ini, Kakak sudah bungkus juga telur dadarnya.” (Sembari memasukkannya ke dalam bungkusan.)


Budi: "Iya, Kak...”


Dengan langkah yang terburu-buru, ia segera menjinjing bungkusan tersebut menuju pintu depan. di saat kakinya tergesa-gesa memasangkan sendalnya, ia teringat sebuah kertas yang harus ia berikan kepada kakaknya. Budi kembali masuk dan berlari kecil menuju kamarnya hingga Mina menjadi keheranan. Sekembalinya dari kamar, Budi kemudian memberikan secarik kertas itu kepada Mina.


Budi: "Kak.. Ini hasil observasiku tadi.” (Menyodorkan kertas robek.)


Mina kemudian mengambilnya dan Budi terlihat seperti dikejar waktu. Ia bersegera menuju pintu depan dan dengan tergesa-gesa memasangi sendalnya. Hingga akhirnya ia pun berlalu begitu saja. Mina hanya tersenyum manis melihat secarik kertas yang diberikan adiknya tersebut.


Hari ini, Aku telah bergelora untuk dapat menantang masa depan.


Hari ini, akan ku bungkam seisi dunia dengan sepercik cahaya harapan.


Jalanan menyemburkan kabut tipis ketika Budi bergerak dengan langkah yang memburu. Bahkan ia tidak butuh waktu lama menempuh tangga setapak dan sampai ke atasnya. Budi terdiam sejenak untuk mengatur nafasnya. Inyang tersenyum melihat pengorbanan yang telah Budi lakukan untuk menunaikan janjinya.


Inyang: "Kamu datang juga, akhirnya.”


Budi: "Hehe.. Ini, Inyang.. Aku sudah buatkan makanan spesial kreasiku sendiri.” (Mendekati Inyang sembari menyodorkan kemasan yang dijinjingnya.)


Inyang: "Iya.. Kemarilah. Duduklah di sini.”


Budi kemudian mengikuti perintah Inyang untuk menemaninya duduk.


Inyang: "Kamu sudah makan?”


Budi: "Sudah.. Hehe." (Cengar-cengir.)


Ekspresi yang ditampakkan Budi kepada Inyang seolah-olah mengisyaratkan bahwa ia telah sepenuhnya yakin dengan makanan yang telah dibuatnya.


Inyang: "Kamu sepertinya sudah yakin sekali bisa mengalahkan Inyang..” (Tersenyum.)


Budi: "Hehe.. Haqqul Yaqin.”


Inyang: "Bagus.. Pertahankan keyakinan seperti itu.” (Tersenyum sembari membuka kemasan yang ada di tangannya.)


Dengan senyuman yang terlihat sedikit serius, Budi memperhatikan setiap gerak-gerik Inyang. Hingga akhirnya terbukalah wadah bekal tersebut. Aroma yang sedap dengan segera menyeruak dan mendominasi aroma panas terik yang ada di sekitar mereka berdua. Inyang sejenak terdiam cukup dalam dan membuatnya kembali tersenyum karenanya.


Inyang: "Kamu tahu? Inyang baru saja kembali dari masa lalu.” (Tersenyum kepada Budi.)


Budi: "Wah..” (Kebingungan.)


Dengan perlahan namun pasti, ia menyendoki nasi berminyak buatan Budi itu dan tanpa ragu memakannya. Pandangannya terlihat serius terhadap Budi di setiap kunyahan nasi berminyak tersebut. Budi hanya bisa menunggu tanggapan Inyang tentang apa yang telah dibuatnya.


Inyang: "Selamat. Kamu sudah berhasil mengalahkan Inyang.” (Dengan tersenyum.)


Budi: "Hahaha..” (Berdiri dari duduknya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.)


Inyang: "Tapi.. Suatu hari nanti, sepertinya kemenanganmu hari ini akan Inyang rebut kembali.” (Tersenyum.)


Budi kurang memedulikan pernyataan Inyang tersebut. Ia hanya asyik dengan kegembiraannya sendiri.


Budi: "Wah.. Berarti aku belum menang, ternyata.”


Inyang: "Kemenanganmu, kemenangan Inyang berdiri sejajar.”


Budi: "Haha.. Aku bingung.”


Inyang: "Sampai saatnya nanti, kamu akan ingat perbincangan kita hari ini.” (Tersenyum.)


Mendengar hal tersebut, Budi hanya bisa meyakini bahwa yang dimaksudkan Inyang tidak akan dapat diketahui dalam waktu dekat.


Inyang: "Kamu sudah lakukan kebaikan yang besar, hari ini. Kebaikan besar apa lagi yang akan kamu lakukan hari ini?”


Budi: "Nggak tahu.. Tapi kegiatanku sekarang cuma baca buku.”


Inyang: "Baguslah..” (Tersenyum.)


Karena ia memberitahukan kegiatannya kepada Inyang, ia merasa seperti ingin segera melakukan kegiatan tersebut.


Budi: "Kalau begitu.. Aku pulang dulu, Inyang.” (Meminta izin untuk pamit.)


Inyang: "Iya.. Berbuat baiklah untuk dirimu, sebanyak-banyaknya.” (Tersenyum kepada Budi.)


Budi: "Iya, Inyang..” (Membalas senyuman Inyang.)


Budi pun segera berlalu meninggalkan Inyang dengan perasaan lega dan gembira. Ia menuruni tangga setapak dengan membawa senyum puas di wajahnya. di saat hampir mencapai tangga terakhir, ia berpapasan dengan seorang pria dewasa yang berpakaian rapi ala metropolitan. Mereka berselisih jalan hanya dengan saling melepas senyuman sebagai salam sapaan.


Disela perjalanannya, Budi membuat keputusan untuk berkunjung sebentar ke warung Sophia sebelum kembali ke rumah. Setelah meyakinkan apa yang harus ia lakukan, langkah kakinya kembali terpacu.


"(Lagi dan lagi, aku kembali melihatnya lagi. Entah kenapa, ekspresinya selalu terlihat seperti sedang berada di masa lalu namun sekaligus berada di masa depan. Aku tidak tahu, saat ini ia sedang berada di dunia yang mana.)"


Dengan perlahan namun pasti, ia mulai melihat pria tua itu duduk dengan tatapan yang jauh entah ke mana, yang membuatnya hanya bisa bergumam dalam hati.


Law: "Ayah..” (Menyahut Inyang dari tangga.)


Inyang: "Oohh.. Laut, kamu datang.” (Tersenyum.)


Law: "Iya, Ayah.. Aku datang berkunjung." (Ikut tersenyum.)


Inyang: "Kemarilah, kemarilah.. Aku ada berita yang bagus untukmu." (Tangannya menyahut-nyahut Law.)


Law kemudian mendekati Inyang dan duduk di sampingnya.


Law: "Berita apa itu, Ayah?”


Inyang: "Aku baru saja dikalahkan.” (Tersenyum dengan wajah yang cukup serius kepada Law.)


Law: "Wah.. Yang benar, Ayah?” (Terkejut dengan pernyataan tersebut.)


Inyang: "Kamu pasti baru saja berpapasan dengannya."


Law: "Anak kecil barusan?” (Mencoba meyakinkan pendapatnya.)


Inyang hanya tersenyum kepada Law sembari membuka kembali wadah bekal yang ada di sampingnya dan memperlihatkannya. Law sedikit terkejut dengan aroma yang keluar dari makanan tersebut.


Law: "Sepertinya aku tidak asing dengan makanan ini, Ayah.” (Mencoba memberi penjelasan kepada Inyang.)


Inyang: "Dulu.. Waktu masih keluar masuk hutan, aku dan Ayahmu sering makan ini.”


Law: "Wah.. Waktu kecil juga, aku sering makan ini, Ayah.”


Inyang: "Aku jadi teringat ayahmu.. Awalnya menolak makan ini. Tapi, saat ditinggal sebentar, malah habiskan jatah separuh pasukan. Waktu kami datangi, beliau pura-pura tidur seolah-olah tidak tahu apa-apa. Hingga akhirnya mengaku dan digantunglah beliau di pohon semalaman.” (Tersenyum hingga giginya terlihat.)


Law: "Hahaha.. Ayahku rakus juga, ternyata. Hahaha..” (Tertawa terpingkal-pingkal.)


Inyang mengikuti reaksi tersebut dengan senyumannya.


Inyang: "Laut.. Bisakah kamu menyedekahkan sedikit tenagamu?”


Law: "Iya, Ayah.” (Menyanggupi ucapan Inyang.)


Inyang: "Bisa tolong carikan bumbu masakan yang ukurannya kira-kira segini dan kemasannya mengandung campuran logam tipis.” (Sembari menggambarkan ukuran dengan telapak tangannya kepada Law.)


Law: "Bisa, Ayah.”


Law kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Law: "Kamu paham, kan?” (Berbicara di ponsel.)


Setelah ucapan singkat itu, ia kemudian mematikan ponselnya


Law: "Kira-kira setengah jam lagi sampailah, Ayah. Biar nanti dititipkan ke rumah Abang saja.” (Menjelaskan kepada Inyang.)


Inyang: "Kamu pasang alat, lumayan banyak juga ya..” (Menyadari sesuatu yang ada pada Law.)


Law: "Bagaimana Ayah bisa tahu kalau aku pasang banyak alat?” (Menjadi keheranan.)


Dengan sedikit senyuman, Inyang berupaya menjelaskan pernyataannya tersebut.


Inyang: "Dua, dua, satu.” (Tersenyum sembari menunjuk-nunjuk di mana lokasi alat itu berada.)


Law pun hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


Inyang: "Yang satu sepertinya belum pernah dipencet." (Menambahkan penjelasan dari pernyataannya.)


Law menjadi terkaget-kaget sekaligus tertawa cekikikan karena ucapan tersebut.


Inyang: "Apa perlu, aku jelaskan tombol itu isinya berapa orang? Atau Jenis senjatanya? Atau koordinatnya? Atau berapa yang di luar, berapa yang di dalam? Atau isi kursi mobilnya?”.


Dengan seketika, tawa itu semakin menjadi-jadi.


Law: "Hahaha.. Tiba-tiba aku jadi penasaran bentuk ekspresi apa yang mereka munculkan saat mendengar ucapan Ayah barusan. Hahaha.. Kalau melucu, Ayah jagonya. Hahaha..” (Tertawa terpingkal-pingkal membayangkan ekspresi anak buahnya.)


Inyang mengikuti tawa tersebut dengan senyuman khasnya. Tawa yang cukup menguras energinya.


Inyang: "Laut.. Terima kasih untuk bantuannya."


Law: "Biasa saja, Ayah. Itu sudah jadi tugasku.”


Inyang: "Karena kamu sudah membantuku, Aku akan beritahukan sedikit rahasiaku padamu.”


Law: "Iya, Ayah.. Beritahu aku." (Memperhatikan dengan cukup serius.)


Inyang: "Ini adalah makanan terenak yang pernah aku makan sepanjang hidupku.” (Senyumannya mengikuti tatapan yang jauh ke ujung langit.)


Melihat ekspresi dan ucapan tersebut membuat Law terdiam dan mulai berkeringat dingin. Ia merasa seperti sedang melihat bencana besar berada tepat di hadapannya dan akan segera melahapnya. Kepingan-kepingan puzzle yang selama ini hilang, akhirnya kembali menyatu dalam benaknya. Iya baru saja mengetahui sebuah kebenaran yang besar.


Law: "Ayah.. Maafkan aku, selama ini aku tidak menyadarinya.”


Inyang: "Tidak apa-apa, kamu harus tetap fokus dengan tugasmu.” (Tersenyum kepada Law.)


Law: "Baik, Ayah.. Tugas yang Ayah berikan akan aku laksanakan dengan baik.” (Membalas senyuman Inyang.)


Inyang: "Nah.. Kita sudahi pembicaraan yang serius ini.” (Bangkit dari duduknya.)


Inyang kemudian menuju ke samping pondoknya untuk mengambil perkakas makan. Dan kembali lagi untuk memberikannya kepada Law. Inyang kemudian membagi separuh nasi berminyak dan juga telur dadar tersebut ke atas piring yang dipegang Law.


Law: "Wah, Ayah..” (Menjadi canggung.)


Inyang: "Tidak usah sungkan.. Sesekali kamu juga harus ganti suasana.” (Terus menyendokkan makanan tersebut ke piring yang dipegang Law.)


Law: "Ayah.. Sudah Ayah. Kebanyakan." (Mencoba menolak dengan halus.)


Inyang: "Aku tahu, hari ini kamu benar-benar sangat lapar.” (Terus menyendokkan makanan tersebut.)


Law: "Wah, Ayah.. Sudah Ayah. Sebanyak ini bagaimana cara habisnya, Ayah?” (Mengeluh.)


Inyang: "Kamu harus makan yang banyak, biar cepat besar.” (Tersenyum sembari terus saja menyendokkan makanan tersebut.)


Dalam setiap sendokan demi sendokan itu, membuat Law memahami sesuatu.


Law: "Iya, Ayah.. Akan aku makan sebanyak-banyaknya, hahaha...” (Tertawa.)


Inyang: "Baguslah.. Tapi ingat, kalau makan jangan sampai mubazir.” (Tersenyum sampai-sampai giginya terlihat.)


Mereka berdua kemudian menyantap makanan tersebut ditemani suasana nyaman dan asri. Law sangat menikmati acara makan bersama Inyang.


Law: "Aaahhh... Nyaman sekali suasanya. Aku jadi ingin berlama-lama di sini." (Sembari tangan kanannya mengelus-elus perutnya disertai tangan kiri yang menopang tubuhnya.)


Inyang: "Baiklah.. Pondokku ini selalu terbuka untukmu. Aku akan tetap berada di sini. Datanglah kapan pun kamu mau.”


Law: "Bukan begitu, Ayah.. Hanya saja, hari ini aku mengistirahatkan diri sekaligus mengunjungi makam Ayahku.”


Mereka berdua terdiam cukup lama karena percakapan yang membosankan tersebut.


Law: "Ayah.. Identitasku sudah bocor.” (Membuka pembicaraan.)


Inyang: "Benar.. Saat ini mereka sedang melihatmu dan sibuk mempelajari data-datamu."


Law: "Apa sebaiknya Ayah keluar saja dari sini dan ikut bersama kami?”


Inyang: "Tidak, Laut.. Tugasku sudah selesai. Kakiku sudah tidak cukup kuat untuk melangkah lebih jauh lagi.” (Menepuk pelan pahanya sendiri.)


Law: "Tapi, Ayah..” (Mencoba meyakinkan Inyang.)


Inyang: "Sudah.. Tidak usah berputus asa begitu. Selagi aku masih hidup, tidak akan ada yang berani mengganggumu. Teruslah bergerak, aku selalu memperhatikanmu dari sini.”


Law: "Baiklah, Ayah.” (Hanya bisa menurut dan membenarkan begitu saja.)


Terlihat jelas ketidakpuasan dari ekspresi wajahnya atas pernyataan sikap yang diberikan oleh Inyang.


Inyang: "Laut.. Tatap mataku..” (Memandang dengan tajam.)


Law mengikuti perintah tersebut. Semakin lama tatapan itu dan semakin dalam pula yang ia rasakan. Seolah-olah ia sedang melihat seorang pejuang yang sedang bersiap-siap untuk berperang dengan kesiagaan tinggi.

__ADS_1


Inyang: "Allah bersamaku.. Ia telah mengaruniakan kepadaku kemenangan yang besar. Kemerdekaan atas kekuasaanku, kemerdekaan atas rakyatku. Kemerdekaan atas diriku sendiri. Selagi Allah masih mengizinkanku untuk hidup, selamanya mereka tidak akan pernah bisa merebut apa-apa yang ada dalam genggamanku. Tidak pantas rasanya jika aku menukar semuanya dengan keegoisanku yang kecil. Kira-kira, bagaimana tanggapan orang-orang yang nantinya akan sengsara dan mati karena keegoisanku? Aku bukan Nessy yang telah berhasil membunuh tuhan palsunya. Aku bukan Adam yang berhasil dibujuk setan agar membunuh Allah."


Law: "Baiklah, Ayah. Kami akan siapkan rencana untuk akselerasi. Mohon bimbingan dan arahan dari Ayah.”


Inyang: "Baguslah.. Kalian semua kutugaskan untuk terus terbang setinggi-tingginya ke puncak langit, hingga cahaya yang menyilaukan menghentikan langkah kaki mereka.”


Law: "Iya, Ayah.. Berita dari Ayah akan aku sampaikan ke saudara-saudara yang lain.”


Inyang tersenyum dengan begitu tulusnya terhadap tanggapan positif yang dilontarkan oleh Law.


Inyang: "Kamu sudah besar sekarang ya, Laut.. Sudah terlihat gagah." (Tersenyum sembari memijit-mijit pelan pundak Law.)


Law: "Biasa saja ah, Ayah. Aku hanya mengikuti instruksi dari Ayah saja.” (Merasa agak malu.)


Inyang: "Aku masih ingat waktu kamu masih kecil, kesandung kecil saja langsung nangis.” (Tersenyum bahagia.)


Law: "Wah, Ayah.. Kok aku malah jadi penasaran, ya? Bagaimana jadinya kalau Ayah yang nangis? Hahaha..” (Tertawa licik.)


Inyang: "Aku sudah terlalu tua untuk menangisi hidup.” (Tersenyum kepada Law.)


Law: "Apa iya?” (Membalas senyuman sekaligus mempertanyakan.)


Mereka berdua bersuka ria dan saling berbagi semangat.


Law: "Ayah.. Sepertinya, sudah waktunya aku pergi.” (Memberi isyarat kepada Inyang.)


Inyang: "Baiklah.. Seperti kataku tadi, datanglah kemari kapan pun kamu mau.”


Law: "Iya, Ayah.. Sepertinya aku baru saja dapat ide yang bagus.” (Berdiri sembari merapikan dasinya.)


Inyang: "Baguslah..” (Tersenyum.)


Law: "Kalau begitu.. Aku permisi dulu, Ayah.” (Melepas senyuman perpisahan.)


Inyang membalas senyuman tersebut. Kemudian Law berlalu meninggalkan Inyang. Ia berjalan menuruni tangga itu dengan membawa semangat yang baru. di bawah tangga, sopirnya telah menunggu kedatangannya. Sesampainya di sana, Law segera memasuki mobilnya dan dengan sigap sopirnya bergerak mengondisikan hal tersebut. Mereka telah siap untuk berangkat.


Sopir: "Kita akan ke mana, Tuan Muda?” (Menanyakan lokasi yang ingin dituju Law.)


Law: "Kita akan ke bandara. Segera siapkan jetnya."


Sopir: "Baik, Tuan Muda." (Mulai bergerak maju.)


Dari kejauhan Muis melihat mobil Law yang perlahan mulai mendekat ke arah mereka. Mereka bertiga menyadari bahwa mobil tersebut akan keluar meninggalkan desa.


Ujang: "Eh, Bos.. Juragan sudah mau pulang, Bos."


Abas: "Wah.. Iya. Sepertinya Juragan sudah selesai bicara dengan Inyang.”


Muis: "Juragan pasti punya hubungan khusus dengan Inyang, Bos."


Abas: "Aku pikir juga begitu. Kita harus beri salam hormat ke Juragan.”


Abas kemudian keluar dari posnya dan seketika berdiri tegap sembari mengangkat tangannya untuk memberikan salam hormat. Melihat hal itu, Muis dan Ujang mengikuti cara yang dilakukan Abas. Hingga akhirnya mobil itu semakin mendekat.


Tiit.. (Suara klakson mobil.).


Tak lama berselang, mobil itu berhenti di hadapan mereka bertiga. Sopir kemudian dengan segera keluar dari mobil untuk menghampiri mereka bertiga yang masih tetap dengan posisi hormatnya. Sopir itu kemudian menyelipkan sesuatu ke kantung celana Abas yang membuatnya merasa canggung.


Abas: "Wah... Ada apa ini? Ada apa ini?" (Sembari tubuhnya bergerak-gerak untuk menolak.)


Sopir: "Ini pesan dari Tuan Muda." (Sembari menyelipkannya ke kantung celana mereka bertiga.)


Kaca mobil terbuka dan Law terlihat sedang tersenyum atas tingkah mereka bertiga.


Law: "Tidak apa-apa, terima saja. Kalian sudah berjasa besar untuk desa ini, sudah sepantasnya mendapatkan hadiah dari saya.” (Tersenyum kepada mereka bertiga.)


Abas: "Wah, Juragan.. Jadi tidak enak nih." (Tersenyum malu-malu mau dengan posisi tangan yang masih sama.)


Law: "Jangan sungkan begitu. Anggap saja logistik tambahan.”


Abas: "Wah, baiklah Juragan.. Terima kasih banyak, Juragan. Semoga Juragan tidak pernah bosan mengunjungi desa kami lagi.” (Cengar-cengir.)


Law jadi tersenyum melihat kelakuan kikuk mereka.


Law: "Selamat bertugas." (Senyuman perpisahan.)


Kaca mobil tertutup perlahan dibarengi dengan mobil yang mulai bergerak maju meninggalkan mereka.


Suasana berubah menjadi tidak biasa hari ini. Hangar tiba-tiba dipenuhi hiruk pikuk yang menyibukkan. Suara ketikan keyboard dan langkah kaki mendominasi seisi ruangan. Orang-orang berlalu lalang, bergerak ke sana kemari untuk memastikan sebuah informasi yang terlihat dari depan layar.


Y1: "Kapten.. Target sudah terkonfirmasi. Target adalah The Shadows alias si Tukang Sihir alias Law. Sosok yang dipastikan menjadi dalang dibalik terpilihnya eS Je eM."


Y2: "Bagus. Ubah satelit ke modul Te eX resolusi tinggi dan teruskan penyelidikan.”


Y1: "Roger!”


Di jalanan yang telah menjadi gersang dan berdebu, Budi berpapasan dengan gurunya. Sepertinya mereka memiliki kepentingan yang sama. Mereka pun sedikit memperlambat gerak langkah mereka meskipun hanya sekedar untuk berbasa-basi.


Budi: "Pak Faiz..” (Menyahut Faiz sembari mempercepat langkahnya untuk mendekatinya.)


Faiz: "Budi.. Mau ke warung juga, ya?” (Bergerak dengan santai.)


Budi: "Iya, Pak. Mau beli camilan."


Faiz: "Bapak juga. Mau cari yang segar-segar."


Mereka pun melangkah beriringan menuju warung Ibu Sophia. Dikarenakan ada hal yang tidak sempat ia tanyakan di hari sebelumnya kepada Budi, ia mencoba menanyakannya secara langsung saat itu juga.


Faiz: "Gimana? Sudah siap masuk sekolah lagi?”


Budi: "Sudah siap sih, Pak Faiz. Tapi aku belum dapat konfirmasi dari Datuk, Pak Faiz."


Faiz: "Wah... Isi bukunya langsung dipraktikkan, ya?” (Tersenyum gembira.)


Budi: "Iya, Pak.. Biar nggak lupa. Meskipun tahunya baru sedikit-sedikit. Hehe..” (Menjadi malu.)


Faiz: "Bagus itu.. Bapak support sepenuhnya.” (Tersenyum bangga kepada Budi.)


Tidak butuh waktu yang lama setelah pertemuan mereka berdua. Akhirnya tibalah mereka di warung Ibu Sophia.


Sophia: "Ehh.. Ada Pak Guru. Masih banyak tugas, Pak Guru?”


Faiz: "Iya nih, Bu Sophia. Sedang merangkum materi pelajaran. Seperti biasa Bu Sophia, teh esnya satu. Biar kepalanya ndak meleduk.“ (Tersenyum kepada Sophia.)


Sophia: "Ohh.. Iya, tentu. Biar dibikinkan sebentar.”


Budi terlihat sedang asyik dengan pemandangan penuh warna-warni yang ada di hadapannya.


Sophia: "Silakan dipilih camilannya, Bud. Dijamin enak-enak semua.” (Mencoba mengompori Budi sembari tersenyum.)


Budi: "Iya, Bu. Budi lihat-lihat dulu.”


Sophia menggapai rak-rak peralatan yang dibutuhkannya dan dengan segera mengerjakan pesanan yang dimintakan oleh Faiz. Untuk memecah keheningan terhadap pelanggannya, Sophia melakukan inisiatif untuk sedikit berbasa-basi.


Sophia: "Pak Guru.. Hari ini saya bingung sama kelakuan anak saya, Pak Guru.” (Sembari memproses pesanan.)


Faiz: "Wah.. Ada kejadian apa, Bu Sophia?” (Mempertanyakan.)


Sophia: "Iya, Pak Guru. Biasanya hari-hari begini, si Udin harusnya sudah nyusahin saya. Tapi sekarang kok malah nggak, ya? Saya jadi bingung.” (Membuka pembicaraan.)


Faiz: "Aduh.. Saya pun juga bingung, harus jawab apa. Hahaha..” (Tertawa mendengar pernyataan Sophia.)


Dikarenakan pernyataan yang membingungkan tersebut, membuat Faiz terpacu untuk mengorek keterangan lebih lanjut perihal tersebut.


Faiz: "Memangnya Udin kenapa, Bu?”


Sophia: "Iya, Pak Guru. Dari tadi si Udin di kamar terus, nggak keluar-keluar. Waktu saya lihat, ternyata sedang asyik baca buku. Saya cuma bisa berucap dalam hati. 'Ini anak kira-kira kepalanya kebentur di mana, ya? Kok mendadak sok rajin baca buku gitu?' Gitu, Pak Guru.” (Menyampaikannya dengan nada lesu.)


Mendengar hal itu Faiz tertawa kecil diikuti senyuman Budi yang lebar. Setelah mengetahui hal itu hanyalah guyonan, Faiz pun mengikuti arah pembicaraan tersebut.


Faiz: "Wah.. Kebentur yang mendatangkan manfaat itu mesti, Bu Sophia. Hahaha...”


Sophia: "Iya sih, Pak Guru. Saya khawatirnya kalau mendadak jadi sembuh, terus nggak baca buku lagi. Coba kepalanya kebentur tiap hari.. Kan, baca bukunya bisa tiap hari juga..”


Faiz menjadi tertawa lepas karenanya. Dan pengunjung warung yang ada di sekitar mereka juga ikut tertawa dibuatnya.


Faiz: "Bisa jadi kisah ajaib ini mesti. Hahaha..”


Budi sepertinya telah menentukan pilihannya, ia dengan segera mengambilnya dan memberikan uang pembayarannya kepada Sophia.


Budi: "Ini, Bu.. Budi beli yang ini.” (Memberikan uang sembari masih tersenyum lebar akibat percakapan yang barusan terjadi.)


Sophia: "Iya, Bud.. Terima kasih, ini kembaliannya.” (Memberikan uang kembaliannya.)


Disela jeda waktu yang singkat itu, Faiz kemudian mencoba menjelaskan hal apa yang menjadi kronologi kejadian.


Faiz: "Sebenarnya.. Kemarin itu Udin dan kawan-kawan datang ke kos-kosan saya, Bu Sophia. Saya arahkan mereka untuk baca buku.”


Budi: "Iya, Bu. Pak Faiz Bukunya banyak. Budi baca buku juga. Bukunya bagus.” (Membenarkan pernyataan Faiz dengan menggebu-gebu.)


Faiz: "Nah... Itu, si Budi.”


Sophia: "Wah.. Kalau kos-kosan Pak Guru dijadikan perpustakaan, terus bukunya disewakan, lumayan juga itu Pak Guru.” (Ide bisnisnya mulai muncul.)


Faiz: "Ndaklah, Bu. Tapi kalau ada yang mau pinjam, saya pinjamkan. Cuma koleksi pribadi saja dan lagian jumlahnya tidak seberapa.”


Budi: "Kemarin Budi lihat buku kreasi masakan.”


Sophia: "Wah.. Ada buku masak juga?” (Mulai menjadi tertarik.)


Melihat reaksi dari Sophia, Faiz mencoba untuk memberikan solusi dari hal tersebut.


Faiz: "Kalau Bu Sophia mau, saya bisa pinjamkan bukunya. Siapa tahu bisa muncul ide-ide baru.”


Sophia: "Saya mau dong, Pak Guru. Siapa tahu bisa dapat ide menu baru.”


Faiz: "Iya, Bu. Suruh saja Udin yang jemput ke kos-kosan saya.”


Perbincangan tersebut sepertinya akan menemukan sebuah lintasan pembaharuan untuk ilmu pengetahuan. Seakan-akan telah menggerakkan pola pikir yang semula bergerak datar menuju gerakan yang lebih bergelombang.


Sophia: "Ini, Pak Guru. teh esnya.” (Memberikan pesanan yang telah diselesaikan.)


Faiz: "Terima kasih, Bu. Ini uangnya." (Memberikan selembar uang.)


Menyadari pembicaraan yang sepertinya mulai mengarah ke titik akhir, Budi kemudian bersiap-siap untuk keluar dari perbincangan tersebut.


Budi: "Pak Faiz, Bu Sophia, Budi pulang dulu.”


Sophia: "Iya, Bud. Hati-hati di jalan.”


Faiz: "Bapak juga, Bud. Bu Sophia, saya juga permisi dulu.”


Sophia: "Iya, Pak Guru. Terima kasih banyak, ya."


Mereka dipertemukan oleh kepentingan dan akhirnya juga dipisahkan oleh kepentingan.


Sepertinya Budi sudah membulatkan tekatnya atas apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Dengan saku celana yang telah penuh oleh camilan, agaknya hal tersebut mungkin akan meningkatkan minat membacanya ketika sudah berada di rumah nanti. Kali ini sepertinya ia mengambil rute jalan yang dirasa lebih mempersingkat waktu untuk mencapai rumah.


Tiba-tiba, dari kejauhan ia melihat seorang pria asing yang sedang terdiam dan terlihat linglung di depan pagar rumahnya. Dengan seketika instingnya bereaksi secara spontan dikarenakan teringat oleh pesan Datuknya. Ia memacu langkah kakinya untuk menyusuri gang kecil yang tepat berada di sampingnya hingga kembalilah ia ke jalur utama.


Langkahnya memburu.. Di setiap hela nafas, otaknya hanya memunculkan gambaran tentang kakaknya. Dengan secepat kilat dan tanpa pikir panjang, ia melompati pagar samping rumahnya. Mengendap-endap mengelilingi rumah dalam keheningan. Kemudian dengan segera menuju ke suatu tempat di samping rumah untuk mengambil sebuah kerambit yang memang sengaja disembunyikan Datuknya di sana.


Dengan menguatkan mental, ia kembali bergerak mengendap-endap dan mendekat ke arah pintu utama. Ia melirik kecil dari balik pagar untuk memastikan posisi orang asing tersebut yang terlihat hanya berdiri terdiam. Dalam keheningan itu, Budi akhirnya telah berdiri tepat di belakang pria asing tersebut. Budi terlihat sudah akan bersiap-siap menerjang pria asing itu sembari memegangi kerambit yang sedang disembunyikan di dalam baju bagian belakangnya. Tidak lama berselang, Pintu pun terbuka.


Mina: "Iya?” (Membuka pintu.)


Pria asing: "Permisi.. Apa benar ini rumahnya Wali Desa?”


Mendengar hal itu, Budi merasakan lemas sekaligus lega karena sesuatu yang ia khawatirkan itu menjadi sirna begitu saja.


Mina: "Benar.. Ada apa ya?”


Pria asing: "Ini.. Saya disuruh mengantarkan bumbu ini kemari." (Menyodorkan sekarton kecil bumbu.)


Mina: "Kalau boleh tahu, ini dari siapa, ya?” (Sembari mengambil bumbu tersebut.)


Pria asing: "Oh, iya.. Dari adiknya. Bos saya suruh bilangnya begitu, kalau nanti ditanya.” (Mencoba menjelaskan.)


Mina tidak sengaja melihat ke arah Budi yang sedang terdiam di belakang pria asing tersebut.


Mina: "Ehh, Budi. Kamu ngapain diam di situ? Kalau mau masuk, ya masuk saja.”


Pria asing tersebut menjadi sedikit kaget dan meminggirkan tubuhnya selangkah dibarengi pandangannya yang secara refleks mengarah kepada apa yang dimaksudkan Mina. Seketika, pria asing tersebut menjadi bertambah kaget lagi karena baru saja mengetahui sesuatu setelah mengamati gerak-gerik Budi. Agar tidak memperkeruh suasana, iya mencoba untuk segera menyingkir dari sana secepatnya.


Pria asing: "Kalau begitu, saya permisi dulu.” (Berlalu sembari tersenyum basa-basi kepada Mina dan Budi.)


Budi dan Mina juga dengan serentak membalas senyuman pria asing tersebut. Tidak berselang lama setelah kepergian pria tersebut, Mina menatap Budi dengan tatapan yang tajam.


Mina: "Budi...” (Menjulurkan tangannya ke hadapan Budi.)


Budi hanya mengikuti apa yang dimintakan Mina terhadapnya. Dengan perlahan, ia mengeluarkan kerambit tersebut dari balik bajunya untuk kemudian diserahkan kepada Mina.


Mina: "Masih kecil sudah main senjata. Huuu.. Pengecut.” (Mengejek Budi.)


Budi: "Tadinya kupikir Kak Mina sedang dalam masalah." (Membela diri.)


Mina: "Mana ada.. Kamu pikir Kakak nggak bisa membela diri, gitu?”


Budi: "Nggak."


Mendengar pernyataan itu, Mina mencoba untuk meyakinkan adiknya tersebut.


Mina: "Cara pegang senjata tuh, begini." (Mundur beberapa langkah ke dalam rumah.)


Dengan sigap, Mina memutar dengan secepat kilat cincin dari kerambit tersebut untuk mendapatkan posisi genggaman yang pas dan dibarengi dengan kuda-kuda serangan ala boxing.


Budi: "Wah.. Keren. Lagi Kak." (Terkagum-kagum.)


Mina: "Huuu.. Bela diri bukan untuk pamer-pamer.” (Memperingati Budi.)


Mina mengakhiri aksinya sekaligus menyita senjata tersebut dan bersiap kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tugas-tugas kuliahnya.


Mina: "Ehh, Budi.. Bumbunya taruh di atas rak, ya.. Jangan lupa pintunya ditutup juga.” (Berhenti sejenak dan memalingkan wajah ke arah Budi untuk memberikan perintah.)


Budi: "Iya, Kak."


Dilain sisi, si pria asing tadi telah kembali ke dalam kelompoknya. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk sembari menghela nafas.


???Y1: "Aman, Jek?"


???Y2: "Saya hampir mati, Jek.."


???Y3: "Wah.. Kenapa pula kau, Bang?"


???Y2: "Waktu antar paket tadi, ternyata saya sedang dibokongi. Padahal, ndak dengar langkah kaki sama sekali. Tapi, tahu-tahu sudah ada di belakang saya."


???Y1: "Sudah pasti mati itu, Jek.. Hahaha.”


???Y3: "Kayaknya jasad kau masih ketinggalan di situ, Bang. Hahaha..."


???Y1: "Hahaha... Lawak, Jek. Hahaha..."


Suara sinyal frekuensi tiba-tiba masuk.


Ppzzzzts.. "Bangau Putih.. Diulangi.. Bangau Putih..” Ppzzzzts..


Seluruh orang yang berada dalam mobil seketika menjadi bersiap-siap.


???Y1: "Nah.. Bos sudah mau jalan."


???Y4: "Ke mana?”


???Y2: "Bandara."


???Y3: "Ehh.. Tunggu dulu!”


???Y2: "Apa lagi?”

__ADS_1


???Y3: "Jasad kau masih ketinggalan, Bang.”


Mereka semua seketika tertawa sekencang-kencangnya.


__ADS_2