
Dinginnya aroma pagi seakan berdoa agar dapat kembali merasakan indahnya bermandikan cahaya. Jiwa-jiwa mereka yang masih redup itu, kini masih terdiam lemas karenanya. Bahkan rerumputan dan pepohonan pun masih basah oleh wudhunya karena sujud sepanjang malam kepada Sang Maha Pencipta. Kini anak muda itu akan mendapati pagi yang terasa begitu asing baginya. Ia kemudian bangkit dan kemudian berjalan di antara warna-warna gelap sembari menyusuri jalanan setapak tanpa beralas kaki. Ia berjalan menyusuri deru air seraya mendongak ke atas bukit dengan hiasan cahaya yang samar. Cahaya itu seakan-akan mencoba melambai-lambai memanggil dirinya.
Hari yang pahit itu kemudian bergerak maju secara perlahan…
Budi kemudian menapaki anak tangga yang masih terbuat dari tanah liat. Kemudian sesampainya di atas, ia mendapati seorang pria tua sedang duduk terdiam sembari menatapi langit yang perlahan menjadi menyala.
"Kamu benar-benar anak yang tangguh. Buyung, kemarilah…”
Seorang pria tua menyahut dari sebuah kursi panjang di bawah pohon. Budi yang diam membisu hanya mengikuti perkataan pria tua tersebut.
"Buyung.. Duduklah di sini. Beritahu aku, siapa namamu.”
Budi kemudian duduk di sebelahnya
"Budi." (Sembari menatapi langit yang sama.)
Suara burung-burung bertasbih mendominasi keheningan mereka.
Sepercik cahaya kemudian melesat mengejar mereka hingga sang raja kegelapan dengan seketika lenyap begitu saja.
Budi: "Pagi-pagi begini, kakek biasa duduk di sini?”
Inyang: "Benar.. Panggil saja aku seperti sebutan Datukmu." (Sahut pria tua tersebut.)
Budi: "Inyang punya hubungan keluarga yang seperti apa dengan Datuk?”
Inyang: "Beliau adalah orang yang dalam pengawasanku."
Suasana kembali menjadi hening. Mereka hanya menatapi cahaya yang samar dari ujung dunia. Secara tiba-tiba, Datuk datang dengan nafas yang tersengal-sengal. Inyang dengan wajah tersenyum, segera menyahut Datuk.
Inyang: "Kamu sepertinya kepayahan, kamu kehilangan sesuatu?”
Datuk bergegas ke arah Budi dan segera memeluknya dengan erat.
Datuk: "Ini cucu aku!”
Inyang menjadi seketika menjadi tersenyum atas tingkah laku Datuk.
Inyang: "Eh, Datuk.. Kamu belum boleh punya cucu.”
Datuk: "Maka dari itu, Tuan Guru.. Dia yang jadi cucu aku..”
Budi: "Datuk, sudah.. Iya, aku sekarang cucu Datuk.”
Datuk kemudian melepaskan dekapannya dengan perasaan lega.
Datuk: "Budi, asal kamu tahu.. Sebenarnya Datuk sudah dikutuk.”
Budi: "Sekarang masih ada kutukan? Memangnya yang bisa ngasih kutukan ke Datuk, siapa?”
Datuk: "Itu..” (Sembari mendongakkan dagunya kepada Inyang.)
Inyang: "Jadi, begitu.. Kutukan, ya." (Sembari tersenyum.)
Budi: "Maksudnya, Inyang itu dukun?”
Datuk: "Bukan.. Jadi begini ceritanya. Waktu itu, saat Datuk baru-baru menjabat jadi Wali Desa, beliau bilang kalau Datuk belum boleh punya cucu. Karena yang ngomong itu beliau, makanya Datuk merasa seperti sedang dikutuk."
Budi: ya? (Mulai bingung.)
Datuk: "Pernyataan beliau itu imbasnya adalah Allah sang Maha Bijak menurunkan ujian kepada kami. Datuk diuji dengan kesabaran, sedang beliau diuji dengan teguran. Dan hasil akhirnya adalah kedatangan kamu beserta Umi ke keluarga Datuk. Dan beliau, Bahkan lebih dahsyatnya lagi, kamu diperlihatkan langsung di hadapan beliau.”
Inyang semakin tersenyum lebar sampai-sampai giginya terlihat.
Inyang: "Gimana rasanya dikutuk?”
__ADS_1
Datuk yang merasa lega atas keyakinannya bahwa pernyataan Inyang telah terpatahkan menjadi bersuka ria.
Datuk: "Hahaha.. Enak dong. Hahaha…" (Tertawa terbahak-bahak.)
Budi yang pola pikirnya masih campur aduk mencoba untuk bicara agar bisa memperoleh kesimpulannya sendiri.
Budi: "Jadi, kesimpulanya.. Kalau misalnya aku ingin dapat rangking satu, aku bisa minta Inyang kasih kutukan juga?”
Datuk: "Hahaha.. Tuan Guru, cucuku minta dikutuk juga. Hahaha.." (Kembali tertawa terbahak-bahak.)
Pagi itu mereka menjadi terlihat penuh dengan semangat dan bersuka ria
Inyang: "Sudah-sudah.. Kalian ini aneh-aneh saja. Dikutuk malah senang." (Tersenyum khas.)
Selamat datang makhluk yang kaya akan cahaya. Pemberianmu tidak akan pernah sebanding dengan celaan mereka yang suka mencela. Karena nurani yang sejati, tidak akan pernah mengungkapkan dusta.
Wahai Raja Diraja.. Raja dari segala Raja Cahaya. Lenyapkanlah aroma dingin yang ada dalam dada. Karena Kali ini, aku telah bersiap untuk mekar dengan kasih sayang dan canda tawa.
Datuk: "Tuan Guru, cucuku ini baru saja kemalangan. Jadi, bagaimana menurut pandangan Tuan Guru?“
Inyang: "Benar.. Kamu sendiri harusnya sudah tahu, potensinya seperti apa. Tinggal diasah saja."
Datuk: "Bagaimana kalau dimasukkan ke timnya Laut saja, Tuan Guru?”
Inyang: "Tidak bisa, kamarnya berbeda.”
Budi yang tadinya hanya bisa diam menyimak, kemudian bertanya karena ada hal yang membuatnya menjadi ingin tahu.
Budi: "Potensi itu apa, Datuk?”
Datuk: "Potensi itu… ya.. Nah, misalnya begini.. Potensi itu sama seperti duduk di meja makan. Kamu bisa tahu akan makan apa dari aroma masakan yang dibuat kakakmu."
Budi: "Ohhh.. Iya, benar juga ya.. Aku tahu kak Mina masak apa."
Datuk: "Nah, kira-kira seperti itu."
Datuk: "Aaa.. Itu, ya… Tuan Guru, mohon dijelaskan." (Datuk mencoba untuk lari dari pertanyaan Budi.)
Inyang: "Militer."
Datuk: "Yah, Tuan Guru.. Main tembak di tempat saja. Seenggak-enggaknya kasih kalimat-kalimat motivasinya dong.”
Inyang: "Ada jenis diri yang jika ia terpisah dengan suatu hal, maka ia menangis dengan kesedihan yang sangat-sangat mendalam. Dari situ, ia kemudian bersusah payah untuk merangkak dan terus merangkak. Hingga akhirnya, ia pun dapat bangkit. Setelah memahami dirinya sendiri, ia pun mulai melangkah. Ia adalah contoh diri yang kuat. Tapi, masih ada diri yang lebih kuat dari itu. Yaitu, diri yang jika ia terpisah dengan suatu hal, maka ia akan tetap berdiri tegar dengan membusungkan dada. Ia pun lalu mengumpulkan tenaga dan kemudian segera berlari dengan penuh semangat.”
Budi hanya dapat tertegun dalam lamunan. Sampai-sampai mulutnya terbuka karena saking terpananya. Pikirannya terjebak di antara paham dan tidak paham.
Datuk: "Nah, Budi.. Sekarang kamu paham potensimu apa?”
Budi: "Ohh.. Maksudnya, Budi punya potensi jadi tentara?”
Datuk: "Budi, jadi begini… seharusnya, anak-anak seusiamu jika di hadapkan dengan hal seperti itu, batinnya akan meluap-luap dan tidak stabil. Nah, kamu malah masih terlihat biasa-biasa saja, santai-santai. Terlebih lagi di pekuburan kemarin, bukannya bantuin Datuk debat, Eh.. Malahan juga ikut-ikutan ledekin Datuk.” (Mengeluh.)
Budi: "Hehe.. Maaf, Datuk.. Habisnya Budhe kata-katanya masuk akal, jadinya ya begitu.. Hehe..” (Dengan cengar-cengir.)
Datuk: "Aku dikhianati cucuku sendiri." (Sembari mengusap-usap matanya dan berlagak seperti bocah cengeng.)
Budi: "Sebenarnya Umi pernah cerita kalau Abi orang yang pemberani. Jadi, aku harusnya juga begitu."
Mendengar hal itu, Inyang menatap mata Datuk seolah-olah memberi isyarat agar Datuk memberikan sebuah penjelasan.
Datuk: "Tuan Guru, cucuku ini masih belum matang. Jadi, data-datanya masih disimpan. Harap maklum, hehe..” (Memberi alasan kepada Inyang.)
Inyang kemudian terdiam sejenak mendengar hal tersebut.
Inyang: "Oh, jadi begitu.. Baguslah.”
__ADS_1
Datuk: "Nah, Budi.. Mari kita pulang, kita sarapan dulu. Kamu pasti sudah lapar, kan?”
Budi hanya mengangguk-angguk mendengar perkataan Datuknya.
Budi: "Sebelum itu, aku mau tanya sesuatu dulu sama Inyang."
Inyang: "Silakan."
Budi: "Kalau evolusi itu apa, Inyang?”
Inyang: "Berubah bentuk."
Budi menjadi terheran-heran dengan perkataan tersebut.
Budi: "Jadi, Budhe itu ber… …”
Tiba-tiba Datuk memotong perkataan Budi
Datuk: "Iya, si peyot itu berubah bentuk dari makhluk yang ramah dan mudah senyum menjadi makhluk yang skeptis dan kebal jika didebat. Hahaha.." (Datuk tertawa terbahak-bahak.)
Budi: "Haha.. Datuk beraninya bilang dari belakang..”
Inyang: "Jadi, rencanamu ke depan bagaimana?”
Datuk: "Sejujurnya, Tuan Guru.. Di desa ini hanya si peyot itu satu-satunya kandidat yang memenuhi kriteria untuk bisa menggantikan tugas-tugasku yang sekarang. Namun kendalanya ada di kondisi keluarga. Apa Tuan Guru bisa membuat pemicu?”
Inyang: "Kalau Allah sudah menetapkan urusannya, maka dia akan datang kepadaku dengan sendirinya.”
Datuk: "Terima kasih banyak Tuan Guru, kalau begitu kami permisi pulang dulu.” (Mulai melangkah pergi.)
Budi: "Inyang, Budi pulang dulu." (Mengikuti Datuknya.)
Budi dan Datuk kemudian berlalu meninggalkan Inyang. Kemudian, sebelum mereka menuruni tangga, Inyang pun menyahut Datuk.
Inyang: "Datuk, aku beri saran untukmu."
Datuk: "Apa itu, Tuan Guru?”
Inyang: "Zikir."
Datuk kemudian mengerutkan kening cukup lama akan ucapan Inyang. Dan beberapa saat setelahnya, ia pun kemudian menyadari maksudnya.
Datuk: "Ohh, iya.. Benar juga.. Terima kasih banyak Tuan Guru. Kami permisi dulu.”
Diperjalanan pulang Budi merasa bingung sendiri, ada banyak kata-kata yang saling tumpeng tindih sehingganya ia hanya bisa beranggapan bahwa percakapan-percakapan yang didengarnya selama itu hanya bisa dimengerti oleh orang dewasa. Namun ia mencoba memberanikan diri untuk bertanya setidaknya pesan-pesan terakhir yang bisa ia dengar.
Budi: "Datuk, aku masih belum paham dengan evolusi."
Datuk: "Contoh sederhananya begini. Kamu pasti tahu filem yang kalau orangnya berubah, pakaiannya jadi warna-warni itu, kan?”
Budi: "Iya, tahu..”
Datuk: "Nah, sekarang coba bandingkan, apa yang terjadi jika orangnya berubah dan apa yang terjadi jika orangnya tidak berubah.”
Budi termenung sebentar dan akhirnya mulai memahaminya juga.
Budi: "Wah, sekarang aku mulai paham maksudnya."
Datuk pun tersenyum melihat tingkah Budi yang dipenuhi rasa ingin tahu itu.
Budi: "Kalau zikir?”
Datuk: "Zikir yang dimaksud Inyang itu, memberikan pujian-pujian. Jika suatu ketika Datuk bicara dengan Budhemu itu. Karena pola pikir dan perasaannya sudah bergerak beriringan, maka strategi bicaranya adalah meninggikan perasaannya dulu, baru kemudian menyerang pola pikirnya.”
Budi: "Memangnya Datuk bisa memuji-muji Budhe?”
__ADS_1
Datuk: "Nggak.. Hahahahahaha...” (Tertawa terbahak-bahak sembari terus saja berlalu.)
Mereka berdua tertawa bersama-sama.