Dimensi Milikku Sendiri

Dimensi Milikku Sendiri
Markas rahasia


__ADS_3

Di setiap kecupan yang kurindukan, di setiap hela nafas yang ku lepaskan, di setiap semangat yang ku kumpulkan, terima kasihku hanyalah kepada cahaya merah berkilau yang terpancar dari balik Kristal-kristal kaca.


Seorang ibu rumah tangga yang sedang asyik mengaduk teh, berteriak memanggil anaknya di saat melihat dari kejauhan tiga orang temannya bergerak mendekat menuju ke tempat di mana posisinya kini berada.


"Udiiiiiieeeeen!!” (Sembari mengaduk-aduk segelas teh pesanan pelanggan.)


Anak tersebut kemudian dengan segera menyahut ucapan tersebut.


Udin: "Iya, Maaaaak!” (Bergerak dengan tergesa-gesa sembari masih membenarkan posisinya pakaian bolanya yang baru separuhnya terpasang.)


Ibu rumah tangga: "Teman-temanmu sudah datang. Cepat sambut mereka..”


Udin kemudian dengan sigap bergerak dengan cepat ke arah depan.


Udin: "Ben.. Tia.. Cici..” (Memanggil temannya dengan mengangkat tangan dan melambai.)


Mereka bertiga, Beni, Tiara, dan Chika kemudian agak mempercepat langkah mereka untuk menemui Udin.


Udin: "Mari masuk.. Mejanya sudah siap.” (Sembari mempersilakan masuk dan menuntun mereka pada sebuah meja.)


Tak lupa, sebelum teman-teman Udin sampai ke meja yang dituntunkannya, mereka juga memberikan salam sapaan terlebih dahulu kepada Emaknya Udin.


Mereka: "Siang Tante.. Siang Mama Sophia.. Siang Tante Sophia." (Memberi salam sapaan yang hampir bersamaan.)


Sophia: "Siang juga semua. Silakan duduk, biar Tante buatkan minuman kalian.” (Dengan tersenyum sembari tangannya dengan sigap menjangkau beberapa gelas kosong di rak-rak perkakas.)


Mereka kemudian duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Dengan membunuh waktu, mereka kemudian mengeluarkan segala sesuatunya yang dibutuhkan agar diletakkan di atas posisi meja mereka masing-masing. Melihat kesigapan teman-temannya, Udin kemudian memberikan sedikit pidato pembuka yang bertujuan agar jalannya kegiatan bisa menjadi tertib. Ia berdiri dan bertingkah untuk menirukan acara forum-forum diskusi yang sering dilihatnya di televisi.


Udin: "Baiklah kawan-kawan sekalian. Terima kasih sudah berkumpul. Saya selaku tuan rumah sekaligus pembawa acara mengucapkan terima kasih atas kehadiran kawan-kawan sekalian. Kali ini kita punya dua agenda, di antaranya mengerjakan pr masing-masing dan kemudian dilanjutkan dengan membahas tentang hilangnya Budi beberapa hari terakhir ini. Dan tidak lupa juga, acara ini disponsori oleh princes kita, Princes Tiara. Kepada kawan-kawan sekalian, mohon tepuk tangannya kepada Princes kita, Princes Tiara.”


Mereka semua tersenyum sembari bertepuk tangan atas arahan Udin tersebut.


Beni: "Hahahaha.. Cocoklah, Din.. Kayak di tivi-tivi, hahaha..” (Selagi masih bertepuk tangan.)


Udin: "Hahaha.. Iya dong… Pak Faiz yang bilang, kan..? Nanti, aku bakalan sering masuk tivi. Jadi artis, hahaha…” (Mengagumi dirinya sendiri.)


Tiara: "Bang Udin, kereeeen." (Tersenyum kagum.)


Tidak lama berselang, Emaknya Udin datang dengan membawa gelas-gelas yang berisikan minuman kepada kelompok mereka. Emaknya Udin, Sophia kemudian juga ikut menyela pernyataan anaknya.


Sophia: "Artis apa kamu.. Mandi saja masih teriak-teriak minta handuk. Sok-sokan jadi artis.” (Mencoba menghangatkan suasana.)


Udin: "Yah, Mak.. Malah jadi haters. Itu sudah masuk ranah privasi aku, Mak. Emak bisa dituntut atas dugaan pencemaran nama baik.” (Berupaya mengimbangi pernyataan orang tuanya.)


Sophia: "Halah.. Baru belajar kosa kata baru saja, sudah sok-sokan pencemaran nama baik. Dulu waktu kamu baru lahir, malah bapakmu yang kasih nama. Padahal Emak sudah siapkan nama-nama yang bagus.. Ehh, malah ditolak bapakmu.”


Udin: "Wah.. Gimana ceritanya, Mak? Kok Udin nggak tahu, ya? Ayo, Mak..! Cerita, Mak!"


Sophia: "Iya.. Sebentar.” (Sembari meletakkan nampan.)


Semua orang yang berada di tempat itu menjadi diliputi rasa keingintahuan atas pernyataan Emaknya Udin.


Sophia: "Ini Dek Beni, kula-kula nya..” (Sembari meletakkan minuman di hadapan Beni.)


Beni: "Iya, Tante.. Terima kasih.” (Dengan cengar-cengir.)


Sophia: "Dek Chika.. Ini teh manisnya. Aduh, kaca matanya baru lagi, ya? Makin cantik saja Dek Chika ini." (Tersenyum disertai pujian.)


Chika: "Terima kasih, Tante. Biasa saja ah, Tante.” (Berupaya tersenyum sembari tersipu malu.)


Sophia: "Aduh, Tiara.. Rambutnya dikuncir dua, makin imut saja. Ini susu stroberinya." (Tersenyum dan berupaya merapikan ikatan kuncir Tiara.)


Tiara: "Iya, Mama.. Mama Sophia juga, hari ini makin cantik..” (Tersenyum dengan manisnya.)


Dengan dipenuhi rasa ingin tahu, Udin kembali melayangkan pertanyaan yang sebelumnya ia tanyakan agar Emaknya segera memberitahu kejadian yang sebenarnya.


Udin: "Ayo, Mak..! Cerita, Mak!” (Dengan perasaan menggebu-gebu.)


Sophia: "Iya.. Waktu itu Emak menginap di pondok sehat, nungguin kamu lahir. Selagi menunggu, Emak minta tolong perawat carikan buku yang ada Bahasa Britania nya.”


Udin: "Wah...“ (Tercengang dan semakin penasaran.)


Sophia: "Emak dikasih buku.. Emak ketemu banyak nama-nama bagus. Tapi sayangnya, malah ditolak bapakmu. Emak nurut saja apa kata bapakmu.”


Udin: "Yah... Kok nurut saja, Mak? Harusnya Emak Lawan dong.” (Dengan perasaan yang mulai kecewa.)


Dalam keheningan orang-orang juga merasa memiliki pendapat yang sama terhadap pernyataan Udin.


Udin: "Wah, Bapak.. Harusnya aku sekarang punya nama bule.” (Merasa agak kesal.)


Sophia: "Mau bagaimana lagi.. Emak sendiri juga bingung. Padahal Emak sudah bikin dua nama bagus-bagus."


Udin: "Apa saja, Mak?” (Terlihat seperti kurang bersemangat.)


Sophia: "Kalau nggak salah, namanya itu... Horse Pigdog sama Pigdog Monkey." (Sembari memicingkan mata dan memegang jidatnya.)


Udin: "Waaaaaaah, Emak.. Salah baca buku, ternyata..." (Terpana sekaligus takjub dengan ucapan Emaknya.)


Beni seketika itu juga berubah layaknya orang yang sedang kesurupan. Ia tertawa sampai terpingkal-pingkal. Udin hanya melongo dengan wajah datar dan diam membatu melihat tingkah temannya yang seakan-akan tidak sadarkan diri itu. Mereka-mereka yang hadir, semuanya tertawa liar selepas perbincangan tersebut.


Udin: "Wahai Bapakku, terima kasih.. Engkaulah penyelamat hidupku..” (Menengadah ke langit.)


Sophia: "Nah, begitu.. Nggak usah sok-sokan pencemaran nama baik lagi.” (Dengan sedikit tersenyum.)


Udin: "Ehehehe.. Iya, Mak.. Ai lop yu, Mak.” (Cengar-cengir.)


Sophia: "Sudah.. Emak mau ke belakang dulu, ambil jemuran.” (Sembari melangkah meninggalkan mereka.)


Sophia yang sedang berlalu dari mereka, tiba-tiba dihentikan anaknya.


Udin: "Mak.. Tunggu, Mak.” (Mencoba menghentikan emaknya.)


Sophia: "Apa lagi?”


Udin kebingungan karena ia tidak mendapatkan bagiannya.


Udin: "Yah, Mak.. Buat Udin mana, Mak?” (Sambil garuk-garuk kepala.)


Sophia: "Itu.. Ada di situ." (Mengarahkan telunjuknya ke meja kerjanya.)


Udin: "Mana, Mak?” (Penglihatannya bergerak ke sana kemari untuk mencari apa yang ditunjukkan.)


Sophia: "Ituuu.. Katanya artis.. Masa itu saja, nggak kelihatan?” (Dengan nada menyindir.)


Udin: "Gelas kosong itu, Mak." (Mencoba meyakinkan.)


Sophia: "Iyaaaa... Kamu isi dong, di situ kan ada teko.” (Mengarahkan pandangan Udin.)


Udin: "Wah, sungguh teganya dirimu pada diriku yang mulai dahaga ini, Mak. Masa tuan rumah cuma dikasih air putih? Senggak-enggaknya kula-kula juga dong, Mak.. Kan, yang jadi sponsornya Princes Tiara.” (Mencoba membela diri.)


Sophia: "Kalian dengar? kalian dengar, kan?, ada artis yang minta dijajani sama temannya. Mintanya sama cewek, lagi.. Hiiiiiii...” (Memalingkan pandangannya ke teman-teman Udin kemudian berbicara dengan nada yang pelan dengan berlagak seperti orang yang sedang berbisik dan di akhir dengan tubuh yang sedikit merinding.)


Menyaksikan perbincangan tersebut, Beni, Tiara, dan Chika kembali menjadi tertawa lepas. Bahkan pelanggan yang berada di sekitar mereka pun juga dibuat tertawa.


Udin: "Wah, Mak.. Ini sudah menyalahi perundang-undangan yang berlaku di masyarakat, Mak. Emak bisa dideportasi sebagai tahanan politik.” (Protes.)


Sophia: "Kamu ini ngomong apa..? Kamu ini ngomong apa kentut? Nggak jelas.. “


Mereka semua yang ada di sana kembali tertawa selepas-lepasnya.


Sophia: "Sudahlah, jangan bikin Emak tambah pusing. Kamu ambil sendiri.. Emak mau ke belakang dulu.” (Meninggalkan perdebatan.)


Budi: "Yess..” (Dengan mengepalkan tangannya.)


Aku adalah sang pengelana. Keteguhan hati telah membungkukkan punggungku. Mencari kebahagiaan yang tercecer entah di mana. Hingga akhirnya hanya bisa mengukir senyuman untuk sisa hidupku.


 Dari kejauhan seseorang memanggil-manggil Budi.


"Budi..! Budiiii...!”


Mendengar hal itu, Budi kemudian terdiam dan melirik ke sana kemari untuk mencari dari mana sumber suara itu berasal. Terlihat dari ujung kompleks seorang pria yang melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Budi mengetahui jelas siapa orang tersebut, ia pun menghampirinya dengan segera.


Budi: "Pak Faiz.. Ada apa, Pak?”


Faiz: "Kebetulan bapak ketemu kamu. Bisa minta tolong ndak?”


Budi: "Bisa, Pak."


Faiz: "Tolong belikan Bapak teh es di warung Ibu Sophia. Beli dua saja.. Satunya buat kamu. Ini uangnya." (Menyodorkan selembar uang.)


Budi: "Iya, Pak." (Dengan ekspresi bahagia.)


Faiz: "Tolong ya.. Kerjaan Bapak sedang numpuk, soalnya.” (Mencoba memberikan alasan.)


Budi: "Siap.. Berangkaaaaat!!” (Berlari dengan memacu kecepatan.)


Tidak butuh waktu lama, Budi sampai ke warung Ibu Sophia yang jaraknya hanya beberapa simpang jalan saja. Beni dengan tidak sengaja melihat Budi yang sedang berlari, langsung memberitahukan kepada teman-teman yang ada di dekatnya.


Beni: "Ehh.. Itu Budi!” (Mengarahkan telunjuknya ke arah depan warung.)


Mereka semua mengalihkan pandangannya demi membuktikan pernyataan Beni tersebut. Udin dengan gembiranya langsung menyahut Budi.


Udin: "Budi! Budi..!!” (Menjambau tangannya tinggi-tinggi agar Budi segera menemuinya.)


Beni: "Bud..! Sini, Bud!” (Juga ikut menjambaukan tangannya seperti Udin.)


Melihat hal itu, Budi kemudian mengiyakan maksud dari temannya tersebut. Ia pun dengan segera menemui mereka. Dengan sedikit-terengah-engah, Budi pun akhirnya sampai di hadapan mereka.


Budi: "Hhhahhh.. Ada apa..? Hhhahh..” (Mengatur nafas sembari tangannya kanannya memegangi pinggangnya.)


Beni: "Ada apa, Bud? Kok lari-lari?” (Mempertanyakan kejadian Budi terlebih dahulu.)


Budi: "Teh es.. Hhhahh.. Pak Faiz..” (Mencoba mengatur pernafasannya.)


Udin sudah mengetahui maksud Budi, dan kemudian dengan segera menemui Emaknya.


Udin: "Ohhh.. Teh es buat Pak Faiz.. Sebentar, aku panggil Emak dulu." (Beranjak dari kursinya dan berlalu menuju ke dalam rumah.)


Chika: "Ke mana saja selama hilang, Bud?” (Mencoba membuka pembicaraan.)


Tiara: "Hu uh, Tiara nggak lihat Abang Budi di sekolah.” (Mengangguk-angguk karena membenarkan pertanyaan Chika.)


Budi: "Nggak ke mana-mana kok Cik, Rara.. Cuma di rumah saja.”


Beni: "Weee, Bud.. Sedihnya kelamaan.. Sekolah jadi berisik kalau nggak ada kamu.. Si Udin jadi rewel, pengasuhnya nggak ada.” (Menyampaikan keluhannya kepada Budi.)


Chika dan Tiara hanya tertawa kecil dibuatnya yang kemudian dibarengi dengan kedatangan Udin dan menyahut pernyataan Beni.


 Udin: "Wah, memangnya aku bayi..? Kamu mau melakukan pencemaran nama baik, ya?” (Mencoba membela diri.)


Budi: "Ohh.. Tidak bisa.. Pernyataan Bapak Beni tersebut tidak memenuhi prasyarat untuk dilaporkan sebagai dugaan atas tindakan pencemaran nama baik jika merujuk kepada perundang-undangan yang sudah berlaku.” (Mencoba menyerang balik pernyataan Udin.)


Udin hanya bisa melongo dan terpukau dengan ucapan Budi. Mulutnya bergerak ke sana kemari namun tidak mampu bersuara.


Chika: "Naah.. Ayo, mau jawab apa..? Ayo..” (Mencoba mengintimidasi Udin.)


Beni: "Kan..? Kan..? Aku bilang juga apa.. Hahahaha." (Tertawa melihat tingkah Udin.)


Tiara: "Hihihi.. Bang Udin kalah telak." (Tertawa kecil.)


Dari arah dalam warung, orang tua Udin segera menyahut Budi perihal permintaan Pak Faiz.


Sofia: "Bud.. Teh esnya dibungkus, kan Bud?” (Sembari mengambil kotak teh.)


Budi: "Iya, Bu Sophia.. Dua bungkus..” (Berjalan ke arah Sophia.)


Sophia: "Oh, iya.. Tunggu sebentar, ya.. Biar Ibu bikinkan dulu." (Meyakinkan Budi.)


Budi: "Iya, Bu Sophia.”


Dengan mengisi keheningan, Sophia mencoba menanyakan keberadaan Budi selama ini.


Sophia: "Beberapa hari ini, kok Ibu nggak lihat kamu, Bud..? Kamu ke mana?”


Budi: "Di rumah saja, Bu.”


Selagi menunggu, pandangan matanya terpikat oleh tumpukan jajanan yang tersusun rapi tepat di sebelahnya. Hatinya menjadi bimbang menyaksikan pemandangan yang begitu sedap dipandang tersebut.


Budi: "Nggak jadi, Bu Sophia.. Sebungkus saja.” (Meralat pernyataan sebelumnya.)


Sophia tersenyum karena Budi telah masuk jebakan yang ia buat. Sophia telah mengetahui nominal uang yang dibawa Budi berdasarkan pengalaman observasinya selama ini. Ia memantau pergerakan Budi sembari terus mengerjakan teh tersebut. Ia mencoba mengompori Budi agar segera mengambil jajanan yang ada di depannya.


Sophia: "Silakan dipilih camilannya, Bud.. Itu semua baru Ibu beli di kota, loh. Pasti enak-enak semua deh, pokoknya.”


Budi melihat sesuatu menggantung di langit-langit yang mengingatkannya dengan Inyang. Dengan segera ia mengacungkan telunjuknya dengan gagah kepada benda yang menggantung tersebut.

__ADS_1


Budi: "Aku mau yang itu, Bu Sophia." (Dengan tersenyum yang penuh semangat.)


Sophia: "Eeeehhh..? Kok itu?” (Menjadi heran atas permintaan Budi.)


Budi: "Iya.. Aku maunya yang itu..” (Tidak tergoyahkan.)


Sophia: "Tapi, itu kan bukan camilan..” (Kembali meyakinkan Budi.)


Budi: "Nggak apa-apa, Bu Sophia.. Aku ganti sama yang itu saja.”


Melihat Budi yang sudah membulatkan tekat tersebut, Sophia hanya bisa menyerah terhadap keputusan Budi. Dengan rasa keheranan itu, Sophia mencoba menanyakan tujuannya.


Sophia: "Memangnya mau dipakai buat apa, Bud?” (Menjadi ingin tahu.)


Budi: "Rahasia.. Hahaha...” (Mencoba lari dari pertanyaan.)


Sebungkus teh es pun telah selesai dibuat dan dikemas. Budi kemudian memberikan uang yang telah dititipkan Faiz dan menerima kembalian yang cukup banyak. Melihat hal itu, ia lalu mengambil beberapa permen untuk menyetarakan total pembeliannya seharga dua bungkus teh.


Budi: "Bu Sophia.. Budi mau permen juga. Ini uangnya..” (Menyodorkan sisa uang kembalian.)


Kemudian dengan segera, ia bergegas pergi. Namun Udin beserta teman-temannya yang lain menghalangi Budi.


Udin: "Ehhh, Bud.. Kok langsung pergi?”


Budi: "Iya.. Ini kan, pesanan.. Harus diantar dulu, dong...” (Memberi penjelasan.)


Udin: "Kalau begitu, kami juga ikut..”


Beni: "Iya..”


Chika: "Aku juga ikut, sekalian tanya-tanya soal pr juga."


Tiara: "Tiara ikuuuuuuut...!” (Terlihat bersemangat.)


Budi hanya tersenyum mendengar perkataan teman-temannya.


Budi: "Ayo kita ke rumah Pak Faiz.. Kalau begitu, aku duluan ya.. Hahaha..” (Kembali memacu langkahnya.)


Teman-temannya semua menjadi keteteran karena peralatan sekolahnya masih berserakan di atas meja mereka masing-masing.


Udin: "Eehhh, Bud.. Tungguin Bud." (Membereskan alat-alat sekolahnya dengan tergesa-gesa.)


Beni: "Weeee.. Masih acak-acakan begini, malah ditinggal." (Juga tergesa-gesa membereskan alat-alat sekolahnya.)


Tiara: "Hihihi.. Tiara duluan Bang Udin..” (Beranjak dari kursinya sembari membenarkan posisi tasnya.)


Chika: "Aku juga duluan..” (Bergerak mengiringi Tiara.)


Tidak butuh waktu lama, Budi kemudian akhirnya sampai di depan rumah gurunya yang telah menanti kedatangannya dengan kondisi pintu yang telah terbuka. Terlihat gurunya sedang duduk bersila di hadapan sebuah meja bundar sembari fokus kepada lembaran-lembaran kertas yang ada di depannya.


Budi: "Pak Faiz, ini tehnya.. Sedang apa, Pak?” (Masuk sembari melepas sendalnya dengan tergesa-gesa.)


Faiz: "Naah, Budi.. Ini, bapak lagi evaluasi tugas-tugas murid.” (Melepas kacamatanya.)


Rumah Faiz hanya terdiri dari satu ruangan yang terhubung dengan kamar mandi layaknya sebuah kos-kosan. Ruangan tersebut berjejer rapi rak-rak yang dipenuhi oleh buku-buku. Budi menghampirinya sembari menyodorkan pesanan gurunya tersebut.


Faiz: "Loh.. Kok cuma satu saja, Bud? Buat kamu, mana?” (Mengambil teh tersebut.)


Budi: "Hehe.. Aku ganti sama permen.” (Sembari memperlihatkan semuanya.)


Tidak lama berselang teman-teman Budi juga sampai ke rumah tersebut. Mereka bertumpuk-tumpuk di depan pintu dengan melepas alas kaki mereka dengan tergesa-gesa.


Faiz: "Wah.. Malah bawa pasukan. Bumi hangus ini mesti.” (Melihat ke arah pintu.)


Tiara: "Horeee.. Tiara juara satu..!” (Mengangkat kedua tangannya.)


Chika: "Nomor dua..”


Beni: "Tiga."


Udin: "Hehe.. Empat." (Cengar-cengir.)


Mereka semua dengan segera duduk melingkar menghadap ke meja bundar tersebut. Semua terlihat gembira sembari mengatur nafas mereka dengan perlahan.


Faiz: "Wah.. Kenapa malah kumpul di sini?” (Tersenyum sekaligus risi.)


Udin: "Iya dong, Pak. Markas rahasia kami kan di sini.”


Faiz: "Markas rahasia apa..? Ini kan markas rahasianya Bapak. Harusnya kamu bikin sendiri dong.. Di hutan-hutan sana, di gua-gua sana.. Kok malah di sini?”


Udin: "Yah, Pak Faiz.. Markas rahasia Pak Faiz, markas rahasia kami juga dong..” (Memberikan bantahan.)


Tiara: "Asyik.. Tiara punya markas rahasia.” (Mengangkat tangan dan tersenyum manis.)


Beni: "Markas rahasia, ya..? Boleh juga tuh.”


Faiz: "Wah, Udin.. Itu logikanya gimana? Kepalamu kebentur tembok di mana, sih?” (Mencoba menyindir Udin.)


Tiara: "Pak Faiz.. Tiara nggak boleh punya markas rahasia?” (Memperlihatkan ekspresi memelas kepada gurunya.)


Faiz: "Boleh saja.. Tapi nggak di... …” (Membalas dengan rasa gelisah.)


Sebelum gurunya selesai berbicara, Tiara kemudian memotong pernyataan tersebut.


Tiara: "Di sini, nggak boleh..?” (Semakin menunjukkan wajah yang memelas dan penuh iba.)


Semua orang terdiam di keheningan menanti kepastian yang menentukan keberadaan mereka. Faiz hanya menelan ludah dalam kebimbangan. Ia harus menentukan pilihan, mempertahankan zona nyamannya atau menghancurkan statusnya sebagai seorang guru yang kini sedang berada di ujung tanduk.


Faiz: "Boleh.. Tapi... …”


Tiara: "Horeeee..!! Tiara punya markas rahasia..!!” (Memotong ucapan gurunya sembari kembali mengangkat tangan dan tersenyum manis.)


Mereka semua bersorak-sorak gembira atas kemenangan mereka. Faiz hanya terdiam dalam kebingungannya. Udin kemudian mencoba menenangkan teman-temannya untuk mengkoordinir mereka semua.


Udin: "Tenang saudara-saudara. Tenang dulu." (Berdiri dan melambai-lambaikan tangannya ke depan.)


Suasanya menjadi senyap. Mereka mulai memfokuskan diri kepada Udin.


Udin: "Nah.. Karena kita sudah punya markas rahasia, maka saya selaku pelopor polusi akan menunjuk Princes Tiara sebagai Presiden Darurat markas kita ini.” (Memberikan arahan.)


Mereka semua bertepuk tangan gembira dengan perkataan Udin seakan-akan memahami maksud dari pernyataan tersebut.


Tiara: "Bang Udin, kereeeen..!” (Menyemangati Udin.)


Beni: "Setuju..!’ (Mengangkat tangan.)


Budi dan gurunya pun juga ikut tersenyum meskipun dalam hal yang berbeda.


Faiz: "Kamu ngomong apa sih, Din? Berantakan begitu?” (Menjadi tersenyum.)


Udin: "Aduh, Pak Faiz.. Berantakan gimana? Semua sudah sesuai standat prosedur skejul yang berlaku di masyarakat kok Pak. (Membantah gurunya.)


Faiz: "Wah.. Iya deh.” (Tertawa kecil.)


Budi: "Keberatan..! Argumen bapak Udin bertentangan dengan undang-undang konstitusi negara. di dalam undang-undang tersebut, Negara menyatakan akan menjamin kebebasan setiap warga negara untuk menentukan pilihannya masing-masing. Maka dari itu haruslah diadakan pemungutan suara berdasarkan voting.” (Berapi-api layaknya seorang dirigen.)


Udin lagi-lagi hanya bisa melongo dan terpukau dengan ucapan Budi. Mulutnya bergerak ke sana kemari namun tidak mampu bersuara. Melihat reaksi Udin yang kebingungan itu, mereka semua tertawa.


Faiz: "Kalian ini bicara apa? Bahasanya sudah kelewat maju begitu. Salah nonton acara tivi, mesti.”


Chika: "Nonton acara debat, Pak Faiz.” (Mencoba memberi penjelasan.)


Faiz: "Wah.. Untuk seumuran kalian ini mestinya nonton acara tivi yang pas dong. Nonton filem robot-robot atau apa, begitu.. Ini malah nonton debat.”


Udin: "Ya.. Nggak apa-apa dong Pak. Saya kan nokturnal. Sudah nggak level lah nonton filem robot-robot begitu.” (Menyela ucapan gurunya.)


Budi dan gurunya tertawa terbahak-bahak. Dan yang lainnya mengikuti tingkah keduanya dengan cengar-cengir.


Faiz: "Nokturnal apa rasional, Din?” (Mengarahkan dan tersenyum.)


Udin: "Ahh.. Iya, itu. Rasional, hahaha...” (Tertawa sembari menggaruk-garuk kepala.)


Faiz kemudian terdiam sejenak. Ia mencoba mencari solusi dari kekeliruan Udin dalam berbicara. Ia teringat dengan sebuah buku yang ia gunakan sebagai referensi di saat kuliah dulu. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan bersegera menuju rak-rak buku yang ada di belakang Beni.


Udin: "Ada apa, Pak?” (Bertanya keheranan.)


Faiz: "Oh, iya.. Bapak ada buku bagus buat kamu. Ini Bapak lagi cari.” (Menyusuri setiap buku dengan telunjuknya.)


Tiara: "Tiara juga mauuuu...!” (Mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya dengan gembira.)


Chika: "Aku juga..!” (Juga mengangkat tangannya.)


Tidak lama berselang, Faiz mendapatkannya. Dan kemudian menyerahkannya kepada Udin.


Faiz: "Nah, ini.. Biar ada perlawanan kalau mau debat. Ndak melongo kayak tadi.” (Tersenyum sembari menyodorkan buku tersebut.)


Udin: "Wah.. Boleh juga tuh, Pak.” (Mengelap tangannya dan kemudian mengambil buku tersebut.)


Tiara: "Pak Faiz.. Tiara juga."


Faiz: "Tiara mau buku apa?”


Tiara: "Yang ada cinta-cintanya." (Tersenyum manis.)


Faiz: "Waduh.. Masih kelas satu, malah cari yang cinta-cinta. Bukannya dongeng atau apa, gitu? Di rumah memangnya ndak ada buku?” (Mempertanyakan kembali.)


Tiara: "Di rumah adanya cuma buku-buku bisnis sama buku-buku perang.”


Budi: "Iya.. Aku pernah baca juga. Buku perangnya seru. Kisah tentang pasukan hitam. Jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Terus, Mereka bisa menguasai Asia Timur dalam waktu kurang dari semalam. Setelah perang usai, mereka memutuskan untuk berpencar, kemudian hilang dari sejarah dunia. Jadi, waktu itu… …”


Faiz: "Wah.. Malah di spoiler. Nggak asyik lagi dong. Bapak kan belum baca...” (Memotong pembicaraan dan mengeluh.)


Budi: "Hehe.. Maaf, Pak.” (Cengengesan.)


Tiara: "Mami suka baca buku. Mami paling suka baca buku, judulnya Liang Lahat untuk Rakyatku. Tiara jadi kepingin baca juga. Tapi nggak tahu Mami taruhnya di mana.”


Faiz: "Wah.. Sebaiknya jangan baca yang itu. Buku ini saja.. Senyuman dari Ujung Langit.” (Mengambilnya dari rak, kemudian menyodorkannya kepada Tiara.)


Tiara: "Asyiiik." (Mengambil buku tersebut.)


Beni: "Pak Faiz.. Aku boleh pilih sendiri?”


Faiz: "Iya, Silakan.”


Budi: "Aku juga."


Beni dan Budi beranjak dari tempat duduknya dan mulai modar mandir untuk mencari buku yang ia inginkan.


Chika: "Pak Faiz.. Kalau buat Chika?”


Faiz: "Ada, sebentar..” (Mulai mencari.)


Chika: "Novel-novel luar negeri, ada Pak?”


Faiz: "Bapak sudah tahu buku-buku kesukaanmu. Ini.. Iro Iro Arigatou, Kagoshima.” (Memperlihatkan bukunya.)


Terlihat jelas dari ekspresi Chika yang bahagia dan begitu bersemangat mengambil buku tersebut.


Chika: "Ini buat aku?” (Tersenyum bahagia.)


Faiz: "Ndaklah.. Dikembalikan lagi dong kalau sudah selesai baca.” (Membantah pernyataan Chika.)


Chika: "Kirain buat aku.. Haha..” (Tertawa karena gagal menjebak gurunya.)


Budi terdiam merengut akan susunan buku-buku yang terpampang di hadapannya. Matanya dengan liar bergerak ke sana kemari mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apakah itu. Sampai akhirnya pandangannya tertuju pada sebuah sisi yang meningkatkan rasa keingintahuannya. Dengan pasti, Ia pun akhirnya mengambilnya.


Budi: "Pak Faiz, Budi pinjam yang ini." (Memperlihatkan buku itu kepada gurunya.)


Faiz: "Wah, Bud.. Itu bukunya lumayan rumit loh.. Lagian isinya cuma cerita-cerita pendek."


Beni yang sedang asyik mencari, tiba-tiba menjadi penasaran dengan apa yang dikatakan gurunya tersebut. Ia kemudian menghampiri Budi untuk sekedar mengetahui buku yang telah diambil Budi.


Beni: "Literatur Sastra.. Pangkat dua?” (Menjadi bingung.)


Faiz: "Literatur Sastra Kuadrat." (Memperjelas.)


Budi: "Cerita tentang matematika, ya Pak?” (Mencari tahu tentang buku yang dipegangnya.)


Faiz: "Ndaklah.. Ndak ada matematikanya. Isinya cuma cerita-cerita pendek. Tapi banyak wisdomnya.”


Budi: "Wisdom?”


Faiz: "Iya.. Wisdom itu maksudnya, ada banyak pelajaran hikmahnya."


Beni: "Wah..” (Terlihat kebingungan.)

__ADS_1


Mereka semua hanya bisa terdiam atas ucapan gurunya.


Faiz: "Nah, begini saja.. Kita pakai contoh saja. Contohnya, kisah tentang seorang yang bernama x, anggap saja namanya begitu. Jadi, si x ini, ia memilih jalan yang ugal-ugalan dalam hidupnya. Sehingga membuat si y, si y ini entah itu temannya atau kekasihnya atau semacamnyalah. Nah, karena kelakuan si x ini, akhirnya membuat si y yang selalu ada di sampingnya itu jadi dirundung kesedihan yang mendalam dan memilih untuk menghilang. Si x yang ugal-ugalan tadi akhirnya berdiam diri di kamarnya, ia merenungi semua yang telah terjadi, kemudian ia pun mulai menangis. Ia mengakui kesalahannya dan berdoa agar diberikan jalan yang terbaik. Kemudian ia pun akhirnya mendapatkan jalan yang terbaik itu.”


Mereka semua mendengar dengan serius apa yang sedang diceritakan gurunya.


Beni: "Aku tahu akhir ceritanya.. Si y pasti kembali lagi, kan?” (Menebak akhir cerita sembari mengangkat tangan.)


Faiz: "Iya, si y kembali lagi sih.. Tapi, ia kembali mendapatkan kenyataan yang pahit. Ternyata si y itu bukanlah jalan terbaik yang dimaksud.”


Beni: "Wah..” (Kaget.)


Tiara: "Ceritanya sedih..” (Terlihat murung.)


Chika: "Kasihan, dikecewakan. Ya kan, Tiara?” (Sependapat dengan Tiara.)


Tiara: "Ummm ummm.." (Sembari mengangguk-angguk.)


Faiz: "Nah.. Jika tokoh-tokoh tadi kalian jadikan sebagai obyek, maka pelajaran apa yang bisa kalian dapatkan dari cerita singkat tersebut?”


Beni: "Obyek?” (Menjadi bingung.)


Faiz: "Oh, iya.. Bapak lupa. Materi belajar kalian belum sampai ke struktur bahasa, kan? Mungkin mulai minggu depan. Kita akan membahas apa itu obyek, apa itu subyek.”


Mereka semua terlihat senang dengan penjelasan gurunya.


Tiara: "Kalau Tiara?”


Faiz: "Wah.. Iya. Tiara kan masih kelas satu. Tapi ndak apa-apa, Bapak ajari konsep-konsep dasarnya saja.”


Beni: "Aku juga mau buku kayak yang dipegang Budi, Pak Faiz.”


Faiz: "Cuma ada itu. Tapi, kalau novel banyak. Kamu tinggal pilih.”


Budi: "Ini Ben..” (Mengarahkan buku yang dipegangnya kepada Beni.)


Beni: "Mana bisa.. Siapa cepat, dia dapat.” (Mencoba menolak Budi.)


Budi: "Kalau begitu, kita gantian saja bacanya.”


Mendengar perbincangan itu, Faiz teringat suatu hal. Ia kemudian kembali berdiri dan bersegera mengambil sebuah buku yang ada di rak-rak.


Faiz: "Nah, ini.. Bukunya hampir-hampir mirip dengan itu. Tapi, banyak serinya.”


Beni: "Wah.. Terima kasih Pak Faiz.” (Dengan ekspresi ceria.)


Faiz: "Budi.. Kamu yakin pilih buku itu? Bapak saja mesti bolak balik buka kamus biar bisa memahami jalan ceritanya.” (Mencoba mempertanyakan itikad Budi.)


Budi: "Nggak apa-apa, Pak Faiz.. Budi baca saja dulu. Nanti kalau ada yang bikin bingung, kan bisa tanya-tanya.”


Faiz: "Ya sudah, kalau begitu.”


Terereret.. Terereret.. Terereret.. Suara alarm jam digital Tiara tiba-tiba berbunyi.


Tiara: "Sudah sore.. Pak Faiz, Tiara mau pulang. Mami sebentar lagi sampai.”


Beni: "Wah.. Presiden Darurat sudah mau pulang.” (Cengar-cengir.)


Udin: "Biar aku yang antar pulang."


Tiara: "Ummm.. Bang Udin juga mau pulang?” (Mengangguk sekali dan bertanya.)


Udin: "Iya dong.. Demi menjamin kenyamanan serta ketertiban menjaga Presiden Darurat..” (Berdiri tegap dan mengepalkan tangan di dada.)


Budi: "Aku juga mau pulang dulu.”


Chika: "Aku juga..”


Beni: "Wah.. Aku juga."


Faiz: "Kalau begitu, kalian hati-hati pulangnya. Ndak usah lari-lari. Nanti jatuh."


Beni: "Aduh.. Pak Faiz, Guru yang perhatian sekali..” (Malu-malu sembari memuji.)


Faiz: "Ndak.. Bukan gitu. Kamu kalau jatuh, ndak masalah. Tapi, bukunya itu loh, Bapak khawatir jadi rusak.”


Beni: "Wah...”


Mendengar hal itu, mereka semua tertawa ceria dibarengi suara langkah-langkah kaki yang hendak menuju pintu keluar.


 Mereka semua berlalu menapaki jalan mereka masing-masing. Bayangan tubuh yang semakin memanjang menakut-nakuti sekawanan capung yang hinggap di antara celah-celah padi. Kini, anak itu berjalan sembari memandangi sebuah tumpukan kertas yang mungkin saja bisa membakar semangat hidupnya. Hawa panas yang mendatangkan dahaga membuat langkahnya semakin terpacu untuk segera menuju ke tempat persembunyiannya.


Dari kejauhan, Budi melihat Mina sedang menyirami bunga-bunga peninggalan mendiang ibunya di halaman rumah.


Budi: "Kak Mina.. Budi pulang." (Sekedar menyapa dan berlalu.)


Mina: "Ehhh, Budi. Kok pulangnya lama?”


Budi: "Iya.. Tadi kumpul sama teman-teman di rumah Pak Faiz.” (Menghentikan langkahnya dan menjawab pertanyaan Mina.)


Mina: "Iya.. Tapi maksud Kakak bukan itu. Bajunya mana?”


Budi: "Baju?” (Pandangannya ke sana kemari karena kebingungan.)


Mina: "Iya.. Baju Inyang yang harus dicuci.” (Kembali menjelaskan.)


Budi: "Wah.. Aku nggak tahu.”


Mina: "Yaaah, Bud.. Harusnya ditanya juga dong baju Inyang yang mau dicuci.”


Budi: "Aku nggak tahu, Kak. Tadi Inyang nggak kasih apa-apa. Lagian, Kak Mina kan nggak kasih tahu juga.”


Mina: "Yeee, Budi.. Kebiasaan kamu tuh.. Harus tunggu perintah dulu, baru gerak. Adab kalau sama orang tua itu, inisiatif sendiri dong. Kamu tanya balik dong pakaian yang harus dicuci lagi.”


Budi: "Hehe.. Maaf Kak.” (Mencoba lari dari masalah.)


Budi kemudian kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju rumah.


Mina: "Budiiiiiiii...!!”


Budi: "Iya, Kak..? Kenapa lagi, Kak?” (Kembali menghentikan langkahnya.)


Dengan wajah cemberut kesal, Mina kemudian mengangkat tangan kirinya disertai tangan kanannya yang sudah bersiap-siap menepuk tangan kirinya tersebut secara Vertikal. Melihat hal itu, Budi seketika memahami apa yang harus dilakukannya.


Budi: "Hehe.. Iya, Kak.. Jemput cucian lagi, kan? Sebentar, Kak.. Budi minum dulu.“ (Meninggalkan Mina dengan secepat mungkin.)


Budi kemudian bergerak cepat menuju kamarnya meskipun hanya sekedar meletakkan buku yang dipinjamnya dan kemudian kembali ke dapur untuk melepas dahaganya. Dengan terburu-buru, ia segera keluar rumah, namun masih melihat kakaknya yang cemberut dan masih dengan gertakan yang sama. Seketika itu juga Budi memacu langkahnya dengan kecepatan penuh menjauhi sesuatu yang tidak ingin dilihatnya itu.


Budi: "Budi pergi dulu, Kak!” (Berlari secepat kilat.)


Mina menjadi tertawa licik melihat tingkah adiknya.


Air yang mengalir memancarkan kilauan emas.


Burung gagak meraung-raung di sela bukit yang mulai berubah menjadi buram.


Tupai berlari lincah di antara dahan pohon yang perlahan menjadi hitam kelam.


Setelah memacu langkahnya untuk sekian lama, akhirnya Budi sampai di tangga setapak yang terakhir pondok Inyang. Dengan nafas yang tersengal-sengal, ia mulai tertawa sekaligus terheran-heran memahami situasinya saat ini.


Budi: "Hehe.. Ternyata Inyang benar, ya." (Cengar-cengir.)


Inyang hanya tersenyum dari tempat duduknya menyaksikan Budi yang baru saja datang menemuinya.


Budi: "Inyang.. Kak Mina suruh minta baju yang harus dicuci.” (Sembari mengatur nafas.)


Inyang: "Buyung, kamu ternyata datang lagi. Kemarilah."


Budi kemudian menghampiri Inyang dan segera duduk di sebelahnya. Inyang segera memberikan sekantung pakaian yang ternyata sudah berada di bawah pohon dekat ia duduk.


Budi: "Inyang hebat ya, bisa tahu aku datang lagi.” (Sembari mengambil katung yang diberikan Inyang.)


Inyang: "Maaf.. Sudah merepotkanmu." (Tersenyum.)


Budi: "Nggak kok, Inyang. Malahan Budi senang, bisa ke sini lagi.”


Inyang: "Baguslah, kalau begitu.. Jadi, hari ini kamu sudah lakukan kebaikan apa untuk dirimu sendiri?”


Budi: "Aku..? Nggak tahu.. Aku cuma main-main saja seharian tadi. Hahaha..” (Menertawakan dirinya sendiri.)


Di dalam tawanya itu, ia kembali teringat dengan perkataan gurunya sewaktu berkumpul bersama-sama temannya di rumah gurunya tersebut.


Budi: "Inyang.. Wisdom itu apa?”


Inyang: "Hikmah."


Budi: "Iya, hikmah. Tapi maksudnya?”


Inyang: "Makna."


Budi: "Wah...”


Inyang hanya tersenyum menyaksikan ekspresi kurang puas yang diperlihatkan Budi.


Inyang: "Kamu ingin tahu apa itu hikmah?”


Budi: "Iya.. Beri tahu aku." (Kembali ceria.)


Inyang: "Mengetahui hikmah itu sangatlah dahsyat. Ia bagaikan nyala lilin yang terkurung di dalam sebuah gerbang tinggi besar lagi berat. Nyala lilin itulah yang nantinya akan menuntunmu menuju cahaya terang, semakin terang, dan terang benderang. Tapi, untuk membuka gerbang itu tidaklah mudah, ia bahkan bisa menodai hatimu dan mematikan jiwamu.”


Budi: "Wah.." (Menjadi bingung.)


Dalam kebingungan itu, Budi tidak bisa mengucapkan apa-apa karena ketidakmampuannya mencerna pembicaraan tersebut. Inyang hanya tersenyum menyaksikan Budi yang terlihat sedang berpikir keras mengkait-kaitkan informasi yang ada di kepalanya dengan apa yang menjadi perbincangan.


Inyang: "Bagaimana perasaanmu sepeninggal Umi?"


Budi: "Hmmm.. Sekarang Budi sendiri masih bingung.. Mungkin.. Senang..?” (Menatapi langit dengan senyum kecilnya.)


Melihat ekspresi Budi yang seperti itu, Inyang jadi ikut tersenyum.


Inyang: "Coba jelaskan..”


Budi: "Budi masih ingat seperti apa Umi tersenyum." (Menjadi semakin tersenyum.)


Inyang: "Itulah nyala lilin."


Mendengar hal itu, Matanya seketika berkaca-kaca dan kemudian memandang jauh ke ujung langit. Senyumannya terlihat penuh dengan ketulusan.


Inyang: "Apa kamu masih rindu Umi?”


Budi hanya mengangguk sembari menguap-usap matanya.


Inyang: "Kalau begitu, mari kita ke makam beliau.”


Budi: "Tapi, hari kan sudah mulai gelap." (Memberikan sanggahan.)


Inyang: "Iya.. Tidak apa-apa. Kamu sudah punya nyala lilin. Mulai sekarang, kegelapan tidak akan bisa mengalahkanmu.” (Berdiri dari singgasananya yang diiringi dengan senyuman dan kemudian melangkah dengan pasti.)


Budi hanya mengikutinya dari belakang sembari merapikan kembali kondisi dirinya. Mereka menuruni tangga setapak itu dengan perlahan diiringi nyanyian merdu sekawanan jangkrik. Untuk memecah kesunyian di antara mereka, Inyang mencoba untuk mengorek beberapa informasi dari Budi.


Inyang: "Buyung, sudah kelas berapa sekarang?” (Bergerak perlahan.)


Budi: "Kelas enam, Inyang." (Memacu sedikit langkahnya agar bisa berjalan beriringan.)


Inyang: "Jadi begitu.. Kamu pindah ke sini saat masih bayi, ternyata.” (Terhenti sejenak memikirkan sesuatu.)


Budi: "Kok Inyang tahu?” (Penasaran.)


Inyang: "Buka apa-apa.. Inyang hanya ingin memastikan sesuatu saja.” (Kembali melangkah.)


Budi hanya diam dan kembali mengikuti pergerakan Inyang. Mereka melangkah dengan pasti menuju ke sebuah gundukan tanah makam yang masih belum dipagari apa-apa. Sesampainya di pekuburan, Budi berlari kecil ke makam Uminya dan memegangi nisannya. Inyang mendekati makam itu dan melihat dengan mendalam nisan tersebut. Tangannya bergerak menyilang ke belakang tubuhnya karena Ia sepertinya telah menyadari sesuatu.


Inyang: "Jadi begitu..”


Budi terlihat asyik dengan dunianya sendiri. Ia tampak tersenyum bahagia karena serpihan-serpihan ilusi telah membawanya ke masa lalu. Inyang kemudian melanjutkan langkah kakinya melewati makam tersebut, meskipun hanya sekedar melihat nyala api dari celah awan. Angin sejuk menerpa dan pohon-pohon mulai menyoraki keheningan mereka.


Inyang: "Buyung...” (Masih menatap langit yang sama.)


Budi yang terduduk di samping nisan Uminya hanya memalingkan wajah ke arah sumber suara.


Inyang: "Ingat kalimat ini baik-baik..”


Budi kemudian berdiri dan terdiam demi menanggapi pernyataan tersebut.


Inyang: "Aku datang dari masa lalu dan akan melesat menuju masa depan dengan membawa sebuah kotak kosong yang harusnya berisikan kebencian.”

__ADS_1


__ADS_2