Dimensi Milikku Sendiri

Dimensi Milikku Sendiri
Cara menjadi dewasa


__ADS_3

Jadilah cahaya-cahaya pada satu pukulan. Jadilah debu bintang pada siang hari.


Jadilah indah meskipun tanpa sentuhan. Jadilah terang benderang meskipun lelah berlari.


 "(Sudah berlalu beberapa hari semenjak meninggalnya Umi. Rasanya cukup sepi juga ternyata. Aku ingin segera kembali ke sekolah, bertemu teman-temanku, bertualang, bermain dan masih banyak lagi. Sepertinya itu akan dapat menghilangkan kejenuhanku. Namun Datuk melarangku ke sekolah untuk sementara waktu. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan beliau terhadapku. Atau mungkin beliau menyuruhku untuk tetap berada di rumah agar aku dapat terbiasa dengan situasiku saat ini. Tapi menurutku, sama saja.. Sekolah maupun tidak, kebenaran yang jelas-jelas ada sekarang adalah Umi telah pergi menemui Abi. Aku masih belum paham cara berpikirnya orang dewasa. Rasanya ingin segera menjadi dewasa saja, supaya bisa memahami maksud dan tujuan yang mereka ucapkan. Aku hanya bisa berangan-angan kosong. Kira-kira.. Di masa depan nanti, aku akan jadi seperti apa, ya?)”


Tok! Tok! Tok! (Suara pintu diketuk.). Terdengar suara memanggil dari balik pintu yang tertutup.


"Budi.. Bantu Kakak, bisa?” (Suara yang terdengar agak samar.)


Budi kemudian bangkit dari pembaringannya.


"Bisa, Kak.” (Sembari merapikan kembali tempat tidur mendiang Uminya.)


Budi kemudian dengan segera menuju pintu, lalu membukanya.


"Nah.. Kirain Kakak, kamu sedang tidur. Sekarang bantu Kakak masak.” (Bicara sembari meninggalkan Budi di depan kamar.)


Budi pun segera menutup pintunya secara perlahan. Tempat tidur yang ditemani deru gorden dan debu-debu cahaya itu dengan perlahan namun pasti mulai hilang dari pandangannya. Senyuman manis menghiasi wajahnya karena senyum tulus yang pernah ia lihat dahulunya, selamanya tidak akan pernah hilang. Tetap ada dan terus ada.. Selamanya.


 “(Terima kasih banyak, Umi. Terima kasih karena telah hidup ke dunia ini. Terima kasih karena Umi telah menghadiahkanku senyuman yang Indah. Aku sangat bahagia hidup bersama Umi.)”


 Budi: "Kakak, tunggu! Kak Mina masak apa?” (Budi berlari kecil mengejar Mina, kakaknya.)


Budi dan Mina bersiap-siap untuk memasak. Mereka mengeluarkan semua bahan yang dibutuhkan dan mengumpulkannya pada satu wadah. Mereka pun saling bercakap-cakap sembari melakukan kegiatan memasak mereka.


Mina: "Bagusnya kita masak ikan gulai, apa ikan goreng, Bud?”


Budi: "Ikan gulai saja, Kak.”


Mina: "Yakin.. Nggak masak ikan goreng?”


Budi: "Biar nggak bosan, Kak. Soalnya tiga hari yang lalu ikan goreng. Kalau ikan gulai, mungkin sekitar dua minggu yang lalu.”


Mina: "Baru tiga hari, sudah bosan?”


Budi: "Yaa.. Bosanlah, Kak. Soalnya kegiatanku cuma makan tidur makan tidur saja. Nggak ada kegiatan lain."


Mina: "Yah, Bud.. Apa susahnya sih buka pintu, terus keluar?”


Budi: "Iya juga sih.. Tapi kan, Datuk yang suruh. 'Budi.. Budi.. Sebaiknya kamu jangan ke mana-mana dulu. Kamu di rumah saja untuk beberapa hari ini.' Begitu katanya, Kak." (Berlagak sembari menirukan perkataan Datuknya.)


Mina: "Oh.. Ayah ngomong begitu, berarti ada maksud dan tujuannya, Bud."


Budi: "Iya, Kak.. Aku mikirnya juga begitu. Tapi, masih bingung maksud Datuk sebenarnya apa. Mungkin cuma orang dewasa yang tahu maksud ucapan Datuk itu. Kak Mina kan sudah dewasa, jadi kalau menurut Kak Mina maksudnya Datuk itu gimana?”


Mina: "Ya tahu dong…”


Budi kemudian menunjukkan ekspresi lugunya. Seakan-akan ingin segera mengetahui semuanya.


Budi: "Ah.. Apa, Kak!? Kasih tahu aku..!”


Mina bertingkah layaknya seseorang yang sedang berpikir.


Mina: "Hmmmmmmmm…” (Sembari menempelkan telunjuk ke bagian bawah bibirnya dan mengarahkan pandangannya ke langit-langit.)


Budi: "Apa, Kak!? Kak, Mina!?"


Mina terus saja membuat Budi menjadi semakin penasaran. Mendengar Budi yang terus-terusan merengek begitu, Mina pun mulai tidak bisa menahan dirinya dan akhirnya ia pun tersenyum.


Mina: "Mungkin Ayah suruh kamu bantu Kakak masak sama bersih-bersih rumah. Hahaha…” (Tertawa.)


Budi: "Yah, itu kan tugas Kakak, kalau aku tugasnya sekolah, habis itu main.”


Mina: "Huuuu… Main terus. Nanti terbiasa sampai dewasa, baru menyesal.”


Budi: "Nggaklah, dewasa nanti aku akan jadi orang sukses. Aku kepingin cepat-cepat jadi dewasa."


Mina: "Memangnya kamu tahu caranya jadi dewasa?”


Budi: "Nggak.. Kakak tahu caranya biar aku cepat dewasa?”


Mina: "Tahu dong.. Kakak kan sudah dewasa.”


Budi: "Gimana caranya, Kak?”


Mina: "Kamu harus sunat dulu. Baru.. Bisa jadi dewasa."


Budi: "Sunat itu apa, Kak?”


Mina: "Sunat itu.. Burung kamu dipotong dulu. Habis itu, baru kamu bisa dewasa."


Budi hanya melongo dalam keadaan kebingungan. Mina yang melihat Budi hanya terdiam kebingungan, kemudian mengambil sebuah ikan dan meletakkannya secara presisi.


Mina: "Sunat itu kayak begini, Bud.. Anggap ini burung kamu, ya.” (Sembari mengarahkan pandangan Budi ke ikan tersebut.)


Taaakkkk!!! Dengan sekejap mata, sebilah pisau daging tiba-tiba menghantam ikan tersebut dengan sangat keras dan membuatnya terbelah menjadi dua. Dan seketika itu juga, Budi secara refleks mengapitkan kakinya. Ia pun terkaget-kaget dengan mata melotot sembari menelan ludah. Mina menahan tawa akan hal itu dan tersenyum lebar melihat tingkah Budi.


Mina: "Gimana, Bud?” (Tersenyum dengan mata yang tajam kepada Budi.)


Budi: "Hmm hmm.. Sebaiknya jadi dewasanya kapan-kapan sajalah, Kak.” (Budi seketika tersenyum dengan perasaan waswas.)


Mina: "Hahahaha…” (Mina tertawa terbahak-bahak.)


Tok.. Tok.. Tok.. (Suara ketukan pintu.)


Ternyata yang datang adalah Datuk. Ia pun memanggil Budi.


Datuk: "Budi..! Budi..!”


Budi: "Iya, Datuk." (Sembari beranjak pergi dari tempat duduknya dan bersegera menuju pintu depan.)


Datuk: "Bantu Datuk bawa ini. Kasih ke kakakmu." (Dengan menunjuk sebuah karung yang terletak di depan pintu.)


Budi dengan segera memikul karung tersebut. Dan segera membawanya ke dapur yang hanya bersebelahan dengan ruang tamu. Mina pun juga segera meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri ayahnya.


Mina: "Ayah.. Sudah pulang? Ayah bawa apa?” (Sembari menyalami tangan ayahnya.)


Datuk: "Kamu ini jahil sekali ke adikmu. Hahaha..” (Tertawa saat melihat ikan yang sudah terbelah dua.)


Mina pun juga ikut-ikutan tertawa cekikikan karenanya.


Mina: "Hahaha.. Habisnya Ayah, Budinya sih tanya yang aneh-aneh saja.”

__ADS_1


Datuk: "Budi.. Jangan mudah percaya dengan kakakmu. Harusnya kamu skeptis dulu..”


Keingintahuan Budi seketika muncul. Untuk pertama kalinya ia mendengar kata-kata tersebut.


Budi: "Skeptis itu apa, Datuk?” (Dengan wajah lugu yang berseri-seri.)


Mina dengan segera memotong pembicaraan tersebut


Mina: "Skeptis itu maksudnya potong." (Tersenyum licik dengan memperagakan telapak tangan yang ditepuk dengan cara dibelah.)


Melihat hal itu, Budi kembali dengan refleks mengapitkan lagi kakinya. Datuk yang melihat hal itu seketika menjadi tertawa terbahak-bahak.


Datuk: "Hahaha.. Bukan begitu, Bud. Jangan percaya kakakmu. Hahaha..” (Tertawa tanpa henti.)


Melihat tingkah Datuk dan Mina seakan-akan memberikan ia sebuah sugesti. Membuat Budi menjadi mulai memiliki firasat bahwa dalam waktu dekat burungnya akan dipotong dengan cara sadis seperti yang diilustrasikan kakaknya tadi.


Budi: "Datuk.. Budi bosan di rumah. Budi boleh pergi main?”


Datuk: "Wah… Bagus dong kalau sudah bosan. Pergilah main, tapi jangan pulang kemalaman ya.”


Dengan ekspresi lega, Budi kemudian menuju pintu depan sembari menggosok-gosokkan tangannya yang agak lembap itu ke bajunya.


Budi: "Datuk, Budi pergi dulu.” (Sembari tergesa-gesa untuk memasang sendalnya.)


Mina dengan segera menyahut Budi yang sudah bersiap-siap untuk meninggalkan rumah.


Mina: "Ehh, Budi.. Budi! Tunggu!”


Budi: "Apa, Kak?”


Mina: "Kamu gimana sih. Kakak kok ditinggal? Katanya kepingin cepat-cepat jadi dewasa…” (Dengan nada menyindir.)


Budi: "Nggak mau! Aku kepingin main saja!” (Mulai mengambil ancang-ancang.)


Mina: "Ehh.. Tunggu, tunggu.. Sekalian.”


Budi kemudian terdiam menunggu sembari menyaksikan kakaknya berjalan menuju kamar. Dan tak lama setelahnya, ia pun keluar menghampiri Budi yang telah menunggu. Mina menyodorkan sekantong plastik yang berisikan kain-kain kepada Budi.


 Mina: "Sebelum pergi main, antarkan ini dulu ke tempat Inyang.”


Budi: "Iya, Kak." (Mengambil kantong tersebut dari Mina.)


Mina: "Cepat antar, jangan sampai kotor, ya.. Kalau kotor lagi, Kakak potong." (Memperagakan kembali telapak tangannya yang ditepuk dengan cara dibelah.)


Melihat hal itu, Budi lagi dan lagi kembali berefleksi dengan cara yang sama. Mina hanya tertawa cekikikan akan hal itu. Budi kemudian dengan segera meninggalkan rumah. Ia segera melesat menyusuri jalanan pedesaan hingga menerbangkan debu-debu.


Budi: "Wah.. di luar rasanya segar sekali." (Menarik nafas dalam-dalam dan melepaskannya dengan perasaan lega.)


Di dalam rumah, Datuk dan Mina mulai memperbincangkan hal-hal yang baru saja terjadi.


Datuk: "Kamu ini usil sekali sama adikmu sendiri.”


Mina: "Iyalah, Ayah.. Selagi masih lugu-lugunya, hahaha…”


Datuk: "Iya juga ya, hahaha…” (Ikut tertawa dan sependapat dengan anaknya.)


Mina: "Ayah liat sendiri, kan? Bagaimana ekspresinya tadi? Hahaha…” (Tertawa sejadi-jadinya.)


Mereka tertawa bersama sepuas-puasnya.


Bumi bergetar hebat. Badai berbatu pun seketika menerjang. Sekumpulan titik-titik hitam itu berlari mencari perlindungan. Dengan segenap perjuangan yang tersisa, mereka terus saja menyoraki kawanannya untuk tetap bertahan hidup.


 Mina: "Ayah, Mina boleh tanya sesuatu?”


Datuk: "Iya.. Apa?”


Mina: "Si Budi kok disuruh di rumah terus, ya? Mina jadi bingung..”


Datuk: "Nah.. Kamu kuliah, kan? Pasti kenal dengan istilah Out of The Box, dong?”


Mina: "Huuuu, Ayah.. Sok-sokan pakai Bahasa Britania segala.” (Menyindir.)


Datuk: "Oh, iya dong. Biarpun sudah karatan begini, Ayah pernah di utus Inyang bertugas di luar negeri, loh. Lawan bule-bule yang serakah itu.” (Mencoba meyakinkan Mina.)


Mina: "Halah, Ayah mulai kumat lagi. Hahaha." (Tertawa menyindir.)


Sedapnya aroma masakan mulai memenuhi seisi rumah. Membuat suasana menjadi lebih santai dan nyaman.


Mina: "Jadi, Out of The Box yang bagaimana, Ayah?” (Sembari mengaduk-aduk perlahan masakan yang sedang dibuatnya.)


Datuk: "Kamu masih ingat mendiang ibumu, kan? Ayah masih ingat jelas kondisimu waktu itu.” (Sembari menatap jauh ke depan, ke arah jendela di ruang tamu yang letaknya hanya bersebelahan dengan dapur.)


Mina hanya bisa terdiam dan terus saja sibuk mengaduk masakannya.


Datuk: "Ayah mengirimmu ke kota.. Ayah berupaya menjauhkanmu dari rumah. Sampai akhirnya kamu jenuh di sana dan kemudian kembali lagi ke sini.”


Mina: "Iya, Ayah." (Membenarkan perkataan ayahnya.)


Datuk: "Tapi berbeda kasusnya jika dengan si Budi. Kamu tahu sendiri kan bagaimana kuatnya adikmu itu? Makanya Ayah terus tahan dia di rumah sampai benar-benar bosan. Agar pikirannya jadi tidak terus-terusan terjebak dengan Uminya saat berada di luar.”


Mina: "Kalau Ayah, bagaimana?” (Bertanya dengan sedikit merasa waswas.)


Datuk: "Hoho.. Kuat dong. Ayah kan tentara." (Berpose dengan memperagakan kedua otot lengannya.)


Mina: "Hahaha.. Kurus kering begitu dipamerin. Hahaha…” (Tertawa melihat tingkah ayahnya.)


Selamat datang kembali dunia yang hitam. Selamat datang kembali dunia yang biru. Selamat datang kembali dunia yang jingga.


Sampai jumpa kembali dunia yang suram. Sampai jumpa kembali dunia yang pilu. Sampai jumpa kembali dunia yang merana.


Budi menapaki tangga-tangga tanah yang kering oleh terik matahari itu sembari menopang sekantong plastik yang berisi kain-kain di atas kepalanya.


Budi: "Inyang.. Budi disuruh Kak Mina antarkan ini.” (Sembari mendekati Inyang yang duduk di bawah rimbunan sebatang pohon dengan bertumpu kepada sebuah tongkat.)


Inyang: "Terima kasih, Buyung.. Kemarilah, Duduklah di sini.” (Menepuk-nepuk kursi bambu panjang yang didudukinya.)


Budi kemudian duduk dan memberikan pesanan yang dititipkan kepadanya.


Budi: "Inyang sudah makan?” (Berbasa-basi.)


Inyang: "Sebentar lagi, Inyang sedang masak nasi." (Sembari mengarahkan pandangannya ke api unggun di sebelah pondoknya.)


Budi: "Kok nggak pakai penanak listrik saja, Inyang?”

__ADS_1


Inyang hanya tersenyum dengan perkataan Budi.


Inyang: "Alam selalu memberikan cita rasa tersendiri." (Menunjukkan sedikit senyumannya kepada Budi.)


Mendengar hal itu, Budi jadi terkagum-kagum.


Budi: "Wah..”


Inyang: "Kamu pasti belum makan. Ikut makan sama Inyang saja. Inyang punya masakan spesial.”


Budi: "Mauuu..! Biar Budi yang angkat nasinya.” (Sangat bersemangat.)


Inyang: "Boleh.. Kita makan di sini saja. Inyang ambil bahan-bahannya dulu di dalam.” (Sembari beranjak dari tempat duduknya.)


Budi: "Iya..” (Budi pun juga ikut beranjak dari tempat duduknya dan bersegera menuju perapian.)


Piring dan sendok telah tertata rapi. Nasi yang masak masih mengepulkan uap panas. Budi hanya tinggal menunggu masakan spesial yang dimaksudkan. Sesaat kemudian Inyang datang dengan membawa sebuah kotak lalu membukannya dan mengambil dua buah botol untuk diletakkan di dekat mereka. Ia pun kemudian menyendokkan nasi ke atas piring. Setelah itu, ia pun membuka botol yang berisikan serbuk putih dan menaburkannya ke atas nasi. Lalu membuka botol lainnya yang berupa cairan dan kemudian juga menaburkannya layaknya menaburkan kecap. Budi hanya melongo melihat hal yang baru saja Inyang lakukan.


Budi: "Wah, Inyang.. Spesialnya di mana? Cuma ditaburi garam sama minyak saja.” (Merasa agak kecewa.)


Inyang menjadi tersenyum dibuatnya. Sampai-sampai giginya jadi terlihat.


Inyang: "Kamu coba dulu, baru cerita.” (Sembari masih menahan senyumannya.)


Budi pun kemudian juga mengikuti cara-cara yang telah ia lihat barusan. Dengan perasaan yang mulai ragu, ia pun menguatkan diri untuk memasukkan sesendok nasi berminyak itu ke mulutnya. Dengan perasaan ragu, ia pun mulai mengunyah makanan tersebut. Sampai akhirnya ia pun terdiam.


Inyang: "Bagaimana? Coba cerita." (Dengan senyuman yang masih sama.)


Budi: "Hmmm hmmm.. Enak." (Dengan ekspresi bahagia.)


Inyang: "Kira-kira seperti itulah kita, Buyung. Dalam menjalani hidup ini, kita terlalu sering hanya mengandalkan indra dan akal untuk menentukan sebuah nilai. Namun sering melupakan kesejatian nilai dari pengalaman rasa itu sendiri.”


Budi kembali melongo takjub akan perkataan Inyang tersebut. Meskipun antara mengerti dan tidak mengerti.


Inyang: "Nah.. Mari kita makan, sebelum nasinya dingin.”


Budi: "Iya, Inyang." (Makan dengan lahapnya.)


Mereka pun mengakhiri acara makan mereka setelah tidak ada lagi nasi yang tersisa.


Budi: "Baru kali ini Budi makan sebanyak ini. Biasanya cuma makan sedikit.” (Sembari menggosok-gosok perutnya.)


Inyang: "Itu karena kamu makan dengan suasanya yang berbeda.”


Budi: "Iya, Inyang… di sini adem, sambil lihat pemandangan juga.”


Angin sepoi-sepoi menderu, pohon-pohon menari, rumput-rumput menyeru, burung-burung menyanyi.


Budi: "Inyang, Budi boleh tanya sesuatu?”


Inyang: "Silakan."


Budi: "Tadi Datuk bilang kata-kata skeptis, Budi jadi bingung.. Skeptis itu apa, Inyang?”


Inyang: "Meragukan sesuatu.. Sama seperti yang kamu ucapkan barusan.”


Budi: "Yang mana, Inyang?”


Inyang: "Waktu Inyang tabur garam sama minyak tadi..”


Budi: "Oohh.. Kalau sunat itu sakit nggak, Inyang?”


Mendengar hal itu, Inyang terdiam sejenak dan kemudian mencoba memberikan arahan kepada Budi.


Inyang: "Jika kamu ditakut-takuti dengan hal-hal yang belum kamu rasakan sendiri, skeptis bisa menghilangkan sebagian dari ketakutanmu. Kemudian jika kamu mulai mempelajarinya, maka kamu akan menghilangkan sebagian lagi dari ketakutanmu. Kemudian jika kamu mulai meyakininya, maka kamu akan menghilangkan sebagian lagi dari ketakutanmu. Kemudian jika kamu mulai berani, maka kamu akan menghilangkan sebagian lagi dari ketakutanmu. Kemudian jika kamu Lawan, itu artinya sudah tidak ada lagi yang perlu kamu takuti.”


Budi: "Wah ternyata rumit juga ya, Inyang..?"


Inyang: "Inyang tahu, kamu ditakut-takuti kakakmu waktu bantu masak di dapur. Kamu ketakutan saat kakakmu potong ikan.”


Budi: "Wah, kok Inyang bisa tahu?”


Inyang hanya tersenyum dengan menunjuk ke arah baju Budi.


Budi: "Wah.. Iya juga ya. Bau amis, hahaha..” (Tertawa setelah menciumi aroma bajunya sendiri.)


Budi secara tiba-tiba menghentikan tawanya dan mencoba menawarkan sesuatu.


Budi: "Inyang, Budi juga punya resep spesial. Ayo kita tanding, resep siapa yang lebih enak.”


Inyang: "Kamu mau pakai minyak bekas goreng ikan?” (Sedikit tersenyum.)


Terlihat jelas dari ekspresi wajah Budi yang melongo kaget sehingga berupaya melakukan komplain terhadap pernyataan Inyang tersebut.


Budi: "Wah, Inyang.. Apa-apa sudah langsung ditebak. Nggak seru, ah..” (Terlihat cemberut.)


Inyang: "Jangan salah.. Sebenarnya itu kesempatan bagus buat kamu. Karena minyak ikan gorengnya sudah ketahuan, kamu bisa ganti dengan sesuatu yang Inyang tidak tahu. Minyak ayam goreng, Misalnya.” (Sembari tersenyum.)


Budi: "Yah, minyak ayam gorengnya ketahuan juga.” (Dengan ekspresi cemberut dan merasa sedikit kesal.)


Inyang: "Kalau minyak ayam goreng juga sudah ketahuan, kamu masih bisa ganti lagi. Misalnya... …”


Budi kemudian memotong perkataan Inyang dengan pasrahnya


Budi: "Iyaaaa.. Bawang goreng, kan?”


Inyang hanya bisa tersenyum sehingga giginya terlihat kembali.


Budi: "Inyang, Budi mau pergi main dulu.” (Sembari berdiri dari tempat duduknya.)


Inyang: "Iya.. Sampai ketemu lagi sore nanti.” (Masih dengan senyum yang sama.)


Budi: "Wah.. Inyang yakin, aku bakal kesini lagi sore nanti?” (Mulai merasa ragu dan sedikit penasaran.)


Inyang: "Haqqul Yaqin."


Budi: "Budi pikir, mestinya besok siang kembali ke sini lagi.”


Inyang: "Iya.. Besok Inyang juga tunggu resep spesialnya.”


Budi: "Kalau begitu, Budi pamit dulu, Inyang. Sampai ketemu lagi besok.” (Melangkah pergi dengan perlahan.)


Mereka pun berpisah dengan saling melepas senyuman.

__ADS_1


__ADS_2