Dimensi Milikku Sendiri

Dimensi Milikku Sendiri
Seonggok daging yang bernyawa


__ADS_3

Inyang: "Karena kalian sudah ada di sini, aku akan berikan hadiah balasan kepada kalian."


Law: "Wah.. Ayah mau balas dendam ke kita, Bang."


Datuk: "Hahaha.. Tuan Guru ada-ada saja.. Masa harus balas dendam segala?"


Inyang: "Harus.. Mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa."


Datuk: "Wah.."


Inyang: "Karena kalian sudah bandel, aku akan balas kalian dengan sebuah buku karanganku sendiri."


Law: "Waduh.. Ayah juga bikin buku, ya?"


Inyang: "Benar.. Karena menulis bukanlah keahlianku, maka aku hanya akan bacakan buku ku itu kepada kalian."


Law: "Wah.. Boleh juga tuh, Ayah."


Datuk: "Kalau boleh tahu.. Judulnya apa ya, Tuan Guru?"


Inyang: "Judulnya.. Seonggok Daging yang Bernyawa."


Datuk: "Wah."


Inyang: "Ini adalah sebuah kisah dari seorang manusia yang dilahirkan dengan keadaan tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa bicara, dan juga tidak bisa bergerak. Ia sendiri bahkan tidak tahu, ke mana arah angin akan membawanya. Ia hidup namun tidak bisa apa-apa. Ibunya adalah seorang yang gila, yang meninggal sesaat setelah melahirkannya.


Angin dingin menyapu jalan-jalan kota. Dengan perlahan, jasad dari wanita gila yang baru saja melahirkan itu, mulai tertimbun oleh tumpukan-tumpukan sampah. Seketika, awan pun mulai menangis. Gerimis mulai membasahi orang-orang yang berlari kecil. Seekor anjing kotor berteriak hebat di dekat anak yang tertimbun sampah itu. Hingga akhirnya, membuat seorang pria mabuk yang berada di lantai dua pemukiman kumuh itu murka luar biasa. Ia lalu membuka jendela meskipun hanya sekedar melontarkan hinaan kepada anjing tersebut.


"Pergi kau!! Anjing bodoh!!!"


Tanpa segan, ia pun dengan sengaja melempar sebotol minuman keras yang hanya tersisa sedikit itu ke arah anjing tersebut. Namun hal yang terjadi malah membuatnya menjadi kebingungan. Lemparan tersebut menyingkapkan sebuah tangan yang tergeletak dari balik tumpukan sampah. Dirinya seketika tersadar dari mabuknya di saat otaknya baru saja menyimpulkan bahwa di balik tumpukan sampah itu terdapat sesosok mayat.


Suara sirene polisi menyeruak ke setiap sudut-sudut pemukiman kumuh tersebut. Melihat adanya tanda-tanda kehidupan, dengan sigap para petugas segera mengevakuasi anak itu. Mereka-mereka yang hadir terlihat saling berbisik-bisik saat menyaksikan sebuah kebenaran yang ada di hadapan mereka. Entah keberuntungan seperti apa yang dipaksakan kepada seorang anak manusia itu. Tepat di hari kelahirannya tersebut, rupanya pemerintah baru saja mengesahkan revisi undang-undang kesehatan di negeri tersebut. Kemudian, keberuntungan tersebut berlanjut dengan diperkuat oleh pertimbangan kode etik rumah sakit di mana anak tersebut ditemukan. Hingga akhirnya anak yang baru saja kehilangan ibunya itu mendapat perawatan di rumah sakit dengan semua beban biayanya ditanggung oleh instansi kesehatan di negeri tersebut. Pasien mungil itu kemudian diberi nama... Jacob kecil.


Musim silih berganti dan waktu pun terus bergerak tiada henti. Detik demi detik telah berlalu, jam demi jam telah berlalu, hari demi hari telah berlalu, bulan demi bulan telah berlalu, tahun demi tahun pun telah berlalu. Kali ini Jacob kecil telah tumbuh dewasa. Namun tetap saja, kondisinya masih seperti itu-itu saja. Masih sama seperti semenjak ia dilahirkan. Jacob terus saja terbaring dan tidak bisa apa-apa.

__ADS_1


Di suatu siang yang redup, para dokter dan staf rumah sakit itu mengadakan diskusi mengenai kondisi medis dari pasien mereka yang sudah sejak lama tidak kunjung sembuh itu. Hingga akhirnya para dokter dan staf rumah sakit seketika tertunduk lesu dengan keputusan sulit yang baru saja mereka ambil. Mereka telah membulatkan tekat untuk melakukan suntik mati terhadap Jacob. Mendengar keputusan itu, Para perawat yang selalu meluangkan waktunya untuk bercakap-cakap dengan Jacob seketika itu juga menangis pilu.


Hari yang dijanjikan itu telah tiba. di mana para dokter berkumpul untuk menyaksikan proses suntik mati yang akan dilakukan kepada seonggok daging yang bernyawa itu. Sesaat sebelum suntik tersebut menancap ke tubuh Jacob, monitor mengeluarkan bunyi yang nyaring. Terlihat dari pemantauan tersebut menunjukkan adanya perubahan kondisi yang tidak biasa pada Jacob. Mereka-mereka yang hadir seketika memusatkan pandangan matanya ke arah monitor. Para dokter kemudian mengulur waktu untuk kembali mendiskusikan tindak lanjut seperti apa yang sepatutnya harus mereka lakukan.


Dengan kembali membulatkan tekat, para dokter telah meneguhkan keputusannya untuk kembali melanjutkan suntik mati terhadap Jacob. Namun lagi dan lagi, monitor tersebut kembali berbunyi di saat dokter hendak akan menancapkan jarum suntik tersebut ke tubuh yang tidak berdaya itu. Seketika, mereka-mereka yang hadir dalam ruangan tersebut menjadi terdiam dalam lamunan. Mereka merasa telah melakukan sebuah kekeliruan yang sangat fatal terhadap Jacob. Mereka kembali berdiskusi dan dengan suara bulat membatalkan kekeliruan yang telah mereka lakukan.


Selang beberapa hari semenjak kejadian tersebut, dokter yang menangani Jacob terlihat termenung menyaksikan Jacob yang hanya bisa terbaring di ranjangnya. Dari keheningan itu, muncullah sebuah cahaya yang menyinari pikiran terdalamnya. Dokter tersebut mulai membuat sebuah buku tentang pasiennya itu. Dalam buku tersebut, dokter mengisikan berbagai macam informasi tentang Jacob. Mulai dari kisah kelahirannya, catatan-catatan medisnya, kesehariannya, dan lain-lainnya. Hingga pada akhirnya buku dari karya dokter tersebut terjual laris di pasaran serta meraih hadiah penghargaan di bidang kesehatan.


Kali ini, Jacob yang hanya bisa terbaring dan tidak bisa apa-apa itu mendapatkan royalti dari hadiah penghargaan dan penjualan buku tersebut. Jacob akhirnya dapat melunasi biaya pengobatan dan perawatannya yang tidak pernah terbayarkan setelah sekian lama berada di rumah sakit. Bahkan para dokter berdiskusi dan menyarankan agar Jacob untuk segera dipindahkan dari ruang inap biasa menuju ruang VVIP berkat royalti yang ia dapatkan tersebut.


Suasana rumah sakit terlihat jauh berbeda dari pada yang biasanya. Mereka semua menjadi sangat sibuk dikarenakan banyaknya jumlah kunjungan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Dan juga sebagian lainnya bahkan menyempatkan dirinya untuk berobat di rumah sakit tersebut, yang mana hal itu merupakan keuntungan tersendiri bagi rumah sakit itu.


Mereka-mereka yang datang berkunjung ke rumah sakit tersebut dengan tujuan yang tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memberikan salam hormat kepada tokoh utama dari buku yang telah mereka baca. Jacob bahkan diceritakan di berbagai media cetak dan elektronik, sampai-sampai seluruh penjuru negeri hampir bisa dipastikan bahwa tidak ada yang tidak mengenalnya.


Pembangunan rumah sakit semakin dipercepat atas bantuan dari pemerintah. Rumah sakit tersebut kali ini mendapatkan predikat rumah sakit dengan fasilitas terlengkap dan penanganan terbaik di benua itu.


Waktu pun terus berlalu, perkembangan ilmu medis meningkat begitu pesatnya. Para dokter di rumah sakit tersebut kembali berkumpul untuk berdiskusi mengenai Jacob. Mereka berencana untuk menghadiahkan Jacob seorang anak. Namun mereka terkendala oleh cara mencari pendonor rahim yang akan menjadi tempat untuk proses pembuahan nantinya. Salah seorang perawat yang biasanya selalu merawat Jacob, dengan secara suka rela mengajukan dirinya untuk terjadinya hal tersebut.


"Dengan kerelaan hati.. Saya bersedia, dokter."


Pada hari yang dijanjikan, para dokter-dokter tersebut kemudian memulai untuk dilakukannya operasi pengambilan unsur-unsur tertentu yang ada dari tulang sulbi Jacob dan kemudian menelitinya di laboratorium.


Sesaat setelah kelahiran bayi Joseph, selama beberapa hari para dokter terus disibukkan dengan adanya respons yang ditunjukkan dari monitor di ruangan perawatan Jacob. Mereka silih berganti mengamati dan mempelajari respons-respons yang dimunculkan pada monitor tersebut.


Datuk, Law dan Budi yang mendengar cerita tersebut hanya bisa terdiam dan termenung. Jiwa dan raga mereka seakan-akan terpisah. Imajinasi telah sepenuhnya memburamkan penglihatan dan memekakkan pendengaran mereka. Mereka terlihat tengah asyik dengan imajinasi yang mereka ciptakan sendiri dari cerita Inyang. Budi yang berdiri menyandarkan tubuhnya ke pohon terlihat sedang menggelindingkan sisi samping kepalanya ke pohon tersebut. Law terlihat sedang jongkok di tanah sembari mencabuti rumput-rumput kecil yang ada di dekatnya. Dan Datuk yang sedang berdiri terlihat sedang menggaris-garis sesuatu di tanah dengan kakinya. Mereka semua sepenuhnya larut dengan imajinasi mereka sendiri. Melihat hal itu, Inyang kemudian mempercepat alur dari ceritanya.


Waktu pun kembali terus berlalu. Kali ini, Jacob sudah menapaki usia senja. Kondisi kesehatannya hari demi hari perlahan menurun. Saat ini Joseph sedang duduk di sebelahnya dengan mengenakan jas yang bagus dan rapi. Joseph tersenyum dengan penuh ketulusan kepada ayahnya yang selalu terbaring dan terus diam tak bergerak itu. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Joseph mulai bicara kepada Jacob, ayahnya.


"Ayah.. Ibu baru saja meninggal, Ayah. Ibu bilang padaku bahwa ia sangat mencintai Ayah. Seperti apa pun keadaan Ayah, Ibu akan selalu mencintai Ayah."


"Ayah.. Sekarang cucu Ayah sudah masuk sekolah dasar. Cucu Ayah bilang kalau ia bercita-cita ingin menjadi dokter."


"Ayah.. Terima kasih banyak karena telah hidup ke dunia ini."


Di akhir cerita Jacob yang telah wafat terlihat sedang digotong oleh anaknya menuju ke liang lahat. Suara tangisan haru dan tatapan kesedihan dari menantu dan cucunya memecah keheningan pemandangan senja.

__ADS_1


Tamat."


Inyang hanya tersenyum melihat tingkah aneh dari mereka bertiga. Setelah menyelesaikan ceritanya, ia terlihat mulai merasakan kantuk. Dengan segera Inyang meninggalkan mereka dan masuk ke dalam pondoknya untuk memuaskan rasa kantuknya.


Budi terlihat perlahan-lahan mulai sadar dari jeratan imajinasinya. Pandangan matanya perlahan semakin jelas dan kembali menguasai dirinya sepenuhnya. Melihat keberadaan Inyang sudah tidak ada, ia memutuskan untuk pulang.


Budi: "Datuk, Budi pulang dulu." (Bergerak meninggalkan Datuk dan Law.)


Datuk melihat ke arah Budi dengan tatapan yang kosong sembari terus menggaris-garis tanah dengan kakinya. Dan tanpa diduga, Datuk dan Law mengikuti arah langkah kaki Budi. Mereka menuruni tangga seakan-akan sedang bergerak dengan sendirinya.


Link yang melihat Law telah kembali dari atas, dengan segera membukakan pintu mobil untuknya. Namun Datuk kemudian melepas sendalnya dan kemudian masuk ke dalam mobil. Law malah terlihat sedang mengikuti Budi dari belakang. Link hanya bingung keheranan, sampai pada akhirnya Datuk tersadar oleh dinginnya suasana dalam mobil dan kemudian bergegas ke luar untuk memanggil Law.


Datuk: "Laut..! Laut..!! Heeeei!! Sini, heei!!" (Meneriaki Law.)


Mendengar seseorang memanggil namanya, ia pun akhirnya mulai tersadar dari lamunannya.


Law: "Oh, iya ya.. Maaf, lupa.. (Heran dengan dirinya sendiri.)


Dengan segera ia mendekati Datuk.


Law: "Maaf, Bang.. Aku tadi melamun. Hahaha.."


Datuk: "Sama.. Aku juga.. Hahaha.."


Law: "Cerita ayah seram juga, ya Bang? Hahaha.."


Datuk: "Iya.. Aku saja jadi kebingungan.. Hahaha.."


Law: "Aku jadi penasaran.. Bagaimana jadinya kalau bunyi monitor itu bentuk dari ekspresi kemarahan atau kesedihan, atau apa gitu, ya kan..?"


Datuk: "Aku mikirnya juga gitu.. Pasti kacau jadinya.. Hahaha..."


Aku tertawa dalam diam. Aku bersedih dalam diam.


Aku kecewa dalam diam. Aku bahagia dalam diam.

__ADS_1


Aku malu dalam diam. Aku marah dalam diam.


Sembunyikanlah aku dalam diam.


__ADS_2